Namora

Namora
Rencana licik, Rendra


__ADS_3

"Bagaimana, Namora, mantap kan?"


"Iya. Aku mendadak merasa jadi Valentino Rossi," jawab Namora dengan senang. Lalu, dia kembali fokus mengemudikan sepeda motor milik Jol. "Mungkin aku harus menunggu empat tahun agar dapat membeli motor seperti motor mu ini," sambung Namora lagi.


"Sabar saja. Siapa tau nanti kau mampu. Rejeki orang, siapa yang tahu. Ya kan?" Jol berusaha membesarkan hati sahabatnya itu.


"Aamiin. Makasih Jol!"


"Woy. Kemana kita akan pergi?" Tanya Jericho yang mensejajarkan sepeda motornya dengan sepeda motor yang dikendarai oleh Namora dan Jol.


"Kita ke pantai yuk!"


"Ayo!"


Jericho menarik tali gas sepeda motornya secara tiba-tiba, sehingga membuat suara mesin kendaraan itu mengaum diikuti lesatan sepeda motor tersebut.


"Kejar, Namora! Jangan biarkan kita makan asap!" Teriak Jol sambil memukul pundak Namora.


"Pegang kuat-kuat woy! Aku takut kau terbang!" Kata Namora pula.


Ngauuuung...


Wuzz...!


Sepeda motor yang dikendarai Jol dan Namora tiba-tiba mengaum diikuti dengan terangkatnya ban depan. Setelah itu, sepeda motor itupun melesat laju meninggalkan lima sepeda motor lainnya di belakang.


"Wah. Mereka sudah gila. Ayo kejar!" Kata Jaiz pula. Jiwa mudanya mendidih karena diasapi oleh Jericho dan Namora.


******


Sementara itu di kota batu, tampak Dhani, Rendra dan Marcus kedatangan empat orang tamu.


Empat orang tamu tadi tidak lain adalah Diaz, Ruben, Dudul dan Rudi.

__ADS_1


Keempat remaja itu memang sengaja mendatangi kafe milik ayah Dhani yang memang bersahabat dengan ayah Rudi. Bahkan, dari Rudi lah Diaz, Ruben dan Dudul dapat berkenalan dengan Dhani, Rendra dan Marcus. Ini karena, Ayah Dhani yaitu Panjul, bersahabat dengan ayahnya Rudi l yaitu Ganjang.


"Hallo bro. Bagaimana kabar mu?" Tanya Rudi sembari menyalami Dhani.


"Wah. Kau ternyata. Ada angin apa kau datang kemari? Oh ya.., apa kabar Paman Ganjang? Apakah dia baik-baik saja?" Tanya Dhani seraya menyambut uluran tangan dari Rudi.


"Ayah ku bertambah sehat dan baik-baik saja. Bagaimana dengan Uwak Panjul? Apakah dia baik-baik saja?" Rudi balik bertanya setelah menjawab pertanyaan dari Dhani tadi.


"Sama. Ayah ku juga baik-baik saja," jawab Dhani.


Rudi tersenyum mendengar jawaban dari Dhani tadi. Namun, senyuman itu segera berubah menjadi wajah keheranan ketika dia menatap ke arah Rendra.


"Hey bro. Mengapa wajah mu begitu kecut?" Tanya Rudi pula.


"Sialan. Nasib ku apes terus," jawab Rendra dengan uring-uringan.


"Apes?"


"Aku coklat panas!" Jawab Rudi.


Setelah Diaz, Ruben dan Dudul memesan minumannya, Dhani pun segera memanggil pelayan di kafe itu untuk menyediakan pesanan dari tamunya tersebut.


"Kau bisa ceritakan kepadaku apa yang membuatmu begitu kesal?" Tanya Rudi yang sangat ingin tahu.


"Kau kenal dengan Jericho, anak dari Jeremiah?" Tanya Dhani.


"Ya. Aku kenal dengan anak itu. Ayah ku melarang aku untuk berteman dengan Jericho itu. Karena ayahnya kan musuh kita," jawab Rudi seadanya. Karena memang bukan rahasia lagi, Ganjang adalah bekas anak buah dari geng tengkorak yang telah dihancurkan oleh Dragon Empire. Oleh karena itulah, mereka masih menyimpan dendam walaupun tidak berani berurusan secara terbuka.


"Nah. Rendra ini sejak SMP sudah satu sekolah dengan mereka. Bahkan, SMA negeri Tunas Bangsa yang akan dia jadikan sebagai tempatnya untuk melanjutkan pendidikan juga sepertinya akan mereka masuki juga. Itu yang membuat Rendra ini menjadi geram.


Bahkan, kemarin kami sempat bentrok dengan mereka. Jika bukan karena ada penduduk sekitar, sudah jadi tempe mereka kami gilas," kata Dhani pula menjawab rasa penasaran dari Rudi.


"Kalau hanya satu sekolah, aku rasa tidak apa-apa lah. Kan bukan satu kelas," kata Rudi pula.

__ADS_1


"Aku tidak sudi berbagai tempat dengan anak-anak gembel seperti mereka. Apa lagi dengan anak yang bernama Namora itu. Setiap bertemu dengannya, aku pasti sial,"


"Tunggu!!! Tadi kau menyebut nama Namora. Apakah Namora Habonaran?" Diaz yang mendengar nama Namora tadi langsung merasa penasaran. Jangan-jangan Namora yang dulu sering mereka bully di sekolah dasar kampung baru.


"Kau kenal dengan Namora itu?" Tanya Rendra. Dia menatap wajah Diaz dengan sangat serius.


"Jika itu adalah Namora Habonaran, ya! Aku kenal dan sangat kenal dengan anak narapidana itu,"


"Anak Narapidana?" Tanya Dhani pula.


"Ya. Aku tidak jelas siapa ayahnya. Tapi, menurut sahabat ku yang juga pindahan dari kota Kemuning, dia mengatakan bahwa ayah Namora ini dipenjara karena mempunyai kasus yang berat,"


"Hmmm. Ini bisa jadi modal bagi ku untuk mempermalukan anak gembel itu. Aku tau sekarang, kelemahannya," kata Rendra sembari mengepalkan tangannya. Ada kelicikan dari sorot matanya.


"Memangnya kau punya cara apa?" Tanya Dhani penasaran.


"Aku bisa saja mempermainkan anak gembel itu. Semuanya urusan uang. Aku tau, selain Jol dan teman-temannya, tidak ada yang sudi berteman dengan Namora ini,"


"Aku masih tidak mengerti," tanya Rudi pula. Dia ingin tau lebih detil, apa rencana dari Rendra ini sebenarnya.


"Aku mempunyai seorang kenalan. Dia adalah anak guru fisika di SMA negeri Tunas Bangsa. Asalkan ada uang, dia bisa melakukan apa saja yang aku inginkan. Kalian akan melihat seperti apa aku mempermainkan Namora ini. Bahkan, dia akan aku buat menjauh dari Jericho dan yang lainnya. Dengan begitu, dia akan sendiri, terasing, lalu kesepian," kali ini Rendra terlihat sangat puas sekali. Dia tidak menyangka akan mendapatkan kelemahan Namora. Baginya, anak-anak J7 harus menerima pembalasan dari dirinya karena selalu membela Namora.


"Jika kau butuh bantuan, jangan sungkan-sungkan Ren! Aku siap mematahkan kaki anak itu untuk mu!" Kata Diaz pula menawarkan diri untuk membantu.


"Patah kaki? Hahaha. Itu terlalu enak. Patah hati yang aku inginkan. Bukan patah kaki,"


"Apapun yang ingin kau lakukan terhadap Namora, silahkan saja kau lakukan. Namun satu hal yang harus kau perhatikan! Jol adalah bagian ku. Suatu saat, tangan ini yang akan mencabut nyawanya. Kita lihat saja. Sampai kapan dia bisa selamat dari incaran ku?" Kata Dhani pula yang merasa dendam ketika dalam perkelahian kemarin, dia menjadi bulan-bulanan pukulan dari Jol.


Dhani yang tidak menduga bahwa Jol bisa menjadi tangguh seperti itu, tentu saja menjadi kaget dan mau tidak mau merasa penasaran sekaligus dendam.


Tidak seperti setahun yang lalu, ketika dia mempercundangi Jol dan kawan-kawannya ketika memancing di bendungan irigasi kampung baru. Bahkan, dia berhasil membuat ketujuh anak-anak itu lari pontang-panting. Tapi kemarin, dia sungguh terkejut karena Jol jelas berada di atas angin ketika berhadapan dengannya. Beruntung dia segera dibantu oleh dua orang lainnya sehingga dia bisa mendaratkan pukulan ke arah tulang rusuk Jol.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2