Namora

Namora
Tigor dan Mirna bertengkar


__ADS_3

Wajah Mirna terlihat sangat mendung karena melihat keadaan anaknya yang sangat menyedihkan.


Saat ini, yang ada di dalam hatinya hanya satu. Tigor. Karena, suaminya itu tidak peka dan terkesan seperti lepas tangan dari apa yang telah terjadi selama ini.


Mirna meremas ujung bajunya. Dia sangat geram. Anak satu-satunya terpaksa harus menderita ditengah limpahan kekayaan yang dia miliki. Bukankah ini ibarat orang kehausan ditengah lautan?


Apa yang tidak dia miliki? Hotel elite dan termegah di kota Kemuning adalah milik suaminya. Yayasan Martins juga adalah suaminya yang punya. Masih banyak lagi bisnis yang tak terhitung jumlahnya adalah milik suaminya. Itu belum lagi bahwa dia adalah penanggung jawab di perusahaan Tower sole propier, anak dari perusahaan Future of Company. Ini sungguh gila. Jangankan sepeda motor. Mobil termahal di dunia pun mampu dimiliki oleh Namora. Tapi kenyataannya, Namora jalan kaki kemana-mana.


"Kak..," Rio menyapa kakak iparnya itu.


Mirna tersentak lalu menatap ke arah Rio. "Antar aku untuk menemui Abang mu!"


"Kak. Saat ini bang Ameng dan yang lainnya ada di sana. Mungkin waktu besuk sudah habis. Apakah kakak pikir bahwa penjara itu ajang pertemuan?" Tanya Rio


"Aku tidak mau tau. Pergunakan pangkat dan pengaruh yang kau miliki. Tunggu aku! Aku akan bersiap," kata Mirna yang langsung memasuki kamarnya.


Rio tertegun. Dia dapat membayangkan bahwa lapas kota Batu akan menjadi ajang pertengkaran antara Abang dan kakak iparnya.


Sepuluh menit berselang, Mirna keluar dari kamarnya dengan mengenakan pakaian terbaik yang dia miliki, lalu berjalan menuju ke arah dimana mobil Toyota hardtop tua milik Rio terparkir.


Rio setengah berlari menyusul Mirna, lalu membukakan pintu untuk kakak iparnya itu. Setelah itu, dia segera membuka pintu bagian sopir, kemudian perlahan menyalakan mesin mobil dan perlahan meninggalkan pekarangan rumah. Tujuannya jelas adalah pusat tahanan kota batu.


Sementara itu di pusat tahanan kota Batu, ada sekurangnya delapan atau sepuluh orang yang berada di sana. Tapi, hanya satu orang saja yang boleh masuk. Dia adalah Ameng.


Saat ini, Ameng baru saja membentangkan budget kerja kepada Tigor, dan beberapa dokumen penting untuk ditandatangani oleh ketuanya tersebut. Sementara beberapa kertas dokumen lagi, tidak ditandatangani.


"Bagaimana ini bang? Perusahaan ini jelas telah Abang serahkan atas nama Namora. Sekarang hanya perlu penandatanganan dari dirinya. Sedangkan tandatangan Abang tidak berlaku di sini,"


"Dengarkan aku Meng. Aku ingin bertanya kepadamu. Apa saja yang sudah dilakukan oleh Namora saat ini? Kemudian, apa yang sudah terjadi dengan dirinya?" Tanya Tigor menatap lurus ke arah Ameng.

__ADS_1


"Menurut pengamatan ku, anak itu sebentar lagi akan menjadi mesin pembunuh,"


"Apa maksud mu?" Tigor spontan terlonjak berdiri.


"Hinaan yang dia terima kemarin terlalu berat. Aku dan orang-orang ku selalu mengawasinya, dan tidak pernah ikut campur dalam urusan anak itu. Tapi, hal yang menimpanya kemarin sudah cukup untuk mengubah kepribadian anak itu. Tinggal menunggu waktu saja untuk anak itu berubah menjadi sosok yang sangat menakutkan. Bukankah itu yang dibutuhkan oleh organisasi dan perusahaan kita? Pintar menjadi nomor yang kesekian. Yang terpenting adalah, tega dan tanpa perasaan bersalah,"


"Sebenarnya apa yang telah terjadi?" Tanya Tigor penasaran.


"Masalah hati. Namora telah menjadi bahan olok-olok oleh mereka. Memang tidak ada kontak fisik. Hanya saja, hatinya terluka dalam.


Aku sarankan, agar Abang segera memberikan perintah kepada kami untuk menghibur dirinya. Aku takut anak itu akan menjadi gila,"


Tigor merenung sejenak. Saat ini, kata-kata Ameng ada benarnya. Memang dia membutuhkan karakter seperti yang disebutkan oleh Ameng tadi dalam diri Namora. Hanya saja, jika keterlaluan, maka Namora bisa gila.


Tigor mengambil beberapa lembar kertas dokumen yang belum ditandatangani, kemudian dia melihat bahwa batas waktu yang ditetapkan masih lama.


"Aku siap bang. Memang sudah waktunya. Dengan begitu, aku bisa memfokuskan tugas utama ku. Aku sudah lelah bolak-balik antara kota Batu ke kota Kemuning,"


Tigor mengangguk. Dia ingin mengakhiri pertemuan itu, tapi dari arah depan, tampak Mirna memasuki ruangan tempatnya tadi, bersama dengan Rio.


Tigor mengerutkan keningnya melihat wajah Mirna yang penuh dengan kemarahan.


"Kak. Tahan emosi mu. Jika kalian bertengkar di sini, kemana wibawa ku?" Rio berusaha menenangkan kakak iparnya itu.


Mirna bergeming dan terus melangkah menghampiri Tigor.


Tigor yang melihat hal ini langsung bangun menghampiri, kemudian menuntun Mirna untuk duduk di kursi tempat dia tadi duduk.


"Ada apa kau kemari, Sayang?" Tanya Tigor dengan lembut.

__ADS_1


"Aku kemari karena aku sudah tidak tahan!" Jawab Mirna dengan ketus.


Tigor heran mendengar jawaban ini. Dia lalu menanyakan apa maksud dari perkataan Mirna barusan.


"Bang. Sudah cukup ya Namora menderita. Abang sepertinya tidak mau tau tentang anak kita. Dia sangat menderita. Jika kau miskin, aku tidak akan memaksa. Tapi kau kata. Mengapa anak mu harus menderita?" Mata Mirna nyaris berair ketika mengucapkan kata-kata tadi.


"Sudah selesai atau masih ada lagi yang ingin kau ucapkan?" Dingin wajah Tigor bertanya.


"Seharusnya Abang mikir! Mikir!!! Namora itu anak kita satu-satunya. Kau seperti lepas tangan saja,"


Mendengar ini, kening Tigor berkerut. "Lepas tangan?"


"Iya lah. Lepas tangan. Aku tidak mau tau. Pokoknya Namora punya hak untuk bahagia menjalani masa remajanya!"


"Hahaha..." Tigor tertawa ketika ini. Tapi tawanya sangat tawar. Sedangkan Mirna terpaksa mendengus melihat Tigor yang seperti mengejek dirinya.


"Sekarang kau baru tau kan? Aku hanya mengikuti jalan pikiranmu. Aku pikir kau mampu menangani masalah ini. Ternyata sama saja. Kau lemah!"


Mirna mendelikkan matanya. "Apa yang lemah? Selama ini aku yang membesarkan anak kita. Aku adalah ibu sekaligus ayah baginya. Apa kau tidak tau kesulitan yang aku hadapi?" Tanya Mirna melotot. Baginya, dia sudah sangat cukup menderita.


"Kau menyesal? Menyesal mempunyai seorang suami yang berprofesi sebagai Mafia? Jika kau menyesal, kau boleh meminta pisah. Dan akan aku tunaikan. Sejak dulu kau tau siapa aku. Tangan ku selalu berlumuran darah. Mengapa kau mau?" Bentak Tigor. Bentakan ini membuat roh didalam tubuh Mirna nyaris lepas.


Belum pernah Mirna dibentak sedemikian rupa. Sejak dulu, walaupun mereka belum menikah, tapi mereka sudah satu rumah dan beda kamar. Tigor tidak pernah kasar kepada dirinya. Walaupun dia tau darimana Tigor mengangkat dirinya, namun Tigor selalu menghormatinya. Tapi saat ini, dia telah dibentak oleh lelaki yang selama ini memiliki temperamen yang tenang.


Hujan air mata nyaris tercurah. Dan Mirna mulai sesenggukan menahan agar tidak menangis.


Tigor mengusap kepalanya sendiri dengan kadar. Dia juga tidak tau apa yang telah merasuki dirinya sehingga secara spontan membentak wanita yang sangat dia cintai. Bukan hanya cinta, wanita itu juga telah memberikannya seorang putra yang kelak akan menjadi harapannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2