Namora

Namora
Namora dikepung


__ADS_3

Tidak sampai 20 menit, satu unit mobil Volvo S90 telah berhenti tepat di depan rumah yang ditempati oleh Rio.


Tidak lama setelah itu, empat orang mengenakan pakaian kantoran keluar dari dalam mobil, kemudian memencet bel.


Namora yang sejak tadi memang menunggu dengan jantung berdebar segera berlari keluar dari kamarnya. Hampir saja dia bertabrakan dengan bibinya, yaitu istri Rio.


"Maaf Inang Uda. Sepertinya orang itu suruhan Paman Ameng. Saya yang dicari oleh orang itu," kata Namora tergesa-gesa. Dia tidak memperdulikan tatapan heran dan kaget dari istri pamannya yang nyaris tertabrak olehnya.


Ketika Namora membuka pintu, salah satu dari keempat orang itu membungkuk dengan hormat didepan Namora, lalu berkata. "Selamat sore, Tuan muda! Saya adalah orang yang diutus oleh Pak Burhan untuk memberikan sesuatu kepada anda atas perintah dari Tuan Ameng,"


"Namora! Ajak tamu untuk masuk!" Suruh sang bibi berkata dari ruang dapur.


"Masuk dulu pak!" Ajak Namora sembari mempersilahkan.


"Terimakasih, Tuan muda!" Keempat lelaki tadi langsung masuk. Tapi, mereka tidak berani duduk walaupun sudah dipersilahkan oleh Namora.


"Maaf Tuan muda. Kami tidak pantas. Kebetulan, kami hanya diperintahkan untuk memberikan anda kartu bank dan pin pada kartu ini adalah hari ulang tahun anda!" Kata lelaki itu dengan sikap hormat. Kemudian dia menyerahkan sekeping kartu bank berwarna hitam keemasan kepada Namora.


"American exspress centurion Mastercard?" Namora mengeja tulisan yang tertera pada kartu tersebut didalam hatinya.


"Tuan muda. Apakah anda memiliki perintah yang lain?" Tanya lelaki tadi sekali lagi. Terlihat betul bahwa keempat orang ini sangat menghargai waktu.


"Tidak. Aku tidak memiliki perintah," Namora sedikit tergagap.


"Jika demikian, maka kami meminta izin untuk kembali. Jika ada hal yang ingin anda perintahkan kepada kami untuk dilakukan, maka, tuan muda bisa menghubungi salah satu dari kami. Dan kami akan siap selama 24 jam!" Kata lelaki itu lagi, sambil menyerahkan kartu nama yang lengkap dengan nomor teleponnya.


Setelah berbasa-basi, keempat lelaki itu segera meminta diri untuk meninggalkan rumah Rio.

__ADS_1


Setelah mereka pergi, kini Namora mulai bingung tentang kartu kredit yang baru saja dia miliki. Dia bingung bagaimana cara menggunakan kartu tersebut. Namun, dengan kecanggihan teknologi dan informasi di jaman modern ini, segala sesuatunya yang berhubungan dengan informasi, hanya terletak di ujung jari. Berfikir sampai di sini, Namora segera mengambil handphone miliknya, lalu mulai mencari informasi di Mbah Google tentang cara penggunaan kartu kredit.


"Aku kaya sekarang. Hahaha!" Namora tertawa riang. Dan hal pertama yang akan dia lakukan dengan kartu itu adalah, membeli boneka dolphin untuk Merisda.


"Inang Uda. Mora mau pergi dulu jalan-jalan. Apakah boleh?" Tanya Namora kepada istri Rio. Dia takut meninggalkan rumah karena Rio sedang bekerja, dan ibunya juga sedang ada kegiatan.


"Pergilah. Paman mu juga sebentar lagi akan pulang. Sebaiknya kau telepon dulu ibu mu, dan katakan bahwa kau ingin keluar rumah!"


"Iya. Nanti Mora telepon!"


Namora bergegas bersiap-siap. Dia harus cepat karena tidak berani pulang terlalu malam. Bukan dia takut hantu. Akan tetapi, ibunya lebih menakutkan daripada hantu ketika sudah marah.


Dengan perasaan bahwa dia adalah lelaki yang paling tampan di kolong langit ini, maka dia pun berjalan kaki menuju ke arah jalan raya, kemudian menunggu bus untuk segera berangkat ke pusat kota Batu.


*********


Kriiing...!


Kriiing...!


Dengan sikap malas, pemuda tadi akhirnya menjawab juga panggilan itu.


"Hallo bro. Bagaimana?" Tanya pemuda yang kepalanya dibalut kain kasa tersebut.


"Ren. Aku tadi melihat Namora berada di halte. Kemudian menaiki bus dengan tujuan kota batu," jawab sang penelepon.


"Hah? Ikuti! Pastikan kalian membuntuti Namora ini. Setelah itu, hubungi aku. Aku ingin menghajar Namora ini!" Tampak pemuda yang ternyata adalah Rendra ini sangat bersemangat. Kilatan cahaya dendam terlintas pada matanya.

__ADS_1


"Ok. Kau tunggu kabar dari kami!" Kata si penelepon. Lalu, dia segera mengengkol sepeda motornya, kemudian mengikuti bus yang tadi dinaiki oleh Namora.


Beberapa menit kemudian, bus yang dinaiki oleh Namora tadi berhenti tepat di terminal kota Batu. Karena jarak antara terminal kota batu dan Suzuya Mall tidak terlalu jauh, maka Namora memilih untuk berjalan kaki mengikuti lorong antara toko-toko yang berderet di sepanjang jalan. Tapi, siapa sangka ketika berada di tengah-tengah lorong tadi, seseorang kini mulai meneriaki namanya.


Namora memalingkan wajahnya kearah suara yang datang barusan. Dan kini dia melihat empat orang pemuda yang berumur sekitar empat atau lima tahun lebih tua darinya datang menghampiri, lalu dengan sikap mengepung dengan dua di ujung lorong, dan dua di pangkal lorong.


Namora mencium gelagat yang tidak baik. Maka dia mulai bertanya. "Maaf bang. Mengapa menghalangi jalan ku?" Tanya Namora yang segera bersikap waspada. Dia tau bahwa ini tidak akan baik.


"Kau kan yang bernama Namora?" Tanya salah satu dari keempat lelaki yang mengepung dirinya.


"Benar. Ada apa bang?"


"Kau akan tau sebentar lagi!" Kata laki-laki itu.


Tidak lama kemudian, satu unit sepeda motor berhenti tepat di ujung gang. Dan dari sana, terlihat dua sosok berjalan menelusuri lorong tempat Namora terkepung.


Namora menyipitkan matanya untuk mengenali siapa dua orang itu. Tapi semakin dekat, dia dapat mengetahui bahwa kedua orang itu adalah Marcus dan Rendra.


"Hahaha. Ternyata kau keluar juga, Namora?!" Rendra tertawa mencibir.


"Mau apa lagi kau, Rendra?" Tanya Namora. Sebenarnya pertanyaan ini tidak perlu. Karena, dia sendiri jelas tau bahwa Rendra sangat dendam kepada dirinya atas kejadian kemarin. Jangankan dipukuli oleh Namora. Tidak dipukuli pun, Rendra sangat benci dengan Namora ini. Apa lagi dia kini sudah terluka.


"Mau apa? Pertanyaan bodoh seperti apa itu? Apa kau mengira bahwa kau bisa sesukanya? Apa kau kira bahwa aku tidak akan membalas apa yang kau lakukan terhadap kepala ku ini? Di sekolah aku tidak bisa karena kau mendapat perlindungan dari kepala sekolah. Tapi di sini, siapa yang akan melindungi dirimu? Aku akan membalas. Minimal, aku akan memukul kepala mu, lalu mematahkan kedua tangan mu itu!" Rendra lalu tertawa terbahak-bahak diikuti oleh yang lainnya.


Kini mereka berjumlah enam orang. Menghadapi Namora yang hanya seorang saja, apa lagi Namora ini biasa di bully dan menjadi anak yang mereka anggap paling lemah di sekolah, tentu tidak masalah. Baginya, dia sendiri pun mampu menghajar Namora.


Kecelakaan beberapa hari yang lalu menurutnya disebabkan karena dia lalai dan tidak mengantisipasi pergerakan Namora. Andai dia siap, tentu Namora tidak akan mampu memukul kepalanya hingga berdarah.

__ADS_1


"Kau yakin mampu melakukannya?" Namora bertanya dengan nada suara yang dingin. Kali ini, dia tidak mau lagi di-bully. Dia pasti akan melawan.


Bersambung...


__ADS_2