
Sekelompok siswa sekolah menengah pertama di SMP negri Kota Batu terlihat sedang berkumpul beberapa kelompok di sekitar kantin sekolah.
Dari cara raut wajah masing-masing dari anak-anak remaja yang tampak sangat serius itu, terlihat jelas bahwa sesuatu yang sedang mereka bahas adalah topik yang sangat menarik perhatian. Jika tidak menarik, tidak mungkin mereka duduk sedemikian rapat dengan sesekali kening mereka berkerut seolah-olah sedang berfikir.
Di salah satu tempat, tepatnya di bawah pohon rambutan yang berdaun rindang, tampak delapan orang anak remaja juga sedang asik berbincang-bincang sesama mereka.
Semua siswa di SMP negeri ini tau bahwa tujuh dari delapan siswa itu adalah anak-anak remaja yang menamakan diri mereka dengan sebutan J7.
Tidak jauh berbeda dengan kelompok yang lainnya, mereka juga tampak serius membahas sesuatu yang mungkin cukup menarik bagi mereka.
Ketika ini, kedelapan anak-anak muda itu tampak sedang berpikir keras sebelum salah satu dari mereka memecahkan keheningan yang tadi sempat tercipta.
"Jol. Diantara kita, menurutmu siapa yang paling layak untuk mengikuti turnamen kejuaraan pencak silat antar sekolah menengah pertama di kabupaten Kota Batu ini?" Tanya salah seorang dari kedelapan anak-anak muda itu.
Sepertinya, yang sejak tadi berhasil menyita perhatian anak-anak remaja ini adalah turnamen kejuaraan pencak silat yang akan diadakan tidak lama lagi. Dan saat ini, tidak ada diantara siswa yang memiliki ilmu beladiri yang tidak tersita perhatiannya.
Sementara itu, Namora yang juga berada di sana hanya menyimak dan menjadi pendengar yang baik. Karena memang dirinya tidak terlalu diperhitungkan. Maklumlah, tidak ada yang mengetahui bahwa sebenarnya tingkatan kepandaian yang dia miliki berada sangat jauh di atas anak-anak yang sebaya dengannya.
Jol, ketua dari kedelapan anak-anak remaja itu tampak seperti berfikir sebelum menjawab pertanyaan dari salah satu sahabatnya itu.
Untuk saat ini, dia merasa bahwa di sekolah mereka, tidak ada yang bisa diandalkan. Dan itu sudah terjadi sejak sebelum-sebelumnya. Bahwa, di sekolah mereka ini, belum ada yang pernah menjadi juara. Bahkan, untuk masuk ke tiga besar pun tidak pernah.
Jol sendiri pernah mengikuti turnamen tersebut dan hanya berhasil merebut posisi ke empat karena dicurangi. Sejak saat itu, dia tidak pernah lagi tertarik dengan kejuaraan pencak silat tersebut. Dia hanya fokus mengasah kemampuan bertarungnya dengan tujuan, bahwa suatu saat nanti, itu akan sangat berguna, lebih dari sekedar mengikuti sebuah ajang turnamen.
Terdengar hembusan nafas berat dari Jol sebelum menjawab pertanyaan tadi. "Aku tidak tau. Sepertinya, diantara kita dan semua siswa yang ada di SMP negeri ini, tidak ada yang mempunyai kelayakan untuk mengikuti kejuaraan itu. Apa lagi memenangkannya," jawab Jol dengan nada berat.
"Memang sepertinya, SMP kita ini telah termakan kutukan. Dari dulu, belum ada siswa di SMP ini yang bisa membanggakan di ajang turnamen tahunan. Padahal, kalau untuk arogansi yang dimiliki oleh siswa di sini, layaknya mereka disebut sebagai master. Tindas sesama sendiri. Tapi jika di luar, diam seperti ayam sayur," ujar James. Ada sedikit geram dari nada bicaranya.
"Apa kau berfikir untuk mengikuti turnamen itu?" Tanya Jaiz kepada Jericho.
__ADS_1
"Aku?"
"Mengapa?" Tanya Jaiz heran.
"Tingkat keterampilan ku berada di bawah Jol. Mengapa bukan kau saja Jol?" Jericho melemparkan pertanyaan kepada Jol.
"Kalian kan tau sendiri. Seperti apa mereka berbuat curang kepada ku? Memang aku keluar dari ring dengan kepala tegak. Namun, tanpa medali, apa artinya. Aku sudah tidak tertarik!" Tegas Jol menolak.
"Sepertinya, tidak ada wakil dari SMP kita tahun ini," gumam Juned seperti berbicara dengan dirinya sendiri.
"Bodo amat lah. Ayo kita ke kelas!" Ajak Jol sembari bangkit dari duduknya.
"Daripada mengikuti turnamen, lebih baik belajar sungguh-sungguh. Kita belajar ilmu beladiri bukan hanya sekedar ingin memenangi turnamen. Tapi lebih dari sekedar itu!"
Ketujuh anak-anak itu segera mengikuti ketua mereka yang sudah lebih duluan berjalan di depan.
*********
Terdengar suara sesuatu dibanting di atas tempat tidur. Diikuti duduknya seseorang tempat tidur tadi.
Namora terlihat sangat kesal sekali. Berulang lagi dia meraup wajahnya dengan kedua belah tangannya.
Pagi tadi, dia menjadi pendengar yang baik dari obrolan teman-temannya tentang kejuaraan pencak silat yang akan diadakan tidak lama lagi.
Dia sangat berminat untuk mengikuti acara tersebut. Namun, dia tidak berani sebelum mendapatkan izin dari gurunya yaitu bapak Harianto pujakesuma.
Sorenya, dia berniat untuk menyampaikan maksud dan tujuannya kepada orang tua itu. Namun, apa yang dia dapatkan?
Pak Harianto bukannya mengizinkan, namun melarang Namora untuk mengikuti turnamen tersebut. Dia bahkan mengatakan bahwa jika memang pun, tidak akan membuat dirinya bangga.
__ADS_1
"Tapi kek. SMP di tempat Namora belajar, belum pernah sekalipun memenangkan pertandingan itu. Apa salahnya jika sebelum Namora menduduki sekolah menengah atas, Namora meninggalkan kebanggaan bagi SMP negeri tempat Namora belajar sekarang?"
Segudang alasan yang diberikan oleh Namora, tetap saja tidak merubah pendirian pak Harianto. Dia tetap kukuh dengan mengatakan bahwa Namora masih belum selesai belajar. Kelak jika sudah semuanya dia kuasai, baru lah Namora akan dilepaskan dan bisa mengambil keputusan sendiri. Namun, untuk saat ini, Namora masih menjadi muridnya. Jadi, keputusan seorang guru adalah mutlak dan tidak boleh dibantah. Hal ini yang membuat Namora sungguh sangat kesal.
"Kalau begitu, Namora tidak mau lagi belajar ilmu beladiri," kata Namora ketika itu dengan kesal. Namun apa jawaban dari pak Harianto..?
"Jika sampai aku yang menjemput kau ke rumah, aku akan pastikan kau akan duduk di atas kursi roda!"
Berdiri bulu tengkuk Namora mendengar ancaman itu.
Namora membuka tali sepatunya, kemudian dia menendang ke atas sehingga sepatu yang dia kenakan tadi lepas dari kakinya, dan mencelat ke langit-langit kamar. Tapi sialnya, sepatu itu malah terjun bebas dan menimpuk tepat di atas kepalanya.
"Dasar sepatu sialan!" Maki Namora dengan sewot.
Jengkel betul hati Namora. Dia mengusap kepalanya yang kotor akibat tertimpa sepatu tadi.
Kini Namora merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Matanya terus jelalatan menatapi langit-langit kamar.
"Tumben sepi. Kemana semua orang?" Batin Namora dalam hati.
Sejak tadi dia tidak melihat Rio, istri pamannya dan juga Mirna ibunya.
"Dulu tidak punya kemampuan, aku di bully. Sekarang, sudah punya kemampuan, juga masih di bully. Tidak pernah dianggap ada. Sebenarnya, nasib sial apa ini?"
"Namora. Kau belum menguasai dirimu sendiri. Jika kau mengikuti turnamen itu, kau bisa membunuh orang. Sebaiknya, tunda dulu. Kelak, jika kau sudah bisa mengendalikan emosi, kau baru boleh mengikuti turnamen. Anggap saja apa yang kau terima hari ini adalah sebagai pengasah kesabaranmu!"
Masih terngiang di telinga Namora kata-kata yang diucapkan oleh pak Harianto.
"Alah. Sabodo lah," kata Namora yang langsung memiringkan tubuhnya membelakangi pintu kamar.
__ADS_1
Bersambung...