Namora

Namora
Sepeda Jol rusak parah


__ADS_3

Motor ojek yang membawa Jufran dan Namora tadi akhirnya tiba juga di bagian bendungan irigasi kampung baru.


Sampai di sana, Namora dengan malu-malu meminta supaya pak ojek tadi untuk menunggu dirinya dan Jufran, sementara mereka melihat-lihat apakah sepeda milik Jol berada di sana atau tidak.


Dengan wajah masam, pak ojek tadi pun menyetujui permohonan dari Namora tadi kemudian menyalakan rokoknya. Tampak asap mengepul di udara yang terhembus dari mulut pak ojek yang terlihat berpura-pura santai. Sementara itu, Namora dan Jufran sudah mulai mencari-cari di mana sepeda BMX milik Jol berada.


Setelah puas mencari, akhirnya merekapun melihat sesuatu di dalam semak rerumputan. Setelah mereka datangi, ternyata itu adalah sepeda milik Jol adanya. Namun, sepeda itu kini sudah tidak karuan bentuk. Terlihat di sana bahwa sepeda itu seperti habis dipukuli dengan benda tumpul hingga penyok di beberapa bagian.


"Sudah rusak, Juf!" Kata Namora sembari menarik sepeda itu dari rerumputan. Ada riak geram terpancar dari wajah Namora saat ini. Sementara giginya terus berderit menandakan bahwa dia sedang menahan amarah.


"Bagaimana cara kita membawa sepeda ini, Mora?" Tanya Jufran. Dia terlihat seperti mati akal memikirkan cara untuk membawa sepeda itu ke kota Batu.


"Begini saja. Kita tinggalkan saja sepeda ini di sini. Toh juga sudah rusak parah. Kita kabari kepada Jol bahwa sepedanya sudah rusak," jawab Namora pula. Dia sebenarnya juga bingung dengan cara apa membawa sepeda yang sudah tidak bisa dinaiki lagi itu. Padahal, tadinya dia sempat berfikir, andai sepeda itu ditemukan, maka biarkan Jufran yang naik ojek, sementara dirinya akan mengayuh sepeda itu untuk kembali ke kota Batu.


"Kasihan Jol," gumam Jufran. Dia berulang kali berdecak dan menggelengkan kepalanya tanda bahwa perbuatan Rendra dan teman-temannya sungguh melampaui batas usia mereka.


"Mereka akan mendapatkan ganjaran," jawab Namora singkat.


Sempat juga Jufran bengong dengan perkataan Namora barusan. Baginya, ganjaran apa yang akan diterima oleh Rendra, padahal yang dia ketahui, Namora sering di bully oleh Rendra dan teman-temannya.


"Ayo lah pulang. Nanti ibu ku marah!" Ajak Namora yang langsung berjalan sedikit melompat-lompat di rerumputan itu agar betisnya tidak dicakar oleh duri.


Jufran pun segera mengikuti langkah Namora tadi. Dan kini, mereka sudah tiba di dekat tempat pak ojek yang menunggu mereka.


"Pulang Pak!" Kata Namora dengan lesu.


"Wah. Mengapa? Apakah yang kalian cari sudah ketemu?" Tanya pak ojek.


"Sudah. Tapi sudah tidak bisa lagi diperbaiki,"


"Oh. Ya sudah. Ayo bapak antar kalian pulang," ajak pak ojek itu. Dia lalu memutar sepeda motornya ke arah dari mana tadi mereka datang.


Setelah Jufran dan Namora menaiki sepeda motor tadi, mereka pun langsung tancap gas untuk kembali ke kota batu dengan perasaan yang penuh kemarahan di hati Namora.


*********

__ADS_1


Keesokan harinya, seperti biasa. Namora pun berangkat ke sekolah sambil berjalan kaki.


Dari kejauhan, dia melihat bahwa Jol tampak dibonceng oleh ayahnya dengan sepeda motor.


Dia juga dapat melihat bahwa wajah Jol ketika itu cukup berantakan. Mungkin habis kena marah karena masalah sepeda itu. Atau bisa jadi Jol berbohong mengatakan bahwa sepeda miliknya telah hilang di curi kucing.


Ketika Namora tiba di gerbang sekolah, dirinya tampak seperti sedang di tunggu oleh Jol, Jericho, Juned, Jaiz, James, Julio dan Jufran.


Begitu Namora tiba di dekat mereka, ketujuh anak-anak yang sebaya dengannya itu langsung menghampiri.


"Lama sekali kau Namora?" Tanya Jericho mendahului yang lainnya. Sementara itu, Jol tampak tidak begitu tertarik.


"Enak kalian diantar ke sekolah. Aku kan jalan kaki," jawab Namora seadanya. Lalu, dia mulai bertanya. "Ada apa kalian menungguku di sini. Tidak seperti biasanya,"


"Aku sudah mendengar pengakuan dari Jufran bahwa kalian semalam sore pergi ke kampung baru untuk melihat sepeda milik Jol," tanya Jericho meminta kepastian apakah ucapan Jufran tadi benar atau hanya bualan.


"Ya. Memang kami semalam sore berangkat ke bendungan irigasi kampung baru untuk melihat sepeda milik Jol. Tapi sepeda itu sudah sangat parah sekali kerusakannya. Lebih baik beli baru daripada diperbaiki," jawab Namora mendesah. Dia tau bahwa Jol pun sudah pasrah dengan keadaan sepeda miliknya. Makanya dapat dilihat dari wajahnya bahwa dia tidak terlalu banyak berharap.


"Sudahlah. Ayo kita ke kelas. Aku malas membahas masalah ini. Aku sudah cukup kena marah oleh ayah ku. Biasanya kalau ayah ku marah, ibu akan membela. Gara-gara sepeda itu, mereka berdua memarahiku," kata Jol yang sama sekali tidak tertarik lagi.


"Percuma. Di sini kita menang. Tapi nanti Dhani akan mencari kita. Kita pasti akan kalah lagi. Badan Dhani itu terlalu besar. Aku tidak mampu melawannya. Apa lagi dia punya ramai kawan. Kita pasti akan kalah," Jol sepertinya sangat ogah memperpanjang masalah ini. Karena, dia sadar pasti akan kalah lagi. Sementara Namora, mereka menganggap bahwa Namora ini hanya anak bawang saja. Tidak masuk dalam perhitungan.


"Ya sudahlah kalau kau memang tidak mau. Ayo kita ke kelas!"


Delapan anak-anak SMP itupun mulai melangkah menuju ke pekarangan sekolah untuk meletakkan tas buku mereka di meja masing-masing.


Rencananya, setelah menaruh buku mereka di laci meja, mereka akan segera ke kantin untuk sarapan. Tapi siapa sangka, ketika di dalam kelas, mereka malah bertemu dengan Rendra and the Gang. Sehingga, tatapan dan senyuman sinis pun mulai tercermin pada wajah masing-masing.


Namora yang tidak ingin masalah ini menjadi semakin panjang, segera berjalan menuju ke arah meja yang biasa dia gunakan untuk belajar. Tapi apa daya, dia memang tidak mencari masalah. Namun, sepertinya masalah lah yang mencarinya.


Set...!


Brugh..!


"Aduh!" Pekik Namora. Karena, begitu dia akan duduk, salah seorang teman Rendra menarik kursinya sehingga Namora jatuh terduduk di lantai tanpa pantatnya sempat menyentuh kursi.

__ADS_1


"Hahahaha..."


"Rasakan itu!"


Mereka semua menertawakan Namora yang tampak meringis kesakitan.


"Apa salah ku?" Tanya Namora sambil bangkit dari jatuhnya.


"Salah? Salah mu banyak. Tapi itu tidak perlu. Cuma kau saja yang tidak sempat kami hajar. Karena, kau tidak kami temukan. Andai kau bertemu dengan kami, kau pasti akan dihajar oleh Dhani dan teman-temannya. Sekarang, biar kami yang akan menghajar mu!"


"Jangan lah begitu, Rendra! Dua tahun aku terus-menerus kalian bully. Apa kalian tidak lelah?" Tanya Namora memelas. Padahal, di dalam hatinya kini sudah terlanjur panas.


"Kami akan melepaskanmu. Asal, sini uang jajan mu!" Pinta Rendra sambil menadahkan tangannya.


Namora segera merogoh saku celananya, kemudian menyerahkan uang jajan yang diberikan oleh ibunya kepada Rendra.


"Namora!"


"Heh. Diam kalian. Ini urusan kami dengan Namora. Kalian jangan ikut campur. Atau kalian mau dihadang oleh Dhani di gerbang sekolah?" Ancam Rendra kepada Juned yang tadi terdengar menegur Namora supaya tidak menyerahkan uang jajan miliknya kepada Rendra.


"Duduk kau Juned!" Kata Jol dengan menarik baju sahabatnya itu.


"Jol?!"


"Sudah. Duduk saja dulu. Kita akan kalah lagi,"


Juned tampak pasrah dan menghentakkan kakinya di lantai.


"Baiklah. Ternyata kita sudah jadi bacul sekarang!" Katanya yang langsung duduk.


Mereka hanya bisa memperhatikan dengan tidak rela ketika Namora menyerahkan uang jajannya kepada Rendra.


"Nah. Begini kan bagus. Selesai urusan," kata Rendra tersenyum.


Sebelum dia kembali ke kursinya, dia sempat menepuk-nepuk pipi Namora sambil tersenyum jahat sekali.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2