Namora

Namora
Mengajak keluarga pak Karim makan di Hotel


__ADS_3

Pukul sembilan malam, akhirnya Namora dan Pak Karim tiba juga di perumahan staf Martins Group. Namora terlihat sangat antusias walaupun sebenarnya dia juga sangat kelelahan. Ada banyak masalah yang harus dia tangani dan ini membutuhkan curahan perhatian yang sangat besar. Jika salah langkah, perusahaan yang akan menanggung akibatnya. Dan jika perusahaan mengalami kebangkrutan, apa alasan yang akan dia berikan kepada ayahnya? Oleh karena itu, dia harus memikirkan setiap aspek. Bahkan, sekecil apapun detail nya, dia akan mencurahkan seluruh perhatian. Karena itu mengapa Namora kelihatan sangat lelah.


Tiba di perumahan staf Martins Group, mereka sudah disambut oleh istri pak Karim, Ibu Zack, Nila dan seorang lagi wanita muda yang tidak dikenal. Namun, Namora bisa menebak bahwa gadis itu pasti adiknya Zack, melihat iras wajah mereka sangat mirip.


"Salam Bu!" Kata Namora setibanya di depan mereka.


Keempat orang itu menyambut salam Namora dengan senyuman yang disusul anggukan kepala. Mereka merasa sangat terharu karena Namora bukan hanya menyediakan rumah bagi mereka, tapi juga menyempatkan diri untuk berkunjung.


"Bagaimana dengan rumahnya? Apakah nyaman di sini? Jika tidak, saya bisa memperbaiki rumah ibu di kampung permai itu. Bagaimanapun, terserah ibu saja,"


"Oh. Tuan muda. Kami sangat senang tinggal di sini. Terimakasih karena sudah berbaik hati kepada kami," jawab kedua wanita yang tidak lain adalah ibu Zack dan istri pak Karim secara bersamaan.


"Bagaimana? Apakah kalian sudah memasak? Tuan muda mungkin lapar," tanya Pak Karim. Dia tau bahwa Namora masih belum memakan apapun sejak sore sampai malam ini.


Mendengar pertanyaan pak Karim, keempat wanita itu tersenyum canggung dan malu-malu. Bagaimana mereka akan memasak, namanya saja baru pindah. Bahkan, peralatan dapur pun masih belum dipasang seluruhnya.


"Tidak apa-apa. Kita bisa makan di Hotel saja," kata Namora dengan ringan.


Ringan bagi Namora mengatakan bahwa mereka akan makan malam di hotel. Jelas lah. Yang punya hotel adalah Tigor alias ayahnya. Namun bagi keluarga pak Karim dan ibunya Zack, jangankan makan malam di hotel, menginjak halaman hotel saja mereka tidak pernah.


"Tuan muda. Apakah tidak apa-apa anda membawa kami makan malam di hotel? Ini bisa merusak reputasi Anda," sela pak Karim ragu-ragu. Dia jelas tau diri. Siapa lah diri dan keluarganya di bandingkan dengan Namora.


"Tidak apa-apa. Pak Karim dan yang lainnya silahkan bersiap-siap! Saya akan menelepon pilah hotel untuk menyiapkan kendaraan menjemput kita, dan juga presiden suite room. Kita bisa makan dengan tenang tanpa gangguan," kata Namora sembari mengeluarkan handphone miliknya, lalu melakukan panggilan untuk membuat reservasi sekaligus meminta petugas hotel untuk menyiapkan dua mobil bagi menjemput dua keluarga ini.


Pak Karim, istrinya dan ibu Zack jelas merasa rendah diri dan tidak percaya bahwa mereka akan berangkat ke hotel bintang lima hanya untuk makan malam. Tapi berbeda dengan Nila serta adiknya Zack. Mereka sangat bersemangat. Kapan lagi mereka akan merasakan sensasi makan malam mahal di hotel bintang lima. Selain itu, mereka juga akan satu meja dengan Namora yang tampan seperti kacukan Batak-Korea, bergaya dan kaya pula. Jelas ini umpama mimpi dalam mimpi.


"Bang. Silahkan diminum teh nya!"


"Oh.., iya. Terimakasih," kata Namora merasa sungkan.

__ADS_1


"Sama-sama bang. Seharusnya saya yang berterima kasih,"


"Hei. Siapa namamu?" Tanya Namora setelah meletakkan gelas teh nya di atas meja.


"Nama ku Tiur, bang," jawab gadis bernama Tiur itu malu-malu.


"Tiur. Nama yang bagus," puji Namora dengan ikhlas. Tapi berbeda dengan Tiur. Wajahnya seperti udah bakar saat ini. Merah merona mendengar pujian dari Namora. "masih sekolah?" Tanya Namora lagi.


Si Tiur menggeleng perlahan. Mendadak raut wajahnya menjadi sedih.


Memang benar. Semenjak Zack meninggal, biaya sekolah nya langsung terputus. Si ibu yang mengandalkan hasil dagangan untuk kebutuhan hidup merasa kewalahan untuk membiayai pendidikan Tiur. Akhirnya jalan pintas pun diambil dan Tiur terpaksa berhenti sekolah. Bukan hanya berhenti sekolah, bahkan Tiur juga terpaksa mengambil upah mencuci pakaian demi membantu meringankan beban sang ibu.


"Maaf. Bukan maksudku membuat mu sedih," kata Namora penuh perasaan bersalah.


Tiur memaksakan senyuman di bibirnya. Dia lalu menggelengkan kepalanya, kemudian berkata. "Tidak apa-apa bang. Kata ibu, yang penting Tiur sudah bisa tulis baca. Tidak tersesat di jalan dan tidak mudah ditipu,"


Namora tidak bisa berkata-kata lagi. Dia hanya mengeluh dalam hati. Ini semua adalah kesalahannya karena terlalu sibuk dengan urusannya pribadi. Tapi dia berpikir lagi. Bukan sepenuhnya kesalahan itu karena dirinya yang mengabaikan mereka. Jika dia tidak terluka dan koma, mungkin dia bisa melacak keberadaan keluarga Zack. Andai itu dilakukan secepat yang dia bisa, tentu gadis itu dan Nila tidak akan putus sekolah. Oleh karena ini, Namora menjadi sangat marah kepada Takimura. Gara-gara dia semua rencana Namora menjadi berantakan.


Krak..!


Tanpa sadar, gelas teh digenggaman tangannya menjadi pecah karena kemarahan Namora. Tampak tangannya berdarah, dan itu membuat seisi rumah menjadi kelabakan.


"Tuan muda. Ada apa?" Tanya Pak Karim panik.


"Tiur. Kau apakan tuan muda hah?" Bentak si ibu.


"Tidak. Bukan salah Tiur," jawab Tiur ketakutan.


Namora mengangkat tangannya. "Tidak apa-apa Bu. Hanya tadi saya tidak hati-hati memegang gelas. Hanya sedikit berdarah. Nanti juga akan baikan,"

__ADS_1


Namora mengusap lukanya dengan tisu, kemudian menatap ke arah luar dimana dari kejauhan, dua unit mobil sedang mengarah ke rumah dimana dia berada.


"Sudah siap? Jika sudah, ayo kita berangkat!" Kata Namora sembari bangkit berdiri.


Yang lain pun segera mengikuti dibelakang Namora dengan perasaan yang sulit digambarkan.


"Tuan muda," kata si sopir begitu Namora keluar dari rumah. Dia membungkuk memberikan hormat.


"Bantu mereka! Kita berangkat ke Martins hotel!"


"Siap!" Jawab sopir tadi dengan sekali lagi membungkuk.


Dalam waktu sekejap, akhirnya tiga unit mobil yang dikendarai oleh mereka pun tiba juga di Martins hotel.


Dari luar, Namora melihat bahwa hotel sangat sepi. Sama sekali tidak ada pengunjung yang datang. Sebaliknya, seluruh bagian depan dan aula di dalam Hotel dihiasi dengan pernak-pernik yang sangat indah seolah-olah ingin menyambut tamu agung yang datang.


Mungkin mereka akan mengira bahwa persiapan itu dilakukan untuk menyambut kedatangan Namora yang hanya beberapa kali mengunjungi hotel tersebut. Akan tetapi perkiraan itu salah. Hotel telah dihentikan pengoperasiannya selama empat hari untuk melakukan kerja-kerja dekorasi bagi menyambut kebebasan Tigor pada besok lusa.


Diperkirakan, akan ada ramai tamu yang datang baik itu dari dalam kota, luar kota, bahkan dari luar negeri juga akan datang termasuk dari Malaysia, Singapore, Hongkong, Taiwan, bahkan diperkirakan sang penguasa lima kota di negara Abjad pun akan datang. Siapa lagi kalau bukan Jerry William.


"Ada apa ini? Mengapa hotel sepi pengunjung?" Tanya Namora kepada manager hotel tersebut. Bahkan, manager itu tidak mengenakan seragam kerja. Dia hanya berpakaian kasual saja. Harusnya dia tidak datang ke hotel ini pada malam hari. Namun, ketika dia mendengar bahwa Namora akan datang untuk makan malam, dia akhirnya datang juga dengan beberapa koki untuk melayani tuan mudanya tersebut.


"Begini Tuan muda. Mulai kemarin sampai dua hari ke depan, hotel akan ditutup untuk umum guna dipersiapkan untuk menyambut kepulangan bang Tigor. Hotel akan didekorasi ulang. Karena akan ada acara besar dan ramai tamu agung yang akan datang," jawab sang manajer dengan sopan.


"Sial. Jika tau begitu, aku tidak akan membuat reservasi. Mengapa aku tidak diberitahu?" Tanya Namora tidak senang.


"Tuan muda. Anda sangat sibuk di perusahaan. Bagaimana kami memiliki keberanian untuk memberitahukan kepada anda," sang manager beralasan. Memang benar bahwa ketika Namora sedang sibuk, selain orang-orang penting di Martins Group, tidak ada yang diperbolehkan untuk mendekati apalagi mengganggu fokusnya. Itulah sebabnya Namora sampai tidak mengetahui bahwa Martins hotel akan digunakan sebagai tempat acara untuk menyambut kepulangan raja kota Kemuning yaitu Tigor.


"Hmmm. Baiklah. Silahkan bawa jalan. Aku akan menjamu tamu ku!" Kata Namora merujuk kepada pak Karim dan yang lainnya.

__ADS_1


"Silahkan lewat sini, Tuan muda!" Kata Sang Manager mempersilahkan.


Bersambung...


__ADS_2