
Namora baru tiba di kota batu ketika jam sudah menunjukkan pukul lima sore.
Saat itu, dia tidak singgah kemana-mana. Melainkan, langsung menuju ke rumah. Karena, ada beberapa dokumen yang ingin dia pelajari.
Sementara itu di dalam rumah, Mirna yang sangat mengenal suara khas dari mesin Yamaha R1 segera berlari ke luar. Dan dia melihat anak lajangnya berada di atas motor dan mengendalikan sepeda motor bertenaga besar itu dengan lagak dan tingkah yang sama persis dengan Tigor.
Tidak terasa air mata Mirna menetes. Betapa selama ini dia telah berusaha menjauhkan anaknya dari kota Kemuning, tapi kini malah anaknya sendiri yang pergi ke sana. Dia merasa seperti membendung aliran air. Sekuat apapun dia berusaha, dan setinggi apapun bendungan yang dia bangun, air akan tetap mengalir dan akan terus melampaui bendungan. Itu sudah menjadi hukum alam.
Saat ini, Namora sudah tiba di depan pintu. Dia kini melihat, bahwa ibunya itu tampak tertegun dengan bola mata menatap kekosongan. Tapi arah tatapan itu adalah sepeda motor yang tadi dia tunggangi.
"Bu..," Namora menegur ibunya. Tapi sedikitpun Mirna tidak menyahut. Dia kini malah melangkah menuju ke arah sepeda motor tersebut, membelainya, kemudian suara tangisnya pun meledak seketika.
Namora hanya mematung menyaksikan adegan itu. Dia tidak tau harus melakukan apa. Tapi jelas, dia sangat mengerti bahwa ibunya sangat mencintai ayahnya. Jika tidak, ibunya tidak akan seperti ini.
"Bu.., Namora pulang!" Kata Namora menyapa ibunya. Barulah Mirna seperti tersadar, mengusap air matanya, kemudian memaksa seulas senyuman muncul di bibirnya.
"Kau sudah pulang. Bagaimana di kota Kemuning?" Tanya Mirna.
Namora menarik nafas, lalu menghempaskannya kuat-kuat.
"Melelahkan," jawabannya singkat.
__ADS_1
Mirna membimbing Namora memasuki rumah. Kemudian bertanya. "Apa yang membuatmu kelelahan?"
"Banyak Bu. Paman Ameng mengajak Mora ke sana dan ke sini. Nyaris copot tulang kering Namora. Setelah itu, Namora masih harus mempelajari beberapa perusahaan yang ingin berinvestasi dalam proyek di kota Kemuning. Namora tidak menyangka akan melelahkan seperti ini. Namora mau seperti dulu. Tidak terbebani,"
"Bodoh. Dari susah mau senang. Sudah senang malah tidak bersyukur. Kau sudah beranjak dewasa sekarang. Jangan bermalas-malasan lagi. Atau kau tidak akan mampu mengangkat derajat keluarga kita ke level yang lebih tinggi.
Kau tidak tau seperti apa usaha ayah mu merintis semua ini. Kita enak tinggal memanen hasil usahanya. Ayah mu, bukan hanya memeras keringat. Tapi juga darah. Sudah sejauh ini. Sekali kau basah, maka mandi saja sekalian! Pion tidak akan bisa mundur sebelum mencapai petak akhir dalam papan catur. Dan kau, kau adalah pion itu. Jika kau kuat, kau akan tiba di garis akhir. Jika kau tidak kuat, maka apa yang telah dirintis oleh ayahmu akan tumbang. Pikirkan itu baik-baik!"
Namora tercengang mendengar perkataan ibunya. Tidak di sangka bahwa ibunya bisa mengerikan seperti ini. Namora lebih memilih dimarahi atau dipukuli daripada melihat ketegasan seperti ini di mata ibunya. Dia jelas takut.
"Bukannya selama ini ibu tidak setuju dan berusaha menjauhkan Mora dari dunia yang digeluti oleh Ayah?"
"Kau sudah memulai. Maka, tidak ada kata mundur. Perjalanan tidak akan selalu mulus. Akan ada rintangan. Kau harus menghadapinya. Sekarang, mulailah berpikir untuk memajukan keluarga. Ingat! Tidak ada kata mundur. Atau, keluarga Habonaran mu akan runtuh di tanganmu! Jangan mudah mempercayai siapapun. Apa lagi wanita!"
Namora memperhatikan benar apa yang dikatakan oleh ibunya tadi. Dari mulai duduk di sofa, sampai duduk di lantai dan menjadikan sofa tadi sebagai sandarannya, tapi tetap saja kepalanya berdenyut.
Dia sama sekali tidak menyangka akan sesulit itu. Dia mengira, setelah mengetahui bahwa dirinya adalah seorang Tuan muda, maka dia akan menikmati kemewahan hidup. Jika mau makan, tinggal minta, mau ini dan itu tinggal perintah. Ternyata, sebagai tuan muda, dia harus rela menjadi pion. "Uh... Sangat membangsatkan!" Maki Namora dalam hati.
Kini, Namora membuka tas ransel yang dia bawa dari kota Kemuning. Dia harus mempelajari beberapa dokumen penting yang diberikan oleh Ameng. Salah satu yang harus dia pelajari adalah, perusahaan Agro chemical. Setelah itu, dia juga harus mempelajari tentang perusahaan Corp enterprise. Karena, kedua perusahaan ini selalu bersaing demi proyek di kota Kemuning.
Ketika dia sedang mempelajari tentang perusahaan Agro chemical, dia dapat menemukan bahwa wakil presiden dari perusahaan itu adalah Arda. Posisi Arda ini tepat berada di bawah Tanta sebagai pemilik dan merangkap sebagai pemegang saham mayoritas dalam perusahaan.
__ADS_1
"Hmmm. Arda. Sepertinya aku pernah mendengar nama ini. Siapa orang ini?"
Namora segera mengeluarkan ponselnya, kemudian melakukan panggilan.
"Hallo Tuan muda. Apakah ada perintah yang harus saya lakukan?" Terdengar suara di seberang sana begitu panggilan itu terhubung.
"Zack. Apa kau mengetahui tentang perusahaan Agro chemical group?" Tanya Namora kepada bawahannya itu.
"Ya. Walaupun tidak banyak, akan tetapi perusahaan kita pernah beberapa kali menjalin kerjasama dengan perusahaan tersebut. Tapi itu semua adalah proyek lama. Setelahnya, tidak ada kesepakatan kerjasama lagi antara Martins Group dan Agro chemical,"
"Oh. Bagus jika kau mengetahui banyak tentang perusahaan ini,"
"Mengapakah, Tuan muda?" Tanya Zack ingin tau. Karena, tidak mungkin Namora menanyakan hal mengenai perusahaan Agro chemical jika tidak ada apa-apanya.
"Zack. Dengarkan aku! Aku ingin kau menyelidiki siapa Arda ini. Dia ini menjabat sebagai wakil presiden di perusahaan Agro chemical. Aku memang memiliki ganjalan dengan orang bernama Arda ini. Tapi aku masih belum pasti apakah Arda ini adalah Arda yang pernah berselisih denganku. Kau cukup menyelidiki identitas orang ini saja. Setelah itu, beritahu kepadaku tentang penyelidikan mu!" Kata Namora memberi perintah. Dia ingin tau apakah Arda ini adalah anak dari Pak Eliot. Jika memang benar, maka dia ingin menghancurkan karir Arda ini sampai ke dasar jurang. Mana mungkin dia membiarkan saja Arda ini begitu saja setelah mempermalukan dirinya dihadapan banyak orang.
"Baik, Tuan muda. Anda tunggu kabar dari saya!"
"Hmmm..!" Jawab Namora sebbelum mengakhiri panggilan.
Sejenak, beberapa adegan pengusiran dirinya ketika menghadiri acara ulang tahun Merisda terlintas dibenaknya. Betapa sedih dan malunya dia ketika itu. Ada ramai orang, dan dia diperlakukan bagaikan sampah dan tidak mampu melakukan pembelaan terhadap dirinya sendiri.
__ADS_1
"Kalian semua. Aku tidak pernah mengusik kalian, tidak pernah merugikan kalian. Bahkan aku tidak pernah menyakiti kalian walaupun sekali saja. Tapi kalian menghina aku seperti seekor anjing jalanan yang bisa kau tendang sesuka hati. Keluarga mu pasti akan aku buat bangkrut!" Namora kini memiliki rencana di dalam hatinya bagaimana membalas perbuatan mereka.
Bersambung...