Namora

Namora
Namora vs Hendro


__ADS_3

Tanggal 10 akhirnya telah sampai juga, dimana Namora akan berangkat ke kota Kemuning bagi mengepalai pertemuan.


Pertemuan ini sendiri akan berlangsung selama seharian dimana Namora akan menjadi aktor utama dalam pertemuan ini. Dirinya memang sengaja diperkenalkan oleh sembilan orang pamannya dimana pada pertemuan pertama akan berlangsung di kantor besar Martins Group guna membahas beberapa kerja sama dengan perusahaan lain, berinvestasi atau menghentikan investasi di beberapa perusahaan yang dirasa tidak cukup menguntungkan. Selain itu, Namora juga memiliki misinya dalam pertemuan kali ini.


Namora sempat grogi mengingat ini adalah pertemuan pertamanya dengan beberapa staf yang memegang jabatan tinggi di perusahaan. Selain itu, dia juga akan diperkenalkan sebagai tuan muda kepada seluruh anggota Dragon Empire cabang kota Kemuning. Dan pertemuan ini akan berlangsung di yayasan Martins kota Kemuning.


Karena tidak direpotkan oleh waktu, maka Namora dan Zack sehari sebelumnya telah berangkat ke kota Kemuning dan menginap di Martins Hotel.


Malam itu, ketika merasa bosan, Namora pun memilih keluar dari hotel dan berniat untuk sekedar jalan-jalan di sekitar tidak jauh dari hotel. Dia ingin melihat keindahan kota maju seperti kota Kemuning ini pada malam hari.


"Indah juga kota kelahiran ku ini,"


Namora terus memperhatikan keadaan disekitarnya. Namun, tepat ketika dia akan kembali melangkah, seseorang menghampiri dirinya.


Namora mengenali siapa orang itu. Dia adalah seorang pemuda yang sama atau mungkin lebih tua dua atau tiga tahun dari dirinya. Dialah Hendro putra Andra.


Tadinya dia ingin menemui Namora di hotel karena ada sesuatu yang ingin dia sampaikan. Tapi begitu dia akan memasuki lobi hotel, dia melihat bahwa Namora sudah keluar dan berjalan-jalan. Maka, dia pun bergegas menghampiri.


"Apa yang kau lakukan di sini, Namora?" Tanya Hendro begitu dia tiba di depan pemuda itu. Lagaknya sangat sombong. Dia bertanya, tapi Namora merasa jengkel dengan caranya bertanya.

__ADS_1


Namora tidak menjawab. Dia kembali memperhatikan kendaraan yang lalu-lalang.


"Apa kau tidak mendengar pertanyaan ku, Namora?"


Namora menatap ke arah Hendro. Dia menduga bahwa Hendro ini pasti memiliki sesuatu yang ingin dia sampaikan. Jika tidak, mana mungkin orang ini akan perduli kepada orang lain. Maka dari itu Namora langsung berkata, "Jika ada yang ingin kau sampaikan, langsung saja ke intinya!" Namora terlalu malas berbicara terlalu banyak dengan anak manja dan sombong ini.


"Ok. Aku mendengar dari ayahku bahwa kedatangan mu kali ini ke kota Kemuning adalah untuk urusan perusahaan. Aku tau kau baru kali ini melakukannya kan? Selama ini kau telah terbiasa dengan kehidupan yang serba kekurangan. Aku turut prihatin. Apakah...,"


Namora merasa terlalu membosankan mendengar omongan Hendro ini. Apa lagi dia merasa bahwa kesannya seperti merendahkan dirinya.


"Kau terlalu banyak bicara. Langsung saja ke intinya!"


Namora menatap ke arah Hendro dengan wajah tanpa ekspresi. Dia sangat dingin sekali. Terutama ketika mendengar perkataan Hendro yang sangat merendahkan dirinya.


"Hendro. Berapa keuntungan yang kau peroleh dari menjadi penjilat perusahaan lain?"


Pertanyaan ini sangat memojokkan dirinya. Tapi Hendro yang licik ini segera meredam ketersinggungannya, kemudian berkata. "aku tidak mendapatkan keuntungan apa-apa. Bagaimanapun, perusahaan bisa bertahan sampai sejauh ini adalah karena loyalitas dari paman-paman yang berkontribusi besar tanpa pamrih. Maka, sebagai generasi dari mereka, kami mempunyai kewajiban untuk memajukan perusahaan selama Paman besar masih di dalam penjara," jawab Hendro.


"Begitu kah?" Namora kembali membuang pandangannya ke arah kendaraan yang lalu-lalang, kemudian bergumam seolah-olah untuk dirinya sendiri. "Pantas saja perusahaan ini tidak berkembang. 17 tahun bukan waktu yang singkat untuk bertahan di industri ini. Tapi juga bukan waktu yang singkat untuk bisa berkembang,"

__ADS_1


"Apa maksud mu, Namora? Apakah kau menuduh bahwa sembilan Paman tidak memberikan kontribusi apa-apa bagi perusahaan?" Tanya Hendro. Dia jelas tersinggung dengan gumaman Namora tadi. Walaupun sangat pelan suara Namora, tapi itu sangat menusuk.


"Aku tidak menuduh mereka. Hanya saja, sebagian dari Paman ku adalah orang yang buta huruf. Aku telah mempelajari tentang sejarah kehidupan mereka dalam sebulan ini. Andai mereka bisa tulis baca, tapi mereka masih tidak akan mudah memahami bisnis dalam skala besar. Kemudian, kalian para generasi muda memanfaatkan moments ini untuk mengeruk keuntungan dari perusahaan. Aku tidak akan membiarkan orang lain mengorek kekayaan dari perusahaan yang telah didirikan oleh pendahuluku dengan mudah," kata Namora kemudian dia menyambar kertas dari tangan Hendro.


Hendro terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Namora. Dia memang baru satu bulan ini kembali ke dalam keluarga besar. Tapi walaupun demikian, Namora ini sudah sangat mendominasi. Dan memang memiliki hak untuk menolak. Bahkan sejauh ini, kekuasaan yang dipegang oleh Namora bahkan mampu merombak kabinet manajemen dalam perusahaan.


Hendro menarik nafas dalam-dalam. Dihatinya saat ini berdoa agar Namora meluluskan perusahaan yang telah dia rekomendasikan. Jika tidak, bukan hanya dia gagal mendapatkan keuntungan. Akan tetapi kemungkinan besar dia tidak akan dipercaya lagi. Apa lagi dia telah menerima banyak kebaikan dari perusahaan tersebut.


"Mora. Kau bisa melihat butiran dalam dokumen itu. Ini adalah perusahaan Agro chemical. Kita sudah sering bekerjasama dengan perusahaan ini. Dan hasilnya cukup menguntungkan kedua belah pihak,"


"Kau bisa menyimpan ini untuk mu sendiri. Aku akan membahasnya dalam pertemuan nanti. Jangan mengira bahwa aku tidak mempelajari semuanya dengan teliti. Kau juga akan bertanggungjawab atas usulan-usulan yang kau kemukakan. Sekarang sebaiknya kau pulang saja. Aku ingin sendiri!" Namora mengibaskan tangannya seolah-olah sedang mengusir lalat.


Melihat ini, Hendro yang tadi sangat optimis bisa mengendalikan Namora merasa darahnya mengalir terbalik. Andai kebusukan yang dia lakukan terbongkar, dia mungkin akan berada di dalam masalah. Katakanlah bahwa Martins Group tidak akan mempermasalahkan tindakannya karena memandang wajah ayahnya. Tapi bagaimana dengan Tanta? Dia telah bentak memakan uang presiden perusahaan Agro chemical tersebut.


"Mengapa kau masih di sini?"


Hendro tersedak dan buru-buru mengangguk, lalu segera melangkah meninggalkan Namora.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2