
"Namora...! Sarapan nak. Jangan merajuk terus. Kau harus tau bahwa kau itu bukan anak kecil lagi!"
Terdengar teriakan dari seorang wanita paruh baya yang masih cantik di depan salah satu pintu kamar. Wanita itu adalah Mirna, ibunya Namora.
Dua hari yang lalu, Namora merengek minta dibelikan sepeda motor sport kepada Rio. Dia bahkan membandingkan jabatan Rio dengan polisi yang lain.
"Paman. Mengapa anak pak polisi itu punya motor sport Yamaha. Mengapa aku jalan kaki? Padahal, pangkat Paman lebih tinggi dari Bapaknya,"
Rio tidak bisa menjawab pertanyaan itu dengan gegabah. Dia hanya bisa memberikan penjelasan kepada Namora bahwa rejeki setiap orang itu berbeda-beda.
Puas merengek kepada pamannya itu, Namora kini mengalihkan targetnya kepada sang ibu.
Dengan memasang wajah imut sedikit amit, Namora pun mendekati sang ibu, lalu menceritakan tentang keinginannya untuk memiliki sepeda motor. Namun, jawaban sang ibu terpaksa membuyarkan tampang imut yang sejak tadi dia pertahankan.
"Kau lihat pohon nangka dibelakang rumah itu?" Tanya Mirna ketika itu.
Namora menganggukkan kepalanya.
"Jika kau bisa mengubah daun nangka itu menjadi lembaran uang, maka jangankan sepeda motor, pabriknya pun akan ibu belikan untuk mu,"
Jawaban dari Mirna ini sungguh membuat Namora patah semangat. Bagaimana mungkin dia bisa mengubah daun menjadi uang. Itu adalah Hil yang sangat mustahal. (Maaf! Itu adalah hal yang sangat mustahil)
***
"Namora! Jika kau tidak keluar, maka jangan makan sampai malam," ancam sang ibu yang segera berlalu dari depan pintu kamar tempatnya berdiri tadi.
Tak lama setelah itu, perlahan pintu kamar tadi terbuka dan dari dalam keluar seorang pemuda yang sebenarnya mirip artis Korea, walaupun Korea pinggiran.
Tampangnya tampak awut-awutan. Tidak ada cahaya kehidupan diwajahnya. Semuanya terlihat begitu berantakan.
"Mandi, lalu sarapan!" Kata Mirna sambil melemparkan handuk yang seketika menyungkup wajah Namora.
"Ibu tiri pun tak segalak ini," gerutu Namora yang gelagapan terselubung handuk tadi.
"Kau sudah pandai mengumpat ya?" Mirna mendelikkan matanya membuat Namora merinding dan buru-buru berlalu dari hadapan ibunya.
Rio yang melihat adegan itu hanya bisa menggelengkan kepala. Ada niat didalam hatinya untuk mendatangi dealer guna mengambilkan sepeda motor yang diinginkan oleh Namora dengan cara bayar cicilan. Hanya saja buat apa? Toh juga Tigor punya beberapa unit sepeda motor yang harganya di atas rata-rata. Sebut saja Yamaha R1 pemberian mendiang Martin, dan Ducati Panigale pemberian Lalah sang penguasa Dolok ginjang.
Berpikir sampai di situ, maka Rio hanya bisa menunggu saja kapan keponakannya itu akan menikmati fasilitas yang berlimpah dari ayahnya.
__ADS_1
"Janganlah terlalu galak, Kak ipar! Namora hanya mengikuti naluri sebagai anak remaja yang masih dalam masa pendewasaan. Anak seperti itu masih suka hura-hura dan mencoba sesuatu yang baru. Dia bisa memiliki semua itu. Tapi kalian lah sebagai orang tua sangat kikir kepada anak,"
"Huhf. Entah apa yang dipikirkan oleh Abang mu. Kakak mana berani melangkahi perintah dari Abang mu. Bisa dikatakan durhaka sama suami,"
"Heran sama bang Tigor ini. Dia mulai ikut-ikutan dengan cara Tuan besar nya,"
"Rio. Kau temui Abang mu. Katakan kepadanya bahwa Namora sudah lajang. Sampaikan kepadanya bahwa aku tidak mau anak ku mengalami hal yang sama dengan yang kalian alami dulu. Ini bukan karma untuknya, melainkan tindakan yang berlebihan dari Ayahnya. Jaman sudah berubah. Jika dia dulu melarat, jangan biarkan anaknya mengikuti jejaknya dan hidup dalam hinaan orang lain. Sampaikan itu!"
"Baik kak. Aku akan sampaikan juga bahwa kakak merajuk," kata Rio sekedar menguji keberanian kakak ipar nya itu.
"Heh. Aku tidak merajuk. Kau jangan menambah-nambah!"
"Ampun kak!" Kata Rio yang langsung kabur.
*********
Ngeng...!
Ngeng... Ngeeeeeeng...!
Terdengar suara mesin sepeda motor yang gasnya digeber.
Begitu dia melihat tujuh unit sepeda motor yang semuanya masih baru, dan melihat siapa yang menunggang sepeda motor tadi pun langsung bangkit dan setengah berlari menuju ke arah pintu.
Namora sangat kenal dengan tujuh orang penunggang sepeda motor di luar sana. Mereka adalah Jol, Jericho, Juned, Jaiz, James, Julio dan Jufran.
"Woy. Sepeda motor baru?!" Teriak Namora dari arah teras rumah. Dia segera berlari untuk menghampiri mereka.
"Iya, Mora. Huh. Butuh perjuangan ekstra untuk mendapatkan sepeda motor ini dari orang tua ku. Termasuk menerima beberapa persyaratan," jawab Jol sembari menerima uluran tangan dari Namora.
"Wow. Ini Yamaha R25. Ini juga Honda CBR 250R, punya kau Julio, Suzuki GSX. Hebat kalian," puji Namora dengan tulus walaupun ada rasa kerdil dalam hatinya terhadap dirinya sendiri.
"Alah, Mora. Kau hanya melihat sepeda motor kami. Kau tidak tau seberapa banyak kerja tambahan dan syarat yang harus kami patuhi," kata James pula.
"Memangnya apa saja?" Tanya Namora ingin tahu.
"Jelaskan, Juf!" Pinta James.
"Aku bisa memiliki sepeda motor ini dengan syarat, harus berada di lima besar dalam rangking nilai di sekolah. Jika tidak, motor ku akan disita," jawab Jufran lesu.
__ADS_1
"Aku juga sama. Jika malas belajar, maka motor ku akan di sita," kata Jaiz pula.
"Kau enak, Namora. Walaupun tidak punya motor, tapi tidak ada syarat dan kau bebas dari belenggu itu,"
"Sama saja. Kalau aku punya sepeda motor seperti kalian, jangankan rangking lima besar, rangking 20 besar pun aku sanggup," canda Namora yang sukses membuat mereka tertawa.
"Apa kau sudah mempersiapkan semuanya, Namora? Lusa pendaftaran sudah di buka loh!" Jol mengingatkan sahabatnya itu untuk jangan terlalu santai, karena sebentar lagi mereka akan memulai pendaftaran sebagai siswa di SMA negeri Tunas Bangsa.
"Jika kau tidak lulus, maka jabatan bendahara mu akan di copot!" Ancam Julio sambil tertawa.
"Kan ada Ayahnya Jericho," jawab Namora.
"Sialan. Ayah ku hanya membuka jalan. Selebihnya, tergantung kemampuan kalian,"
"Apa kegiatan mu sore ini?" Tanya Jol. Dia berencana untuk mengajak Namora jalan-jalan sekalian mencoba sepeda motor barunya itu.
"Emm.., aku tidak ada kegiatan. Mengapakah?" Namora balik bertanya.
"Apa kau tidak ingin mencoba Honda CBR 250R ku ini?"
"Emang boleh?" Tanya Namora ragu-ragu.
"Ah sialan. Kapan aku pernah pelit dengan mu hah? Jangan bertanya seperti itu, Namora! Ku tabrak kau,"
"Hahaha. Tunggu sebentar. Aku mau ganti pakaian dulu," kata Namora yang langsung berlari memasuki rumah.
Tak lama setelah itu, dia kembali keluar dengan memakai celana jeans dan kemeja. Namun, entah karena buru-buru, dia tidak memperhatikan kancing kemejanya yang berantakan.
"Hahaha. Lihat kancing bajunya!" Kata Jericho sambil tertawa melihat baju Namora yang timpang karena kancing yang seharusnya dia kancingkan di nomor dua, malah dia pasang di nomor satu, dan begitulah seterusnya.
"Oh.., eh. Hahaha...!" Bukannya malu, Namora malah ikut-ikutan tertawa.
"Ayo, Namora! Kau yang bonceng!" Kata Jol sambil turun dari sepeda motornya.
"Ok. Let's go!"
Delapan anak-anak remaja itu segera menggeber motornya dan melesat meninggalkan kawasan perumahan yang ditempati oleh Namora tersebut.
Bersambung...
__ADS_1