
Sebelum tepat pukul empat sore, seperti yang telah mereka janjikan di jalan tadi, kini Jol, Jericho, Juned, Jaiz, Jufran, Julio dan Namora telah sampai hampir berbarengan di rumah James.
Kehadiran ketujuh anak-anak remaja itu disambut dengan sangat baik oleh orang tua James.
Setelah berbasa-basi sejenak, akhirnya kedelapan anak-anak remaja itupun berpamitan kepada ibunya James untuk berangkat menuju ke sekolah SMA negeri Tunas Bangsa yang terletak tidak terlalu jauh dari pusat kota Batu.
Dengan menaiki mini bus, akhirnya kedelapan anak-anak muda yang baru tumbuh itupun sampai juga di simpang jalan menuju ke sekolah yang kelak akan mereka jadikan sebagai tempat menuntut ilmu.
Setelah berjalan kaki dari simpang mereka turun tadi, sekitar seratus meter, akhirnya mereka sampai juga di depan gerbang masuk ke area sekolah menengah keatas tersebut.
Persis seperti pemain sepak bola yang lagi memasang pagar betis, kedelapan anak-anak muda itu berdiri berbaris di depan pintu gerbang yang masih terkunci itu.
Entah siapa yang mengatur, bisa-bisanya kaki mereka sejajar hingga tampak sangat rapi dan lurus cara mereka berdiri berdampingan. Sementara itu, mata mereka masih terus tertuju ke arah bangunan leter L tiga lantai tersebut.
"Bagaimana menurut kau, Jol? Cocok kau rasa sekolah ini?" Tanya Jufran tanpa memalingkan wajahnya dari menatap bangunan sekolah tersebut.
"Sepertinya tempat ini sangat sejuk. Sekali pandang saja, aku dapat merasakan bahwa lingkungan di sini sangat nyaman," jawab Jol apa adanya.
"Ya. Aku juga merasakan hal yang sama," Jericho pula menimpali.
"Kau, Namora?" Tanya Jufran yang ingin tau. Karena, sejak tadi Namora sama sekali tidak bereaksi.
"Aku suka dengan suasana di sini. Tapi Paman Rio menginginkan agar aku melanjutkan pendidikan di kepolisian. Pendidikan Bintara namanya," jawab Namora. Dia teringat beberapa hari yang lalu, terlibat percakapan antara dirinya dan Rio Pamannya yang menginginkan agar Namora mengikuti jejaknya untuk menjadi anggota kepolisian. Namun, ketika Ameng, Acong dan Timbul mengetahui niat dari Rio ini, mereka bertiga serta-merta menolak dengan cara menghasut Namora agar menolak gagasan dari Rio tersebut.
__ADS_1
Ketika Namora mengatakan kepada Rio perihal penolakannya tersebut, Rio pun tidak memaksa. Namun, yang namanya orang tua, walaupun mengalah pasti bersyarat. Syaratnya adalah, bahwa Namora jangan membuat malu dirinya. Jika sekali saja dirinya mendapat teguran atas kesalahan yang dilakukan oleh Namora, maka tidak ada alasan bagi Namora untuk menolak dipindahkan ke sekolah pendidikan kepolisian. Dan, Namora pun terpaksa menyetujui syarat tersebut.
"Baru saja merasa bebas dari kakek Harianto, kini Paman pula yang mengikat aku dengan cara begini. Kapan aku bisa merdeka dan membalas setiap perlakuan buruk yang aku terima?" Begitulah isi hati Namora ketika itu.
"Namora. Pendidikan untuk menjadi Bintara itu hanya tujuh bulan saja. Sisanya kan... Setahu aku nih ya, setelah tamat SMA, baru melanjutkan ke pendidikan Bintara. Itupun kalau memang cita-cita mu mau menjadi polisi," kata Jol yang mengerti sedikit tentang pendidikan sebelum memasuki akademi kepolisian.
"Entahlah. Entah mana yang benar. Atau mungkin saja Paman ku sengaja menakut-nakuti aku dengan pendidikan Bintara agar aku tidak bandel di sini," pikir Namora lagi dalam hati.
Sebenarnya, wajar saja jika Rio merasa khawatir dengan sikap Namora ini. Dia tau betul siapa keponakannya itu. Karena, selama ini, Namora hanya menunggu kesempatan saja. Diamnya anak ini seperti boom waktu yang andai meledak, dapat menghancurkan apa saja.
Karena, dari kecil hingga remaja, Namora ini selalu mengalah walaupun dia mampu untuk melawan. Ditambah lagi, Namora sudah menguasai seluruh ilmu beladiri yang dia serap dari pak Harianto. Jelas Rio menjadi khawatir andai Namora tidak mampu mengendalikan emosinya. Sebagai seorang yang memiliki pangkat di jajaran kepolisian, mau ditaruh di mana muka nya andai keponakannya sendiri membuat masalah.
Namora hanya diam saja mendengar penjelasan dari Jol tadi.
Kini, tatapannya seperti kosong walaupun arah pandangannya adalah bangunan leter L tiga lantai bercat putih tersebut.
"Kalau kalian semuanya suka di sini, aku akan meminta kepada ayah ku untuk mengatur semuanya. Dia memiliki ramai kenalan. Jika dia sudah turun tangan, pasti akan beres. Siapa yang tidak segan dengan anggota dari Dragon Empire?" Kata Jericho pula tanpa maksud menyombongkan diri. Baginya, jika ada orang yang bisa dimintai pertolongan, mengapa tidak? Apa lagi orang itu adalah ayahnya sendiri.
"Kau enak lah. Ayah kau orang organisasi," ejek Juned sambil mendorong pundak Jericho dengan niat bercanda.
"Apa itu organisasi?" Tanya Namora tidak mengerti.
"Pusatnya ada di negara yang sangat jauh dari sini. Boss besarnya adalah Tuan besar Jerry William. Sedangkan markas besarnya ada di sebuah kota bernama Starhill. Sedangkan di sini, cabang dari organisasi itu berada di kota Kemuning, Dolok ginjang, dan Tanjung Karang. Sedangkan di kota batu ini, dan juga kota Tasik putri, entah mengapa mereka seperti tidak tertarik. Bisnis nya sangat besar. Dan Ayah ku adalah salah satu dari anggotanya. Walaupun jabatannya tidak tinggi, tapi cukuplah untuk disegani," jawab Jericho panjang lebar.
__ADS_1
"Wah. Hebat. Tapi mengapa ayahmu tidak membantu ketika kalian dikeroyok oleh Dhani, Rendra dan Marcus?" Tanya Namora antara kagum dan mengejek.
"Itu urusan anak-anak. Jangan libatkan orang tua. Apa lagi kita ini adalah anak jantan. Kalau semuanya diadukan kepada orang tua, bisa-bisa aku yang akan dihajarnya," jawab Jericho yang membuat mereka semua manggut-manggut.
"Benar juga katamu. Ya sudah. Terserah kau saja lah. Syukur-syukur andai ayah mu bisa membantu memuluskan jalan kita untuk sekolah di sini," kata Namora pula mengalah. Dia tau, sebagai anak jantan, seandainya terjadi bentrok antara mereka, pantang mengadukan hal tersebut kepada orang tua. Atau, mereka sendiri yang akan terkena dampaknya.
"Ayo kita muter-muter. Aku masih penasaran seperti apa kawasan sekolah ini dari bagian sana," kini Jol menunjukkan bagian sisi lain dari bangunan sekolah tadi.
Mereka semua mengangguk setuju, dan mulai mengikuti Jol yang sudah terlebih dahulu mendahului mereka.
"Aku ingin punya pacar di sini," perkataan dari Juned sukses membuat langkah Jol terhenti.
"Luruskan dulu kencing mu! Baru mikirin pacar," cibir Jol yang mulai kembali melangkah.
"Hahaha..."
Pecah sudah suara tawa dari keenam orang lainnya.
"Eh. Tapi bener loh. Di sini tuh terkenal dengan gadis-gadis cantik. Walaupun kakak kelas, asalkan cantik, ku sikat!"
"Kau ini memang bunkshut! Masih kecil sudah gatal," maki Jol dengan geram.
"Hah.., bunkshut? Apaan tuh?"
__ADS_1
"Bangsat!!!" Jawab Jol sambil ngacir duluan.
Bersambung...