Namora

Namora
Jhonroy membunuh lagi


__ADS_3

Prak..!


Suara kaca pecah memenuhi ruangan besar di aula utama rumah besar milik Jhonroy di kota L.


Lelaki tua itu baru saja mendapat laporan dari satu-satunya orang yang selamat dari pembantaian yang dilakukan oleh Namora.


Seperti setrika rongsok, lelaki tua yang baru saja membalikkan meja di ruangan itu, tampak mondar-mandir. Wajahnya yang sudah mengeriput tampak memerah membuat tampangnya yang seram semakin menyeramkan.


Dia Benar marah kali ini. Bukan hanya dia tidak mendapatkan apa yang dia inginkan, akan tetapi, yang lebih parahnya lagi adalah, lebih dari tiga puluh orang yang dia tugaskan untuk meringkus Arda, Ardi dan Merisda malah menjadi korban.


Dengan luapan kemarahan yang terasa sangat menyesakkan dada, lelaki tua itu berjalan menghampiri satu-satunya lelaki yang selamat dari pembantaian itu. Tindakannya ini membuat lelaki itu yang tadinya berlutut ketakutan, menjadi semakin ketakutan. Kemudian, dia merasakan bahwa rambutnya tertarik ke atas.


Rasa sakit membuat lelaki itu mengikuti saja arah tarikan pada rambutnya sehingga kini dia berdiri tegak, namun semakin gemetaran.


"Ampuni saya, Tuan. Mereka terlalu kuat," kata lelaki itu dengan suara memelas.


"Kau bilang mereka? Mereka siapa yang kau maksud hah?"


Plak...! Suara tamparan memenuhi ruangan itu sekali lagi.


"Namora.., orang itu bernama Namora. Dia sengaja membiarkan saya hidup untuk mengirim pesan kepada anda, Tuan," jawab lelaki itu sambil mengusap pipinya yang sudah membengkak.


"Lalu, kau menuruti perintahnya?" Semakin dingin suara Jhonroy seolah-olah suara itu berasal dari liang kubur.


"Ampuni saya Tuan. Jika saya tidak menuruti perintahnya, maka saya pasti ikut terbunuh,"


Bugh..!


"Bajingan kau. Hanya aku, orang yang patut untuk kau takuti. Bukan anak ingusan itu. Menurutmu, apakah kau masih memiliki kesempatan untuk melihat matahari esok?"


Serrr...! Air hangat beraroma menyengat membasahi celana lelaki itu. Dia tau bahwa dirinya akan berakhir malam ini.


Dengan rasa keputusasaan, lelaki itu mendongak menatap lurus ke bola mata Jhonroy.


"Sialan kau orang tua bau tanah. Bukannya bertaubat, malah menginginkan daun muda. Apa kau tidak menyadari bahwa cacing tanah sudah lama menantikan bangkai mu? Kau ini benar-benar jelmaan iblis laknat. Karena perintah sialan mu itu, teman-temanku menjadi korban. Ku bunuh kau!"


Hilang sudah ketakutan pada wajah lelaki itu, digantikan dengan kemarahan. Dia merasa frustasi. Bagaimanapun, Jhonroy tetap tidak akan membiarkannya untuk hidup. Jadi, terlanjur basah, lebih baik nyemplung sekalian.


Tangan lelaki itu menjulur ke depan mencengkeram erat leher Jhonroy. Dia ingin membunuh lelaki tua mesum itu dengan segera.

__ADS_1


"Oeeek.., sialan kau. Hamba sahaya yang tidak tau diri. Jauhkan tangan kotor mu itu dari diriku!" Jhonroy terengah-engah berusaha meronta. Akan tetapi, dia kalah kuat dibandingkan dengan lelaki tadi.


"Sebaiknya kau mati saja, orang tua mesum. Semakin lama kau hidup, akan semakin banyak orang yang kau dzalimi!"


Tepat ketika lidah Jhonroy telah terjulur, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dalam jumlah yang ramai memasuki ruangan itu.


Melihat puluhan orang memasuki ruangan itu, semangat Jhonroy untuk hidup kembali bangkit. Dengan sisa tenaga yang dia miliki, dia lalu berteriak meminta tolong.


"Tolong. Bangsat ini ingin memberontak dan membunuh ku,"


Tidak menunggu lama-lama, puluhan orang yang baru memasuki ruangan itu segera melepaskan cengkraman lelaki tadi di leher Jhonroy dengan paksa hingga terlepas.


Setelah terlepas dari cengkraman tangan lelaki tadi, Jhonroy segera beringsut menjauh, kemudian menarik udara dengan sekuat-kuatnya.


Berulang kali suara batuk terdengar dari mulutnya. Tapi, bukannya ketakutan, dirinya menjadi semakin beringas.


Sementara itu, lelaki tadi sudah mulai dipukuli oleh orang-orang yang memasuki ruangan hingga babak belur.


Tidak ingin lelaki itu mati begitu saja, Jhonroy langsung membentak dan berkata, "jangan bunuh dia. Aku ingin berburu malam ini!"


Selesai mengucapkan kata-kata, Jhonroy segera mengambil busur panah beserta anak panahnya, kemudian membidik ke arah lelaki tadi.


Melihat ujung anak panah mengarah tepat ke arahnya, senyum sinis terukir jelas di bibir lelaki tadi. Kemudian dia menghamburkan sumpah serapah kepada Jhonroy.


"Dasar lelaki tua cabul. Mati mu akan jadi anjing atau babi ngepet. Mungkin neraka terlalu ringan bagimu. Iblis bertopeng manusia!"


Wuzzz ..!


Jlep..!


Kata-kata sumpah serapah dari mulut lelaki itu mendadak terhenti ketika sebatang anak panah menancap tepat di tenggorokannya.


"Hoeek..!"


Lelaki itu memegang lehernya yang tertembus anak panah, kemudian tubuhnya merosot jatuh ke lantai. Hanya sebentar dia menggeliat, kemudian nyawanya sudah terpisah dari tubuhnya akibat panah yang mengandung racun ganas tersebut.


Jhonroy melangkah mendekati tubuh yang sudah tanpa nyawa itu, mencabut anak panah yang tertancap di leher lelaki tadi, menyeka darah pada batang anak panah dengan baju lelaki itu, kemudian berkata, "buang mayatnya ke laut! Biar menjadi santapan ikan,"


Beberapa orang langsung menggotong mayat lelaki tadi, kemudian memasukkannya ke dalam mobil Van, lalu meninggalkan rumah besar itu menuju ke arah pantai yang berjarak sekitar satu jam perjalanan mengendarai mobil dari rumah besar itu.

__ADS_1


Kini, tinggallah Jhonroy sendirian di ruangan besar itu.


Dia sama sekali tidak menyangka, setelah sekian puluh tahun menjadi penguasa dunia gelap di kota L, dia akan mendapatkan kenyataan bahwa dia hampir mati ditangan lelaki sampah seperti tadi. Andai kejadian tadi diketahui oleh orang lain di lingkaran atas, sudah pasti dirinya akan menjadi bahan tertawaan.


Jhonroy yang agung nyaris mati di tangan seorang hamba sahaya. Tidak dapat dibayangkan akan dia taruh dimana wajahnya.


"Ini semua berawal dari Namora. Anak ingusan ini mengapa begitu licin sekali?"


Wajah Jhonroy mengelam memendam kemarahan.


Dia sama sekali tidak menyangka bahwa kewibawaannya akan dirong-rong oleh anak kemarin sore. Baginya, ayahnya saja tidak berani melanggar batas. Akan tetapi, anaknya yang masih remaja, berani melanggar batasan-batasan yang telah mereka sepakati secara resmi tersebut. Inilah yang membuat Jhonroy tidak habis pikir.


"Tomo!" Jhonroy berteriak memanggil.


Tak lama setelah itu, seperti lelaki berpenampilan seperti waria datang menghadap, kemudian dengan gaya bicara yang membuat perut mual pun bertanya. "Tuan Jhonroy yang agung memanggil saya?" Tanya lelaki tak normal itu dengan mata berkedip genit.


"Cetak foto ini! Buat sampai beberapa lembar!' kata Jhonroy sembari menyerahkan handphone miliknya kepada lelaki lemah gemulai itu.


Lelaki banci itu menatap ke arah layar ponsel dimana di sana terlihat foto seorang pemuda remaja sedang tersenyum.


Lelaki itu mengangguk, kemudian berjalan melenggak-lenggok meninggalkan ruangan itu untuk menyelesaikan pekerjaannya.


"Anak ini harus mati. Harus!" Gumam Jhonroy dengan nada suara tertahan. Dia sudah memiliki rencana untuk Namora.


Jhonroy bangkit dari kursinya, mengelus-elus lehernya yang masih terasa sakit, kemudian melangkah ke arah meja yang diatasnya terdapat pesawat telepon, kemudian mengangkat gagangnya, lalu memutar beberapa angka.


"Hallo, Ayah!" Terdengar suara sapaan dari seberang sana.


"Teja. Berhenti bermain-main, dan pulang segera. Ayah sedang menghadapi masalah dengan orang-orang dari kota Kemuning!"


"Masalah?" Terdengar suara dari seberang sana seolah-olah penuh tanda tanya.


"Kau pulang saja! Ayah ingin merundingkan masalah ini dengan mu. Jika kau tidak mau menuruti kata-kata ayah, maka ayah akan meminta adik tiri mu Angga untuk menemani ayah di sini. Tapi kau jangan menyesal kelak jika kau akan terhapus sebagai calon pewaris sah dari Agro finansial Group!"


"Baik ayah. Jangan lakukan itu! Aku akan pulang besok. Dan paling lambat, sebelum tengah hari aku pasti sudah akan sampai di kota L," jawab Teja bersungguh-sungguh. Jelas ada nada kekhawatiran dari bicaranya.


Jhonroy tersenyum jahat mendengar jawaban itu. Dia kemudian tanpa basa-basi lagi, langsung meletakkan gagang telepon kembali ke tempatnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2