
Komplek perumahan elit kota Kemuning.
Ratusan mobil mewah dengan berbagai model dan merek, tampak saling beriringan meninggalkan kota Kemuning dengan arah tujuan ke kota Batu.
Dari setiap wajah orang yang berada di dalam setiap kendaraan penuh dengan senyuman dan suka cita seolah-olah bahwa hari ini bagaikan hari besar bagi mereka.
Ada ramai warga kota Kemuning yang menyaksikan konvoi tersebut dengan berbagai reaksi. Sudah lama kota Kemuning ini seperti mati suri. Dahulu, sekitar delapan belas tahun yang lampau, pemandangan seperti ini kerap terjadi. Apa lagi ketika itu pembangunan di kota Kemuning ini sedang gencar-gencarnya. Ada banyak orang besar keluar masuk dengan kekuatan besar ke kota ini. Namun, itu dulu. Setelahnya, kota Kemuning ini bagaikan kota yang ditinggalkan oleh tuannya.
Walaupun aman dan bebas dari gangguan pihak luar, tapi kota Kemuning ini seperti kota yang tidak maju walaupun tidak bisa dikatakan mundur. Mereka seperti bergerak ditempat. Tapi, sepertinya pagi ini berbeda. Pemandangan delapan belas tahun yang lalu kini kembali tersaji dihadapan orang-orang senior di kota ini.
Mungkin bagi angkatan muda, mereka tidak tau siapa yang mampu dan memiliki kekuatan untuk memobilisasi massa berkendaraan mewah seperti ini. Namun, bagi angkatan tua, mereka tau bahwa hari ini, seorang toko besar yang berhasil merubah wajah kota Kemuning akan terbebas dari penjara. Dialah Tigor sang Black Cat yang sekitar delapan belas tahun yang lalu sangat digeruni dan mampu membuat orang-orang bergidik ngeri ketika berselisih dengannya.
Bagi para sahabatnya, Tigor adalah ketua, saudara, dan sahabat. Sedangkan bagi orang awam, Tigor adalah orang yang dermawan, orang yang mampu membuka lapangan kerja bagi mereka. Penggagas berdirinya Yayasan Martins. Orang yang menyulap kota kecil seperti kota Kemuning menjadi kota maju. Bahkan, sejak saat itulah kota Kemuning menjadi kotamadya terpisah dari kabupaten dan dipimpin oleh walikota. Kota Kemuning sukses mensejajarkan diri dengan kota lain seperti kota Tasik Putri yang lebih dahulu menjadi kotamadya. Namun, bagi orang yang sengaja mencari silang sengketa dan berselisih dengan Tigor, maka Tigor akan berubah menjadi Black Cat. Beberapa korban yang telah tewas ditangannya untuk membangun kota Kemuning ini adalah Jordan dan Ronggur.
__ADS_1
Jordan, dulunya adalah penguasa tak resmi di kota Kemuning ini. Pada awal Jordan memasuki kota Kemuning ini, dia didukung oleh kekuatan organisasi kucing hitam dari kota Tasik Putri. Hanya saja, Jordan berkhianat, kemudian menjalin kerjasama dengan Geng Tengkorak yang dipimpin oleh Birong di kota batu. Sampailah pada akhirnya Martins mengirim Tigor untuk membersihkan kota Kemuning yang berakibat pada terbunuhnya Jordan dan putranya yaitu Ronggur. (Baca novel Karya Edane Sintink berjudul Black Cat untuk lebih lengkapnya)
Singkat cerita, bagi mereka yang mengenal Tigor, dirinya adalah dua sisi dari mata uang. Bisa baik melebihi orang dermawan, di sisi lain, dia juga bisa sangat kejam mengalahkan setan di kerak neraka. Dan iring-iringan mobil itu bertujuan untuk menjemput sang penguasa kota Kemuning ini.
Kebebasan Tigor kali ini sungguh menggemparkan satu provinsi di Sumatera Utara ini. Baik kawan maupun lawan, bagi mereka, kebebasan Tigor dari penjara menjadi perbincangan hangat. Bahkan, tidak sedikit yang memprediksi bahwa kebebasan Tigor kali ini akan membuat gebrakan baru di kalangan dunia abu-abu. Namun, tidak sedikit yang menilai bahwa sang Putra yang tidak lain adalah Namora secara perlahan telah mengikis tanggapan mereka. Untuk saat ini saja, jika ingin mengatakan gebrakan, tidak perlu menunggu Tigor bebas. Karena, Namora saja sudah menjungkirbalikkan dunia bisnis. Bahkan, kota L yang tidak tersentuh oleh Tigor pun kelimpungan menghadapi anak kecil yang secara terang-terangan mengatakan di media bahwa dirinya menganggap Agro finansial Group yang merupakan wajah Kota L sebagai musuh abadi yang layak dibumihanguskan. Jika tidak melebihi Tigor, entah apa kata-kata yang cocok untuk anak yang bisa dikatakan masih mengenakan popok dalam dunia bisnis itu. Mungkin kata yang pantas adalah Gila dan tidak menggunakan otaknya dengan benar. Namun, walau demikian, Namora masih aman-aman saja dan masih arogan. Walaupun banyak yang menginginkan agar anak ini binasa, tapi anak itu tetap sehat dan segar bugar.
Terlepas dari semua omong kosong diatas, seorang pemuda dengan mata merah dan berair tampak sedang berdiri di lantai atas Martins hotel.
Dia tegak mematung di balkon lantai teratas hotel tersebut sambil menatapi iring-iringan mobil mewah itu. Tangannya terkepal erat, dahinya menonjolkan urat-urat, dan giginya bergemeletuk. Sepertinya, pemuda itu sedang memendam berbagai perasaan yang sulit untuk digambarkan. Dibelakang pemuda itu, berdiri seorang lelaki tua mengenakan pakaian ala pegawai kantoran. Siapa lagi kalau bukan pak Karim. Dan pemuda yang sedang meredam emosinya itu tidak lain adalah Namora.
Seharusnya, dirinya berada diantara mereka yang mengendarai ratusan mobil itu. Tentunya dengan Bugatti Veyron yang diberikan Lalah kepadanya. Namun, disaat persiapan telah dia lakukan dengan cermat dan teliti, di situ pula lah para pemegang saham di Martins Group membuat ulah dengan mendesaknya untuk mengadakan rapat dewan direksi dan menuntut dirinya dengan berbagai tuntutan yang disertai dengan ancaman.
Namora tidak punya pilihan lain selain menghadiri rapat tersebut. Karena, jika dia tidak hadir, bagaimana dia bisa membalikkan keadaan? Justru dengan dirinya tidak hadir, maka keputusan apapun yang diambil oleh mereka nantinya, tidak akan dapat dibantah lagi oleh Namora. Dengan dia tidak hadir, otomatis setiap keputusan akan menjadi final. Iya kalau keputusan itu nantinya baik. Bagaimana jika keputusan itu nantinya memaksa dirinya agar lengser dari jabatan CEO yang saat ini dia sandang? Bisa kacau perusahaan. Namun, di balik semua ini, sepertinya mereka sengaja menargetkan dirinya. Mereka sengaja memilih hari ini untuk membuat Namora terpojok. Karena, jika Namora memilih menghadiri rapat, maka dirinya akan gagal berangkat ke kota Batu untuk menjemput ayahnya yang akan segera terbebas. Namun, jika dia memaksa pergi dan menganggap bahwa rapat kali ini tidak penting, malah akan membahayakan perusahaan.
__ADS_1
Dalam kemelut dilema yang melanda hatinya, akhirnya Namora lebih mementingkan kepentingan perusahaan. Karena, menurut dirinya, tanpa dirinya pun, ayahnya tetap akan bebas hari ini dan akan kembali dengan selamat ke kota Kemuning. Tapi, jika tanpa dirinya pada rapat dengan dewan direksi kali ini, sudah dapat dipastikan bahwa Martins Group akan berada dalam bahaya. Dan bahaya itu dampaknya akan meluas. Bisa jadi perusahaan akan mengalami kerugian, orang-orang akan kehilangan pekerjaan. Oleh karena itu, Namora menyingkirkan perasaan emosional pribadinya demi keluarga, dan memilih hal besar yang menyangkut pada perusahaan. Karena, walau bagaimanapun, banyak orang yang menggantungkan hidupnya di perusahaan untuk mencari nafkah.
Namora tetap berdiri di tempat semula sampai iringan mobil itu menghilang dari pandangannya. Setelah mobil mereka menghilang, barulah Namora membalikkan badannya.
"Kita ke kantor!" Kata Namora sembari berlalu melewati Pak Karim yang berdiri di sana. Dia sengaja membiarkan Namora mendahuluinya, barulah dia melangkah menyusul majikannya itu.
Sambil melangkah, Namora mengeluarkan handphone miliknya, kemudian mengirim pesan suara.
"Departemen keuangan. Apakah rekap keuangan perusahaan telah kalian selesaikan? Aku tidak mau tau. Waktu yang kuberikan kepada kalian adalah 15 jam, dan itu lebih dari cukup mengingat sumber tenaga yang kalian miliki. Jika rekap yang aku minta tidak selesai, kalian bisa melupakan Martins Group dan melamar pekerjaan di perusahaan lain!" Tegas isi pesan dari Namora ini. Cukup untuk membuat orang-orang yang bekerja di departemen keuangan merasakan kecut.
Baru saja Namora akan memasukkan kembali handphonenya, suara notifikasi pun terdengar.
Namora segera melihat ke arah layar, lalu membuka kunci untuk melihat isi pesan tersebut.
__ADS_1
"Hmmm...," Kata Namora bergumam. Dia lalu memasukkan handphonenya, lalu mempercepat langkah kakinya menuju pintu lift dengan diikuti oleh pak Karim.
Bersambung...