
Wajah Teja saat ini benar-benar menghitam akibat kemarahan yang meluap-luap terhadap Angga. Dia ingin maju ke depan untuk menjangkau adik tirinya itu, akan tetapi, tindakannya sangat mudah dibaca oleh Angga, sehingga, sebelum dia bergerak, Angga telah terlebih dahulu mundur dari jangkauan Teja.
Prak..! Terdengar suara meja dibanting dengan tangan.
"Hentikan perdebatan kalian! Kehadiran kalian berdua benar-benar mengacaukan segalanya. Aku berharap kehadiran kalian bisa membantuku mencari solusi masalah. Tapi nyatanya kalian berdua ini tidak berguna!" Bentak Jhonroy dengan kemarahan yang jelas terlihat diwajahnya.
Perdebatan antara kedua anaknya itu memang bukan sesuatu yang asing baginya. Karena, masing-masing dari mereka ingin mencari nama serta menarik perhatiannya. Akan tetapi, kali ini berbeda. Masalah sudah menjadi runyam seperti ini, tentu tidak tepat memperdebatkan hal-hal yang akhirnya bisa membuat kerugian bagi keluarga.
"Ayah. Dia terus memprovokasi ku. Jika aku tidak memberikan anak ini pelajaran, selamanya dia akan bersikap kurang ajar kepadaku!" Jawab Teja tidak mau kalah. Akan tetapi, niatnya untuk menindaklanjuti Angga terhenti ketika Jhonroy kembali membentak dan menyuruhnya untuk duduk.
"Sebaiknya kalian singkirkan dulu keegoisan kalian. Kita dengarkan dulu penjelasan dari orang-orang yang aku utus. Setelah itu, baru kita runding kan bersama," kata Jhonroy menengahi ketegangan tersebut.
"Tuan. Saat ini anak buah ku sedang berada di Dolok ginjang untuk memantau Namora. Baru saja saya menerima pesan bahwa anak itu telah memasuki babak semifinal. Diperkirakan, bahwa rombongan anak itu akan kembali ke kota Batu pada malam hari mengingat bahwa, andai kalah pun, mereka akan memperebutkan juara ke 3 sebelum laga final berlangsung. Anak buah saya juga telah mengkonfirmasi bahwa Zack, anak didik Ameng juga berada di sana untuk menjemput Namora,"
"Bagus. Laporan yang bagus. Kau telah melakukan pekerjaan mu dengan sangat bagus. Lalu, bagaimana dengan orang-orang yang kau kirim untuk mengetahui siapa saja yang bersahabat dengan anak itu, dan siapa saja yang bermusuhan dengannya?" Tanya Jhonroy dengan penuh minat.
__ADS_1
Bejo tersenyum bangga karena mendapat pujian dari Boss nya tersebut. Kemudian dia menuturkan kembali semuanya yang dia ketahui.
"Tuan. Tidak banyak orang yang bersahabat dengan anak itu. Ada beberapa nama seperti Zack, Lan, Jol serta Kenza. Namun, untuk nama terakhir, anak itu seperti menghilang dengan sendirinya. Sedangkan orang yang memusuhi anak itu adalah Dhani putra Panjul. Rudi putra Ganjang. Kemudian ada Rendra keponakan Billy yang telah menghilang tanpa jejak. Menurut saya, jika kita bisa bekerjasama dengan Panjul, Ganjang serta seorang lagi sahabat mereka bernama Mokmok, tentu akan sangat menguntungkan bagi kita. Mereka tidak akan menolak mengingat hubungan buruk antara mereka dengan geng kucing hitam di masa lalu,"
Jhonroy mengurut dahinya. Dia ingin menertawakan dirinya sendiri. Selama dia hidup, belum pernah dia dipusingkan oleh lawan-lawannya. Tapi kali ini, dia dipaksa untuk memeras otak oleh bocah ingusan. Benar-benar dunia sudah terbalik.
"Ayah. Menurut ku, kita harus berbagi tugas. Aku berpendapat bahwa ayah harus mengutus orang untuk mencegat Namora ini yang akan kembali ke kota Batu dari Dolok ginjang. Dengan demikian, anak itu tidak akan pernah lagi bisa kembali untuk selamanya," Setelah mencermati setiap yang disampaikan oleh Bejo, Teja pun langsung menyela.
Mendengar gagasan ini, Angga juga tidak mau kalah. Dia lalu mengutarakan pendapatnya kepada Ayahnya. "Ayah. Menurut ku, usulan dari Bang Teja sangat beresiko. Semua orang tau bahwa Namora hanya memiliki perselisihan dengan kita saja. Coba ayah pikirkan! Jika Namora terbunuh, apa yang akan dilakukan oleh Tigor dengan kekuatannya? Kemungkinan hal ini akan membuat kita terjun ke dalam kancah peperangan dengan orang-orang dari Dragon Empire. Sedangkan ayah sendiri tau seperti apa kekuatan yang berada di belakang organisasi ini. Ada keluarga William the great di belakang mereka. Menurut ayah, siapa yang dapat membantu kita jika mereka bertindak membantu Tigor dengan alasan bahwa kita telah membunuh Namora?"
"Kau tau apa? Iya kalau mereka memiliki bukti, baru bisa main tuduh sembarangan. Jika mereka tidak memiliki cukup bukti dan hanya berdasarkan dugaan saja, aku rasa mereka tidak akan berani langsung bertindak," bantah Teja langsung dengan niat untuk mematahkan argumen dari Angga.
"Kau ini memang pengecut. Aku tidak suka berdebat terlalu lama, kemudian membuang-buang waktu berharga dengan hanya pandai berbicara, Namun, minim kontribusi. Jika kau takut, tukar celana mu dengan rok!" Maki Teja tepat di depan batang hidung Angga.
Angga tersenyum di dalam hatinya. Dia bukan tidak tau identitas Namora ini. Begitu dia tau bahwa ayahnya memiliki masalah dengan putra Tigor tersebut, dia langsung melakukan berbagai penyelidikan tentang latar belakang keluarga mereka secara terperinci, barulah dia mengetahui betapa mengerikannya keluarga Tigor. Jika tidak, menurut keserakahan ayahnya, melihat lima kota tambang emas yang di mulai dari Tanjung Karang, kota Kemuning, kota Batu, Tasik Putri dan Dolok ginjang, mustahil ayahnya tidak tergiur untuk menginvasi kelima kota tersebut. Namun itu tidak dilakukan oleh ayahnya. Hal ini jelas menandakan betapa kuatnya mereka untuk dihadapi oleh orang-orang dari kota L.
__ADS_1
Angga memang sengaja menggiring Teja ke dalam perangkap yang memang telah dia perkirakan.
Bukan rahasia bahwa dirinya dengan Teja adalan pesaing abadi. Di hadapan kepentingan, tidak ada yang namanya saudara, teman abadi, ataupun musuh abadi. Begitu berbicara tentang kepentingan, banyak cara yang abu-abu pun akan ditempuh dan dianggap sebagai jalan yang putih. Kawan mendadak bisa berubah menjadi lawan, dan lawan bisa berubah menjadi kawan. Apa yang dikatakan sebagai sahabat sejati sebenarnya tidak pernah terwujud dalam dunia hitam seperti ini. Semuanya di atas kepentingan. Selain itu, semuanya adalah omong kosong.
Beginilah cara Angga untuk memancing di air yang keruh. Dia terus berseberangan dengan Teja. Karena, semakin dia berseberangan dengan Abang tirinya itu, semakin dekat Teja dengan kematian. Ketika itu terjadi, maka dia adalah satu-satunya penerus yang tersisa. Dan setelah Jhonroy mati, dia akan menjadi pewaris satu-satunya tanpa perlu khawatir bakalan ada yang akan merongrong kekuasaannya.
"Terserah Abang lah. Tapi nanti jangan menyesal ketika mendapat tindak balas dari Tigor setelah dirinya terbebas dari penjara,"
"Angga!" Bentak Jhonroy. Dia mendadak kecewa dengan sikap anaknya itu. "Aku tidak menyangka bahwa kau adalah pengecut. Menurut mu, siapa yang terlebih dahulu mencari gara-gara dengan ku? Apakah kita harus diam saja? Ketika diam, apakah menurutmu mereka akan mengembalikan saham agro chemical kepadaku?
Aku telah hidup puluhan tahun di dunia gelap ini. Namun, tidak pernah reputasi ku dicemari seperti ini. Aku bertambah kecewa ketika kau malah seperti melemahkan semangat Abang mu. Anak sialan sampah seperti apa kau ini hah?"
"Kita dinginkan dulu kepala kita, Ayah! Boleh emosi, tapi pikirkan lah sebab akibatnya! Ada kata-kata bijak yang mengatakan bahwa jika ingin menang melawan lawan yang tangguh, maka jatuhkan mental dan semangat juang yang dia miliki terlebih dahulu. Karena, tanpa semangat dan mental, sekuat dan sebesar apapun orang tersebut akan sangat mudah untuk dikalahkan.
Di sini menurut ku, mengapa kita tidak mengusik orang-orang yang terdekat dengan anak itu? Mengapa kita tidak membuat dunianya menjadi terasa lebih sempit?"
__ADS_1
"Cukup, Angga! Jika kau masih membuka mulut lagi, kau orang pertama yang akan aku bunuh!" Ancam Teja. Dia tidak ingin basa-basi lagi. Baginya adalah, malam ini Namora harus selesai.
Bersambung...