
Bugh... Bugh.... Bugh...!
Karung pasir berayun maju mundur terkena tinju Namora. Tampak tubuhnya sudah mandi keringat di pagi ini. Sebelum dia meninggalkan karung pasir yang sejak tadi menjadi sasaran tinjunya, tidak lupa dia memberikan tendangan lokomotif sehingga karung pasir itu kembali berayun-ayun tak beraturan.
Namora berjalan ke arah bench. Mengambil handuk, kemudian menyeka keringatnya sebelum melanjutkan porsi lain dari latihan rutinitas yang setiap pagi dia lakukan. Hanya dengan begitu barulah dia tidak melupakan apa yang diajarkan oleh gurunya kepadanya.
Namora mengambil posisi menelungkup, tak lama kemudian dia melakukan gerakan push up, dan itu dia lakukan sebanyak hampir seratus lima puluh kali. Sampai dia merasa bahwa urat tangan, urat betis, urat paha dan perutnya menegang, barulah dia berhenti.
Namora menarik nafas dalam-dalam, menahannya beberapa saat, kemudian melepaskannya dengan perlahan. Dan itu dia lakukan sampai beberapa kali.
Di ruangan yang sama, tampak lelaki tua memperhatikan apa yang dia lakukan sambil santai menikmati secangkir kopi dan beberapa jenis makanan sarapan pagi. Jika diperhatikan, sebenarnya lelaki tua itu masih belum berumur 50. Hanya saja mungkin kesulitan hidup, banyak beban dan selalu bekerja berat, sehingga wajahnya kelihatan lebih banyak guratan dan kerutan di mana-mana.
Namora memperhatikan lelaki tua yang tampak sedang menikmati dirinya sendiri sehingga dia menyapa. "Pak Karim. Apa bapak berminat berolahraga?" Tanya nya dengan ramah. Ramah menurut dirinya sendiri. Sedangkan pak Karim mendengar bahwa nada suaranya sama sekali tidak bernada, alias datar.
"Tidak. Bapak sudah terbiasa berolahraga bebas. Dulu waktu muda sering mengangkat padi ketika musim menuai. Bukan ringan karena setiap karungnya melebihi delapan puluh kilogram. Bapak juga tidak perlu meninju karung pasir itu. Bapak sudah biasa mencangkul tanah berbatu dan menumbuk padi," jawabannya. Kalau dipikir-pikir benar juga. Mungkin ketika mudanya dulu, sangat jarang ada pabrik penggilingan padi. Kalaupun ada, mungkin dalam satu kecamatan paling-paling hanya ada satu. Dan juga budaya bekerja upahan mengangkat padi di sawah. Itu sudah terbiasa dilakukan ketika musim panen. Pekerjaan itu jelas sangat berat dan hanya orang-orang yang jantan dan kuat yang sanggup melakukannya. Bayangkan saja berjalan di tanah berlumpur dan licin sambil memikul padi sekarung yang melebihi berat delapan puluh kilogram. Itu bukan dekat. Bahkan sampai tiga ratus meter untuk mencapai mobil cool diesel yang memang terparkir menunggu muatan. Bahkan ada yang terpaksa ke dukun untuk memasang susuk agar tenaganya bisa kuat. Tentunya itu melanggar hukum dalam ajaran agama tertentu.
Gambaran itu saja sudah membuat Namora bergidik ngeri. Jika dia berada pada jaman itu, mungkin dia sudah patah pinggang atau setidaknya pingsan.
"Beda zaman, beda pula cara orang-orangnya. Kalau dulu, setiap hujan akan turun, kami akan sangat antusias menunggu agar bisa mandi hujan beramai-ramai. Bahkan tidak lupa bermain perosotan dengan pelepah pinang dan langsung terjun ke kali. Jaman sekarang, anak-anak bahkan sangat ketakutan sama hujan dengan alasan takut demam. Saya suka melihat anak muda seperti anda. Terlepas anda majikan saya atau tidak, namun anda tidak mengandalkan kekayaan yang anda miliki. Anda suka bekerja alih-alih menikmati hidup yang serba canggih ini dengan rebahan di kamar. Kalau sudah begitu, jangankan mandi hujan, baru gluduk saja sudah demam duluan," kata Pak Karim lagi mencibir.
"Benar kata bapak itu. Beda zaman, beda pula orangnya, beda caranya, beda tantangannya. Jika jaman bapak dulu pencuri bawa golok, jaman sekarang pencuri pakai dasi dan bawa koper," kata Namora pula. Menang benar apa yang dia katakan. Pencuri sama-sama berbahaya. Akan tetapi, lebih bahaya pencuri yang memakai jas dan dasi dibandingkan memakai topeng ninja dan golok. Jika pencuri mengenakan topeng ninja dan golok paling mampu mencuri satu atau dua rumah, pencuri yang berdasi mampu menyengsarakan satu negara.
__ADS_1
"Anda berusia 17 tahun. Tapi wawasan Anda cukup luas," puji pak Karim dengan tulus.
"Saya pintar karena ada Google," jawab Namora sembari mengemasi alat-alat olahraganya dan mulai melangkah meninggalkan tempat latihan untuk mandi. Hari ini dia harus masuk ke kelas. Kalau tidak, mungkin dia akan berdiri dengan satu kaki di samping papan tulis.
Setelah selesai mandi, dia segera berpakaian dan keluar menemui pak Karim.
"Pak. Saya berangkat sekolah dulu. Saya mungkin akan pulang pukul satu lebih. Bapak nanti bisa makan di kafe atau restoran mana saja yang bapa suka. Sebut saja Namora!" Katanya sembari menyerahkan lembaran uang seratus ribuan dan sebuah kartu member berlogo restoran yang tidak jauh dari lokasi apartemen.
Pak Karim terkejut. Dia bergantian menatap antara uang yang diberikan oleh Namora, dan wajah pemuda itu. "Ini terlalu banyak," katanya merasa tidak enak.
"Ambil saja pak. Saya tidak memiliki uang tunai dalam jumlah besar. Hanya ada itu. Walaupun bapak sebenarnya tidak membutuhkan uang untuk makan karena kartu itu mencakup semuanya di restoran, tapi untuk berjaga-jaga, harusnya uang itu cukup," kata Namora sambil menyalami tangannya, kemudian berjalan menuju lift untuk turun area parkir.
Pak Karim meletakan kartu di atas pahanya, kemudian menghitung jumlah lembaran uang yang diberikan oleh Namora tadi.
"Aneh memang orang-orang kaya ini. Makan sampai menghabiskan satu miliar. Padahal makanan itu enaknya hanya sebatas tenggorokan. Ketika sudah sampai di perut, ujung-ujungnya akan menjadi kotoran juga," kata pak Karim lagi dalam hati. Tentunya dia memikirkan itu berdasarkan cara berpikirnya yang sederhana sebagai masyarakat kelas bawah. Namun tidak demikian bagi orang-orang high class.
Melihat uang itu, seketika dia memikirkan keluarganya di rumah. Dia tidak bisa makan makanan yang enak sementara keluarganya di rumah hanya makan ikan asin dan sambal belacan dengan sayur daun singkong rebus.
Dia mengasingkan uang tersebut dua lembar, kemudian melipat yang tiga belas lembar lagi dan menyelipkan di dalan saku celananya.
"Segini sudah lebih dari cukup. Nanti aku akan belanja sayuran, Ikan basah dan rempah. Istri dan keponakan ku bisa makan enak nanti malam," katanya dengan raut wajah gembira.
__ADS_1
Bruuum...! Bruuuuuum...!
Lamunan bahagia pak Karim buyar ketika dia dikejutkan dengan suara mesin sepeda motor. Dari balkon, dia meninjau ke bawah. Dan dia melihat seorang pemuda berseragam sekolah sedang melepaskan helm dan mulai meneriaki nama Namora.
"Woy Mora. Cepatlah! Kau menyuruh aku menjemputmu. Memangnya motor mu kemana?" Jerit pemuda itu.
"Motor ku tinggal di kota Kemuning. Aku khawatir kalau aku mengendarai mobil, gerbang sekolah bisa roboh," terdengar suara jawaban disusul seorang pemuda yang mengenakan seragam yang sama keluar dari pintu. Tadi dia lupa bahwa motornya tinggal di kota Kemuning sehingga dia menuju ke tempat parkir terlebih dahulu. Barulah ketika dia sampai di tempat parkir dia teringat bahwa dia pulang dengan naik mobil bersama pak Karim dan motornya tinggal di sana. Tidak ada cara lain baginya untuk berangkat ke sekolah selain meminta sahabat karibnya yaitu Jol untuk menjemputnya.
"Ayo cepat. Kita bisa terlambat. Kalau terlambat kau tau sendiri lah. Orang tua itu tidak akan membukakan gerbang untuk kita. Dia tidak perduli apa status mu. Ketika sudah lewat waktu, dan dia menutup gerbang, anak gubernur pun akan dia abaikan," kata Jol setengah memaksa.
"Ok, Ayo lah!" Balas Namora pula sembari duduk di boncengan.
"Berangkat?" Tanya Jol dengan suara keras sambil tertawa.
"Go go go!" Sahut Namora.
Bruuuuuum...! Sekali lagi suara mesin memekakkan telinga terdengar disusul melesatnya sepeda motor meninggalkan bukit Batu menuju SMA negeri Tunas Bangsa.
Sedangkan di balkon, pak Karim hanya senyum-senyum sendiri melihat tingkah kedua pemuda itu. Dia teringat masa-masa dia remaja dulu. Hanya saja bedanya, jika kedua anak muda itu naik sepeda motor, dia dulu naik sepeda onthel.
Bersambung...
__ADS_1
jangan lupa like, vote, komentarnya setelah selesai baca. jika saudara ku berkenan, beri dukungan kepada Ontor dengan cara menonton iklan agar Ontor lebih semangat dalam update.
Terimakasih!