
Dua orang lelaki berusia sekitar 25 tahun yang berada di dalam mobil tampak sedang memperhatikan beberapa orang meninggalkan Dojo dengan tampang serius.
Tepat ketika orang-orang tersebut meninggalkan area tersebut, salah seorang dari kedua orang yang berada di dalam mobil tadi langsung mengeluarkan ponselnya, kemudian melakukan panggilan.
Sementara itu, Namora yang masih bersama dengan Jol sedang berada di dalam mobil untuk dengan niat ingin melihat-lihat sendiri seperti apa keadaan keluarga pak Eliot saat ini.
Wajah Namora seperti biasa, sedikitpun tidak ada ekspresi. Tapi wajah Jol saat ini terlihat sangat pucat. Bagaimana tidak pucat? Namora mengemudikan mobilnya seperti jalan itu adalah milik nenek moyangnya.
Berulang kali Jol memperingatkan kepada Namora agar mengemudi secara perlahan.
"Woy Mora. Kalau aku tau kau baru belajar, tidak sudi aku ikut denganmu naik mobil. Mana kau tidak punya surat izin mengemudi pula. Bukankah lebih baik kita tadi naik motor saja!?"
"Tenang saja Jol! Kalau tidak nekat, kapan kita bisa mengendarai mobil? Aku punya satu mobil Bentley sport. Aku sudah gatal pingin mengendarai itu. Tapi Paman Ameng tidak mengizinkan. Kau santai saja. Setelah aku, kau pula yang mengemudi. Kita gantian,"
Jol menggeram melihat Namora yang sepertinya sangat nekad. "Kau ini. Ayo kita kembali saja. Kalau mau belajar bukan di sini tempatnya. Ini jalan umum. Bisa almarhum kita kalau begini,"
Karena didesak terus oleh Jol, akhirnya Namora mengalah juga. Tapi dia bingung bagaimana caranya untuk kembali. Sedangkan untuk memutar, masih jauh.
Tepat ketika dia berpikir, teleponnya tiba-tiba berdering.
"Kau lihat di sana itu ada halte kan? Parkir di sana saja!" Kata Jol sembari menunjuk ke arah halte.
Namora pun segera memarkir mobilnya, kemudian melihat ke layar ponsel miliknya. Dan dia melihat bahwa Lan meneleponnya.
"Ini dari Lan. Pasti ada sesuatu yang akan dia sampaikan," kata Namora. Kemudian dia segera menelepon kembali.
"Hallo Tuan muda!" Sapa Lan di ujung sana.
"Lan. Apa informasi yang kau dapat?" Tanya Namora.
"Tuan muda. Saya telah mengintai keluarga Eliot seperti yang anda minta. Tadi, saya baru saja membuntuti Ardi. Sepertinya dia punya rencana kotor untuk anda," jawab Lan.
"Rencana kotor?" Namora tampak lebih serius dalam pertanyaannya.
"Tuan muda. Ardi bersama dengan Dhani dan dua orang lainnya baru saja meninggalkan Dojo kampung baru. Sepertinya mereka sedang merencanakan sesuatu. Kami melihat bahwa Ardi menyerahkan sejumlah uang kepada dua orang pemuda yang sebaya dengan anda. Jika saya mengira, kemungkinan adalah, orang-orang ini juga mengikuti turnamen kejuaraan pencak silat,"
Mendengar penjelasan dari Lan. Namora dan Jol pun saling pandang. Jelas bahwa Ardi tidak akan melepaskan dirinya begitu saja. Bahkan, setelah penjelasan dari Lan tadi, kemungkinan terbesar adalah, Ardi, dan Arda telah menyelidiki tentang dirinya.
__ADS_1
Namora berpikir, jika sekarang ini mereka mendekati musuh-musuhnya, kemungkinan besok mereka akan menyakiti orang-orang yang terdekat dengannya pula.
"Lan. Aku menerima informasi darimu. Segera kembali ke keluarga Eliot!"
"Baik Tuan muda!"
Setelah panggilan itu berakhir, Namora segera memandang ke arah Jol.
"Kau ingin aku memberikan pendapat?" Tanya Jol yang mengerti bahwa Namora ingin berunding dengannya.
Namora hanya mengangguk. Dia ingin tau apa pendapat Jol dengan masalah ini.
"Mora. Mereka ini bermain kasar. Jika kita terlalu halus, maka kita hanya akan menjadi target. Memangnya mereka saja yang bisa berbuat? Kita juga bisa!"
"Jol.., maksud mu?"
"Jangan berlagak terlalu bodoh. Tangan ku gatal. Ayo kita samperin Dojo dimana Diaz dan antek-anteknya sedang berlatih!"
"Mantap. Ini baru sahabat ku!" Namora mengacungkan jempolnya kearah Jol. Kemudian dia melakukan panggilan kepada Zack untuk mengantar motornya. Karena, jika mengendarai mobil dengan cara seperti barusan, bisa-bisa Minggu depan mereka baru akan tiba di kampung baru.
Lima belas menit berselang, satu unit sepeda motor Yamaha R1 pun berhenti di depan halte bus tempat Namora tadi berhenti.
*********
Kita tinggalkan dulu Namora dan Jol dengan segala kegilaannya. Kini, kita beralih ke pusat tahanan kota Batu.
Di salah satu meja di ruangan besuk, terlihat tiga orang lelaki berbeda pakaian sedang duduk di sana dengan wajah serius.
Lelaki pertama, dengan wajah penuh dominasi adalah Tigor. Dia mengenakan pakaian khasnya yaitu baju tahanan berwarna oranye. Duduk di depannya adalah seorang lelaki yang sebaya dengannya, mengenakan pakaian jas hitam, sepatu kulit dan lengkap dengan dasi. Penampilan orang ini bisa dikatakan seperti seorang pengacara. Orang ini adalah Ameng. Dan yang duduk di sebelah Ameng adalah seorang lelaki yang usianya terlihat lebih muda beberapa tahun. Orang ini mengenakan seragam kepolisian. Dan dia adalah komandan tertinggi di Kapolres Kota Batu ini. Siapa lagi kalau bukan Rio.
Tujuan pertemuan mereka kali ini sangat jelas. Yaitu, mengadukan sepak terjang Namora yang belakangan ini sangat menggemparkan dunia bisnis dan dunia bawah tanah.
Ameng, sambil didengarkan oleh Tigor Habonaran, dan Rio Habonaran menceritakan tentang Namora yang pada hari pertamanya menduduki posisi Boss di Martins Group, telah memutuskan kerjasama dengan lebih dari lima perusahaan sekaligus. Kemudian, Ameng juga mengadukan bahwa Namora tanpa pikir panjang, telah memecat hampir 70% pejabat senior di Martins Group. Termasuk Manager eksekutif, Manager pemasaran, pelaksana lapangan dan banyak lagi. Dan yang paling parah, Namora memaksa Tanta untuk memuntahkan sahamnya di Agro Chemical dan memaksa mengakuisisi perusahaan tersebut.
Awalnya, Ameng khawatir dengan aduan yang dia buat. Dia memang khawatir kalau Namora akan berada dalam masalah besar. Tapi, yang paling dia khawatirkan adalah, jika Tigor juga akan memarahi Namora juga. Makanya dia sedikit ragu. Namun, kelihatannya Tigor tenang-tenang saja. Dan ini membuat Ameng menarik nafas lega.
"Hanya itu saja kekacauan yang ditimbulkan oleh bodat itu?" Tanya Tigor dengan ekspresi santai.
__ADS_1
"Benar Bang. Masalahnya sudah seperti ini. Saat ini, Martins Group sudah menjadi musuh bagi banyak perusahaan. Namora, mengobok-obok kepentingan mereka di perusahaan. Saya khawatir memandang bahwa kejadian ini tidak akan sesederhana yang kita kira,"
"Kerjasama antara Agro chemical dengan Martins Group adalah kesepakatan kerjasama yang kalian ambil setelah aku masuk penjara. Beruntung bagi kalian bahwa Namora yang mengambil tindakan. Andai itu aku, aku tidak akan melepaskan kalian setelah selama ini perusahaan terus berada pada titik yang sama tanpa perkembangan. Aku menunggu waktu dibebaskan sebelum melakukan investigasi terhadap kecurangan dalam kesepakatan kerjasama yang ditandatangani oleh staf di Martins Group dengan Agro chemical. Aku sepenuhnya menyetujui apa yang dilakukan oleh Namora. Bagaimanapun, perusahaan itu atas namanya sekarang!"
Ameng menelan ludahnya ketiak mendengar kata-kata dari Tigor. Dia sudah menduga bahwa Tigor tidak akan marah. Akan tetapi, dia juga tidak menyangka bahwa Tigor akan mendukung keputusan Namora secara mutlak.
"Bang. Aku memang mengkhawatirkan masalah perusahaan kita yang dimusuhi oleh publik. Hanya saja, yang lebih membuatku khawatir adalah tentang keselamatan Namora. Apa Abang ingat dengan penguasa kota L di dekat ibukota provinsi?"
Tigor mengangkat kepalanya, kemudian menatap ke arah Ameng penuh tanda tanya.
"Katakan!" Pintanya dengan tegas.
Ameng menarik nafasnya dalam-dalam sebelum melanjutkan. "Agro Chemical adalah perusahaan yang didirikan oleh Tanta. Namun, Tanya ini hanyalah boneka. Sedangkan yang bermain di balik layar adalah Jhonroy. Kita tidak pernah berurusan dengan kelompok ini. Kali ini, Namora sudah merampas Agro chemical dengan paksa. Aku khawatir masalah ini akan menjadi masalah antara Dragon Empire dengan Agro finansial Group. Karena, Martins Group tidak akan mampu menahan jika Agro finansial Group menginvasi pasar di lima kota yang telah kita kuasai,"
"Hmmm. Manarik. Tadi kau katakan bahwa Agro Chemical hanyalah boneka. Berarti, tanpa kita mencari masalah dengan Agro finansial Group, bukankah mereka sendiri yang membuka silang sengketa dengan kita melalui Agro Chemical?
Meng. Kau harus tau mengapa aku menahan diri untuk tidak berurusan dengan Jhonroy ini. Itu karena, ketika itu aku terlalu banyak musuh. musuh utama waktu itu adalah Birong. Belum selesai dengan Birong, sudah ada Beni dan Marven yang membuat aku melupakan Jhonroy ini. Setelah itu, aku malah dipenjara. Sehingga, tidak ada kesempatan bagiku untuk berurusan dengan mereka. Kini, pintu itu telah dibuka oleh Namora. Apa kau tidak senang dengan kesempatan ini?"
"Kau enak bicara seperti itu bang. Kayak kau sudah bebas saja. Kau masih berada di penjara. Sedangkan mereka, kapan saja mereka bisa mencelakai Namora. Bagaimana cara memobilisasi kekuatan jika sesuatu terjadi? Sedangkan kau masih berada di penjara. Apakah aku harus menggerakkan orang-orang Dragon Empire tanpa dirimu? Kau bisa berkata bahwa kau yang memerintahkan. Akan tetapi, peraturan di dalam organisasi adalah, bahwa aku tidak layak. Tuan Arslan bisa memenggal kepalaku kalau gini caranya!"
Baru lah Tigor mengerti tentang kekhawatiran Ameng. Ya. Dia memang tidak mengira akan serumit ini. Andai dia berada di kota Kemuning, kemungkinan dia bisa menyelesaikan masalah ini. Andai dia tidak sanggup pun, dia bisa langsung meminta bantuan kepada Jerry William di Starhill. Tapi ceritanya berbeda, karena saat ini dia masih berada di dalam penjara. Baru tiga minggu lagi dia terbebas.
Ditengah ketiga orang itu masih larut dalam pikiran masing-masing, tiba-tiba telepon genggam milik Ameng berdering.
"Hallo..!" Kata Ameng setelah panggilan itu terhubung.
"Ya!"
"Apa..?" Tanpa sadar nada suara Ameng meninggi diikuti dengan ekspresi wajah yang berubah-ubah. Terkadang wajah Ameng memerah, kemudian memucat. Hal ini tentu saja membuat Tigor dan Rio menjadi penasaran.
"Baik. Kalian semua! Terus ikuti perkembangan. Bawa seratus orang untuk melindungi tuan muda kalian secara diam-diam!"
Setelah Ameng mengakhiri panggilan, dia segera menatap dengan wajah pucat ke arah Tigor.
"Ada apa?" Tanya Tigor dengan ekspresi tak kalah tegangnya.
"Bang. Berita dari orang-orang ku mengatakan bahwa Jhonroy telah membunuh Tanta!"
__ADS_1
"Apa?" Tigor dan Rio serentak kaget mendengar informasi ini.
Bersambung...