Namora

Namora
Tiba dikampung Permai


__ADS_3

"Tuan muda. Apakah kita akan berangkat sekarang?" Tanya Pak Karim sembari berjalan dengan kunci mobil ditangannya.


"Ayo pak. Aku masih ada pertemuan sore ini," jawab Namora. Masih banyak pekerjaan yang harus dia lakukan di kota Kemuning. Dan ada beberapa rencana yang satupun belum terlaksana. Sedangkan kebebasan Ayahnya tinggal tiga hari lagi. Dia tidak akan menunda pekerjaan agar selesai tepat waktu dan bisa ikut serta dalam rombongan penjemputan ayahnya di pusat tahanan kota Batu.


"Tuan muda. Apakah saya boleh meminta waktu anda?" Tanya Pak Karim malu-malu.


"Katakan!" Pinta Namora.


"Begini, Tuan muda. Sebenarnya saya ingin singgah dulu sebentar ke rumah untuk memberikan uang belanja kepada istri. Tidak lama kok. Paling hanya sepuluh menit. Setelah itu kita langsung berangkat ke kantor," jawab Pak Karim ragu-ragu. Dia khawatir akan membuat Namora kesal karena dia tau betapa pentingnya setiap detik bagi seorang pengusaha seperti majikannya ini.


"Tidak apa-apa. Sekali jalan. Apa bedanya?"


"Terimakasih, Tuan muda!" Kata Pak Karim bersemangat. Tadinya dia sangat khawatir kalau-kalau Namora bukan hanya menolak, tapi malah memarahinya. Namun, ketika melihat jawaban santai dari Namora, ternyata kekhawatirannya barusan terlalu berlebihan.


Kedua orang itu kini tiba di dekat mobil dan siap untuk berangkat. Namun, sebelum berangkat, Namora melakukan Selfie dan segera mengunggah foto Selfie nya ke akun Facebook miliknya dengan caption, 'BERANGKAT LAGI. AKU BERHARAP MENDAPAT KEJUTAN!'


tidak menunggu sampai lima menit, foto tersebut telah dibanjiri oleh beragam tanggapan dan ratusan like. Ini sangat mengejutkan Namora. Tapi dia mana sempat menanggapi. Diapun segera mengunci layar ponselnya, lalu meletakkannya di dasbor mobil, lalu memejamkan matanya untuk beristirahat.


Sementara itu, di SMA negeri Tunas Bangsa, masih banyak siswa yang belum pulang.


Biasanya, setelah selesai jam belajar, mereka akan mendinginkan otak dan tubuh mereka di kantin, atau ada pula yang melakukan tugas kelompok dan memilih-milih buku di perpustakaan untuk mereka baca dan pelajari. Hanya Namora saja yang terburu-buru pulang dengan diantar oleh Jol. Itupun karena dia memang sangat sibuk. Jika tidak, dia akan duduk berdua dengan sahabatnya itu sekedar bermain online game atau melihat para siswa lain yang mencoba menggoda dirinya. Maklumlah, dia kan selebriti di sekolah.


Ding..! Pemberitahuan masuk di atas layar ponsel salah satu dari siswa yang masih duduk-duduk berkelompok di kantin. Setelah melekat melihat, ternyata itu adalah pemberitahuan dari Facebook yang mengatakan bahwa salah satu dari teman mereka di laman sosial tersebut meng-upload gambar.


"Woy. Coba kalian lihat ini. Ini Namora mengunggah foto di FB. Wow.., lihat latar belakangnya! Mobil Sport," kata siswa tersebut sambil mengarahkan layar ponselnya ke samping agar dilihat oleh teman disebelahnya.


"Mana, coba aku lihat?!'


"Wanjay...! Gaya banget Namora,"


"Ih. Mobil siapa ini?"


"Apa mungkin mobilnya? Mobil ini pasti harganya milyaran rupiah kan?"


"Iya. Ini pasti. Setidaknya adalah dalam kisaran harga 5 miliar,"

__ADS_1


"Gila. Apa iya mobilnya? Aku kurang yakin,"


"Iya. Namora kan miskin. Ayahnya juga berada di penjara.,"


"Alah. Segitu doang. Aku juga bisa. Kapan-kapan kalau ada mobil orang kaya yang parkir, aku akan mengambil foto dan menjadikannya sebagai latar belakang,"


Diskusi antara siswa itu terus berlanjut. Dan untuk saat ini, foto Namora langsung viral dan mendapatkan berbagai tanggapan yang bernada positif maupun yang negatif. Ada yang mengatakan bahwa Namora hanya pamer, padahal itu adalah mobil kepunyaan orang lain. Namun, tidak sedikit yang mengatakan bahwa Namora memang anak orang kaya yang mampu.


Sedangkan di waktu yang sama, pak Karim dan Namora masih dalam perjalanan menuju ke kota Kemuning.


Pak Karim sengaja mengeluarkan skill mengemudinya dan seolah-olah mempertontonkan kepada Namora bahwa ini nih yang dinamakan keterampilan.


Namora, yang biasanya tidak terlalu perduli dengan berbagai hal terpaksa harus mencurahkan perhatiannya. Dia terus memperhatikan apa saja yang dilakukan oleh pak Karim dibelakang kemudi. Sesekali dia akan manggut-manggut, sesekali dia membelalakkan matanya.


"Nanti, ajarkan aku, Pak!" Pinta Namora sedikit memerintah. Dia suka, tapi tetap tidak antusias.


Sebenarnya, ada dua tujuan mengapa pak Karim mengeluarkan skill mengemudinya. Yang pertama dia khawatir tentang beberapa mobil kemarin yang membuntuti mereka. Yang ke dua, dia memang sengaja pamer dan menunjukkan kepada Namora bahwa dia memang layak untuk pekerjaan itu.


Tanpa terasa, kini mobil yang mereka kendarai telah tiba di perkampungan permai. Dan pak Karim pun menghela nafas lega karena memang tidak ada yang membuntuti mereka.


"Oh. Yang mana rumah bapak?" Tanya Namora.


"Itu sekitar tujuh rumah lagi," jawab pak Karim sembari menunjuk ke arah rumah gubuk dengan dinding gedek yang hampir lapuk.


Namora menatap ke arah jari telunjuk pak Karim, lalu mengangguk dan bertanya. "Apa mata pencarian di kampung ini pak?"


"Bertani, Tuan muda. Ada yang merantau, ada pula yang bekerja di sebagai kuli. Hanya saja pekerjaan yang terbesar adalah bertani,"


Sepanjang jalan, Namora tidak bertanya lagi. Dia hanya memperhatikan saja. Dia berpikir andai saja kemelut di perusahaannya tidak terlalu rumit, dia mungkin sudah berinvestasi di kampung ini. Atau, bisa jadi dia akan mendirikan pabrik dan membeli penghasilan penduduk kampung ini dan mengolahnya sendiri.


"Nah. Tuan muda, kita sudah sampai. Saya mohon diri dulu ya. Saya malu mempersilahkan masuk. Takut tuan muda tidak nyaman karena kondisi rumah saya. Tidak lama kok. Hanya 5 menit saja," kata Pak Karim malu-malu.


"Tidak apa-apa pak. Saya juga mau mencari angin,"


"Jangan Tuan muda. Nanti kulit anda gosong. Terlalu panas hari ini. Jika tidak kebenaran, silahkan masuk dulu. Istri saya akan membuatkan teh manis untuk anda," kata pak Karim dengan gesture mempersilahkan.

__ADS_1


"Sungkan sekali bapak ini," kata Namora. Dia tidak menolak, sebaliknya malah mengikuti lelaki tua itu memasuki rumah. Sedangkan para tetangga sudah mulai berbisik-bisik melihat bahwa pak Karim ternyata membawa majikannya ke kampung mereka.


"Wah. Tidak disangka masih sangat belia. Kirain udah tua atau sebaya dengan pak Karim. Ternyata daun muda," kata emak-emak yang memang suka melihat anak lajang belia yang masih kinclong.


"Lihat. Seperti artis Korea," kata yang lain pula.


"Huh. Apakah pak Karim ingin pansos? Mungkin dia sengaja membawa majikannya ke rumah agar diperkenalkan dengan keponakannya. Kan si Nila seumuran dengan pemuda itu. Kali aja dia mau menjodohkan mereka,"


"Apa iya pak Karim akan menjual keponakannya?"


"Sssst... Jangan makan bangkai saudara mu sendiri. Ghibah itu tidak boleh,"


"Benar. Bagaimanapun, pak Karim itu baik. Dulu waktu Lan masih hidup, ketika dia pulang dari tempatnya bekerja, ketika dia membawa oleh-oleh, kita selalu kebagian,"


"Iya aku salah. Eh. Sayang sekali Lan, semuda itu meninggal. Andai tidak, mungkin keluarga mereka tidak akan semenderita ini,"


Disaat orang-orang sedang bergosip, Namora sudah duduk di kursi usang yang terbuat dari rotan. Dan memang itulah satu-satunya kursi yang ada di rumah itu.


Seorang wanita paruh baya datang dari arah belakang membawakan nampan berisi teh dan meletakkannya di atas meja.


"Silahkan di minum Tuan muda," katanya ikut-ikutan memanggil Namora dengan sebutan Tuan muda karena dia tadi mendengar bahwa suaminya menyebut Namora dengan sebutan itu.


"Terimakasih bu. Nama saya Namora," kata Namora memaksakan dirinya untuk tersenyum. Tapi senyumnya itu sulit untuk dikatakan senyum. Itu terlihat lebih ke arah seringai keledai.


"Baiklah , Tuan muda Namora. Silahkan di minum. Saya permisi dulu ke belakang,"


"Silahkan!" Kata Namora mengangguk.


Entah apa yang digoreng oleh wanita tadi di dapur, sehingga aromanya mengaduk-aduk selera makan Namora. Perutnya mendadak menjadi lapar.


Di saat bosan duduk, Namora mulai berdiri, kemudian memperhatikan ke arah dinding dimana ada beberapa foto berbingkai terpajang di sana, kemudian Namora pun segera memperhatikan.


"Heh.., ini?" Kata Namora membeliakkan matanya. Di dinding, ada foto berukuran lumayan besar dan di sana ada empat sosok di dalam foto tersebut. Pak Karim, istrinya pak Karim, Nila dan seorang lagi..,


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2