Namora

Namora
Namora si tangan besi


__ADS_3

Namora baru saja keluar dari kantor besar Martins Group. Baru saja dia menyelesaikan pertemuan di sana dengan beberapa staf tertinggi perusahaan yang dia anggap adalah benalu.


Setelah melakukan beberapa pemecatan, dia harus mengadakan pertemuan sekali lagi. Kali ini dia akan mengadakan pertemuan tertutup dengan orang-orang yang berada di dalam organisasi.


Setelah memerintahkan kepada sekretaris besar Martins Group untuk segera mengadakan konferensi pers dan mengatakan apa saja yang boleh diucapkan oleh sekretaris tersebut, dia pun kini memasuki mobil Bentley Continental GT speed pemberian sembilan paman.


Setelah dirinya bersama dengan Zack yang bertugas menjadi sopir meluncur meninggalkan area parkir bawah tanah, lebih dari dua puluh unit kendaraan menyusul di belakang. Dan tujuan mereka kali ini adalah rumah Tigor di komunitas elite Kota Kemuning.


Tiba di sana, terlihat lebih dari seribu orang telah menunggu mereka. Dan tanpa membuang-buang waktu lagi, Namora pun langsung meminta kepada Ameng untuk segera mengadakan pertemuan.


Pertemuan ini sebenarnya adalah pertemuan yang santai dengan konsep kekeluargaan. Jika di kantor besar tadi Namora adalah Boss baru, tapi di sini dia hanyalah keponakan. Namun walaupun begitu, kekuasaan Tigor membuat dirinya secara tidak langsung juga harus dihormati.


Beberapa ketua dari cabang kota juga turut menghadiri pertemuan ini. Dan diantara mereka adalah Pak Lalah, Pak Poltak, Roger, Sudung, Pak Lamhot, Jeremiah, dan masih ramai lagi.


Kedatangan mereka kali ini tidak lain adalah ingin melihat putra dari Tigor yang baru saja mengemban mandat dari ayahnya untuk menjadi Boss baru di perusahaan.


Begitu Namora memasuki ruangan utama di rumah tersebut, selain Jeremiah, beberapa orang langsung terkejut. Ini karena mereka seperti melihat Tigor dalam usia muda. Baik fisik, gerak tubuh, sorot mata, semuanya adalah Tigor. Kecuali raut wajahnya yang dingin tanpa ekspresi. Hampir saja mereka tidak bisa membedakan apakah Namora sedang tersenyum atau marah. Bahkan tawanya pun tidak pernah terlihat sejak tadi.


Wajah datar inilah yang membedakan antara Namora dan Tigor. Jika Tigor berubah manjadi dingin ketika mengenakan topeng kucing nya, tapi Namora ini tanpa topeng pun nyaris seperti mengenakan topeng. Mereka mulai mengira jika Namora ini adalah mayat hidup.


"Namora. Beri salam hormat mu kepada kakek Lalah, Kakek Lamhot, Kakek Poltak dan Paman Roger mu!" Kata Ameng memerintahkan.


"Namora memberi salam kepada Kakek dan Paman!" Kata Namora membungkukkan badannya. Tapi, walaupun tubuhnya membungkuk, namun sorot matanya tetap tertuju ke depan dengan tajam seolah-olah menyiratkan bahwa dirinya sangat waspada dan siap dengan segala kemungkinan.


"Hahaha. Anak baik... Sungguh anak baik. Kemari lah! Aku ingin memegang kepala mu!" Kata pak Lalah.

__ADS_1


Namora tidak membantah. Dia segera mendekat ke arah lelaki yang sudah memutih rambutnya itu.


Begitu Namora mendekat, bukannya Lalah membelai rambutnya. Melainkan, dia mengirim pukulan tinju yang keras ke arah Namora. Pukulan ini bukan untuk mencederai. Namun dia hanya sekedar ingin menguji ketangkasan anak Tigor ini.


Merasakan angin pukulan membuat Namora memiringkan kepalanya. Tindakan Namora ini membuat pukulan itu lolos beberapa inci di dekat telinganya.


Berhasil lolos dari serangan, Namora segera mengangkat tangannya untuk membuang pukulan tersebut. Dia khawatir jika tidak berbuat demikian, maka pukulan yang lolos itu bisa berbalik dan menarik bagian belakang kepalanya.


Berhasil membuang tangan pak Lalah ke samping, Namora segera menjulurkan tangannya dengan cepat. Dan kini jelas dua jarinya berada satu inci di bawah dagu pak Lalah.


"Namora. Jaga sikap mu!" Tegur Ameng ketika melihat Namora bisa saja menusukkan jarinya ke tenggorokan orang tua itu.


"Hahaha. Aku puas. Ternyata memang anak Tigor," kata Lalah sambil menepuk pundak Namora. Tapi sekali lagi wajah Namora tidak menunjukkan ekspresi apapun. Benar-benar seperti orang yang mati rasa.


"Ada apa dengan anak ini? Sepertinya terlalu banyak beban yang menimpa anak ini," pikir Lalah dalam hati.


"Mari. Kau harus duduk di samping kakek!" Ajak Lalah.


Namora pun langsung duduk. Kemudian, terjadilah percakapan yang hangat diantara mereka. Tapi setelah Ameng menceritakan tentang Namora yang memutuskan beberapa kesempatan kerja sama dengan perusahaan-perusahaan lain, kemudian menceritakan tentang pemecahan massal, Lalah mulai menunjukkan wajah serius.


"Namora. Mengapa kau tidak melakukan jajak pendapat kepada paman-paman mu tentang tindakan mu ini? Apakah kau mengira bahwa mereka akan diam saja setelah kau memutuskan kerjasama? Memang kita adalah orang-orang yang tidak takut dengan kekerasan. Kekerasan adalah makanan kami setiap hari. Tapi, kau harus tau dalam usia mu yang masih sangat muda ini, kau bisa saja menjadi target empuk bagi mereka," Lalah menyiratkan rasa kekhawatirannya terhadap Namora.


"Kek. Namora tau apa yang Namora lakukan. Selama ini, perusahaan telah mengalami kemunduran. Namora telah mempelajari semuanya. Beruntung bagi perusahaan karena terus mendapatkan dukungan tanpa syarat dari Future of Company. Dan juga kerjasama dengan Tower sole propier. Jika tidak, sudah lama perusahaan ini bangkrut. Selama ini, hanya Martins Hotel lah yang benar-benar menghasilkan. Tapi untuk merotasi keuangan, Martins Hotel saja tidak akan cukup Kek. Itu sama seperti seember air di sumur. Sampai kapan organisasi ini akan terus menutupi kekurangan-kekurangan yang ditimbulkan oleh perusahaan?"


"Ya. Memang cepat atau lambat kita harus mengakhiri kesepakatan kerjasama dengan mereka. Hanya saja, kau terlalu cepat mengambil keputusan. Setidaknya kau harus memikirkan rencana jangka panjang. Barulah kita bisa mengantisipasi kemungkinan yang akan terjadi," Lalah sekali lagi mengemukakan pendapatnya.

__ADS_1


"Namora sudah memikirkan semuanya Kek. Namora akan berperang sampai akhir. Sampai Agro chemical akan benar-benar kehilangan tempat berpijak di provinsi ini. Arda, dia telah menghina ku. Menghina ayah ku. Aku akan diam jika yang di hina adalah diriku pribadi. Tapi dia telah menghina ayahku yang berada di dalam penjara. Batas-batas yang tidak boleh dilanggar oleh mereka telah mereka langgar. Aku bahkan akan menindak lanjuti perusahaan yang memiliki hubungan dengan Martins Group, mereka harus mengakhiri kesepakatan dengan Agro chemical, tanpa syarat! Jika tidak, maka mereka akan menjadi musuh bagi Martins Group!"


"Aku khawatir Martins Group akan menjadi musuh publik setelah ini," kini Ameng yang mengungkapkan kekhawatirannya.


"Sebagai pebisnis, setiap perusahaan yang naik akan selalu menjadi musuh bagi perusahaan yang lain. Setidaknya, kehadiran mereka akan menjadi ancaman bagi kepentingan orang lain. Mengapa harus takut menjadi musuh publik. Hanya ketika kita kuat, barulah bisa menjadi raja. Aku lebih menghargai musuh yang tangguh daripada sahabat yang munafik. Paman tau kenapa aku memecat banyak orang hari ini? Itu karena aku tidak suka memelihara manusia bermuka dua!"


"Namora. Kau telah memutuskan kesepakatan kerjasama dengan Agro chemical. Dengan begitu, Pilar Mandiri juga pasti akan menarik semua tenaga kerja mereka dari area konstruksi kita. Dengan begini, kita akan kekurangan tenaga kerja. Jika target perusahaan tidak selesai dalam jangka waktu yang telah ditetapkan, aku khawatir kita tidak akan memiliki alasan yang tepat dihadapan walikota,"


"Paman Ameng. Aku bertanya kepada mu. Dalam organisasi Dragon Empire cabang Indonesia, kita memiliki berapa ribu anggota?"


"Maksudmu?" Ameng mengerutkan dahinya.


"Mereka yang tidak melakukan pekerjaan, tapi mendapat gaji, apakah kita memelihara badak bunting? Kirim mereka ke kawasan konstruksi. Suruh mereka bekerja jika mau gaji. Dengan begini, kita bisa memangkas banyak dana ganda. Naikkan gaji mereka beberapa, dengan melibatkan mereka ke dalam pekerjaan nyata. Kedatangan ku ke sini adalah untuk membuat perubahan. Jika masih menggunakan sistem lama, untuk apa aku ada di sini?"


Semua orang yang ada di ruangan itu saling pandang mendengar gagasan dari Namora ini. Selama ini mereka tidak pernah berpikir bahwa Namora akan sejauh ini. Bagi mereka, orang-orang di dalam organisasi hanya akan diarahkan ketika keadaan menjadi gawat. Dia tidak berpikir bahwa akan mengarahkan mereka ke kawasan bangunan untuk melakukan kerja-kerja proyek. Hanya saja, sudah begini. Maka mereka hanya bisa menuruti saja.


"Paman harus ingat! Jika Pilar Mandiri menarik seluruh tenaga kerja mereka dari Martins Group, maka seluruh tenaga kerja mereka di Tower sole propier juga harus diusir. Setelah itu, kita masukkan perusahaan ini ke dalam blacklist kita. Kelak jika ada perusahaan yang berafiliasi dengan kita menggunakan jasa mereka, maka mereka harus menerima konsekwensinya. Dan yang paling rendah adalah memutuskan kesepakatan sepihak. Jangan lupa masukkan persyaratan ini ke dalam perjanjian kontrak yang akan di buat. Jika mereka menolak, maka lupakan saja tentang kerjasama dengan Martins Group!"


"Sudah seperti ini. Maka hanya bisa menurutinya saja. Kami akan mengirim surat pemanggilan terhadap seluruh orang-orang di dalam organisasi untuk mulai bekerja di kawasan bangunan," Ameng dan yang lainnya hanya bisa setuju. Bahkan Lalah, Lamhot dan Poltak pun menyetujui. Sudah saatnya perusahaan melakukan pemangkasan dana menggaji karyawan. Jika ada yang bisa dimanfaatkan, mengapa tidak memanfaatkan yang telah ada.


"Kata-kata ku adalah dekrit yang tidak bisa di ubah. Sebagai owner dari Martins Group, dan sebagai anak dari ketua Dragon Empire cabang, maka mereka hanya bisa mengikuti. Jika tidak, keluarkan mereka dari organisasi. Setelah keluar dari organisasi, maka mereka akan tau apa akibatnya. Keluar dari organisasi adalah penghianat. Dan hukuman untuk pengkhianat adalah mati!"


Kembali keadaan menjadi tegang mendengar perkataan dari Namora ini. Siapa yang menyangka bahwa anak berumur 17 tahun ini memiliki kekejaman yang bahkan melebihi ayahnya.


"Sudah lah. Sudah ditetapkan seperti itu. Jangan terlalu tegang. Mereka yang akan dipekerjakan di area konstruksi bukannya tidak di gaji. Dengan ini, kita akan melihat siapa saja yang loyal terhadap organisasi dan perusahaan. Mereka diangkat oleh Tigor dari tempat sampah. Sekarang mereka harus membalas budi," kata Lalah untuk meminimalisir ketegangan yang sempat menguasai mereka.

__ADS_1


Semua kepala mengangguk tanda mengerti. Dan dengan persetujuan dari para tetua, maka keputusan yang telah dibuat oleh Namora telah ditetapkan, dan tidak boleh dilanggar jika tidak ingin dikeluarkan dari organisasi.


Bersambung...


__ADS_2