Namora

Namora
Jiwa muda pak Karim


__ADS_3

Bentley Continental GT melaju mulus meninggalkan Kota Kemuning menuju kota Batu.


Kendaraan itu dijalankan tidak terlalu laju. Sedangkan pak Karim sepertinya sengaja mengemudi perlahan agar Namora bisa mengistirahatkan tubuhnya.


Tidak banyak obrolan yang terjadi karena memang Namora yang selalu acuh dan lebih suka diam.


"Tuan muda. Apakah anda duduk di bangku SMA?" Tanya Pak Karim sekedar memecah kebisuan.


"Iya. Baru kelas dua," jawab Namora dengan malas.


"Oh begitu?" Gumam pak Karim sambil manggut-manggut. "Setahu saya, SMA di kota Kemuning tidak kalah baiknya dengan SMA di kabupaten lain. Bahkan sekolah di kota Kemuning jauh lebih baik dan sangat elit,"


Namora tau arah perkataan pak Karim ini. Mungkin dia bertanya-tanya mengapa Namora memilih sekolah di kota batu, sedangkan perusahaannya berada di kota Kemuning. Bukankah itu akan sangat melelahkan untuk pulang pergi setiap hari demi urusan pendidikan dan pekerjaan secara bersamaan. Andai dia sekolah di kota Kemuning, tentu dia bisa menghemat segalanya.


"Ibu yang meminta ku untuk melanjutkan sekolah di kota batu. Sebagai seorang anak, apa lagi yang bisa aku lakukan selain menurutinya," jawab Namora.


Sekali lagi pak Karim manggut-manggut. Ya, sebagai seorang anak, tentunya harus patuh terhadap perintah orang tua selagi itu tidak bertentangan dengan perintah dari Tuhan. Bahkan, pak Karim juga tidak menyangka dibalik sifat kaku Namora ini, dia ternyata sangat penurut.


"Pak Karim apakah masih punya anak yang masih sekolah?" Tanya Namora tiba-tiba.


Pak Karim melirik ke arah Namora, kemudian menggeleng. "saya tidak punya anak, Tuan muda. Hanya saja, saya merawat sepasang keponakan. Tapi, beberapa waktu yang lalu, salah seorang dari keponakan ku meninggal dunia,"


"Oh. Maafkan saya pak," kata Namora dengan nada menyesal.


"Tidak apa-apa. Sekarang keadaan memang sangat sulit. Kematian keponakan ku memang kehilangan yang sangat besar bagi keluarga. Biasanya kami berdua menjadi tulang punggung keluarga. Dengan adanya bantuan dari pundak lain, beban di pundak ku terasa lebih ringan. Tapi sekarang semuanya harus menjadi beban ku. Beruntung aku masih bisa mendapatkan pekerjaan sebagai sopir. Lumayan buat memenuhi kebutuhan keluarga. Yah.., lepas makan lah!" Ujar pak Karim sambil tersenyum kecut.


"Memangnya, selain sopir, apa lagi keahlian bapak?" Tanya Namora bersimpati. Dia ingin mengetahui apa lagi pekerjaan yang dikuasai oleh orang tua ini. Mungkin dia bisa menjadikannya salah satu staf di Martins Group. Menurutnya, pak Karim ini orang yang jujur. Dia lebih mendahulukan orang jujur daripada orang pintar di perusahaannya.

__ADS_1


"Tidak ada, Tuan muda. Saya sudah menjadi sopir sejak lajang. Bahkan dulu sering dipanggil oleh anak-anak orang kaya pada jaman saya untuk menjadi pembalap cabutan. Mereka akan bertaruh untuk saya,"


"Wah. Hebat itu. Menang?" Tanya Namora antusias. Dia segera menegakkan punggungnya dan mulai fokus menatap ke arah jalan. Baginya, dia sangat tertarik mendengar apa yang diucapkan oleh pak Karim ini. Kali aja dia bisa belajar mengemudi. Akan sangat lucu ketika dia punya surat izin mengemudi, tapi keterampilan mengemudinya bisa membuat pagar rumah warga roboh.


"Kadang ya menang, kadang ya menangis," jawab Pak Karim bersahaja. Namun, entah mengapa dia merasa dari tadi ada yang mengikuti mereka. Bahkan sejak meninggalkan kota Kemuning.


Berulang kali pak Karim melihat ke kaca spion, dan dia tetap melihat tiga atau empat mobil mengekori mereka dibelakang. Bahkan, ketika dia mengambil jalan pintas, berbelok dan sengaja mencari jalan lain pun, mobil dibelakang mereka tetap membuntuti.


"Ada apa pak?" Tanya Namora melihat perubahan ekspresi pada wajah pak Karim.


"Sepertinya ada yang sengaja membuntuti kita, Tuan muda," jawab pak Karim. Sekali lagi dia melirik ke arah kaca spion. Tapi dia berusaha untuk tetap tenang. Mungkin inilah pengalaman yang telah dia lalui selama masa mudanya.


"Bukan sepertinya pak. Kita memang dibuntuti sejak tadi," kata Namora tetap tenang. Ketenangan seperti ini sama sekali tidak dimiliki oleh anak-anak muda yang sebaya dengannya. Hal ini mau tak mau membuat pak Karim harus mengagumi anak ini.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan, Tuan muda?" Tanya pak Karim meminta pendapat.


"Tuan muda. Kencangkan sabuk pengaman anda!" Ujar Pak Karim. Dia faham dengan ucapan Namora barusan. Ini mengatakan secara tidak langsung bahwa dirinya harus ugal-ugalan lagi pada usia tuanya. Dan dia tertawa dalam hati mengingat bahwasanya dia kali ini harus menjadi versi dirinya yang dulu.


Bruuum...!


Pak Karim mengoper perseneling, lalu menginjak pedal gas sehingga mobil tersebut melompat gila seperti seekor kuda mabuk kecubung.


Melihat mobil yang dibuntuti oleh mereka melesat dengan kecepatan tinggi, mobil yang dibelakang pun segera menambah kecepatan sehingga aksi kejar-kejaran pun terjadi. Tapi, sepertinya mereka lupa bahwa mobil jenis apa yang mereka buntuti.


Pak Karim sangat piawai dalam mengendalikan kendaraan tersebut. Walaupun dengan kecepatan tinggi, akan tetapi kestabilannya patut diacungi jempol.


Setelah berakselerasi di beberapa tikungan, kini penguntit benar-benar tertinggal di belakang dan terus mengejar dengan putus asa.

__ADS_1


Sesekali, pak Karim melirik ke arah Namora yang sepertinya tidak perduli sama sekali. Jangankan takut, bersemangat pun tidak.


"Benar-benar Robot," kata pak Karim dalam hati.


Mobil terus melaju dengan kecepatan yang sulit untuk diikuti dengan tatapan mata. Bahkan, tidak sekali dua kali mobil itu melesat meluncur dan terbang ketika melewati polisi tidur.


Waktu tiga jam, tembus hanya dengan satu jam dua puluh menit. Dan Pak Karim sudah membuktikan bahwa ucapannya bukanlah isapan jempol belaka.


"Mereka salah dalam memilih lawan. Ketika saya kembali ke modus gila, jangankan mobil seperti yang mereka kendarai, bahkan Lamborghini, Ferrari, Porsche atau apalah itu, akan aku asapi!" Kata pak Karim membanggakan diri. Tapi benar. Dia memang layak bangga, karena terbukti bahwa dia mampu.


"Hebat. Saya suka," puji Namora dengan tulus.


"Apakah anda suka dengan cara saya mengemudikan kendaraan seperti tadi?" Tanya Pak Karim was-was. Celaka kalau begitu. Dia sudah berusaha untuk tidak kembali seperti dulu lagi. Apa lagi sekarang dia sudah tidak muda lagi. Dihari-hari kedepannya, dia akan selalu menjadi sopir bagi Namora. Jika seperti itu terus caranya mengemudi, kemungkinan dia akan menjadi tua Bangka berjiwa muda lagi.


"Pak. Apakah bapak bisa mengajarkan saya menyetir?" Tanya Namora mulai antusias.


"Apakah anda belum bisa mengemudi?" Tanya pak Karim heran. Mana mungkin dia percaya seorang anak orang kaya, punya mobil sendiri, tapi tidak bisa nyetir.


"Ya. Saya sebenarnya bisa pak. Tapi kemampuan mengemudi ku hanya sebatas merobohkan pagar rumah orang," jawab Namora apa adanya.


Pak Karim nyaris tersedak mendengar jawaban polos dari robot ini. Tapi dia menahan perasaan lucu dihatinya. Dia khawatir Namora akan marah atau malu. Bisa dipecat dirinya.


"Baiklah Tuan muda. Saya akan secara khusus mengajarkan anda mengemudi dengan benar. Sekarang kita akan kemana?" Tanya Pak Karim. Karena sebentar lagi mereka akan tiba di traffic light dan dia tidak tau harus kemana arah selanjutnya.


"Lampu merah, belok kiri. Kita akan ke apartemen milikku. Sebaiknya bapak jangan pulang. Bapak bisa tidur di apartemen milikku. Setelah esok pulang sekolah, kita akan berangkat lagi ke kota Kemuning,"


"Siap, Tuan muda!" Lalu pak Karim menyalakan lampu sein kiri, dan terus melesat menuju ke apartemen bukit Batu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2