Namora

Namora
Taruhan di mulai


__ADS_3

"Rendra.., kau sekolah di sini juga?"


Rendra hanya tersenyum melihat ekspresi ketiga gadis itu. Baginya, gadis-gadis mata duitan ini tidak begitu penting. Yang terpenting adalah, bagaimana caranya agar bisa menggunakan jasa dari mereka untuk menyakiti Namora. Dendamnya kepada Namora sudah mendarah daging, walaupun sebenarnya tidak diketahui entah salah apa yang pernah dilakukan Namora kepadanya.


"Mengapa kalian seperti melihat hantu? Apakah ada larangan bagiku untuk sekolah di sini?" Tanya Rendra dengan senyumnya yang sangat angkuh. Dia lalu duduk di tempat yang kosong dan mulai berlagak cool.


Merisda sendiri, sudah lama suka dengan Rendra ini. Selain Dhani dan Rudi, Rendra juga adalah anak orang berada. Ayahnya adalah pengusaha yang bergerak di bidang konstruksi. Bahkan, kakeknya dulu adalah andalan dari Birong untuk membangun Kafe dan properti lainnya yang dimiliki oleh Birong.


Mendiang Martin dulunya juga sering menggunakan jasa perusahaan mereka untuk merenovasi rumah mewahnya di kompleks elit Tasik putri. Namun, sejak kejatuhan geng tengkorak dan runtuhnya kekuasaan geng kucing hitam, seiring dengan itu, perusahaan keluarganya mulai merosot. Akan tetapi, mulai bangkit lagi dari bawah setelah future of company memulai invasi bisnisnya di negara ini. Itupun bukan proyek dalam sekala besar. Tapi lumayan lah untuk mempertahankan perusahaan mereka untuk tetap berdiri.


Jika dibandingkan dengan Merisda yang hanya anak seorang guru, maka sudah tentu keluarga Rendra bukan saingan. Sementara Ernita juga bisa dikatakan tidak terlalu kaya. Orang tuanya hanya bergerak di bidang kosmetik. Lain pula dengan Dosma. Akan tetapi, kebelakangan ini, orang tuanya bekerja di perusahaan Tower sole propier sebagai anggota di bagian pemasaran. Cukup lumayan jika dibandingkan dengan Merisda. Makanya dia berani bertaruh.


"Tidak ada larangan. Hanya saja, aku tidak menyangka kalau kau akan melanjutkan pendidikan di sini juga?" Merisda menjelaskan maksud dari perkataannya tadi. Bola matanya sudah mulai berkilat membayangkan akan banyak kesempatan baginya untuk mendekati Rendra.


Dia ingin mendekati Rudi. Namun, Rudi tidak menjadi bagian dari sekolah ini. Sedangkan Dhani, sudah pasti dia bukan tipe anak Panjul itu. Kenza, sangat tampan. Tapi setiap kali bertemu, Merisda bahkan dianggap angin lalu. Kini, harapannya tentu ada pada Rendra.


"Aku mendengarkan bahwa kalian tadi bertaruh. Hal itu sangat menarik perhatianku,"


"Benar Ren. Merisda ini kan sejak dulu terkenal sebagai playgirl. Aku ingin memberikannya tantangan. Di sekolah kita ada anak lugu nan cupu. Jika Merisda mampu mendekatinya dan membuat anak itu menjadi budak cintanya, aku rela mentraktirnya selama satu bulan penuh!" Jawab Dosma.


"Hanya mentraktir ku satu bulan penuh. Apa hebatnya. Apa aku harus menjatuhkan reputasi ku hanya untuk traktiran sampah mu itu?" Merisda mendelikkan bola matanya. Dia sangat tersinggung dengan tantangan yang tidak berkelas seperti itu.


"Begini saja. Aku memang tidak menyukai anak cupu itu. Diantara semua siswa di SMA negeri Tunas Bangsa ini, hanya dia yang paling sekarat dan menderita. Aku ingin, siapapun diantara kalian yang mampu membuatnya patah hati, lalu cabut dari sekolah ini, aku akan menunaikan tiga permintaan kalian. Yang pertama soal handbag, yang kedua sepatu baru, yang ketiga kalian boleh memilih sepasang gaun yang bermerek mahal. Aku akan memberikannya!" Kata Rendra mengiming-imingi ketiga gadis itu.

__ADS_1


"Wah. Sebegitu tidak sukanya kah kau kepada anak itu, Rendra?" Tanya Ernita.


"Apa kalian mau reputasi SMA kita ini tercemar? Sejak jaman bang Kenza, tidak ada yang semenderita dia. Aku tidak ingin berbagi sekolah dengan anak melarat seperti dia,"


Ernita menganggukkan kepalanya, lalu berkata. "Diantara kami bertiga, yang sangat berpotensi untuk bisa mencuri perhatian anak itu hanyalah Merisda. Aku dan Dosma akan melipatgandakan pahala mu. Dariku satu bulan penuh. Kau bisa datang kapan saja ke salon kecantikan milik keluarga ku. Selama periode sebulan penuh, dimulai dari tanggal 1 bulan depan! Aku akan memberikanmu voucher besok!" Janji Ernita kepada Merisda.


Merisda termenung sesaat. Baginya, kapan lagi bisa memanjakan diri selama satu bulan penuh di salon kecantikan milik keluarga Ernita. Gratis pula.


"Aku paling tidak suka ditantang. Kapan periodenya selesai?" Tanya Merisda seakan-akan telah menyetujui.


"Lebih cepat lebih baik. Dan berakhir satu bulan sebelum hari ulang tahun mu!" Kata Rendra menentukan waktu berakhirnya mereka mempermainkan Namora.


"Ulangtahun ku masih sembilan bulan lagi. Gila. Berarti aku harus bersama dengan gembel itu selama delapan bulan? Dan, imbalan yang aku dapatkan hanya seperti yang kalian sebutkan tadi? Sorry bestie. Aku ogah!"


"Dua juta? Tanpa mengeluarkan keringat?" Dosma mendelikkan matanya.


"Meri. Apa kau yakin tidak tergiur?"


"Baik. Aku setuju. Aku berjanji kepadamu akan memperbudak anak gembel itu. Kau tenang saja!" Jawab Merisda. Dia menyambar amplop tadi, lalu menghitung isinya.


"Bulan depan kau akan mendapatkan lagi sesuai dengan yang aku janjikan," Rendra mengacungkan jempol tangannya, lalu pergi meninggalkan ketiga gadis itu.


Tepat di balkon tingkat dua, Kenza hanya memperhatikan saja ulah dari junior nya.

__ADS_1


Dia hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kegilaan yang akan mereka lakukan.


"Jika tidak istimewa, mustahil Namora ini dimusuhi oleh Dhani. Sepertinya, ada sesuatu yang terkandung dalam diri Namora ini. Aku menduga hal ini terjadi secara alami. Pasti Namora ini tidak sesederhana itu," kata Kenza dalam hatinya. Dari atas, dia lalu melirik ke arah kantin dimana Namora sedang duduk ditemani oleh Jol.


Kenza melompat dari tempat dimana tadi dia duduk, lalu melangkah menuju ke arah tangga untuk turun. Namun dia segera menghentikan langkahnya ketika ponselnya berdering.


"Dhani!" Kata Kenza setelah menjawab panggilan itu.


"Bro Ken. Gimana?" Tanya Dhani di seberang sana.


"Jangan khawatir. Teman loe pinter. Gua belum apa-apa, dia udah bergerak aja," jawab Kenza dengan malas.


"Thanks Bro. Apakah aku boleh meminta satu hal lagi?"


"Bro. Loe jangan kebangetan. Gue udah terlalu baik mau mengikuti permintaan loe. Sekarang, gue udah ga mau ikut campur lagi. Gue senior di sini. Sudah seharusnya gue ga berat sebelah!"


"Ok ok ok. Maaf. Ya udah kalau gitu. Loe jangan marah," kata Dhani membujuk.


Kenza langsung mengakhiri panggilan tadi segara menggerutu. "Sialan ini terlalu menyebalkan,"


Setelah itu, Kenza melanjutkan langkahnya untuk turun. Baginya, bagaimana dia bisa diatur oleh anak manja seperti Dhani. Apakah dia belum tau seperti apa jika Kenza, si petarung jalanan sudah marah. Bisa diobrak-abrik kafe milik Dhani olehnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2