
Aula dewan olahraga kota Dolok ginjang
Kecelakaan yang terjadi pada turnamen kali ini yang merenggut nyawa seorang peserta mendadak membuat gempar.
Walaupun acara telah berakhir, akan tetapi, tidak ada yang diperbolehkan untuk meninggalkan aula. Karena, saat ini team forensik dengan melakukan investigasi sebelum menyimpulkan keputusan apakah kecelakaan ini murni sebuah kecelakaan, atau ada unsur kesengajaan.
Beberapa rekaman cctv serta rekaman dari ponsel para Siswa yang menyaksikan pertandingan itu juga di sita.
Setelah melakukan penyelidikan secara menyeluruh, barulah komandan kepolisian bagian investigasi tersebut mengizinkan para siswa dan guru untuk meninggalkan ruangan tersebut. Akan tetapi, guru dari SMA negeri Tunas Bangsa dan SMA negeri Kampung baru termasuk Namora dan Jol masih belum mendapatkan izin.
Kini, mereka telah digiring ke kantor polisi Dolok ginjang untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Saat ini, Lalah yang mendapat informasi dari Ameng tentang kejadian itu segera menggunakan koneksi yang dia miliki untuk menjemput Namora dari kantor polisi Dolok ginjang, tentunya setelah menjalankan pemeriksaan.
Sebenarnya, polisi sudah mengetahui bahwa Namora tidak bersalah. Dari awal, sampai akhir mereka telah menonton hasil rekaman dan tidak mendapati bahwa Namora melakukan serangan terhadap Diaz. Bahkan, Diaz mendadak mengejang justru disaat melakukan serangan. Dan Namora ketika itu sedang terbaring di atas ring akibat terjatuh karena tendangan dari Diaz.
"Tuan muda. Bagaimana?" Tanya Zack bersama dengan keempat temannya begitu melihat Namora telah keluar dari kantor polisi.
"Polisi sudah membuktikan bahwa aku tidak bersalah. Hanya saja, mereka masih menunggu hasil otopsi dari jenazah Diaz, barulah aku dinyatakan bersalah atau tidak," jawab Namora dengan wajah datar.
"Kalian tidak perlu khawatir. Aku yang akan mengurus Namora. Bagaimanapun, Dolok ginjang ini adalah daerah kekuasaan ku," kata Lalah sambil menyunggingkan senyum percaya diri.
"Syukurlah. Kalau begitu, kami harus kembali dulu ke kota Batu untuk mengabarkan semuanya kepada Bang Ameng," kata Zack.
Entah mengapa hati Namora mendadak tidak ingin membiarkan Zack kembali ke kota Batu. Akan tetapi, dia tidak tau apa alasannya.
"Tuan Lalah. Jangan lupa untuk membawa Namora kembali ke sini sebelum pukul 10 besok pagi!" Tiba-tiba seorang polisi menghampiri mereka lalu berpesan seperti itu. Perkataan polisi tadi membuat Namora menghentikan niatnya untuk melarang agar Zack tidak kembali dulu ke kota Batu.
Lalah mengangguk pelan sambil menepuk pundak polisi muda tersebut sambil tersenyum.
"Baiklah. Tuan muda sudah bersama dengan Tuan Lalah. Tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Kalau begitu, kami mohon diri dulu," kata Zack yang langsung melangkah menuju area parkir, kemudian mendahului bus yang akan mengantarkan rombongan siswa SMA negeri Tunas Bangsa untuk kembali ke kota Batu.
Namora menatap kepergian mobil BMW hitam itu dengan hati yang tidak menentu. Dia gelisah, tapi tidak tau gelisah yang seperti apa. "Aneh. Ada apa ini?" Pikir Namora dalam hati.
__ADS_1
"Ada apa, Namora?" Tanya Lalah yang heran melihat Namora berulang kali mengernyitkan dahinya.
"Entahlah, Kek. Aku juga tidak tau mengapa perasaan ku menjadi tidak enak begini,"
Lalah mengira bahwa Namora wajah berperasaan seperti itu. Bagaimanapun, Namora baru saja melihat kematian seseorang di depan matanya. Bahkan, dia sendiri pun ikut terseret ke dalam masalah tersebut. Jadi, menurutnya, itu wajar saja. Akan tetapi, yang tidak dia ketahui adalah, Namora sama sekali tidak memikirkan kematian Diaz. Dia justru mengkhawatirkan Zack dan orang-orangnya walaupun dia tidak tau kekhawatiran seperti apa itu.
"Sudahlah, Mora. Ayo kita ke rumah Kakek. Ada bibi Wulan mu yang ingin bertemu," kata Lalah sembari menarik tangan Namora.
Wulan itu adalah putri Lalah yang bisa dikatakan adalah salah satu dari beberapa gadis yang sangat mengagumi Tigor, walaupun kesan diantara Tigor dan Wulan tidak enak pada awal-awal perkenalan mereka.
Namora mengikuti tarikan tangan Lalah. Tapi tatapan matanya masih melihat ke arah jalan yang dilalui oleh Zack dan orang-orangnya tadi.
********
Gang Kumuh
Beberapa lelaki tampak sedang asyik menyeruput secangkir kopi milik mereka masing-masing dengan tatapan mata yang sangat fokus ke arah jalan raya.
Begitu mobil tersebut melintas di jalan yang melewati kafe tadi, salah seorang dari lelaki yang duduk sambil memperhatikan ke arah jalan raya segera mengeluarkan handphone miliknya, kemudian mengirim pesan.
"Target telah melewati gang Kumuh. 100km/jam. Diperkirakan 30 menit lagi akan tiba di tikungan Pitu!"
Selesai mengirim pesan tersebut, lelaki tadi segera membayar tagihan, kemudian bersama dengan temannya meninggalkan kafe tersebut.
Sementara itu, di pinggiran jalan tepat dibalik tikungan, satu unit mobil land cruiser Prado berwarna biru navy terparkir.
Di dalam mobil tersebut, terlihat dua orang lelaki sedang fokus menatap ke arah jalan. Terlihat juga seorang pemuda berusia hampir 30-an duduk di belakang stir mobil dengan mengeluarkan sebelah tangannya yang memegang rokok.
Sudah pukul 11 malam. Jalanan sudah mulai sepi. Tidak ramai pengguna jalan raya yang melintas di kawasan tikungan Pitu ini. Sementara itu, lelaki yang mengisap rokok tadi segera melirik ke arah jam. "Sudah 25 menit," katanya dalam hati, kemudian segera menyalakan mesin mobil Land cruiser Prado tersebut, dan menjalankan mobil itu ke arah jalan. Hanya saja, dia tidak berniat meninggalkan area tersebut. Melainkan, malah memarkir mobil itu dengan posisi melintang di tengah jalan.
Kini, dari arah Gang Kumuh, samar-samar cahaya kendaraan mulai kelihatan. Hal ini membuat pemuda dan seorang lagi lelaki pendek berbadan sedikit berisi dan memiliki mata sipit menyunggingkan senyum sinis.
"Tuan Takimura. Mereka sepertinya sudah sampai!"
__ADS_1
Lelaki pendek itu mengangguk samar. Dia kemudian memperbaiki letak posisi katana yang berada pada pinggangnya.
Beberapa detik telah berlalu dengan lambat. Namun, pelan tapi pasti, dari ujung sana, kini mulai terlihat satu unit mobil BMW menuju ke arah jalan dimana mobil Prado tadi melintang dengan kecepatan tinggi.
Ciiiiit.....!
Suara ban mobil terseret di aspal menimbulkan bunyi yang membuat telinga perih.
Dapat dibayangkan ketika mobil melaju dengan kecepatan tinggi, kemudian di rem dengan mendadak, maka dapat dipastikan akan menimbulkan suara yang akan menusuk gendang telinga. Untung saja mobil itu tidak hilang keseimbangan sehingga menyebabkan kecelakaan lalulintas.
Kini, jarak antara mobil BMW dan mobil Land cruiser Prado hanya terpaut dua meter saja.
Dari bagian bawah body mobil, tampak jelas berasap akibat gesekan ban dengan aspal.
Empat orang pemuda yang berada di dalam mobil BMW hitam itu mengernyit heran begitu melihat ada mobil yang memang disengaja merintangi jalan.
Tiba-tiba saja perasaan tidak enak menyelimuti hati keempat anak muda yang berada di dalam mobil BMW hitam itu.
"Siapa mereka Zack?" Tanya pemuda yang duduk di samping kursi sopir.
"Entahlah. Aku juga tidak tau," jawab Zack.
"Bang Zack. Perasaan ku menjadi tidak enak. Ini bukan mobil rusak atau mengalami kecelakaan. Mobil itu melintang di jalan terlihat memang disengaja. Jika kecelakaan, tidak ada yang rusak dari mobil itu,"
"Zack. Apa mungkin mereka ini orang-orang dari kota L yang menargetkan Tuan muda Namora?"
"Kita akan mengetahuinya. Sebaiknya, persiapkan diri kalian!" Kata Zack memperingatkan.
"Zack. Aku akan turun dan menanyai mereka. Apa maksudnya menghalangi jalan kita. Sebaiknya, kau harus mengambil langkah untuk berjaga-jaga! Hubungi Abang Ameng!" Pinta pemuda yang tadi duduk di sebelah Zack.
"Baik!" Kata Zack yang kemudian langsung mengeluarkan handphone miliknya.
Bersambung...
__ADS_1