Namora

Namora
Ini sudah keterlaluan


__ADS_3

Brum.., Brum.., Brum..!


Suara mesin sepeda motor memekakkan telinga di pagi buta, disertai teriakan seorang pemuda meneriaki nama Namora.


Tidak lama setelah itu, muncul sosok kepala meninjau dari arah pintu sambil nyengir.


"Woy Jol. Ini terlalu pagi kan?!"


Pemuda yang berada di atas sepeda motor itu tampak mencibir. "kau ini pemalas. Cepat lah! Aku tidak sarapan dari rumah!"


"Hehehe. Aku sudah siap!" Jawab Namora yang berjalan meninggalkan teras depan rumahnya menghampiri Jol.


"Ayo. Kau tidak tau kabar di sekolah. Berbagai isu telah terjadi,"


"Isu? Memangnya ada apa?" Namora bertanya dengan heran.


"Aku bertanya kepadamu. Sebenarnya apa yang terjadi ketika itu? Mengapa kau tiba-tiba menghilang dan ketika aku menjemputmu, kau tidak keluar?" Jol sangat ingin tau apa sebenarnya yang telah terjadi. Walaupun dia sudah dapat menduga, tapi kurang afdhol rasanya jika tidak bertanya langsung kepada yang bersangkutan.


"Kita bisa sambil jalan!" Namora segera naik dan meminta Jol untuk segera menjalankan sepeda motornya.


Disepanjang jalan, Namora menceritakan semuanya kepada Jol. Mulai dari dia tidak sanggup membelikan boneka untuk Merisda, sampailah pada penghinaan yang mereka lakukan.


Ketika mereka memasuki pekarangan sekolah, Namora sudah selesai menceritakan kisahnya. Dan Jol merasa sangat geram untuk saat ini.


"Menurutmu, apakah aku harus memberi pelajaran kepada mereka?" Tanya Jol. Wajahnya memerah. Tapi Namora segera menahan.


"Jol. Untuk keempat orang itu, (Diaz, Ruben, Dudul, Rudi) aku akan menyelesaikan mereka di turnamen kejuaraan pencak silat yang akan diadakan tidak lama lagi. Hanya saja, untuk Merisda, aku tidak punya rencana. Bukan salahnya. Semua ini adalah salah dari ketidakmampuan ku!"


"Apa maksud mu? Kau ingin mengikuti turnamen itu?" Jol menatap ke arah Namora dengan raut wajah persis seperti orang kebelet buang air besar dan kecil secara bersamaan.


"Ya. Mengapa?" Namora terheran melihat ekspresi jelek Jol.

__ADS_1


"Woy. Kau memiliki kemampuan? Maaf. Bukan maksudku untuk meremehkan dirimu. Tapi apa iya kau mampu? Kau kan tidak memiliki basis bela diri?"


"Jol. Dalamnya air laut bisa kau prediksi. Akan tetapi, kedalaman kemampuan seseorang siapa yang bisa mengukur?"


Jol menggaru kepalanya yang tidak gatal. Dia tidak percaya Namora mengatakan hal seperti itu. Dia juga tidak tau entah darimana Namora ini memiliki keberanian dan rasa percaya diri seperti ini.


"Jol. Apa kau melihat bang Kenza?" Tanya Namora kemudian.


Jol menggelengkan kepalanya. Sudah tiga hari dengan hari ini dia tidak melihat Kenza.


Namora tidak bertanya lagi. Dia segera menuju ke arah kelas untuk meletakkan tasnya. Kemudian, dia akan menuju ke kantin untuk sekedar sarapan. Dia mengutuk didalam hatinya karena Jol terlalu pagi sehingga dia tadi tidak sempat sarapan.


Tiba di kelas, Namora segera melepaskan tas dari punggungnya, meletakkan, kemudian berbalik untuk segera keluar. Tapi, siapa sangka bahwa dia dihadang oleh Rendra, Marcus dan beberapa orang lainnya di luar.


Namora berusaha tenang walau hatinya terbakar melihat Rendra. Walau bagaimanapun, Rendra ini adalah antara yang sangat vocal dalam menghina dirinya tiga hari yang lalu. Dia ingin membalas. Namun, sekuat tenaga menahan agar tidak menimbulkan keributan yang tidak perlu. Dia tau statusnya sekarang sudah berbeda. Andai dia terprovokasi, satu kata saja darinya bisa membuat sekolah ini tutup.


Dengan menahan gejolak amarahnya, Namora berjalan tenang melewati ke-lima anak itu. Tapi siapa sangka Rendra justru menghalangi dirinya.


"Masih punya wajah juga kau ini, Namora? Aku heran. Entah dari kulit apa wajahmu ini tercipta. Sudah di hina, sudah tau beda kasta, sudah dijadikan bahan taruhan, tapi kau dengan tidak tau malu masih tetap datang ke sekolah. Harusnya kau tau diri. Andai itu aku, aku pasti akan segera pindah sekolah," salah satu dari kelima anak itu berbicara.


"Sekolah ini punya Bapak mu?" Singkat, tepat, padat dan sangat menohok pertanyaan dari Namora. Pertanyaan ini sukses membuat Rendra yang mencengkram kerah baju Namora semakin mengeratkan cengkraman nya.


"Sialan. Aku sudah habis cara untuk membuat kau tidak betah disekolah ini. Sekarang aku tidak akan menahan lagi! Aku akan mengasari mu. Lihat saja!"


Rendra menarik kerah baju Namora dengan kuat, berharap Namora akan jatuh tertelungkup. Namun siapa sangka bahwa Namora mengaitkan kakinya ke pintu dan Rendra tidak memiliki kemampuan untuk menariknya. Dia merasa tubuh Namora seperti batu karang.


"Aku malas berdebat dengan mu. Aku sekolah di sini tidak gratis. Sekolah ini juga bukan milik bapak mu. Jadi, aku bebas di sini. Selagi aku tidak merugikan dirimu, mengapa kau merasa terganggu?" Dengan pelan Namora mendorong tubuh Rendra ke samping, lalu berjalan cepat meninggalkan tempat itu.


Rendra membelalakkan matanya. Dia tidak percaya bahwa Namora berani melawan dirinya.


"Kau lihat itu? Anak ini semakin berani!" Rendra mendengus kesal.

__ADS_1


"Apa rencana mu?" Tanya Marcus kemudian.


"Jika aku tidak menghajar anak itu, aku tidak akan puas.


Ayo ikut aku. Aku harus memukulnya sampai babak belur,"


Kelima anak itu mulai berjalan menuju ke kantin. Di kantin, mereka melihat bahwa Namora sedang sarapan ditemani oleh Jol.


Melihat Rendra berjalan ke arah dirinya, Jol mulai bangkit dan akan menegur mereka. Akan tetapi Namora cepat mencegah.


"Jol. Hari ini aku akan melawan. Empat tahun aku bersabar untuk penghinaan ini. Kali ini, kau lihat saja apa yang akan aku lakukan!"


Jol terdiam dan segera duduk kembali. Dia juga penasaran seperti apa Namora akan melawan mereka. Karena, selama ini yang dia tau adalah, Namora ini seperti anjing dengan ekor kebawah. Apakah kali ini Namora mampu melawan?


Plak!


Begitu Rendra sampai di depan mereka, Rendra segera menampar meja membuat makanan dan minuman berhamburan.


Namora mengelus dadanya untuk bersabar. Dia tidak ingin bertindak sebelum kelakuan Rendra ini benar-benar menyakiti hatinya.


"Kau berani menyepelekan aku hah? Aku ingin melihat apakah kau mampu bertahan. Aku akan menghajar mu di sini. Dan kau! Jangan ikut campur! Atau aku akan menelepon Dhani. Biarkan dia berurusan dengan mu!" Rendra mengancam Jol. Dia tidak ingin Jol membantu Namora. Baginya, Namora hari ini harus babak belur.


"Sudahlah Rendra. Mengapa kau selalu memusuhiku? Mari sarapan! Aku akan mentraktir kalian," Namora berusaha untuk berdamai dengan Rendra dan keempat lainnya. Tapi justru tindakan dari Namora ini malah membuat Rendra merasa di atas angin. Dia mengira bahwa Namora takut dan berusaha menyogok dengan cara mentraktir dirinya.


"Aku tidak butuh traktiran darimu. Aku tidak butuh makan uang dari anak seorang narapidana!" Tegas Rendra dengan kalap.


Bagai di sambar petir, Namora segera memancarkan aura pembunuhan ke arah Rendra. Dia tidak menyangka bahwa Rendra akan menyentuh area sensitif dihatinya. Dia berpikir bahwa Diaz lah yang membocorkan identitas dirinya sebagai anak seorang narapidana kepada Rendra ini.


"Kau jangan menatapku seperti itu! Memangnya mengapa hah?" Rendra semakin berani. Tapi dia tidak tau bahwa harimau yang tidur itu akan segera dia bangunkan. Ini adalah kesalahan fatal bagi Rendra dan keempat lainnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2