
Sebuah bangunan megah di komunitas elite Kota Kemuning setinggi tiga lantai dan memiliki menara di sisi kanan kiri nya saat ini tampak ramai dikunjungi oleh orang-orang besar. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya mobil-mobil mewah yang terparkir, dan setiap orang yang berada di pekarangan rumah besar itu tampak sangat rapi dengan stelan jas dan blazer. Ini menandakan bahwa orang-orang ini kebanyakannya adalah pengusaha.
Sejak lima belas tahun yang lalu, rumah ini hampir tidak pernah dikunjungi oleh orang-orang. Walaupun rumah ini masih tetap terawat dan menempatkan kepala pembantu rumah tangga di sini. Dan keramaian ini adalah yang pertama sejak lima belas tahun terakhir.
Suasana meriah ini dapat dipastikan bahwa ada seorang penting yang tengah mereka nantikan.
Beberapa orang tampak duduk, ada yang mengobrol, dan ada juga yang baru sampai. Suasana hangat jelas terasa.
Setelah beberapa lama, kini dari arah depan terlihat konvoi mobil berjumlah delapan unit memasuki pekarangan rumah besar yang luas halamannya nyaris mencapai tiga hektare tersebut.
Beberapa orang tampak sangat antusias menanti orang-orang yang baru tiba itu untuk keluar dari mobil mereka masing-masing, bahkan hanya sekedar untuk menyapa.
Orang yang pertama keluar dari dalam mobil adalah seorang lelaki paruh baya, bersama pasangannya, dan diikuti oleh seorang pemuda yang berusia sekitar 17 tahun. Wajah anak itu terlihat sangat sombong dan berulang kali mengeluh.
Ketika salah seorang dari mereka menyebut nama lelaki paruh baya itu dengan sebutan Andra, maka jelaslah bahwa kedatangan delapan unit mobil ini adalah rombongan Andra, Monang, Acong, Timbul, Ucok, Thomas, Jabat, dan Sugeng. Beberapa dari mereka datang bersama dengan keluarga mereka masing-masing, kecuali Acong yang memang sangat menikmati status lajang walaupun usianya sudah tak lagi muda.
"Pak Andra. Mengapa anda terlambat?" Sapa salah seorang dari orang-orang yang telah lama berada di pekarangan rumah tersebut.
"Biasalah pak Jhonny. Jalan di sini semakin sore hari, maka semakin macet," jawab Andra sambil tersenyum.
"Ya. Memang seiring berjalannya waktu, kota Kemuning ini sangat berkembang pesat. Dan saya merasa bahwa jalan di kota ini sudah tidak mampu lagi untuk menampung kendaraan yang semakin banyak mengikut populasi di kota ini.
Tapi yang saya dengar, bukankah perusahaan Martins Group telah memenangkan tender untuk pelebaran jalan dari Tanjung Karang, sehingga ke kota Tasik putri. Apakah itu benar?" Tanya pak Jhonny. Pak Jhonny ini adalah pemilik perusahaan konstruksi. Dia sengaja datang ke sini hanya untuk bisa mengakrabkan diri supaya kecipratan proyek dari tender yang dimenangkan oleh Martins Group kota Kemuning.
__ADS_1
"Wah wah wah. Tidak ku sangka ternyata berita itu sangat cepat menyebar. Ya. Sebenarnya perusahaan Martins Group memang telah memenangkan tender dari walikota kota Kemuning ini. Hanya saja, itu masih dalam tahap penyelesaian," jawab Andra apa adanya.
Mendengar ini, pak Jhonny menggosok telapak tangannya. Dia dengan senyum malu-malu langsung mengutarakan niatnya untuk melobi Andra agar mendapatkan bagian dari proyek tersebut.
"Pak Jhonny. Bukan maksud hati hendak menolak atau mengiyakan. Akan tetapi, anda bisa mengajukan proposal dan bersaing dengan perusahaan lain. Ini akan sangat adil bukan?" Ujar Andra yang mencium gelagat kotor dari Jhonny ini.
"Pak Andra. Bapak tinggal sebut saja berapa uang pelicin yang pak Andra inginkan. Asalkan saya mendapat bagian dari proyek ini, saya bersedia berbagi faedah dengan anda. Apakah 5% dari keuntungan cukup?" Jhonny ternyata masih belum mau menyerah.
"Apakah pak Jhonny berusaha untuk memberi sogokan kepada saya? Terus terang saja, keputusan itu tidak berada di tangan saya. Semuanya ada di tangan Namora," jawab Andra. Dia mulai merasa muak dengan muka tembok Jhonny ini.
Pak Jhonny mengerutkan keningnya. Dia tidak tau siapa Namora ini. Karena penasaran, dia lalu bertanya. "Siapa Namora ini pak? Apakah dia ini adalah direktur eksekutif, atau Chief Executive Officer?"
Andra menggelengkan kepalanya. "Bukan. Namora ini adalah anak lelaki bang Tigor,"
"Oh. Hehehe. Saya baru mengerti. Bukankah kita berada di sini untuk mengenal tuan muda itu. Ah. Saya sampai lupa," pak Jhonny tertawa malu.
"Nanti, kalau Namora ada di sini, kau jaga tingkah mu. Jangan samakan Namora ini dengan teman-teman mu yang lain. Kau terlalu angkuh. Jika kau baik, sudah pasti aku tidak membuang mu untuk melanjutkan pendidikan di kampung Indra Sakti," Andra memelototi Hendro.
Sementara itu, seorang lagi pemuda yang sebaya dengannya tampak menatap tajam ke arah Hendro.
"Ada apa dengan mu Din?"
Anak yang dipanggil Din itu terkejut. Lalu, buru-buru menjawab. " Jika bukan karena Hendro ini, maka mungkin aku juga ikut-ikutan dikirim ke kampung Indra Sakti untuk melanjutkan pendidikan SMA di kampung kumuh itu," jawab pemuda yang dipanggil Din tadi.
__ADS_1
Tidak lama setelah itu, dari kejauhan terlihat rombongan mobil mendekati rumah besar tempat orang-orang berkumpul itu.
Semakin mendekati area perumahan, mereka semua tau bahwa salah satu dari mobil-mobil itu terdapat mobil milik Ameng. Mengetahui ini, wajah semua orang tampak ceria. Ada juga sebagian orang memasang wajah menjilat.
Kini, rombongan itu benar-benar memasuki halaman depan yang luas dan segera memarkir kendaraan mereka masing-masing.
Sebelum Ameng turun, semua orang mulai berbaris membentuk dua barisan lurus menuju ke pintu masuk utama, kemudian beberapa gadis keluar dari rumah dengan dipimpin oleh Andra membawa payung.
Mengherankan bagi Namora yang berada di samping Ameng. Tidak ada angin, tidak ada hujan, juga tidak panas, mengapa mereka membawa payung? "Apakah mereka ini sehat?" Pikirannya dalam hati.
Ketika Namora hendak keluar dari dalam mobil, Ameng buru-buru menahannya. "Tetap di sini. Jangan keluar sebelum pintu dibukakan. Jaga sikap dan pertahankan sikap acuh mu!" Lalu Ameng keluar dari mobil, kemudian mengitari mobil tersebut untuk membukakan pintu di bagian depan dimana Namora sedang duduk seperti orang bingung.
"Silahkan keluar, Tuan muda!" Kata Ameng dengan hormat.
Namora tertegun sejenak. Dia tidak tau permainan apa lagi yang akan dimainkan oleh Ameng. Namun, dia tetap menjulurkan kakinya untuk turun setelah melihat isyarat dari Ameng.
Begitu Namora akan turun, karpet merah langsung digelar dan setapak demi setapak Namora menginjakkan kakinya di karpet merah tersebut.
Ameng membimbing Namora menuju ke pintu aula pada rumah mewah yang ada dihadapannya, kemudian disusul oleh Andra, Ucok, Thomas, Jabat, Acong, Timbul, Sugeng, dan Monang, yang masing-masing berjalan dibelakang Namora dan Ameng.
Sementara Namora masih linglung, suara orang-orang yang berbaris tadi bergema mengagetkan Namora.
"Selamat datang Tuan muda!"
__ADS_1
"Ini?" Namora kembali terkejut. Dia berpikir dalam hati. "Tuan muda apa?"
Bersambung...