Namora

Namora
Fighter Club


__ADS_3

Ameng, yang baru saja meninggalkan rutan kota Batu langsung menuju ke rumah Rio.


Di sana dia melihat tidak ada seorang pun yang tampak di luar. Menyadari kalau di dalam ada istri Rio, dia tidak berani memasuki rumah tersebut.


Bersandar di pintu mobilnya, Ameng menyulut sebatang rokok dan sangat menikmati hembusan asap pertama.


Dia melirik ke arah arloji branded original yang dia kenakan. "Hmmm... Masih terlalu siang," katanya. Namun, dia segera mengeluarkan ponselnya kemudian mencari nomor telepon Namora, lalu melakukan panggilan.


Namora yang kala itu masih terus berendam di bathtub kamar mandi segera menyudahi berendamnya. Dia sudah terlalu lama berendam. Bahkan, nyaris 3 jam dia di sana sehingga bibirnya sudah membiru.


Namora meraih handuknya, dan keluar dari kamar mandi. Dia mempercepat langkahnya ketika mendengar ponselnya di kamar berdering.


"Paman Ameng?" Serunya dalam hati.


Namora segera menyambar ponsel miliknya di atas tempat tidur, kemudian mengusap layar untuk menjawab panggilan tadi.


"Paman?!" Sapa Namora.


"Mora. Apakah kau ada di dalam?" Tanya Ameng.


"Iya. Ada apakah, Paman?" Tanya Namora. Dia tidak tau bahwa Ameng saat ini berada di luar, tepat di depan rumah.


"Tidak ada apa-apa. Paman hanya ingin mengajakmu untuk jalan-jalan. Cepatlah keluar!" Suruh Ameng kepadanya.


Namora mengernyitkan dahinya. Dia tidak tau untuk apa Ameng tiba-tiba mengajaknya untuk jalan-jalan. Hanya saja, dia tidak membantah. "baik, Paman. Namora akan keluar sebentar lagi!" Jawab anak itu. Dia lalu buru-buru mengenakan pakaian, lalu setelah berpamitan dengan istri Rio, dia pun segera berjalan menuju keluar rumah.


Di depan, Namora melihat Ameng sudah menunggunya. Namora pun menghampiri Ameng dan membungkukkan badannya sedikit.


"Heh. Biasanya kau langsung memeluk pamanmu ini ketika bertemu. Mengapa kau begitu formal?" Tanya Ameng tidak mengerti.

__ADS_1


Namora tidak menjawab. Dia hanya tersenyum dingin, lalu bertanya. "Kemana kita akan pergi, Paman?"


"Keliling kota Batu. Ada pertarungan jalanan. Paman sudah lama tidak melihat perkelahian. Ayo masuk!" Ameng mengajak Namora untuk masuk ke dalam mobil.


Setelah mereka berdua berada di dalam mobil, tanpa banyak bicara lagi, Ameng segera tancap gas menuju ke bagian belakang kota Batu. Di sana ada rumah perjudian, club malam, dan pusat hiburan yang sering dikunjungi oleh banyak mafia lokal.


Ameng tau betul tempat ini. Ketika Ameng berada di sini, semua orang akan merasa sungkan kepadanya. Tidak ada yang berani memprovokasi Ameng. Atau, kota Batu ini akan rata dengan tanah.


Ameng ini, walaupun sedikit jenaka, tapi jangan tanya ketika dia sudah marah. Para mafia lokal itu bisa terkencing-kencing di celana. Siapa juga yang berani dengan salah satu dari sembilan naga pentolan Dragon Empire. Dia bersama Andra, Monang, Acong, Timbul, Ucok, Thomas, Jabat, dan Sugeng adalah sembilan orang yang layak di sebut Naga, walaupun julukan yang tepat untuk Ameng adalah salah satu dari empat Mister dadakan.


Empat Mister dadakan merujuk kepada Ameng, Acong, Timbul ( Thai ngambhang) dan Andra, (Thai Linchong) Kesembilan orang ini adalah tangan kanan, kiri bagi Tigor.


Sebenarnya mereka berjumlah sebelas orang termasuk Tigor. Hanya saja, ada seorang lagi yang sampai saat ini tidak diketahui rimbanya. Orang ini adalah Karman (Agen rahasia Mister Carmen Bond 070) Semuanya kisah mereka bisa dibaca di Novel saya yang berjudul BLACK CAT


*********


"Bagaimana, Kenza? Apakah kau setuju?" Seorang lelaki bertubuh gemuk, berperut buncit tampak sedang menunggu sepatah kata dari seorang pemuda berusia sekitar sembilan belas tahun. Lelaki itu mengenakan anting, kalung besar entah emas atau imitasi. Kepalanya botak, hitam dan berkilat. Dibelakangnya, tampak dua orang lelaki bertubuh kekar sedang berdiri memperhatikan. Tampang mereka cukup kasar.


Pemuda bernama Kenza tadi menarik nafas. Seperti ada sesuatu yang sedang dia pertimbangkan.


Kenza melirik ke arah kamar yang pintunya terbuka. Ada sesosok tubuh tua terbaring di atas ranjang. Sepertinya orang tua itu sedang mengalami penderitaan yang sangat menyakitkan.


"Aku tidak bisa terlalu lama menunggu. Jika kau bersedia, aku akan segera memberikan uang muka kepadamu sebesar lima juta rupiah. Kalah ataupun menang. Andai kalah, kau tidak perlu mengembalikan uang. Tapi jika kau memang, sepuluh juta rupiah lagi akan menunggumu!" Kata lelaki besar yang botak itu.


"Pak Robert. Apa kau yakin bahwa aku mampu memenangkan pertarungan itu? Anda tau bahwa orang itu adalah mantan petarung MMA. Bagaimana bisa aku mengalahkannya?"


"Tidak penting menang atau kalah. Yang terpenting adalah, harus ada yang berani melawan. Jika tidak, dia akan merasa besar kepada dan merasa paling tak tertandingi. Aku tidak suka itu. Dan satu lagi. Dia sudah tua. Staminanya sudah tidak seperti dulu lagi. Aku memiliki energi. Mengapa takut? Ingat! Nenek mu butuh biaya untuk berobat. Kau hanya perlu mengatakan setuju, dan 5 juta akan aku berikan saat ini juga!" Lelaki bertubuh gemuk itu berusaha untuk meyakinkan Kenza.


"Baik. Aku terima," jawab Kenza. Dia sudah tidak punya pilihan lain. Baginya, asalkan bisa mendapatkan uang untuk pengobatan neneknya, dia akan melakukan apa saja. Walaupun harus berkorban nyawa. Itu setanding dengan pengorbanan sang nenek yang telah membesarkan dirinya sampai saat ini.

__ADS_1


"Baiklah. Ini uangnya! Aku akan menunggumu di Club Fighter. Tapi ingat! Jika kau berusaha untuk kabur, aku, Robert tidak akan mengampuni nyawamu!" Ancamannya kepada pemuda itu.


"Pak Robert bisa mempercayaiku. Aku tidak suka menarik ucapan ku. Walaupun berkalang tanah, aku akan tetap pada kata-kataku!" Tegas Kenza.


Ketiga orang tadi langsung pergi begitu mereka mendengar kata-kata kesanggupan dari Kenza.


Saat ini, Kenza melangkah menuju ke kamar dengan uang lima juta di dalam genggaman tangannya.


Dia duduk di sisi tempat tidur dan memperhatikan nafas satu-satu yang berhembus dari hidung seorang wanita tua yang terbaring. Air matanya menetes. Saat ini dia merasa bahwa dia benar-benar tidak berguna.


"Kenza. Kau menangis?" Orang tua itu perlahan membuka matanya.


"Nek. Ayo kita ke rumah sakit! Nenek harus di rawat!"


"Uang dari mana? Nenek tidak punya uang!" Keluh sang nenek lemah.


"Nenek tidak perlu khawatir. Kenza punya uang. Ayo nek. Penyakit nenek sangat parah. Aku tidak mau penyakit nenek lambat ditangani dan akan semakin parah,"


"Darimana kau dapat uang? Kau mencuri?" Tanya sang nenek. Dia tau betul bahwa Kenza tidak punya pekerjaan. Uang dari mana jika bukan mencuri. Sementara mereka sudah tidak punya apa-apa lagi. Semenjak neneknya sakit, satu persatu harta mereka berpindah tangan alias di jual demi biaya perobatan.


Kenza sempat bingung harus menjawab apa. Begitu dia mendapat jawaban, dia langsung mengatakannya. "Nek. Kenza menggadaikan sepeda motor!"


Sang nenek tidak berkata lagi. Dia tau bahwa hanya itu saja harta yang tersisa.


"Baiklah jika demikian!"


Mendengar sang nenek setuju, Kenza mulai bersemangat. Dia segera mencari taxi, kemudian membawa neneknya untuk dirawat di rumah sakit sebelum nantinya dia segera berangkat ke Fighter Club'.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2