Namora

Namora
Perdebatan semakin menegangkan


__ADS_3

Selesai mengucapkan kata-katanya, Pak Anto menatap dengan sinis kearah Namora, kemudian dia memperhatikan kelima orang lainnya yang juga sama-sama memiliki saham di Martins Group. Dia senang melihat perubahan pada wajah Namora. Dia beranggapan bahwa anak ini pasti ketakutan dan tidak akan bisa berkutik menghadapi keenam orang ini. Belum lagi mereka telah merekayasa beberapa orang untuk berpura-pura menjadi pengusaha yang berminat untuk menjalin kerjasama dengan Martins Group. Singkatnya, Pak Anto kini merasa berada di atas angin dan bisa mengendalikan keadaan.


Kali ini, semua mata tertuju ke arah Namora yang masih diam. Bahkan, pak Burhan beberapa kali berdehem untuk menenangkan suasana hatinya. Karena, jujur saja bahwa dia berharap agar Namora bisa membalikkan keadaan dan melawan.


Seluruh orang menaruh harapan besar kepada Namora. Dia adalah generasi muda harapan mereka semua yang berhubungan dengan Dragon Empire.


Pak Burhan mengetuk meja dengan jari telunjuknya. Dia menatap sejenak sembari menarik nafa.


"Jadi, pertemuan kali ini adalah untuk membahas permasalahan beberapa waktu yang lalu bahwa CEO ada melakukan konferensi pers secara sepihak. Hmmm... Sebenarnya begini, saudara semua. Saya, selaku pemegang kuasa hukum dan bisa dikatakan orang lama didalam perusahaan ini ingin menekankan kepada kalian semua, bahwa dunia bisnis ini sangat kejam. Tentunya tidak perlu lah diperjelas. Kita semua sudah tahu sama tahu. Jadi, coba anda kemukakan dimana keberatan anda sekalian dengan pernyataan CEO dalam konferensi pers itu?"


Kini, pak Roland berdehem sebelum mendekatkan bibirnya ke arah mic di depannya, kemudian berucap. "Terimakasih atas kesempatannya, Pak Burhan yang saya hormati.


Jika bapak menanyakan tentang keberatan kami, di sini saya akan menjawab beberapa keberatan dan kekecewaan kami terhadap CEO kita, yaitu Namora Habonaran.


Mengacu atas ucapannya pada media, tentunya kita sudah tahu bukan? Hal ini tentu saja berdampak buruk kepada perusahaan. Kemudian, keputusan yang diambil disertai dengan desakan dari CEO juga membuat kami semua berpikir bahwa CEO kita ini masih belum matang dalam cara berpikir. Di dalam perusahaan, kita perlu mendengarkan pendapat orang lain. Bukan malah menancapkan kuku besi dan terlalu otoriter dalam mengambil keputusan. Kenapa saya katakan begitu, ini tidak lain karena, beberapa kesempatan yang lalu, ketika CEO mengambil alih jabatan, tidak terhitung jumlah staf yang telah dia pecat. Yang ke dua, beberapa waktu yang lalu, CEO juga memaksa para preman pasar yang tidak tau apa-apa untuk menjadi kuli bangunan di area konstruksi sehingga membuat para pekerja yang lain menjadi tidak nyaman dan merasa ketakutan. Yang ketiga, CEO memaksa kami untuk menyetujui agar kami bersaing untuk memenangkan tiga proyek besar termasuk memenangkan tender proyek pembangunan pabrik kelapa sawit di kota Rantau. CEO tau bahwa pembangunan pabrik kelapa sawit itu sudah dikunci oleh Agro Finansial Group. Akan tetapi, CEO memaksa kami dan harus memenangkan tender itu dengan apa cara sekalipun. Bahkan, jika itu mengalami kerugian, dia tidak perduli. Sebagai pemegang saham, tentunya kami menginginkan keuntungannya dari setiap persen saham yang kami pegang. Apa artinya kami memegang saham di perusahaan ini jika tanpa dividen. Jika demikian, apa bedanya dengan cangkang kosong? Oleh karena itu, kami semua menuntut agar CEO segera menarik kembali kata-katanya,"


"Benar! Saya sangat mendukung apa yang disampaikan oleh pak Roland barusan. Kita, pebisnis memang tidak bisa menghindari persaingan. Namun, jika tidak bisa menambah kawan, setidaknya jangan menambah lawan. Darah muda anda mungkin masih belum cocok untuk menyandang jabatan CEO. Maka. Dari itu, kami semua menuntut agar Namora Habonaran, segera meletakkan jabatannya, dan duduk lah dengan manis di belakang layar. Anda bisa menikmati dividen dari saham yang anda miliki, dan biarkan orang yang kompeten yang memegang jabatan ini!" Saran dari pak Teguh.

__ADS_1


"Bagaimana dengan pendapat mu, Namora?" Tanya Pak Burhan sembari menoleh kearah Namora.


"Apakah kalian semua sudah selesai dengan tuntutan kalian? Jika masih ada, silahkan kemukakan. Ini semua agar aku bisa menghemat waktuku,"


"Arogan. Jika seperti ini cara mu, Martins Group tidak akan kemana. Hanya akan bergerak di tempat saja tanpa kemajuan,"


"Benar. Menurut Kami, anda bukan hanya harus menarik kembali kata-kata anda di media, bahkan anda juga harus meminta maaf secara terbuka kepada Tuan Jhonroy di kota L. Karena, kalau itu tidak anda lakukan, saya khawatir bahwa beberapa perusahaan mungkin akan berpihak kepada Agro Finansial Group dan memusuhi Martins Group,"


"Justru itu yang aku inginkan. Mengapa aku melakukan konferensi pers dan menarik garis lurus dengan Agro Finansial Group sebagai musuh perusahaan Martins Group, karena aku tidak ingin ada tikus-tikus penyusup yang sengaja disusupkan oleh Jhonroy ke dalam perusahaan. Salah satu contoh nyata adalah, Tanta. Orang ini sengaja disusupkan oleh Jhonroy ke dalam perusahaan. Tidak terhitung sudah berapa banyak informasi yang telah bocor ke pihak luar. Dia, menggerogoti Martins Group dari dalam. Dan ini penghinaan secara nyata bagiku.


Kemudian, menjawab perkataan anda tadi bahwa jika cara kerjaku seperti ini, maka Martins Group tidak akan bisa maju. Sekarang aku bertanya. Selama tujuh belas tahun ini, apakah Martins Group maju? Jika maju, berapa nilai pasar perusahaan ketika dipimpin oleh ayah ku, dan berapa nilai pasar perusahaan dimasa sekarang ini? Ada yang bisa menjawab?" Namora bangkit berdiri, kemudian menatap tajam ke arah beberapa orang sebelum melanjutkan. "Kalian juga mengatakan bahwa baru beberapa waktu yang lalu ketika aku memasuki perusahaan, aku telah melakukan pemecatan besar-besaran. Kalian terlalu naif jika menganggap aku bodoh. Mereka yang aku pecat adalah orang-orang yang disusupkan oleh Jhonroy. Apa kalian mengira bahwa setelah pemecatan itu, aku melepaskan mereka begitu saja? Tolol itu namanya. Karena, begitu mereka keluar dari perusahaan, orang-orang ku telah membuntuti mereka semua. Kalian tau kemana mereka pergi?"


"Kalian tidak bisa menjawab? Kalian tidak tau, atau berpura-pura tidak tau?" Bentak Namora sambil membanting tangannya di atas meja. "Apa perlu aku beritahu bahwa mereka yang aku pecat langsung diterima bekerja dengan posisi yang sama di Agro finansial Group? Berapa banyak lagi borok yang akan aku bongkar didalam pertemuan ini?"


"Aku tidak mau tau. Sekarang ini, aku adalah Decision maker di Martins Group. Siapa yang keberatan, sekarang kemukakan keberatan kalian!" Lanjut Namora dengan tatapan dingin dan wajah datar.


"Ini...?!" Mereka semua saling pandang dan dengan kompak menyerahkan keputusan kepada pak Anto.

__ADS_1


"Harap tenang. Mari kita selesaikan dengan kepala dingin!" Ujar Pak Burhan berusaha meredakan suasana yang saat ini sudah mulai memanas.


"Sepertinya kita sudahi saja basa-basi ini. Dan saya akan memulai inti dari pertemuan ini. Karena, pada akhirnya tidak ada yang mau mengalah. Kami memiliki beberapa tuntutan sebagai pemegang saham di perusahaan ini. Yang pertama adalah, kami semua sepakat untuk meminta anda turun dari jabatan anda sebagai CEO!" Kata Pak Anto mengemukakan tuntutannya.


"Susah ku katakan. Aku adalah pemegang keputusan akhir dalam apa jua kebijakan yang diambil dalam perusahaan!" Tegas Namora tanpa tedeng aling-aling.


"Tuntutan kedua adalah, jika anda tidak ingin melepaskan jabatan anda sebagai CEO di perusahaan Martins Group ini, maka kami juga menuntut anda untuk melakukan permintaan maaf secara terbuka kepada Tuan Jhonroy baik itu melalui media, kemudian menemui beliau di kota L!" Sambung pak Anto lagi.


"Yang ini juga aku tolak!" Jawab Namora tak kalah tegasnya.


Pak Anto menarik nafas berat. Lalu dia pun berdiri sembari berujar. "Jika begitu, kami berenam akan mengembalikan saham kami ke perusahaan, dan perusahaan harus mengembalikan uang kami menurut berapa nilai pasar saham Martins Group saat ini!"


"Apakah kalian semua yakin ingin melikuidasi saham kalian?" Tanya Namora dengan suara bergetar. Justru, suara Namora yang bergetar ini membuat mereka kembali mendapatkan energi untuk menekan Namora. Karena mereka kini mengira bahwa Namora mulai ketakutan. Bagaimanapun, keadaan keuangan perusahaan saat ini tidak sehat. Jika Namora memaksakan untuk membayar harga saham mereka, maka Martins Group akan lumpuh karena aliran pengeluaran keuangan yang besar. Dalam hati mereka, kali ini Namora pasti dapat diturunkan dari jabatannya sebagai CEO.


Bersambung.


Bagi yang ingin berdonasi, jangan sungkan untuk membantu Author menambah pendapatan. Bagi yang ingin berbagi, bisa ke D A N A 0822 7275 6148.

__ADS_1


Terimakasih orang baik!


__ADS_2