Namora

Namora
Namora, si pembuat onar


__ADS_3

Apa yang dilakukan oleh Namora sepertinya tidak bisa dia sembunyikan dari pengetahuan Ameng.


Terbukti, ketika Namora baru saja pulang dari bandara lokal kota Tasik Putri, dia sudah dikejutkan dengan bentakan dari Ameng yang saat ini sudah berdiri berkacak pinggang di teras rumah. Di sampingnya ada Rio dan Mirna dengan wajah tak kalah bengisnya.


Namora memarkir sepeda motornya, melepaskan helm yang dia kenakan, kemudian menyalami ketiga orang itu satu persatu. Tepat ketika dia menyalami tangan Ameng, Ameng pun mulai mendengus dan berkata, "apa keributan yang kau buat sudah selesai? Jangan katakan bahwa kau telah melepaskan salah satu dari mereka untuk melapor kepada Jhonroy!"


Namora menggaru kepalanya. Dia menatap ke arah ibunya dan Rio secara bergantian, kemudian segera tertunduk ketika melihat tatapan dingin dari kedua orang itu.


"Paman. Sepertinya tidak ada yang bisa Mora sembunyikan dari mu,"


"Masuk!" Bentak Ameng segera membuat Namora tidak dapat berkata apa-apa lagi. Lalu, dia mendahului ketiga orang itu dan langsung memasuki rumah.


"Mora. Tidak ada yang bisa kau sembunyikan dariku. Karena, aku ini dulu, lebih parah dari dirimu. Akan tetapi, aku tidak pernah melakukan pekerjaan ku setengah-setengah. Membereskan sesuatu tanpa jejak adalah hobi ku. Tapi kau ini entah bagaimana cara mu menggunakan otak. Kau malah menyisakan satu orang. Apa kau ingin menantang musuh yang jelas lebih kuat dari mu hah? Mengapa kau tidak bisa bersabar menunggu? Hanya tiga minggu lagi sampai ayah mu bebas dari penjara,"


"Mora memang sengaja melakukan itu supaya Jhonroy tidak menganggap aku ini lemah sehingga seenaknya saja dia bisa menekan ku. Bagaimanapun, aku adalah pemimpin sekarang di perusahaan. Jika aku lemah lembut, ramah tamah, dia malah akan menginjak ku dan Martins Group,"


"Mora. Ada beberapa hal yang tidak kau ketahui. Bukan karena kami tidak ingin memberitahu kepadamu. Akan tetapi, kau terlalu grasak-grusuk dan tidak pernah meminta pendapat dari kami. Kau tidak tau siapa Jhonroy itu. Dia memiliki kekuasaan di dunia hitam. Dia juga adalah tokoh masyarakat yang dianggap bersih oleh orang-orang. Di pemerintahan, dia memiliki banyak orang-orang yang menduduki jabatan penting. Dia hanya perlu menjentikkan jari saja untuk memindahkan, atau mencopot jabatan ku sebagai Kapolres kota Batu ini. Dia bahkan bisa mengendalikan walikota. Apakah menurutmu kau bisa melawannya? Paman tidak ingin kau jatuh kedalam perangkapnya. Mengapa dia tidak membunuhmu saat ini, itu karena ada sesuatu yang sedang dia tunggu," kata Rio menjelaskan seperti apa rubah tua bernama Jhonroy ini.


"Sekarang aku sedang dibuat pusing bagaimana caranya untuk melindungi keselamatan mu. Jika kau sampai kenapa-kenapa, leherku ini bisa putus oleh ayah mu. Jika aku mengikuti hati yang panas, sudah ku kunyah kau bulat-bulat!" Geram betul hati Ameng melihat Namora yang tidak henti-hentinya berbuat kekacauan semenjak dia mengetahui identitas yang dia miliki.

__ADS_1


"Jhonroy tidak akan tinggal diam. Kemungkinan orang yang kau lepaskan sudah memberi laporan kepadanya. Entahlah," Rio mendesah pelan. Sedangkan Mirna hanya menyimak saja.


"Rio. Tangkap saja Namora ini. Lalu, penjarakan dia selama tiga minggu. Setelah bang Tigor bebas, kau bisa membebaskannya," untuk saat ini, hanya itu satu-satunya ide yang bisa diberikan oleh Ameng untuk menjaga keselamatan Namora.


Rio spontan menggelengkan kepalanya. Lalu, dia segera mengutarakan argument mengapa dia tidak bisa melakukan itu.


"Bang. Ada beberapa hal yang tidak Abang ketahui dalam kepolisian. Pertama, alasan apa sampai aku memenjarakan Namora. Jika dengan alasan dia melakukan pembunuhan di perbatasan gang kumuh, itu bukan tiga minggu, tapi bisa tiga puluh tahun. Yang ke dua, bisa saja Jhonroy mengirim pembunuh bayaran ke dalam penjara untuk menyelesaikan Namora. Apa menurutmu aku bisa berada dua puluh empat jam di sana untuk mengawasi Namora?"


Ameng mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di atas meja. Kemudian menatap ke arah Namora. "Persiapan apa yang telah kau buat untuk mengantisipasi jika orang-orang Jhonroy menyeberang ke kota Batu ini?"


"Tidak banyak, Paman. Aku hanya mengirim Lan ke perbatasan untuk mengikuti perkembangannya. Juga ada dua orang anak buah Zack di kota L untuk memantau pergerakan Jhonroy," jawab Namora apa adanya.


"Aku tidak bisa memobilisasi kekuatan penuh untuk melindungi mu. Saat ini hanya ada dua ratus orang saja. Sisanya telah dipekerjakan di lokasi konstruksi. Itu juga karena saran gila darimu kan?


"Mora. Dengarkan saran dari ku. Saat ini, kemungkinan besar adalah, Jhonroy telah mengunci sasarannya kepada mu. Maka dari itu, jauhi orang-orang yang dekat dengan mu. Termasuk Jol, Jericho dan yang lainnya. Mereka bisa saja menjadi korban. Jika kau sayang kepada mereka, maka kau harus mengatur jarah sejauh mungkin!"


Namora mengangguk tanda mengerti apa yang dikatakan oleh Rio. Dia tidak mungkin menyeret teman-temannya yang tidak tau apa-apa kedalam masalah ini.


"Apa rencana mu besok?" Tanya Ameng setelah terdiam cukup lama.

__ADS_1


Namora menjawab, "Besok Mora akan ke sekolah lebih awal. Mempersiapkan diri, kemudian berangkat ke kota Dolok ginjang untuk mengikuti turnamen kejuaraan pencak silat. Karena, tahun ini Dolok ginjang yang menjadi tuan rumah,"


"Bagus. Bagaimanapun, Pak Lalah dan Pak Poltak ada di sana. Mereka pasti akan menjaga keselamatanmu," kemudian Ameng mengalihkan pandangannya ke arah Rio, lalu berkata. "Rio. Besok aku akan menemui bang Tigor. Kau juga harus ada di sana. Keadaan sangat terdesak. Kalau Jhonroy tidak menyerang, bukan berarti dia takut. Hanya saja, aku masih meraba-raba, apa yang membuat dia lamban. Kemungkinan jawabannya pasti akan aku dapatkan besok,"


"Tidak masalah, Bang. Kau besok bisa datang membesuk seperti biasa. Aku juga ingin tau bagaimana cara Abang ku untuk menyelesaikan masalah Jhonroy ini,"


"Kau Mora. Apapun alasannya, aku tidak mau dengar. Jangan campur adukkan masalah pribadi dengan masalah organisasi. Kau ini adalah pemimpin Martins Group. Kalau kau mati, bukan hanya kau saja yang mati. Tapi perusahaan bisa bangkrut. Ribuan orang akan menjadi pengangguran setelah itu. Yang kau pikirkan hanya masalah cinta gorila mu itu,"


"Cinta Monyet, Paman. Bukan cinta Gorila," Namora meluruskan kata-kata Ameng. Tapi dia segera menutup mulutnya ketika Ameng memelototinya dengan tatapan seperti orang yang sedang kesurupan.


Namora menggaru kembali kepalanya yang tidak gatal. Dia kemudian bergumam seperti berbicara untuk dirinya sendiri. "aneh. Kalau mati ya mati saja. Mengapa perusahaan bisa bangkrut?"


Kletuk!


Ameng menjitak kepalanya, kemudian menjelaskan. "Jika bos dari salah satu perusahaan besar terbunuh, apa lagi itu karena musuhnya, tanggapan negatif akan muncul dari berbagai kalangan. bisa dipastikan bahwa kau tidak layak. Dan perusahaan juga akan kehilangan kepercayaan dari orang lain. Nilai pasar saham bisa runtuh. Tau apa akibatnya? Perusahaan akan berjuang timpang untuk melunasi pinjaman, gaji karyawan serta lain-lainnya. Ketika itu terjadi, Martins Group mungkin hanya akan tinggal nama saja,"


Semakin kecut rasa hati Namora mendengar segala kemungkinan yang dikatakan oleh Ameng. Mungkin karena usia yang terlalu dini, hal ini secara alami membuat Namora tidak pernah berpikir sampai ke arah itu. Dia mengira bahwa kemampuan bertarung saja sudah cukup. Ternyata ada banyak hal yang tidak hanya bisa dia selesaikan dengan otot, akan tetapi otak yang sejalan dengan otot sangatlah penting.


"Rio. Aku titip anak bodoh ini. Jika kau melihat kelebat bayang-bayang di luar rumah, jangan heran. Itu adalah anak-anak buah yang aku tugaskan untuk menjaga keselamatan kalian. Aku harus pergi. Ada banyak masalah yang harus aku selesaikan. Dan kau Mora. Jangan buat kepalaku semakin botak!" Ameng menodongkan jari telunjuknya memperingatkan Namora.

__ADS_1


Namora hanya mengangguk saja. Dia tidak berani membantah. Bagaimanapun, dia tau bahwa Ameng sangat kelelahan karena ulahnya. Dan ini membuat Namora merasa sangat bersalah kepada Ameng.


Bersambung...


__ADS_2