
Sementara Mirna yang sangat terkejut karena tidak menduga bahwa dia akan dibentak oleh Tigor, Rio yang tidak ingin suasananya menjadi sangat keruh harus menjadi penengah. Karena, saat ini dia lah yang mampu dan mempunyai hak untuk meredam kemarahan Tigor. Sementara Ameng, sahabat Tigor itu hanya bisa menatap wajah Tigor dan Mirna secara bergantian, kemudian menatap kearah Rio seperti meminta bantuan.
Rio maju beberapa langkah, lalu menegur. "Bang..,"
"Diam kau Rio!"
Belum lagi sempat Rio menyelesaikan perkataannya, Tigor sudah memotong kata-katanya dengan bentakan.
"Mengapa sekarang semuanya menyalahkan aku? Ketika kau membawa Namora dari kota Kemuning ke kota Batu, apakah kau mendengarkan pendapatku?" Tigor menatap Mirna dengan tatapan marah.
Mirna mulai menangis. Dia ingat dulu ketika membawa Namora ke kota Batu, Tigor tidak setuju. Karena, walau bagaimanapun, Namora akan lebih baik di kota Kemuning. Hal ini juga tidak akan melelahkan bagi Ameng untuk bolak-balik dari kota Kemuning ke kota Batu demi memastikan bahwa Namora dan Mirna tidak kenapa-kenapa.
"Aku ini mafia. Tangan ku berlumuran darah. Kau tidak ingin anak mu mengikuti jejak ku. Itu kan yang kau katakan dulu?!"
"Padahal, di kota Kemuning, Namora tidak kekurangan apapun. Kau berusaha untuk menjauhkan Namora dari dunia ku yang seharusnya dialah pewarisnya. Sekarang kau baru tau bahwa tidak punya apa-apa itu tidak enak,"
"Namora di bully, aku yang disalahkan. Apa sebelum ini kau ada berfikir bahwa Namora akan baik-baik saja tanpa harta? Jika kau miskin, jangankan saudara, setan pun akan enggan melihatmu. Mengapa ketika Namora menginginkan sesuatu, kau malah mendesak ku? Aku hanya menuruti permainan yang kau mainkan. Jika kau mampu, ayo aku ingin lihat. Sampai dimana kau mampu memenuhi tuntutan Namora sesuai dengan zaman dan perkembangannya. Dia semakin besar. Kebutuhannya semakin meningkat. Apa kau kira seperti merawat dia ketika umur lima tahun?"
"Iya. Semua itu adalah kesalahan ku. Tapi, mengapa Abang tega menutup mata untuk Namora?" Tanya Mirna. Tangisnya semakin keras.
__ADS_1
"Jika aku menutup mata, kalian sudah lama mati karena kelaparan!" Balas Tigor. Kali ini, dia benar-benar tidak mau mengalah. Baginya, sudah terlalu banyak dia mengalah dan membiarkan Mirna memegang kendali atas diri Namora.
"Sudahlah bang. Kita ini semua tau. Dan sudah bukan rahasia lagi bahwa tangan kita ini berlumuran darah. Wajar jika seorang ibu tidak menginginkan anaknya menjadi orang seperti kita ini," kini, Ameng memberanikan diri untuk ikut bicara.
"Orang tidak perduli dengan proses. Yang orang ingin tau adalah hasilnya. Kita dulu sama-sama sampah. Siapa yang perduli? Ketika kita berada di atas, memiliki banyak uang, apakah kau pernah dihina dan dilempar dari depan kaki lima? Jangan naif! Kita adalah produk nyata dari kerasnya kehidupan.
Ayah yang mana yang tega melihat anaknya dibully. Tapi untuk memberikan pelajaran, harus ada pengorbanan. Yang aku korbankan adalah perasaan ku. Setiap hari hatiku berdarah. Mirna ini memang pantas diberi pelajaran. Bukan karena aku tidak sayang. Akan tetapi, supaya dia tau bahwa kehidupan ini akan sangat kejam jika kita tidak memiliki apa-apa," kata Tigor lagi. Walaupun dia merasa dikeroyok oleh istri, adik dan sahabatnya, tapi mereka tidak bisa menang. Fakta memang Mirna lah dulu yang mengasingkan diri. Alasannya adalah, Namora menjadi korban bullying ketika teman-temannya tau bahwa ayahnya adalah seorang Narapidana. Padahal, tanpa orang tau pun, Namora tetap dibully karena tidak punya apa-apa.
"Ini pelajaran yang berharga untuk mu. Kau tau siapa aku. Ketika kita berkenalan, yang aku pakai bukanlah peci, sorban, dan tasbih. Melainkan sosok hitam dengan topeng kucing. Kau terlalu menghakimi bahwa aku ini orang jahat. Aku tidak pernah merusak generasi. Apapun yang aku lakukan, dan siapa target ku adalah mereka yang pernah merenggut apa yang seharusnya aku punya. Jadi, berhentilah merasa sok suci dan menuding jari kepadaku. Kau juga adalah sampah masyarakat yang diangkat oleh sampah masyarakat pula. Aku harap, kau dapat belajar dalam hal ini!"
Memang, dulu Mirna ini adalah peliharaan Marven dan menjadi anak ayam bagi Monang ketika berada di pusat hiburan dunia gemerlap malam. Beruntung Tigor menemukannya. Jika tidak, tentu Mirna sampai saat inipun akan menjadi wanita penghibur. Sedangkan Tigor ketika itu adalah gelandang yang diangkat oleh Martin menjadi anggota dan kepercayaannya. Hal ini lah yang dimaksud oleh Tigor sebagai sampah masyarakat yang ditolong oleh sampah masyarakat pula. Untuk lebih jelasnya, silahkan baca Black Cat, novel karya Edane Sintink
"Sudah cukup bang. Aku mengaku salah dan meminta maaf. Sekarang, kau harus memikirkan bagaimana caranya untuk mengembalikan kepercayaan diri Namora?! Aku tidak ingin mental anak itu rusak," kata Mirna meratap.
"Aku rasa sudah saatnya bang. Awal bulan depan, aku akan membawa Namora ke kota Kemuning untuk diperkenalkan kepada seluruh staf Martins Group. Sekalian aku ingin dia menandatangani dokumen yang belum ditandatangani ini. Tandatangan mu tidak berlaku di sini!" Kata Ameng sembari mengibas-ngibaskan beberapa lembar kertas yang ada ditangannya.
"Meng. Kau urus kartu kredit. Berikan kepada Namora. Aku ingin anak ku seperti anak orang lain. Bahkan, harus melebihi orang lain. Aku mungkin beberapa bulan lagi akan bebas jika tidak ada kaki orang yang aku patahkan. Apa kau bisa mengurus semuanya untukku?"
"Apa Abang pikir Namora itu mengerti tentang kartu kredit? Kau pun sudah setua ini tidak mengerti," ejek Rio kepada Tigor.
__ADS_1
Mendengar ini, Ameng pun tersenyum malu-malu.
"Begini saja. Apalah itu, kalian harus belajar mengenai cara kerja kartu kredit. Aku tidak tau apakah ada perbedaan antara kartu ATM dan kartu kredit. Kalau sama, berarti itu akan lebih memudahkan. Kelak jika aku sudah bebas, aku juga akan belajar seperti apa cara kerja kartu kredit itu," kata Tigor pula. Dia tidak malu mengakui bahwa dia memang tidak pernah menggunakan kartu kredit. Dulu, dia sering membawa berkoper-koper uang tunai. Mana dia tau. Sedangkan Mirna, dia wanita pintar. Tapi, karena ego, Tigor tidak mau bertanya. Takut dikira goblok.
"Itulah. Waktu kecil tak mau mati, udah tua menyusahkan!" Kata Tigor menggerutu. Dia kesal dengan dirinya sendiri.
"Aku mau keluar dulu. Aku akan menemui Namora. Mungkin kami perlu jalan-jalan mencari angin,"
"Meng. Perhatikan Namora. Kau jangan melarang apapun yang mau dia kerjakan. Tapi ingat, setelah itu laporkan kepada ku tanpa ada yang kau kurangi, atau yang kau tambah-tambahkan. Mengerti?"
"Aku mengerti apa yang Abang maksud. Aku juga ingin mempelajari karakter anak ini," jawab Ameng.
"Namora ada di rumah. Abang pergi lah. Aku akan menyusul sebentar lagi," kata Rio.
Setelah Ameng berpamitan, kini Tigor yang merasa bersalah terlalu kasar terhadap Mirna segera membelai rambut istrinya tersebut.
Mirna yang melihat ini langsung kembali menangis, dan membenamkan wajahnya di dada Tigor.
"Uhuk.., uhuk.., uhuk..!" Rio terbatuk-batuk, kemudian memutar badan meninggalkan tempat itu. Dia ingin memberi kesempatan kepada Abang dan kakak iparnya untuk berbaikan.
__ADS_1
Mirna dan Tigor hanya bisa tersenyum canggung melihat bagian belakang tubuh Rio yang perlahan menghilang dibalik pintu.
Bersambung...