Namora

Namora
Namora yang penuh dengan misteri


__ADS_3

"Lady's and gentleman. Selamat datang di aula Fighter Club'. Aula yang akan mempertemukan antara jagoan dari seluruh pelosok daerah. Aula yang akan memberikan kalian keberuntungan, dan juga kerugian. Ada tawa bahagia di sini, tapi juga ada tangisan pilu. Perkenalkan! Nama saya adalah Pardomuan! Mungkin itu tidak penting. Tapi yang jelas adalah, saya di sini hadir sebagai pembawa acara."


Semua mata kini menatap ke arah gelanggang, dimana seorang lelaki mengenakan jas serba hitam sedang berdiri di tengah-tengah sambil memegang microphone ditangannya.


"Sesuai dengan list yang ada pada saya saat ini, bahwa ada enam orang dari tuan-tuan yang mendaftarkan jagoannya. Dan ini akan terbagi menjadi tiga group. Sesuai dengan undian, maka saya akan mengumumkan bahwa untuk kloter pertama akan diisi oleh jagoan dari tuan Jannes melawan jagoan dari tuan Anas.


Untuk kloter kedua, di sini ada jagoan dari tuan Lanok melawan jagoan yang dibawa oleh tuan Dosar.


Dan untuk yang terakhir, di sini ada jagoan yang dibawa oleh Tuan Willi, yang akan turun melawan jagoan dari tuan Robert. Maka dari itu, diharapkan bagi jagoan tuan Jannes dan tuan Anas untuk segera menaiki gelanggang, dan pertaruhan saat ini resmi di buka dan akan kami tutup dalam lima belas menit!"


Kasak-kusuk pun saat ini terjadi. Dan tidak jarang mereka berdebat.


"Aku bertaruh 100 juta untuk jagoan tuan Anas!"


"Ok. Aku melawan mu 100 juta untuk jagoan tuan Jannes!"


"Lima puluh juta!"


"Baik. Aku melawan mu! Siapa takut dengan hanya lima puluh juta,"


"Wah. Anda banyak uang. Apakah anda berminat untuk menambah? Saya bertaruh 300 juta!"


"Baaaah! Siapa takut?!"


Tok tok tok...!


"Hadirin sekalian! Waktu bertaruh sudah habis, dan kalian semua dipersilahkan untuk melakukan pengumpulan uang di depan panitia penanggung jawab. Perlu kalian ketahui, bahwa siapapun yang memenangkan pertarungan, 15% akan dibebankan kepada anda sebagai pajak!"


"Baik. Siapa takut?!" Seorang lelaki berjalan menuju ke arah meja panitia penanggung jawab, lalu menyerahkan kartu kredit miliknya. "Aku bertaruh 300 juta!"


"Wah. Sepertinya kau sangat percaya diri. Baik.., aku melawan mu!" Kata lelaki satunya lagi. Kemudian melemparkan kartu kredit miliknya ke arah meja.

__ADS_1


Setelah mereka berdua selesai dengan taruhan, maka yang lain pun mulai bergerak menuju ke arah meja sang panitia penanggung jawab dalam urusan taruhan.


Kini, kedua jagoan saling berhadap-hadapan dan siap mengikuti instruksi dari pembawa acara.


"Perhatikan nyawa kalian. Jangan ragu untuk menyerah jika memang sudah tidak mampu untuk melanjutkan pertarungan. Di sini, nyawa petarung tidak lebih berharga dari nyawa seekor lalat. Tidak ada tuntutan jika salah satu dari kalian terbunuh. Namun, jika menyerah, maka lawan tidak memiliki alasan untuk terus menyerang. Apa kalian mengerti?" Tanya pembawa acara.


Kedua petarung itu mengangguk setuju.


"Ingat! Pukulan tidak memiliki mata," sang pembawa acara bergegas turun dari atas gelanggang, dan baru saja dia turun, bel tanda pertarungan pun berbunyi.


Masing-masing dari mereka mulai melakukan gerakan menyerang dan bertahan.


Para petaruh tampak sangat bersemangat melihat jagoan mereka berhasil memukul lawannya.


Setiap kali jagoan mereka terkena pukulan, itu rasanya seperti wajah mereka sendiri yang dipukuli. Tidak heran. Karena mereka telah mempertaruhkan uang mereka untuk pertarungan ini.


Di kursi yang tidak jauh dari gelanggang, Kenza dan Pak Robert serta para pengawal terus memperhatikan jalannya pertarungan. Tidak ada yang menarik bagi Kenza. Dia tau bahwa jika lawannya salah satu dari kedua orang yang berada di atas ring, maka dia bisa keluar sebagai pemenang.


Sosok itu terhempas dan terus menghantam lantai, lalu tidak bergerak lagi.


Semua orang membeku memperhatikan siapa yang jatuh. Dan ketika mereka tau yang terjatuh tadi bukan jagoan mereka, maka sebagian orang berteriak dengan bahagia, dan sebagian lagi terlihat muram.


Di sudut lain pada bagian kanan bar, Ameng tampak memperhatikan ke arah Namora yang sama sekali tidak terkejut melihat adegan itu. Pemuda itu terkesan acuh dan tidak terlalu perduli. Padahal, yang tadi itu adalah pertarungan yang cukup sengit.


Walaupun Ameng selalu memantau perkembangan Namora, namun Ameng tidak mengetahui bahwa sebenarnya Namora telah belajar ilmu beladiri dari pak Harianto. Dan memang ini dilakukan oleh Pak Harianto dengan sangat rahasia. Hanya Rio yang mengetahuinya.


"Kau tidak tertarik dengan pertarungan itu? Atau kau ketakutan?" Tanya Ameng kepada Namora. Dia sengaja mengajak Namora ketempat keras seperti ini untuk membentuk mental anak itu. Karena, mau tidak mau, sebentar lagi Namora akan mewarisi segala apa yang dimiliki oleh ayahnya. Jadi, bagi Ameng, inilah saatnya untuk membiasakan Namora dengan kekerasan dan kekejaman dunia bawah tanah. Hanya saja, dia tidak menyangka bahwa Namora terlihat biasa-biasa saja dan sama sekali tidak bereaksi.


"Pertarungan orang-orang lemah!" Jawaban Namora yang singkat ini membuat Ameng terkejut. Dia tidak menyangka kalau Namora akan mengatakan seperti ini. Memang dia tau dulu ketika Rio mengatakan akan mencarikan guru untuk mengajarkan Namora ilmu beladiri, tapi dia sama sekali tidak melihat pergerakan yang nyata. Bahkan, Namora tetap di bully. Oleh karena itulah mengapa Ameng menjadi terkejut mendengar jawaban dari Namora barusan.


Ameng tidak bertanya lagi. Dia mulai memusatkan perhatiannya kepada pertarungan kedua yang akan berlangsung tidak lama lagi.

__ADS_1


Saat ini, kedua petarung telah menaiki gelanggang, dan sedang mendengarkan aba-aba dari pembawa acara.


"Orang yang berada di atas ring, dan orang yang baru saja menyelesaikan pertarungan tadi. Andai aku diberikan kesempatan, aku bisa menggulung mereka berempat di atas ring sekaligus," kata Namora dengan sombong.


Ameng kembali menatap Namora yang tampak tidak berekspresi.


"Jangan sombong Namora! Di sini bukan tempat untuk becanda!" Ameng mencoba memperingatkan Namora.


"Paman. Lihat orang kurus yang menghampiri orang gemuk itu tadi!" Namora menunjuk ke arah Willi dan Robert. Dia kemudian melanjutkan. "Orang itu tidak benar-benar ingin bertaruh. Dia memiliki kecurangan. Dia sengaja membawa ramai pengawal. Kemungkinan terbesar adalah, jika jagoannya kalah, maka dia akan membuat kekacauan!"


Ameng memperhatikan Willi dan Robert. Kemudian dia juga menatap ke arah lelaki yang mengenakan pakaian sweater hitam, lalu bergantian memandang ke arah Kenza.


"Andai dia benar-benar curang, aku akan memenggal kepalanya di aula ini!" Kata Ameng dengan wajah serius.


Namora menggelengkan kepalanya. Dia lalu menadahkan tangannya kepada Ameng.


Ameng mengernyit dan bertanya. "Apa?"


"Kunci mobil!" Kata Namora santai.


"Untuk apa kunci mobil?" Ameng heran dengan permintaan dari Namora ini.


"Jika sesuatu terjadi kepada kakak kelasku, aku akan bertindak. Aku tidak mungkin mengandalkan Paman. Reputasi Paman akan rusak jika Paman turun tangan hanya karena aku dan Bang Kenza. Maka dari itu, aku akan kabur bersama bang Kenza dengan mobil Paman!"


Ameng merasa tertarik. Dia ingin melihat seperti apa Namora ini sebenarnya. Tiba-tiba saja dia merasakan bahwa Namora ini penuh dengan misteri.


"Baik. Paman akan melihat apa yang bisa kau lakukan!" Ameng meraba pinggang, kemudian mengambil kunci mobilnya, lalu menyerahkannya kepada Namora.


Namora menerima kunci mobil yang diberikan oleh Ameng, tersenyum lalu kembali bersandar di sofa dengan santai


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2