
Takimura terkesiap ketika mendengar semua yang dikatakan oleh Sensei barusan. Dia tidak menyangka bahwa Sensei memiliki hubungan yang erat dengan sekte pembunuh mereka di Jepang.
"Sensei. Apa hubungan mu dengan sekte?" Tanya Takimura ingin tau. Karena, semakin lama dia mengenal Sensei ini, semakin banyak teka-teki yang semakin membuatnya merasa penasaran.
"Hahaha. Ketahuilah bahwa ayah ku adalah sahabat oleh ketua sekte. Ketika itu, ayahku adalah seorang tentara yang diutus oleh kaisar untuk membantu memperkuat tentara yang telah terlebih dahulu berada di negri ini ketika mengalahkan Belanda. Ketua sekte adalah salah satu dari tentara yang lebih dahulu di kirim ke negri ini Namun, itu tidak berlangsung lama. Karena negara kita mendapat serangan dari Amerika, dan negara kita mengalami kekalahan total. Seluruh pasukan Jepang ditarik untuk kembali ke negara. Namun, tidak sedikit yang memilih untuk menetap di negara ini. Termasuk ayahku dan ketua sekte. Hanya saja, ketika itu terjadi perkelahian dua lawan satu antara ayah ku dan ketua sekte melawan seorang putra mahkota dari kerajaan kecil Melayu bernama Mahmud. Ayah ku terbunuh dan ketua sekte melarikan diri kembali ke Jepang, kemudian mendirikan sekte pembunuh. Dia mengetahui bahwa sahabatnya yaitu ayahku memiliki anak. Dan anak itu adalah aku. Mengetahui bahwa aku tidak menjadi sasaran orang bernama Mahmud itu, dia terus menjalin hubungan denganku dan mulai merencanakan rencana jangka panjang sambil mengatakan bahwa suatu saat dia akan datang kembali ke negri ini untuk menyelesaikan hutang piutang dengan orang bernama Mahmud itu. Itulah mengapa aku tetap bertahan sampai saat ini sekaligus menjadi orang bermuka dua. Didepan mereka aku berwajah ramah. Tapi misi ku jelas. Aku bersusah-payah agar sekte kita memiliki sumber daya dan aku turut berkontribusi didalamnya dengan cara seperti yang barusan aku katakan," jelas Sensei panjang lebar.
Takimura baru mengerti apa peran Sensei ini bagi sekte mereka. Pantas saja ketika dia meminta seseorang untuk melakukan pekerjaan pembunuhan, ketua sekte sama sekali tidak berpikir dua kali dan langsung mengutus dirinya untuk melaksanakan misi yang diberikan oleh Sensei.
"Sensei. Izinkan saya bertanya. Apakah anda mengetahui dengan jelas orang yang membuat ayah anda terbunuh?"
Sensei mengangguk. Namun kali ini raut wajah putus asa jelas tersirat di wajahnya.
Takimura pun tidak bertanya lagi. Tadinya dia ingin menanyakan mengapa dia tidak membalas dendam. akan tetapi ketika melihat wajah Sensei, dia sadar bahwa orang bernama Mahmud ini bukanlah makanan empuk bagi Sensei. Jika tidak, mana mungkin ketua sekte mereka kabur kembali ke negara asalnya.
Mengetahui hubungan antara Sensei dan ketua sekte, dirinya menjadi sangat menghormati Sensei dan berjanji akan melakukan yang terbaik bagi mempermudah rencana mereka untuk menghancurkan Martins Group dengan cara membunuh Namora.
Takimura menunduk dalam ke arah Sensei. Tindakannya ini sangat hikmat sekali. Hal ini tentu saja membuat Sensei merasa senang.
"Sensei, saya berjanji kepada anda bahwa saya pasti akan menyelesaikan misi ini dengan segala kemampuan yang saya miliki," janji Takimura dengan sangat serius.
Sensei mengangguk pelan. Kemudian dia segera berpesan. Dia khawatir rasa penasaran Takimura akan membawanya kedalam bahaya yang bahkan setan pun akan takut membayangkan konsekuensinya. "Takimura. Sekali aku peringatkan. Andai kau bertemu dengan lelaki tua bernama Mahmud, jangan sekali-kali kau mengusiknya. Jika tidak, jangankan aku, bahkan malaikat pun tidak dapat menolong mu. Seperti itu lah perumpamaan kengerian ketika berhadapan dengan orang tua itu. Itu mengapa aku tidak berani membalas dendam dan mencoba merelakan kematian ayah ku,"
"Saya akan memperhatikan," jawab Takimura sembari membungkuk hormat.
*********
Pinggiran kota L
__ADS_1
Di sebuah rumah resort, tampak seorang pemuda sedang duduk berjemur sembari memperhatikan di kejauhan sana orang-orang sedang bermain golf.
Untuk menghindari silau akibat terpaan sinar matahari di sore itu, pemuda itu sengaja mengenakan kacamata hitam. Disampingnya seorang wanita muda tampak memijatnya dengan lembut.
"Dia datang. Kau pergilah!" Kata pemuda itu kepada wanita muda sambil mengibaskan tangannya.
Tak lama setelah itu, seorang lelaki berjalan terburu-buru ke arah pemuda itu. Sepertinya ada sesuatu yang sangat penting yang ingin dia sampaikan.
"Ada kabar apa?" Tanya pemuda itu sebelum lelaki yang baru saja tiba itu membuka mulut.
"Bos. Ada kabar dari kota Batu," jawab lelaki itu sembari merapatkan mulutnya ke telinga pemuda itu untuk berbisik.
"Hmmm. Sepertinya itu adalah kabar besar. Jika tidak, kau tidak akan segugup ini,"
"Benar Bos!"
"Mengenai Namora yang baru sembuh,"
"Itu aku sudah mengetahuinya. Untuk apa lagi kau mengulangi berita yang sama?" Potong pemuda itu dengan nada suara yang tidak senang.
"Bos Angga. Biarkan saya menyelesaikan ucapan saya dulu!" Kata lelaki itu yang juga tidak senang karena kata-katanya diinterupsi oleh pemuda yang tidak lain adalah Angga adanya. Akan tetapi tidak tidak terlalu berani menunjukkan ketidaksenangannya didepan pemuda yang tidak lain adalah majikannya.
Angga melambaikan tangannya menyuruh lelaki itu meneruskan.
"Namora yang sembuh memang sudah bos ketahui. Hanya saja, Namora ini seperti tidak mengenal kata kapok. Dia malah berencana untuk berangkat ke kota Kemuning pada esok menjelang sore atau tepatnya pukul dua,"
Angga langsung terduduk dari rebahan nya ketika mendengar penuturan dari anak buahnya itu. Perlahan dia menanggalkan kacamata hitamnya, lalu menatap kearah wajah anak buahnya itu lekat-lekat. "Apa katamu?" Tanya nya seperti tidak percaya.
__ADS_1
"Benar bos. Namora akan berangkat ke kota Kemuning besok pukul dua sore. Mungkin dia sudah gila karena rencananya, dia akan berangkat sendirian,"
"Gila. Apa yang dia lakukan?" Tanya Angga merasa bahwa tindakan Namora ini seperti orang yang sangat bosan hidup.
"Lebih gila lagi, dia sengaja menyebarluaskan secara umum bahwa dia akan berangkat besok. Dia juga mengatakan bahwa jika tidak takut istrinya menjadi janda dan anak-anaknya menjadi yatim, maka dipersilahkan untuk menghalangi perjalanannya,"
"Namora ini?!" Angga terbelalak mendengar perkataan dari anak buahnya. Jika bukan karena lelaki ini adalah orang yang sangat dia percaya, mungkin sejak tadi dia sudah menempeleng nya.
"Menurut bos bagaimana? Maksudku, apa yang harus kita lakukan?"
"Jangan! Jangan lakukan apapun. Bisa jadi ini adalah jebakan. Mungkin berita ini juga sudah sampai ke telinga Teja dan Ayah ku. Kita hanyalah orang yang ingin mengambil manfaat dari kekacauan antara mereka. Maka dari itu, berusahalah untuk tidak melibatkan diri," larang Angga kepada anak buahnya.
"Bos. Kita tidak boleh hanya bertindak pasif. Jika kita hanya diam dan memperhatikan saja, kemungkinan manfaat itu akan diambil oleh orang lain,"
"Aku tidak mengatakan selamanya kita akan diam. Hanya saja, perhatian keadaan. Aku telah lama menantikan kekacauan ini dalam keluarga. Tidak ada yang ingin tanpa status. Jadi, kita hanya akan menangguk udah di air yang keruh,"
"Bos. Bos harus mengambil sikap. Jika Namora ini kalah, bukankah bos akan membantu Teja mengukir nama dan mengukuhkan posisinya sebagai satu-satunya pewaris yang tak terbantahkan?"
"Hahaha. Teja tidak akan pernah memang. Walaupun dia menang, orang-orang akan tetap menganggap bahwa yang dia kalahkan adalah Namora. Begitu sebaliknya. Biarkan semua orang tau bahwa dia memiliki sengketa dengan Namora. Dengan begitu, kita bisa bergerak dalam kegelapan. Jika aku membunuh salah satu dari mereka, maka yang lainnya juga akan turut menderita. Hanya saja aku tidak melakukannya karena suasananya masih belum cukup kacau,"
Lelaki itu manggut-manggut mendengar penjelasan dari Angga. Dia sangat mengetahui dengan jelas seberapa liciknya majikannya itu.
"Lacak informasi kontak Namora ini. Aku ingin bertemu dengannya secara pribadi," perintah Angga kepada anak buahnya.
"Baik Bos!" Jawab lelaki itu. Kemudian dia segera berbalik pergi, kemudian menghilang dibalik rimbunnya pohon Cemara.
Bersambung...
__ADS_1