
"Apa ini?" Namora tidak mengerti. Dia hanya bisa bergumam dalam hati. Tapi, dia menurut saja ketika dipersilakan untuk duduk di kursi tadi.
Setelah Namora duduk, perlahan para wanita itu mulai melakukan pekerjaan mereka.
Kini, Namora benar-benar didandani sedemikian rupa. Dari mulai rambut, wajah, bahkan kuku kaki dan tangannya pun ikut dikerjai.
Sensasi itu rasanya seperti seorang pangeran yang dikelilingi oleh selir.
Awalnya Namora terkejut, heran bercampur malu. Namun, semakin lama, Namora malah jinak dan menikmati setiap sentuhan. Kapan lagi diperlakukan seperti ini ya kan?! Selama ini jangankan diperlukan seperti ini. Di sapa dengan ramah pun Namora tidak pernah. Hanya anak-anak J7 yang memperlakukannya dengan baik.
Kini, Namora bersandar setengah duduk. Dia membiarkan mereka melakukan pekerjaannya. Diperkirakan setelah ini, dia akan menjadi ganteng, atau ganteng banget.
Nyaris tiga jam Namora dipermak, didempul oleh wanita-wanita itu. Namora merasa geli ketika ada buah mentimun diiris dan ditempelkan tepat di atas kelopak matanya.
"Ini apa-apaan? Seharusnya bukan di sini, tapi di makan!" Namora malah santai memasukkan irisan mentimun itu ke dalam mulutnya, lalu mengunyah tanpa rasa bersalah. Kelakuan Namora ini membuat para wanita itu saling pandang, kemudian tertawa terbahak-bahak.
Namora mendengar tawa mereka sangat merdu. Ada yang semerdu suara beo, burung kakak tua, bahkan gagak. Dan itu membuatnya merasa semakin heran.
"Tuan muda yang bikin ulah. Jika tidak, pekerjaan kami tidak akan selesai. Sekarang, Tuan muda pasrah saja. Dengan begitu, pekerjaan kami akan dengan cepat selesai," kata mereka setelah puas tertawa.
Namora hanya bisa kembali pasrah. Dia tau bahwa Ameng akan marah jika terlalu lama menunggu. Saat ini Ameng pergi entah kemana. Jika dia kembali dan melihat Namora masih main-main, kemungkinan tanduk akan tumbuh di kepala Ameng.
Setelah semuanya selesai, Kini salah satu dari wanita itu merapikan rambut Namora. Dan ketika Namora melihat dirinya di kaca, dia hampir tidak percaya bahwa itu adalah pantulan dirinya.
Namora sangat bersemangat dan bersyukur karena diberikan wajah yang sangat tampan. Bahkan terlalu tampan untuk ketampanan yang hakiki.
__ADS_1
Dari arah ruangan lain, tampak seorang wanita yang lainnya keluar dengan membawa setelan blazer berwarna biru muda kearahnya. Lalu dengan hormat dia berkata. "Tuan muda. Pakaian anda sangat lusuh. Ganti dengan yang ini!"
Namora menatap wajah wanita itu. Dia tidak tau bahwa bukan hanya dipermak. Tapi, pakaiannya pun harus diganti. Ini terlalu keren. Dia khawatir kalau ini hanyalah mimpi, dan dia tidak siap untuk bangun. Karena mimpi ini terlalu indah.
"Tuan muda. Apakah kau ingin kami yang memakaikan pakaian ini ke tubuh anda?" Tanya wanita yang tadi merapikan rambutnya.
"Hah? Eh.., iya. Eh tid.., tidak. Jangan!" Namora tergagap. Hal ini spontan membuat semua wanita tadi tertawa renyah.
Namora segera mengambil stelan blazer berwarna biru muda tadi, kemudian memasuki kamar ganti yang ditunjukkan oleh salah satu dari wanita tadi.
Tidak sampai sepuluh menit, Namora telah keluar dengan penampilannya yang baru.
Penampilannya ini membuat semua wanita tadi merasa terpesona.
Bagaikan seorang pangeran tanpa mahkota, Namora berjalan dengan santai. Tapi tetap saja kaku. Dia benar-benar salah tingkah.
Namora segera melenggak-lenggok mengikuti gerakan wanita tadi. Dia seperti peraga busana lelaki yang sedang berjalan di atas catwalk.
Setelah mereka merasa bahwa Namora tidak lagi sekaku tadi, kini merekapun memakaikan sepatu dan dasi. Maka, lengkaplah sudah aksesories yang ada di tubuh Namora.
Tak lama setelah Ameng kembali ke rumah, Namora pun sudah selesai didandani. Dan kini, dia telah keluar dari ruangan yang dia sebut sebagai bengkel tubuhnya.
Melihat Namora yang sudah berubah seratus derajat, Ameng tertegun sejenak. Pikirannya melayang sekitar puluhan tahun yang lalu. Ketika itu, dia melihat Tigor berjalan dengan wibawanya dan keluar dari mobil sport BMW i8 dengan penuh gaya dan temperamen yang mampu melelehkan hati setiap gadis.
"Ini. Ini adalah duplikat bang Tigor. Ini adalah Tigor muda!" Gumam Ameng tanpa sadar.
__ADS_1
"Paman. Paman..! Ada apa?" Namora menggoyang tangan Ameng.
Ameng segera tersadar dan dia mengusap matanya yang berair. Dia tidak menyangka ketika melihat wajah Namora, pikirannya bisa melayang ke jaman dia masih muda dulu. Waktu itu, siapa yang tidak menginginkan mereka untuk menjadi kekasih. Setiap gadis di kota Kemuning ini ingin menjadi kekasih salah satu dari mereka. Hanya saja, ketika mengetahui bahwa Tigor memiliki Mirna, mereka mundur secara teratur.
"Aku sudah tua ternyata," kata Ameng kemudian. Dia ingin mengusap kepala Namora. Tapi Namora segera menghindar karena tidak ingin rambutnya akan berantakan.
"Jangan buat rambutku menjadi kusut lagi, Paman! Atau mereka akan menyiksaku lagi," Namora melirik beberapa wanita yang berbaris dibelakangnya dengan sikap hormat. Wanita itu tampak tersenyum ketika Namora melirik kearah mereka.
"Apa kau sudah siap? Ingat Namora! Kali ini kita akan disambut oleh orang-orang besar. Jangan tunjukkan kelemahan mu. Di sana ada orang-orang yang memang tulus menyayangimu. Namun, tidak sedikit dari mereka yang mencoba mencari keuntungan. Jika kau lemah, mereka akan memanfaatkan dirimu untuk kepentingan mereka," Ameng memperingatkan. Baginya, selain Andra, dirinya dan ketujuh orang lainnya, semuanya hanyalah kepura-puraan. Mereka mencari muka demi sesuatu. Syukur-syukur mereka akan dapat proyek karena membuat hati Namora senang. Apalagi Namora ini masih sangat lugu dan baru terjun ke dunia seperti ini. Ini akan bisa berdampak buruk bagi perusahaan. Karena, ketika Namora sudah diperkenalkan, maka satu kata dari Namora berarti dekrit yang harus dipatuhi oleh setiap bawahan. Tidak perlu menunggu Tigor. Asal Namora mengatakan hitam, maka hitam lah. Kalau putih, maka putih lah. Dan mereka hanya bisa menurut tanpa membantah. Ini lah yang sangat diwaspadai oleh Ameng.
Namora mengangguk. Dia tidak tau apa sebenarnya yang terjadi dan apa maksud dari Ameng ini. Yang dia tau, Ameng mengajaknya ke kota Kemuning. Lalu, seperti mengajaknya bermain teka-teki. Dan herannya, Namora seperti masuk ke dalam permainan Ameng. Terbukti bahwa dia dengan pasrah diajak ke kota Kemuning, di bawa ke rumah Ameng, dipermak dan lain sebagainya.
"Persiapkan mental mu!"
Plak!
Ameng menepuk dada Namora, kemudian mengajak anak itu berjalan menuju ke arah Mobil yang terparkir di pekarangan rumah besar itu.
Begitu Ameng dan Namora memasuki mobil, terlihat di bagian depan ada sekitar lima mobil meluncur duluan. Setelah mobil mereka bergerak, dari arah belakang terlihat sekitar sepuluh mobil lagi menyusul.
"Mengapa mereka mengikuti kita, Paman?" Tanya Namora heran.
"Jangan takut! Mereka adalah bawahan. Suatu saat mereka akan patuh kepada mu!" Jawab Ameng dengan santai, lalu kembali mengemudi dengan tenang.
Namora berdoa didalam hatinya semoga saja Ameng tidak bersiul lagi. Karena telinganya akan merasa tidak dihormati.
__ADS_1
Like nya jangan lupa!
Bersambung...