
Beberapa hari telah berlalu dengan cepat. Tapi tetap tidak ada yang mengetahui tentang kematian Willi. Semuanya menguap begitu saja. Ini menandakan, betapa bersihnya orang-orang dari Dragon Empire melakukan pekerjaan. Sedangkan Namora sendiri, sejak kejadian itu, sudah tiga hari tidak masuk ke sekolah. Dia kini baru saja kembali dari kota Kemuning guna mempelajari semua hal yang menyangkut tentang organisasi serta perusahaan.
Karena bulan depan tender resmi akan dibuka bagi para perusahaan dan kontraktor yang ingin mengambil bagian dalam proyek yang dinaungi oleh Martins Group, maka Namora tidak bisa santai. Dia harus benar-benar mengetahui perusahaan mana saja yang memiliki kredibilitas dan bisa diajak dalam bekerjasama.
Tender proyek masih belum resmi di buka, tapi sudah banyak utusan dari perusahaan lain yang mulai melobi dan mencari jalan pintas demi mencapai kesepakatan dengan Martins Group.
Namora merasa muak dengan semua penjilat yang rela berlutut di depannya demi sebuah goresan pena nya di kertas agreement.
Memang benar bahwa Martins Group tidak akan bisa berdiri sendiri dalam menangani proyek yang besar tersebut. Martins Group hanya menjadi penaung saja bagi perusahaan lain dan mendapatkan manfaat dari kerja yang mereka lakukan. Tapi, jika tidak selektif dalam memilih perusahaan ini, bisa saja mereka menyelesaikan pekerjaan tersebut dengan asal jadi. Jika itu terjadi, maka Martins Group lah yang akan menanggung semua kesalahan yang mereka lakukan.
Jika bicara soal untung dan rugi, itu biasa bagi setiap perusahaan. Tapi jika menyangkut nama baik, rasanya mereka lebih memilih tidak mendapat keuntungan daripada nama baik harus tercoreng. Karena, jika nama baik sudah rusak, maka akan sulit kedepannya untuk mendapatkan Mega proyek lainnya. Ini lah yang membuat Namora benar-benar ekstra hati-hati. Belum lagi dirinya masih belum seumur jagung dalam dunia bisnis seperti ini.
Di waktu yang sama, di sekolah, karena Namora sudah tiga hari tidak masuk, maka ada banyak orang yang mencarinya. Terlebih lagi Merisda. Sejak kejadian malam itu, dia merasa sangat bersalah.
Berulang kali gadis itu bertanya kepada Jericho dimana Namora berada. Tapi sama seperti dirinya. Jericho juga tidak tau keberadaan Namora ketika ini. Sedangkan Jol juga belum kembali dari liburan bersama keluarganya.
***
Sore itu, karena Namora terus kepikiran tentang dirinya yang sudah lama tidak masuk ke sekolah, maka dia berinisiatif untuk pulang ke kota Batu. Dia telah banyak ketinggalan mata pelajaran. Jika ini terus terjadi, maka dia tidak akan naik kelas.
Tepat ketika dia mengutarakan niatnya untuk pulang kepada Ameng, Ameng pun segera membawa dirinya ke garasi milik Tigor.
Ketika tiba di sana, Namora membelalakkan matanya ketika melihat ada dua unit sepeda motor Yamaha R1 dan Ducati Panigale black terparkir di sana. Selain itu, dia juga melihat satu unit mobil BMW sport i8, ada juga Bentley Continental GT speed berwarna silver kehitaman. Dia tau mobil ini adalah miliknya yang dihadiahkan oleh sembilan pamannya kepadanya beberapa waktu yang lalu. Di sisi lain, dia juga melihat ada satu unit mobil Rolls-Royce phantom. Ameng menjelaskan bahwa mobil Rolls-Royce phantom itu adalah hadiah dari Jerry William kepada ayahnya.
__ADS_1
Melihat sepeda motor Yamaha R1 di depannya, Namora langsung suka. Tapi dasar Namora. Tidak ada yang bisa menebak apakah dia suka atau tidak. Karena ekspresi wajahnya sangat datar. Dia tidak melirik ke arah mobil dan lebih memilih menghampiri sepeda motor tersebut, kemudian mengelusnya dengan rasa sayang.
"Kau suka?" Tanya Ameng.
Namora tidak menjawab. Dia hanya berdiri di depan sepeda motor itu tanpa ekspresi. Tapi Ameng tau kalau Namora sangat menyukai sepeda motor yang ada dihadapannya.
"Sepeda motor ini milik ayah mu. Dulu, ketika kami masih muda, ayah mu selain ganteng, dia juga gagah. Apa lagi sudah mengendarai sepeda motor ini. Dan kau harus tau, hanya ibu mu yang pernah duduk di boncengan ini. Kami semua tidak berani menumpang di motornya ini. Dia begitu gagah dan sangat tampan," tanpa sadar Ameng menatap ke langit-langit garasi dengan mata berkaca-kaca.
"Oh."
Itu saja kata yang keluar dari mulut Namora.
"Ayah mu sudah berpesan kepada ku. Kau boleh memilih salah satu dari kendaraan yang ada di garasi ini. Selain yang itu!" Ameng menunjuk ke arah Rolls-Royce phantom.
"Bagus! Pilihan yang tepat. Jika kau memilih kuda besi hitam itu, aku khawatir kau akan menjadi mesin pembunuh yang berdarah dingin. Motor ini dikurung di sini selama 17 tahun. Ini adalah identitas Black Cat. Aura membunuh pada sepeda motor itu sungguh sangat pekat. Kau jangan mencoba mengendarai motor ini!"
Namora sudah tau seperti apa ayahnya dulu. Dia tidak bertanya lagi. Hanya saja dia merasa sedikit bodoh. Ayahnya adalah seorang yang sangat ditakuti. Tapi dirinya malah jadi korban bullying. Sangat disesalkan. Mengingat ini, Namora sedikit menggelengkan kepalanya. Betapa lembutnya dia selama ini kepada orang-orang yang keras terhadapnya.
"Ya. Aku pilih yang ini saja!" Setelah berkata, Namora segera mendahului Ameng untuk keluar dari garasi.
Setelah Ameng juga keluar dari dalam garasi, dia segera memerintahkan kepada bawahannya untuk mencoba sepeda motor itu. Karena sudah lama tidak digunakan, kemungkinan sepeda motor ini sudah rusak.
Dua jam kemudian, bawahan dari Ameng tadi sudah selesai dengan pekerjaannya. Dan kini, Yamaha R1 berwarna biru tersebut sudah tegak dengan gagahnya dan siap untuk ditunggangi.
__ADS_1
"Paman. Namora akan pulang dulu. Tidak baik terlalu lama di sini. Namora juga harus sekolah,"
"Kau yakin tidak mau diantar pakai mobil, atau di temani beberapa orang?" Tanya Ameng dengan nada mengkhawatirkan. Dia tidak ingin Namora kenapa-kenapa. Apa yang harus dia katakan kepada Tigor andai Namora celaka.
Kekakuan Namora akhirnya mencair dan dia tersenyum atas pertanyaan dari Ameng ini. Tapi senyuman itu sangat jelek. Bahkan dirinya sendiri menyadari bahwa kulit wajahnya menegang ketika hendak tersenyum.
"Tidak diperlukan. Namora tau menjaga diri sendiri," jawabannya dengan singkat.
Ameng akhirnya mengalah. Dia membiarkan Namora untuk pulang sendiri ke kota Batu. Dia mengira bahwa Namora butuh sedikit kebebasan setelah pikirannya terkungkung mengurus urusan pekerjaan yang seharusnya menjadi tanggung jawab Tigor.
Ketika ini, Ameng kembali merasa flashback ke 20 tahun yang lalu ketika melihat Namora sudah duduk di atas sepeda motornya.
Dia melihat sosok Tigor berada di sana. Ini seperti duplikat nyata dari Tigor. Apa lagi dia melihat gerak-gerik Namora yang sama persis dengan Tigor.
"Paman. Namora gerak dulu!"
Setelah Ameng menganggukkan kepalanya, sepeda motor yang sudah lama bertapa itu akhirnya mengaum dan melesat dengan kecepatan tinggi membelah jalan raya kota Kemuning menuju ke kota Batu.
Tidak terhingga betapa bahagianya hati Namora berada di atas sepeda motor legendaris tersebut. Tanpa sadar, dia beberapa kali berakselerasi dan terus menarik gas hingga sepeda motor itu melesat seperti anak panah yang lepas dari busurnya.
Dengan sepeda motor itu, tidak ada siswa di SMA negeri Tunas Bangsa yang bisa melampaui dirinya. Itu adalah Yamaha R1 dengan harga hampir mencapai 1 miliar. Jika dibandingkan dengan sepeda motor anak-anak J7, perbandingannya adalah satu banding sepuluh.
Bersambung...
__ADS_1