Namora

Namora
Dilema


__ADS_3

Namora terduduk sendirian di kafe. Sepertinya dia sedang memikirkan apa yang dikatakan oleh ayahnya ketika mereka berbincang tadi.


"Koneksi. Uang bukan segalanya," kata Namora dalam hati.


Ting.., ting.., ting... Namora memukul-mukul 'kan sendok teh di atas gelas susu coklat di depannya. Kelihatannya tindakan yang dilakukannya ini sangat iseng. Tapi sebenarnya dia sedang memikirkan tentang koneksi yang dimaksud oleh ayahnya.


Koneksi? Jika itu sejenis harta yang langka, jenis makanan yang mahal dan enak, ataupun jenis buah-buahan, tentu dengan mudah dia bisa mencari. Tapi ini adalah koneksi yang dimaksudkan adalah jaringan orang-orang yang dia kenali dan bisa diandalkan. Tentunya orang-orang seperti ini bukanlah orang-orang sembarangan.


Dia sangat faham tentang kemampuannya. Terutama diusianya yang masih sangat muda. Mana ada orang yang berpengaruh bisa berteman dengannya.


"Apa aku harus membuat keributan baru bisa menarik perhatian orang-orang ini? Tapi.., keributan seperti apa? Apakah aku harus menggoncang dunia bisnis sekali lagi seperti yang aku lakukan beberapa waktu yang lalu?" Namora memikirkan ketika hampir separuh dari staf Martins Group yang telah dia pecat. Bahkan, ada ratusan orang-orang dari organisasi Dragon Empire di berbagai cabang yang dia pekerjakan di kawasan konstruksi. Terkadang memikirkan ini, Namora menggelengkan kepalanya sendiri. Betapa kejamnya dia waktu itu.


"Koneksi. Mau pecah kepala ku,"


Namora tidak menghabiskan minumannya. Dia bangkit berdiri, meletakkan beberapa uang di atas meja, kemudian melangkah meninggalkan kafe menuju sepeda motor miliknya yang terparkir tidak jauh.


Ketika tiba di sepeda motornya, dia pun tidak langsung pergi. Tapi dia seperti mengingat sesuatu. "Kota Rantau tidak terlalu jauh dari Dolok ginjang. Apakah Kakek Lalah atau kakek Poltak mengenal beberapa pejabat atau orang yang berpengaruh di kota itu?"

__ADS_1


Namora mengeluarkan handphone miliknya, kemudian langsung menghubungi Lalah untuk menanyakan sesuatu.


"Halo beruang kutub. Mengapa tiba-tiba kau ingat dengan kakek mu ini?" Tanya satu suara serak-serak basah dari seberang sana.


"Halo juga kakek. Bagaimana kabar kakek?" Tanya Namora sekadar untuk berbasa-basi.


"Langsung saja. Apa yang kau butuhkan?" Tanya Lalah langsung pada intinya.


"Kek. Ayah ku memberikan tugas kepadaku untuk memenangkan tender proyek di kota Rantau. Katanya proyek itu adalah pembangunan pabrik kelapa sawit. Apakah kakek memiliki kenalan dari kota Rantau itu kek?"


"Hmmm. Kenalan?" Lalah berhenti sejenak. Sepertinya dia sedang berpikir. Setelah agak lama, dia pun berkata, "ya. Orang seperti kakek mu ini di masa mudanya memiliki banyak kawan dan lawan. Tidak ada yang tidak kakek kenal. Hanya saja, tidak tau kenalan yang seperti apa yang kau maksud ini," kata Lalah seolah-olah sedang menguji Namora.


"Hmmm. Kalau itu bisa diatur. Hanya saja, apa kau sudah menyelidiki siapa saja pesaing mu nantinya? Kakek hanya akan membuka jalan. Tapi kau harus tau. Jika Jhonroy juga mengincar proyek ini, akan sangat sulit untuk memenangkannya,"


"Itu dia masalahnya kek. Tapi apapun yang terjadi, aku menginginkan proyek itu sebagai pembuktian diri. Untuk membuat urusan dengan Jhonroy, aku harus tampil sebagai pesaing yang kuat. Aku tidak akan membiarkan dia melenggang mulus memenangkan proyek itu. Andaipun aku kalah, aku ingin memastikan bahwa kemenangannya di raih dengan kondisi berdarah-darah,"


"Hahaha. Anak-anak jaman sekarang. Sungguh memiliki darah yang sangat panas. Apa kau tidak jera dengan apa yang sudah kau alami akibat berselisih dengan Jhonroy? Dia bisa melakukan apa saja untuk mencapai tujuannya. Apa kau tidak takut nyawamu terancam?"

__ADS_1


Namora merasakan darahnya meluap seketika ketika mendengar bahwa Lalah mengingatkannya akan konsekuensi dari tindakan berseteru dengan Jhonroy.


Bukankah dia sudah berada dalam situasi ini? Justru dia ingin mencari gara-gara agar bisa segera menyelesaikan perselisihan antara dirinya dengan Jhonroy. Bila perlu, dia akan segera membalas setiap apa yang dilakukan oleh orang tua itu kepadanya. Dan setiap satu, akan dibalas dengan sepuluh kali lipat.


"Kek. Aku tidak pernah mencari lawan. Selama ini, mereka lah yang terus mengejar ku. Bahkan, sebelum itu, perusahaan terlebih dahulu digerogoti oleh mereka dengan memasukkan orang-orang mereka sebagai staf, mitra dan tenaga pekerja. Mulai dari manager pemasaran, sampai pada mitra kerja yaitu Tanta, setelahnya, mereka memasukkan Ardi dari Pilar Mandiri sebagai kontraktor pemborong. Alhasil apa? Perusahaan mengalami kerugian dengan dana pengeluaran yang membengkak, tapi kualitas kerja dibawah standar. Beruntung aku cepat mengetahuinya. Jika tidak? Mungkin setahun lagi Martins Group akan gulung tikar. Aku mengambil alih perusahaan Agro chemical adalah sebagai bentuk kompensasi atas kerugian yang mereka timbulkan. Jadi, apa menurut kakek aku ini salah?" Tanya Namora berapi-api.


"Kau tidak salah. Tapi mereka juga sangat egois.


Begini saja. Untuk urusan koneksi, kau bisa mempercayakan semuanya kepada kakek. Sisanya, kau harus melakukan rapat dengan para pemegang saham di dalam perusahaan. Aku menduga bahwa akan ada upaya untuk menghalang-halangi Martins Group untuk mengambil apapun proyek. Itu hanya kemungkinan. Selebihnya, kau harus menyelidikinya sendiri," kata Lalah memberikan pendapatnya.


"Memang itu juga yang ada dalam pikiran ku, kek. Ayah juga mengatakan bahwa tidak mustahil para pemegang saham di Martins Group juga ada yang berkhianat. Jika tidak, mengapa setiap proyek yang berada diluar lima kabupaten selalu dimenangkan oleh Agro finansial Group. Pasti ada yang mencoba mengkhianati Martins Group. Aku harus segera menangkap tikus ini. Jika tidak, percuma saja aku diberikan amanah ini oleh ayah ku,"


"Lalu, apa yang akan kau lakukan andai kau mengetahui bahwa para pemegang saham itu adalah orang-orang yang bermuka dua?" Tanya Lalah kembali menguji Namora.


Namora tidak langsung menjawab. Hanya saja, dia sudah diberikan wewenang penuh serta dana yang cukup. Jadi, dia pasti tidak akan tunduk kepada mereka.


"Jangan katakan kau akan memaksa mereka untuk memuntahkan saham mereka! Jika itu terjadi, perusahaan pasti akan berada dalam krisis. Jika kau nekat membayar harga saham mereka, keuangan perusahaan akan terganggu. Jika uang di dalam kas mengering, bagaimana kau akan mengoperasikan perusahaan?" Sebelum Namora menjawab, Lalah sudah memotong duluan seolah-olah dia mengetahui jalan pikiran Namora.

__ADS_1


Kembali Namora menggaru kepalanya. Memang itu yang ada di dalam pikirannya. Makanya tadi ketika berbicara dengan ayahnya, dia menginginkan dana yang besar. Tapi, andai dia memiliki dana yang besar pun, tidak mungkin dia melikuidasi semuanya secara langsung. Apalagi saat ini perusahaan bukan dalam keadaan yang baik. Sukur-sukur tidak bangkrut.


__ADS_2