Namora

Namora
Bersiap untuk berangkat


__ADS_3

"Para banci berkumpul dan ingin menjatuhkan kepercayaan diri dari wakil sekolah kita. Berhenti menggonggong seperti anjing kurap, dan bercermin saja. Perhatikan wajah pengecut Kelian itu! Biar kalian tau seberapa pecundangnya kalian!" Suara teguran dengan nada tinggi itu menarik perhatian semua orang yang ada di kantin. Tapi setelah tau bahwa ada tujuh orang pemuda yang berjalan ke arah mereka, semua murid-murid yang tadi mencemooh Namora segera terdiam. Mereka jelas tau bahwa ketujuh anak-anak remaja itu adalah superstar di sekolah ini, yang dikenal dengan nama J7.


Beberapa murid perempuan segera memasang tampang ramah mereka untuk menarik perhatian Jol, pemuda yang baru saja memberikan teguran tadi. Sementara siswa lelaki, satu persatu meninggalkan tempat duduk mereka karena tidak mau berurusan dengan anak-anak J7.


"Mora. Kau masih di sini? Mereka sudah bersiap-siap untuk berangkat. Kau bukannya melakukan pemanasan, malah enak saja mendengar ocehan dari mereka," Jol datang menghampiri Namora, kemudian menepuk pundaknya diikuti oleh Jericho, Juned, Jaiz, James, Julio dan Jufran.


Namora hanya berkata singkat sebelum mengambil jaket Hoodie miliknya, kemudian membalas tepukan pada pundak Jol sebelum meninggalkan mereka begitu saja.


Anak-anak J7 mengernyitkan dahi mereka masing-masing melihat tingkah Namora ini.


"Sepertinya Namora memang sudah tidak mau berteman lagi dengan kita," kata James sambil menatap punggung Namora yang sudah menjauh. Sementara Jol, hanya mengangkat pundaknya seperti orang yang masa bodoh, kemudian menyusul ke arah Namora yang telah menghilang dibalik gerbang sekolah.


Ketika Namora tiba di bus, dia tidak melihat satupun siswa yang berada di sana. Melihat hal ini, Namora hanya bisa menarik nafas berat.


"Baiklah.., siapa saja bisa meragukan kemampuan ku. Akan tetapi, setelah ini berlalu, kalian semua akan seperti anjing yang menjilati sepatu ku!" Gumam Namora dalam hati.


Dia tau bahwa tidak ada yang menjagokan dirinya. Akan tetapi itu tidak masalah. Lagipula, tujuannya mengikuti turnamen ini bukanlah untuk meningkatkan popularitas semata. Melainkan, dirinya ingin membuat perhitungan dengan Diaz. Dan dia tau bahwa salah satu dari mereka akan terkorban dalam pertemuan nanti.


Karena Namora tau bahwa Diaz tidak memiliki pilihan lain selain menggunakan cara licik setelah dia memaksa Rudi untuk absen mengikuti turnamen itu.


Dalam benaknya kali ini adalah, kecurangan mungkin tidak akan terlalu banyak, akan tetapi, kecurangan yang kasat mata pasti akan dilakukan oleh Diaz. Itulah sebabnya dia ingin menduga, kecurangan apa yang akan dilakukan oleh Diaz.


Baru saja Namora memasuki bus, meletakkan tas bawaannya ke kursi, tiba-tiba ponsel miliknya berdering menandakan pesan teks masuk.

__ADS_1


Namora mengeluarkan ponselnya, kemudian membaca pesan teks tersebut.


Senyum sinis muncul di bibir tipisnya ketika ini, setelah membaca serangkaian pesan teks yang dikirim oleh orang dengan nama Merisda pada daftar kontaknya.


"Doping?" Gumam Namora pelan.


Menurut pesan teks yang dia terima, Merisda memperingatkan dirinya agar berhati-hati, karena abangnya yaitu Ardi telah memberikan uang serta obat kuat kepada Diaz untuk mencelakai dirinya di turnamen nanti.


Merisda juga mengatakan bahwa abangnya sudah menyadari kesalahannya, kemudian dia meminta kepada Merisda untuk memberitahu kepada Namora agar berhati-hati, serta permintaan maaf yang tulus dari Ardi.


Namora sudah mengetahui kecurangan apa yang akan dilakukan oleh Diaz. Dia lalu mengklik nomor Merisda, kemudian meletakkan kontak tersebut kedalam daftar blokir, kemudian segera duduk di kursi pada bus yang akan segera mengantar dirinya ke Dolok ginjang, yang akan menjadi tuan rumah dalam acara turnamen edisi kali ini.


Beberapa orang, yang terdiri dari guru, kepada sekolah, serta siswa yang ingin ikut serta meramaikan, kini telah datang dan memasuki bus.


Singkat cerita, ketika sopir membunyikan klakson pada bus, beberapa siswa dengan malas mulai menaiki bus, kemudian menatap dengan jijik ke arah Namora yang saat ini menutupi pakaian beladiri yang dia kenakan dengan jaket Hoodie miliknya.


Setelah semua kursi telah terisi penuh, dimana di barisan terdepan adalah para guru, bisik-bisik kembali terjadi diantara mereka.


"Menurut mu, siapa yang akan memenangkan pertandingan kali ini?" Tanya seorang siswa laki-laki kepada sahabatnya yang duduk disampingnya.


"Kali ini sekolah kita sama sekali tidak diunggulkan. Bahkan, memasuki posisi sepuluh besar pun sangat sulit. Aku merasa kali ini SMA kampung baru lah pemenangnya. Diaz sangat diunggulkan kali ini," jawab temannya pula.


Karena kursi dimana Namora duduk sangat dekat dengan siswa yang mengobrol tadi, maka Namora dapat mendengarnya dengan sangat jelas.

__ADS_1


Beberapa siswa menatap ke arah Namora, kemudian berkata. "Namora. Masih belum terlambat untuk mengundurkan diri dari turnamen ini. Apa kau tau bahwa, di babak penyisihan nanti, kemungkinan lawan mu adalah Diaz. Tau kan Diaz? Dia adalah murid dari Dojo yang baru-baru ini sangat terkenal. Hanya butuh kurang dari lima tahun saja, Dojo ini dapat mengukur nama mereka dan menjadi salah satu dari sepuluh besar perguruan karate yang sangat diimpikan oleh setiap orang untuk bisa menimba ilmu di sana," kata yang lain pula. Nada suaranya terdengar seperti orang yang sangat peduli. Akan tetapi, raut wajahnya penuh dengan ejekan dan sangat menyepelekan.


"Dojo kampung baru? Apa hebatnya?" Jol yang tau jelas dan ikut ambil bagian dalam mengobrak-abrik Dojo kampung baru bersama dengan Namora, hanya tersenyum mengejek ke arah mereka.


"Jelaslah hebat. Kalau tidak hebat, mana mungkin belakangan ini, ramai anak-anak muda yang mendaftarkan diri menjadi murid di sana," balas siswa itu lagi tak mau kalah.


"Kalian sepertinya mengagumi secara buta. Jelas bahwa kalian telah ketinggalan berita," Jol semakin mencibir dan tersenyum tengil.


"Ketinggalan berita?" Beberapa orang mulai penasaran, kemudian membalikkan tubuh mereka ke belakang untuk menatap ke arah Jol yang duduk di kursi bagian belakang mereka.


"Mungkin berita itu belum sampai kepada kalian, atau memang kalian yang memang kurang up to date dengan kabar yang ada,"


"Jol. Jelaskan kepada kami apa sebenarnya yang kau ketahui?!" Pinta mereka dengan serius pada wajah masing-masing orang.


"Tadi kalian mengatakan bahwa Dojo Kampung baru itu hebat kan? Apa kalian tidak tau bahwa semalam, Dojo kampung baru telah diobrak-abrik, dan banyak murid-muridnya yang terluka. Bahkan, kakak pertama di Dojo tersebut juga tidak luput. Dan kalian bahkan tidak tau bahwa Rudi, mengalami patah tulang rusuk, serta kepalanya pecah karena dipukul dengan pemukul baseball. Rudi tidak mungkin mengikuti turnamen ini. Jadi, otomatis hanya ada sisa satu wakil, yaitu Diaz sendirian," jawab Jol dengan senyum mengejek.


"Hah.., apa?" Beberapa orang mulai membelalakkan mata mereka. Bagi mereka, itu tidak mungkin. Akan tetapi, yang membawa kabar ini adalah Jol sendiri. Jika itu Namora, mereka pasti sudah memakinya dengan kasar akibat dari berita yang masih belum jelas.


Sementara itu, Namora yang mencari informasi tentang doping melalui internet mulai memahami cara kerja obat ini, beserta efek sampingnya.


Namora tidak lagi memperdulikan ocehan dari mereka. Dia mulai melipat tangannya di depan dada, kemudian bersandar untuk mengistirahatkan tubuhnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2