
Salah satu dari keempat pemuda yang berada di dalam mobil BMW hitam langsung membuka pintu mobil. Dia melangkah santai ke arah mobil Toyota Land cruiser Prado yang terparkir melintang di tengah jalan dengan niat untuk bertanya mengapa mobil mereka terparkir dengan posisi yang mengganggu lalulintas tersebut. Akan tetapi, baru saja dia ingin bertanya, sesosok bayangan hitam melompat keluar dari dalam mobil Toyota Land cruiser Prado tersebut menyergap ke arah pemuda tadi.
Wuzz...! Tanpa basa-basi, tiba-tiba satu Sambaran cahaya kilat keperakan berkelebat ke arah leher pemuda tadi.
"Aaaa....!" Suara teriakan pemuda tadi bergema mengoyak suasana kesunyian malam yang gelap itu.
Teriakan pemuda ini seolah-olah mengejutkan semuanya. Bahkan suara jangkrik pun langsung berhenti.
Kejadian yang tidak terduga dan berlangsung sangat cepat itu membuat ketiga orang yang berada di dalam mobil BMW membelalakkan mata mereka.
Mereka tidak percaya bahwa salah satu dari mereka telah diserang tanpa melakukan kesalahan apapun.
Zack, yang saat ini menunggu panggilan tersambung merasa sangat terkejut. Walaupun dia sudah terbiasa dengan perkelahian, akan tetapi dia tidak menyangka bahwa nyawa sahabatnya melayang secara gratis tanpa perlawanan.
"Zack. Ini tidak benar!" Kata temannya yang duduk di bangku belakang. Dia langsung meraba-raba sesuatu dibawah jok mobil dan kini di tangannya tergenggam besi pipa sepanjang tiga jengkal orang dewasa.
"Halo..!" Terdengar suara dari seberang telepon. Akan tetapi, mungkin karena rasa kaget yang bukan main, Zack seolah-olah terhipnotis dan merespon dengan lamban.
"Hallo Zack. Kau jangan main-main! Jika ada sesuatu, cepat katakan! Aku sedang mengantuk," tegur suara dari seberang sana dengan nada jengkel yang langsung membuat keterpanaan Zack tadi buyar.
"Bang. Bang Ameng. Bahaya bang. Saat ini kami dicegat di tikungan Pitu. Ando telah menjadi korban dari orang itu!"
"Apa? Coba kau jelaskan kepada ku. Apa sebenarnya yang terjadi!"
Prak..!
Bam..!
Belum sempat Zack menjawab, seorang pemuda yang keluar dari mobil langsung memukul kaca mobil bagian depan hingga hancur berantakan.
"Halo.., halo Zack!"
Zack sudah tidak bisa menjawab lagi pertanyaan Ameng karena sibuk menghindari serpihan pecahan kaca yang sudah menggores beberapa pada bagian kulit wajahnya.
Zack hanya meletakkan handphone miliknya di atas dasboard, kemudian mengeluarkan bayonet dari pinggangnya, lalu menendang pintu mobil dengan keras hingga pintu tersebut terbanting dengan paksa.
Melihat Zack sudah keluar, kedua orang lainnya juga tidak tinggal diam. Mereka juga keluar dari dalam mobil sambil menggenggam sebatang pipa besi ditangan masing-masing.
"Katakan kepadaku siapa diantara kalian yang bernama Namora?!" Tanya lelaki muda itu begitu Zack dan kawan-kawannya keluar dari mobil. Sementara itu, seorang lagi lelaki bertubuh pendek dan bermata sipit hanya memperhatikan saja dengan tangan tersilang di depan dadanya.
Mendengar pertanyaan tanpa basa-basi tersebut, tau lah kini Zack bahwa mereka memang telah ditargetkan oleh musuh. Hanya saja, kemungkinan adalah, musuh tidak mengetahui bahwa Namora tidak berada diantara mereka.
__ADS_1
"Maaf Bray. Apa maksudmu dengan menghalangi jalan kami? Kau juga telah membunuh seorang dari kami. Niat mu ini tentu tidak baik," Zack tidak menjawab pertanyaan tadi. Dia menahan kemarahan, kemudian melontarkan pertanyaan kepada kedua orang itu.
"Banyak omong. Jawab saja pertanyaan ku! Atau...,"
"Kalian salah orang. Tidak ada diantara kami yang bernama Namora di sini," kali ini, pemuda yang berdiri di samping Zack yang bersuara.
Pemuda yang berada di samping lelaki pendek itu segera menyalakan lampu senter, kemudian mengarahkan tepat ke arah wajah Zack, Lan dan seorang lagi teman mereka.
Begitu dia tidak melihat wajah orang yang dia cari, kini dia menjadi geram, lalu membanting lampu senter tadi di atas aspal, kemudian membentak. "Katakan kepadaku di mana Namora! Aku akan memenggal lehernya karena telah berani membuat masalah dengan ayah ku,"
Mendengar kata-kata dari pemuda itu, kini tau lah Zack bahwa pemuda yang berada di hadapannya itu adalah Teja. Hanya saja, Zack sama sekali tidak mengenali lelaki bertubuh pendek itu.
"Teja?!" Gumam Zack sambil mengertakkan giginya.
Kini, semuanya sudah kepalang tanggung. Zack pun langsung menatap ke arah kedua temannya, kemudian berkata. "Lan. Sepertinya tidak mudah bagi kita untuk kembali ke kota Batu,"
"Kau takut?" Tanya Lan singkat.
"Tidak ada kata takut dalam kamus ku. Hanya saja, sepertinya lelaki bertubuh pendek itu bukan orang biasa. Jika kita dapat membunuhnya, maka Teja ini hanya sampah bagi ku," jawab Zack sembari mengemukakan analisis nya.
"Biasa atau tidak biasa, semuanya akan kita ketahui. Hanya saja, nyawa teman kita harus dibayar. Aku tidak perduli," kata Lan pula tanpa rasa gentar dihatinya.
"Sial. Kau sombong sekali," maki Lan sembari maju.
"Maju lah secara bersamaan!" Ejek Teja. Lalu, dia mundur selangkah untuk memberi jalan kepada lelaki pendek yang tidak lain adalah Takimura.
Lan merasa, bahwa dia harus memukul Teja yang sombong ini terlebih dahulu. Baginya, biarkan Zack dan teman yang satunya lagi untuk menghadapi Takimura. Akan tetapi perkiraannya melesat.
Begitu Lan mengayunkan pipa besi di tangannya ke arah leher Teja, satu kilatan cahaya keperakan menangkis serangannya sehingga terdengar suara besi berbenturan.
Trang...!
"Ha?!" Begitu pukulannya tidak mengenai sasaran, Lan mundur beberapa langkah. Tangannya seakan kesemutan akibat benturan dua senjata tadi. Dan, yang lebih mengejutkan adalah, pipa besi ditangannya kini telah terpotong menjadi dua bagian oleh senjata lawan.
Seakan tidak percaya, Lan berulang kali memperhatikan antara pipa besi ditangannya, dengan lelaki bertubuh pendek yang berdiri dihadapannya dengan tatapan dingin itu.
"Sialan. Apakah orang ini adalah samurai?" Pikir Lan dalam hati.
"Namora tidak ada. Kita jangan membuang waktu lagi. Bunuh saja ketiga orang ini. Masalah Namora, cepat atau lambat, kita pasti akan menemukannya," teriak Teja dari samping.
Belum sempat Lan, Zack dan seorang lagi teman mereka selesai dengan keterkejutannya, tiba-tiba satu kilatan cahaya keperakan menyambar ke arah mereka dengan pergerakan yang sangat cepat.
__ADS_1
Melihat ini, Zack segera membanting badannya ke aspal untuk menghindari tebasan katana lawan.
Zack berhasil menghindari serangan itu. Namun, temannya yang berdiri di sampingnya tidak sempat menghindar. Hingga akhirnya katana itu menebas langsung dari bahu kirinya, terus membelah sampai ke bagian dada kanan.
"Aaaa...," Darah menyembur keluar dari bekas luka memanjang itu diikuti teriakan panjang dari korban.
Orang itu ambruk mencium aspal. Tubuhnya mengejang sebentar, kemudian diam tak bergerak lagi, alias mati.
Melihat temannya kembali menjadi korban, Zack dan Lan kini langsung menerkam ke depan dengan membabi-buta sambil mengayunkan pipa besi ditangannya yang tinggal sepanjang dua jengkal.
"Ku bunuh kau!" Teriak Lan dengan marah. Akan tetapi, lelaki pendek itu hanya merunduk sambil mengibaskan pedangnya. Akibatnya, Lan terpaku berdiri dengan mata mendelik seakan-akan tidak percaya akan apa yang terjadi.
Brugh..!
Begitu Lan menggerakkan tubuhnya, darah segar menyembur keluar dari bagian perutnya, hingga isi dalamnya ikut keluar.
"Laaaaan..!" Zack menyangga tubuh Lan sebelum benar-benar jatuh ke atas aspal.
"Lari, Zack!"
"Lan. Bertahan. Sebentar lagi bang Ameng akan tiba. Bertahanlah!" Kata Zack dengan panik.
"Lari, Zack. Di.., dia.., dia itu setan. Bu.., bukan lawan kita," kata Lan memperingatkan dengan suara terbata-bata.
"Mau melarikan diri ya?"
Melihat Zack bergegas untuk melarikan diri, Teja yang tau akan gelagat langsung menghalangi. Kemudian...,
Bugh..! Tendangannya mendarat telak di bagian perut Zack. Lalu.., seperti bola, kedua orang itu menghajar Zack secara bergantian.
Awalnya, Teja meninju wajah Zack. Setelah puas, dia mendorong tubuh Zack ke arah Takimura. Takimura pun menghajar Zack hingga babak belur. Setelah puas, dia kembali mengoper tubuh Zack yang sudah babak belur ke arah Teja. Kejadian itu terus berlangsung selama lebih sepuluh menit hingga wajah Zack kini tidak karuan rupa.
"Aku sudah lelah!" Kata Teja sembari memungut pipa besi milik Lan, kemudian...,
Bum..! Suara besi pipa menghantam di bagian batok kepala Zack yang saat ini sedang berjuang untuk bangkit.
Belum sempat Zack bangkit, dia sudah dijatuhkan kembali dengan kepala pecah dan mengeluarkan darah.
Kini, di atas aspal tersebut sudah berlinang darah keempat orang itu. Yang tiga sudah dipastikan mati dengan cara yang sangat mengenaskan. Sedangkan Zack, masih belum diketahui nasibnya. Akan tetapi, kemungkinan untuk hidup sangat tipis sekali jika dilihat dari keadaannya yang sangat menyedihkan.
Bersambung...
__ADS_1