
"Bang.., bang Ameng," semua orang gemetar dan nyaris kencing di celana melihat Ameng.
Siapa yang tidak kenal Ameng? Semua orang di kota Kemuning ini mengenalnya. Tapi tidak semua orang memiliki kelayakan untuk berbicara dengannya.
"Lancang!"
Bugh..!
Seorang lelaki yang membukakan pintu mobil untuk Ameng tadi langsung menendang tulang kering lelaki itu hingga terjatuh dengan sebelah kakinya tertekuk menghantam aspal.
"Tundukkan mata kalian! Apa kalian bosan melihat indahnya dunia ini?"
Orang-orang yang tadi akan mengeroyok Namora langsung menundukkan kepala mereka masing-masing. Tidak ada yang berani menatap langsung ke arah Ameng.
"Katakan padaku, dari kelompok mana kalian?!" Ameng bertanya dengan suara yang sengaja melunak.
"Ka.., kami.., kami dari.., eh tidak. Kami tidak memiliki kelompok. Kami hanya preman pasar yang mencari nafkah di sini," jawab ketua dari orang-orang yang akan mengeroyok Namora barusan.
"Kelompok tak bernama? Bukankah tadi kalian mengatasnamakan Dragon Empire? Sekarang apakah kalian tidak mau mengakuinya?"
"Ampun bang. Kami sengaja mengatakan itu hanya untuk menakut-nakuti mereka. Tidak ada niat lain,"
"Oh. Tidak ada niat lain? Kalau begitu aku akan memotong kuping kalian. Lalu aku akan mengatakan bahwa aku sebenarnya tidak berniat memotong kuping kalian dan itu murni ketidaksengajaan," kata Ameng sambil menerima sebilah pisau dari bawahannya.
Gedebug..!
Melihat Ameng telah menggenggam sebilah pisau, semua orang ketakutan dan langsung menjatuhkan diri berlutut. "Ampuni kuping kami bang. Mohon berbelas kasih. Wajah kami udah jelek, tambah jelek lah kami tanpa kuping," kata mereka hampir menangis.
Ketika mereka memohon dengan nyaris menangis, Ameng malah nyaris tersedak mendengar perkataan mereka. Tapi demi image, mana mungkin dia tertawa. Apa kata dunia.
"Tadi kalian begitu bangga mengatakan bahwa kalian adalah orang-orang dari organisasi Dragon Empire. Kalian telah mencoreng nama besar dan reputasi organisasi. Menurut hukum organisasi, siapapun yang melanggar hukum didalam organisasi, ataupun berkhianat, maka orang itu akan di buru dan dikuliti hidup-hidup," kali ini Namora yang angkat bicara.
"Ka-ka-kau. Siapa kau dan apa hubungan mu dengan organisasi Dragon Empire?" Tanya lelaki yang tadi memanggil teman-temannya.
__ADS_1
Plak..!
"Apa menurut mu kau layak bertanya kepada Tuan muda kami?" Kata pengawal itu setelah menampar pipi lelaki itu hingga terjatuh ke samping.
"Tu.., tu.., tuan muda?"
"Ampuni nyawa kami. Ampuni nyawa kami. Tolong jangan kuliti kami!" Mereka mulai ketakutan hingga histeris. Tak terbayangkan jika hukum organisasi benar-benar diterapkan terhadap mereka, maka mereka bisa mengucapkan selamat tinggal kepada dunia.
"Ampun? Apakah menurut kalian aku memiliki stok ampun di gudang? Ampun bagiku adalah barang langka. Jika kalian minta roti, aku bisa beri. Tapi jika minta ampun, maaf! Stok ampun ku sangat terbatas," kata Namora dengan dingin. Dingin di luar saja. Tapi dalam kepalanya saat ini, dia sedang berfikir bagaimana caranya agar begundal pasar ini bisa dia manfaatkan.
"Tolonglah kami Tuan muda. Kami tidak akan melakukan tindakan yang merugikan para pedagang lagi. Kami juga tidak akan berani lagi menjual nama besar organisasi Dragon Empire. Tolong lah Tuan muda. Tolong berbelas kasih!" Mereka terus meratap meminta pengampunan kepada Namora dan Ameng.
Namora mungkin akan memaafkan mereka. Hanya saja, hukuman pasti akan diberikan untuk memberikan efek jera kepada mereka agar tidak lagi sembarangan menggunakan nama organisasi dalam tindakan mereka.
Beruntung itu Namora dan Ameng. Jika itu Arslan atau Riko, kemungkinan mereka ini sudah mati di tempat.
"Paman. Aku masih ada urusan. Aku akan kembali ke pasar," kata Namora hendak berbalik badan.
"Mora. Ada apa kau ke pasar ini? Jangan bilang kau ingin berinvestasi di sini. Mana ada untung,"
"Jadi, bagaimana dengan mereka?" Tanya Ameng.
"Nanti aku pikirkan. Sekarang aku pergi dulu,"
Namora segera berbalik diikuti ratapan dari dua puluh orang lebih yang akan mengeroyoknya tadi.
"Tuan muda. Tolong lepaskan kami. Tuan muda. Tolong jangan bunuh kami!"
"Kalian bisa diam apa tidak? Tunggu di situ! Satu langkah kalian bergerak, ku pastikan kalian mati!" Ancam Namora sambil berlalu pergi.
Begitu ucapan Namora berakhir, mereka semua berdiri mematung ditempat mereka masing-masing. Sedikitpun mereka tidak berani bergerak. Khawatir mereka akan bergeser satu langkah, dan Namora pasti akan memerintahkan kepada anak buahnya untuk mengakhiri hidup mereka.
Diwaktu yang sama, tepatnya di pasar, si ibu yang tadi diperas oleh preman pasar tampak sedang terlibat pembicaraan dengan pak Karim. "Karim. Siapa anak muda itu tadi? Aku lihat, kau sangat hormat kepadanya," tanya si ibu.
__ADS_1
"Oh itu. Namanya Namora, Kak. Dia itu majikan ku," jawab Pak Karim apa adanya.
"Namora?" Si ibu tampak sedang memikirkan sesuatu. Dia sepertinya pernah mendengar nama itu. "Karim. Apakah Namora ini anaknya Bang Tigor dan keponakannya Bang Ameng?"
"Kok kakak tau?" Kini giliran pak Karim pula yang heran.
"Iya tau lah. Dulu, Zack selalu bercerita bahwa dia memiliki majikan yang baru setelah berhenti menjadi anak buah bang Ameng. Katanya, Namora ini adalah anak dari bang Tigor, ahli waris seluruh aset kekayaan milik bang Tigor. Zack juga mengatakan bahwa dia akan terus bekerja di bawah Namora walau apapun yang terjadi. Tapi sayang sekali, anak ku itu terbunuh dalam kecelakaan. Sampai-sampai aku pun tidak diizinkan untuk melihat wajahnya untuk yang terakhir kali. Konon kata mereka, tubuh dan wajah Zack rusak parah. Makanya setelah keluar dari rumah sakit, langsung dikebumikan di kota batu," kenang si ibu dengan mata berkaca-kaca.
"Benar kak. Namora itulah yang dikatakan oleh Zack. Hanya saja, Lan tidak pernah bercerita kepadaku kalau Namora ini dulunya adalah majikannya,"
"Menurut Zack, Lan keponakan mu itu masih bekerja untuk bang Ameng. Tapi Zack sendiri memang di pinta langsung oleh Namora ini untuk menjadi bawahannya. Sebagai tuan muda, jelas Bang Ameng tidak berani menolak. Begitulah Zack memberitahu kepadaku,"
Pak Karim hanya manggut-manggut mendengar penjelasan dari si ibu.
Memang benar apa yang dikatakan oleh si ibu. Bahwa baik itu Lan, Ando dan seorang lagi masih berada di bawah Ameng. Tapi berbeda dengan Zack. Dia memang di pinta langsung oleh Namora untuk menjadi bawahannya. Dan Zack pun sangat bersyukur bisa bekerja dengan tuan muda Habonaran tersebut sehingga dia pun menceritakan kepada ibunya bahwa kini pangkatnya naik drastis. Tapi sayang seribu kali sayang, bahwa dia tidak lama bekerja untuk Namora sebelum akhirnya tewas terbunuh oleh Takimura dan Teja.
Ketika kedua orang tua itu sedang asyik ngobrol, Namora pun akhirnya tiba dan langsung menyapa kepada si ibu.
"Sore Bu," sapa Namora dengan hormat.
"Iya Tuan muda. Selamat sore juga," kata si Ibu antusias.
"Benar ini pak?" Tanya Namora meminta kepastian kepada pak Karim. Dia khawatir kalau-kalau salah orang.
"Benar, Tuan muda,"
"Baiklah. Sekarang, ibu tinggalkan saja dulu pasar ini. Sudah tidak ada lagi yang tersisa untuk ibu jual. Mari saya antar ibu pulang," ajak Namora sembari mempersilahkan.
Si ibu ragu-ragu sejenak. Dia segera menatap ke arah pak Karim. Begitu pak Karim menganggukkan kepalanya, si ibu akhirnya menggulung tikar lusuhnya, memasukkan ke dalam karung, kemudian akan memikul karung tersebut sebelum dicegah oleh Namora.
"Biar Mora saja Bu. Ini semua adalah kesalahan Namora," kata Namora meminta karung berisi tikar, timbangan dan peralatan untuk berjualan milik si ibu.
"Terimakasih nak!" Kata Si Ibu terharu. Mereka pun berjalan beriringan menuju dimana Ameng dan yang lainnya berada sambil diperhatikan oleh orang-orang yang berada di pasar tersebut.
__ADS_1
Bersambung...