
...SMA negeri Tunas Bangsa...
Beberapa siswa tampak sedang duduk-duduk berkelompok di depan kantin sekolah. Mereka terlihat sedang membahas tentang Namora yang sudah lima hari tidak masuk ke sekolah.
Wajar, karena semenjak Namora memenangkan turnamen kejuaraan pencak silat yang diadakan di Dolok ginjang, popularitasnya meroket dan mendadak menjadi selebriti di sekolah. Setiap anak laki-laki tidak sungkan ingin lebih dekat dan berteman dengannya. Sedangkan bagi para siswi, mereka jelas mendambakan seseorang pemuda yang cakap seperti Namora. Bukan hanya tampan, akan tetapi Namora sangat tangguh. Wanita yang mana yang tidak menginginkan kekasihnya mampu melindungi dirinya dan membuatnya merasa aman dan nyaman. Dan semua itu dapat mereka lihat ada pada diri Namora.
Namora sendiri sebenarnya tidak tau bahwa kini dia sudah menjadi selebriti di sekolah. Selama ini, selain Jol, tidak ada yang benar-benar menganggap dirinya ada. Dia sempat merasakan kebaikan orang lain selain Jol. Mereka adalah Jericho, Jaiz, James, Julio, Jufran dan Juned. Hanya saja, hubungan itu pecah berderai ketika mereka mengabaikan Namora ketika menghadiri acara ulang tahun Merisda ketika itu. Sejak setelah itu, Namora bahkan tidak mau lagi menoleh ke arah mereka.
Saat ini, perbincangan diantara anak-anak J7 itupun mengarah kepada Namora yang sudah tidak masuk ke sekolah hampir seminggu.
"Eh, Jol. Kau kan sangat dekat dengan Namora. Apa kau tau mengapa juara kita itu tidak sekolah?" Tanya Jufran membuka pembicaraan tentang Namora.
Memang, keadaan Namora saat ini sangat dirahasiakan. Tidak banyak orang yang mengetahui keadaannya saat ini. Makanya mereka tidak mengetahui apa-apa. Bahkan, Jol, ketua mereka pun tidak mengetahui walaupun sangat akrab dengannya.
"Entahlah, Juf. Aku juga tidak mendengar kabar dari Namora setelah dia ditahan di Dolok ginjang oleh pihak kepolisian sana," jawab Jol yang juga sama-sama tidak mengetahui berita tentang Namora setelah berpisah di Dolok ginjang.
"Apa jangan-jangan dia masuk penjara gara-gara kematian Diaz?" Jericho mencoba menebak.
"Tidak mungkin. Kalaupun dia masuk penjara, sudah pasti kepala sekolah mengetahuinya. Lagi pula, kematian Diaz itu murni kecelakaan di atas ring. Mana bisa dituntut. Keterangan dalam pertandingan itu jelas dan menggunakan kuasa hukum. Apa menurutmu pertandingan itu ilegal?" Bantah Jaiz pada Jericho.
Jol mencibir di dalam hatinya. Dia jelas tau bahwa Namora sudah tidak ingin lagi berteman dengan mereka. Untuk apa mereka sok sibuk ingin mengetahui tentang Namora. Tapi, Jol tetap diam sebelum Juned menepuk pundaknya.
"Jol. Kau kan sangat dekat dengan Namora. Mengapa kau tidak mencoba mengunjunginya saja?,"
"Kau mau ikut?" Tanya Jol dengan senyum mengejek.
Juned spontan menggelengkan kepalanya. Dia tau bahwa Namora sangat tersinggung dengan tindakan mereka ketika itu. Dia sangat ingat bahwa Namora mengatakan bahwa setelah malam ini, Namora telah mati dan Namora yang esok adalah Namora yang baru. Dia juga mengatakan bahwa mereka memang berteman, tapi tidak karib.
Sebenarnya bukan hanya Juned saja. Yang lain juga tau bahwa mereka memang bersalah. Mereka ingin memperbaiki, tapi Namora tidak memberikan mereka kesempatan dan terus menjaga jarak dengan mereka.
"Kalau kalian tidak mau, aku akan pergi sendiri setelah jam belajar selesai," kata Jol sembari bangkit berdiri karena sebentar lagi jam belajar akan dimulai.
Melihat Jol bangkit dari duduknya, yang lain pun mengikuti dan segera berjalan untuk menuju ke kelas masing-masing.
__ADS_1
*********
Di perumahan dinas kepolisian kota Batu, Namora tampak tertatih melangkah. Sesekali dia memegangi bagian pada dinding kamarnya untuk menyanggah tubuhnya agar tidak ambruk. Dia berusaha keras untuk mengembalikan staminanya seperti sediakala walaupun harus menahan beberapa keluhan karena tenaganya masih terlalu lemah.
Dia melangkah keluar dari kamarnya dengan niat ingin menghirup udara segar. Terasa sangat membosankan berada di dalam kamar.
Jika bukan karena Mirna yang melarang agar dia tidak keluar, mungkin sejak pagi dia akan keluar dari kamar dan duduk di teras rumah.
Beruntung Mirna saat ini tidak berada di rumah karena harus berbelanja. Jadi, dia mencuri kesempatan ini untuk meninggalkan kamarnya.
Tiba di luar, dia melihat bahwa pak Harianto sedang duduk di kursi dengan sebatang rokok daun terselip diantara bibir keriputnya, dan segelas kopi pekat yang masih mengepulkan asap tepat didepannya. Tampak orang tua itu sangat menikmati sekali.
"Kau sudah bisa berjalan?" Tanya pak Harianto tanpa menoleh kearah Namora.
Namora tertatih-tatih menghampiri lelaki tua itu, kemudian menyalami tangannya. Ada aroma tembakau yang sangat tidak disukai oleh Namora pada tangan itu.
"Bagaimana dengan luka pada tubuhmu?" Kembali pak Harianto bertanya.
"Belum sembuh kek. Sesekali masih terasa nyeri," jawab Namora. Dia merinding ketika melihat ke cermin bagaimana ada bekas luka sayatan yang cukup banyak pada tubuhnya. Yang lebih tidak dia ketahui adalah, bagaimana dia bisa selamat? Padahal, penyerangnya ketika itu sangat ingin membunuhnya.
Pak Harianto menggelengkan kepalanya. "Bagaimana bisa aku yang menyelamatkan mu. Aku mengetahui keadaan mu karena Rio yang memberitakan. Tapi, apapun itu, yang terpenting sekarang kau masih hidup,"
Namora mengangguk. Kemudian dia berusaha mengingat apa yang terjadi sebelum dirinya benar-benar pingsan.
Terlintas dibenaknya ketika itu, sebelum dirinya kehilangan kesadaran bahwa ada suara berdenting yang membuat katana milik Takimura terbuang ke tanah. Sisanya dia tidak tau lagi. Hanya saja, mengapa katana milik Takimura bisa terpental? Padahal sudah sedikit lagi akan mengenai tubuhnya.
Namora bergidik juga ketika membayangkan kepalanya terpisah dari badan andai katana milik Takimura tidak terpental. Tapi itu hanya sesaat. Karena, saat ini sorot mata Namora menjadi dingin dan dalam benaknya saat ini hanya ada satu kata. Yaitu, balas dendam.
"Apa yang kau pikirkan?" Tanya pak Harianto ketika melihat Namora seperti orang linglung.
Namora menggeleng. Dia masih larut dalam pikirannya.
"Kau terlalu takut. Di sisi lain, kau juga terlalu marah. Rasa takut akan menghambat langkah mu, karena setiap kau ingin mengambil langkah dan keputusan, kau akan penuh keraguan. Sedangkan kemarahan akan mengeruhkan pikiranmu. Jika kepalamu dikuasai oleh kemarahan, kau tidak akan mempu berpikir jernih yang juga akan mempengaruhi setiap keputusan yang akan kau ambil. Kau terlalu hijau untuk dunia kekerasan seperti ini. Tapi jika kau tidak mengalaminya sendiri, bagaimana kau bisa tau seperti apa rasanya. Seorang pejuang akan benar-benar dikatakan pejuang setelah mengalami dan menempuh banyak pertempuran. Percuma memiliki kekuatan jika tidak digunakan, maka akan berakhir bersama angan-angan kosong belaka. Teori hanya akan menjadi omong kosong jika praktek nya gagal. Setiap orang memiliki bakatnya masing-masing. Tapi bakat akan berkarat jika tidak di asah. Aku mengajarkan semua yang aku miliki kepadamu. Namun, untuk mengembangkan, mengasah dan meresapi setiap yang aku ajarkan, adalah dengan menemukan lawan yang tangguh, dan kau harus bisa melaluinya. Kau telah menemukannya dan kau sudah mengalaminya sendiri. Setidaknya kau akan berpikir bagaimana untuk kedepannya. Kecuali jika memang otak mu terlalu bebal,"
__ADS_1
"Bagaimana orang yang berkelahi tidak marah?" Bantah Namora tidak senang karena nasehat dari pak Harianto ini benar-benar terasa memojokkannya.
"Semuanya ada takarannya. Jika berlebihan, tidak akan baik. Aku telah berulang kali mengatakan kepadamu bahwa untuk menguasai diri sendiri, harus menggunakan hati. Untuk menguasai orang lain, harus menggunakan otak. Jika kau dikuasai kemarahan, bukan hanya kau tidak bisa menggunakan hati, tapi otak mu juga tidak akan bisa berpikir jernih. Kau akan gagal menguasai dirimu. Bagaimana untuk menguasai orang lain jika dirimu sendiri tidak mampu kau kuasai?"
"Jadi, yang selama ini salah ya kek?"
"Salah. Sejuta persen salah! Kau seperti lembu gila yang sradak-sruduk sesuka jidat mu saja. Jangan terlalu egois. Pikirkan orang-orang yang berada disekitar mu. Kau bukan sebatang kara. Apa kau tidak tau bahwa ketika kau koma, semua orang menjadi susah. Terlebih lagi, aku mendengar kau ingin menyerang ke kota L karena kematian anak buah mu. Pikiran gila seperti apa itu? Kalau mau gila, jangan nanggung. Sekalian kau ku pasung saja!" Marah pak Harianto.
Namora tidak mampu mendongak untuk menatap wajah pak Harianto. Dia tau ketika dia siuman, dia melihat wajah-wajah kelelahan terlihat di wajah mereka. Terlebih lagi ibunya.
"Lalu, apakah Namora tidak boleh membalas mereka?" Tanya Namora sambil tertunduk menatap ujung jempol kakinya.
"Kau bisa membaca situasi. Kau harus bisa mengukur kekuatan yang kau miliki. Orang hebat itu tau kapan dia harus maju, dan tau kapan harus mundur. Tidak perlu malu untuk mundur. Dalam permainan catur, dibutuhkan langkah mundur untuk memperbarui strategi,"
"Bukankah pertahanan yang baik itu adalah menyerang?" Namora masih tidak mau mengalah.
"Apakah kemampuan mu bagus dalam setiap aspek? Jika kau tidak sempurna dan merasa memiliki kekurangan, maka langkah mundur harus diambil. Apakah menurut mu ketika kau menyerang, lawan mu tidak bisa melakukan serangan balik?"
"Serangan balik hanya bisa dilakukan oleh lawan ketika kita mundur, Kek?!"
"Namora..., Namora. Bodoh mu itu keterlaluan. Ada istilah, untuk mengetahui kekuatan pertahanan lawan, kita harus melakukan serangan. Namun, untuk menguji kekuatan serangan lawan, kita harus bertahan. Dalam gerakan bela diri, bukan hanya langkah maju yang dilakukan. Selain maju, ada juga langkah mundur, kemudian gerakan menghindar. Apa kau pikir ketika lawan menyerang, maka dia tidak membuka kelemahan? Ketika tangan mu mengayunkan pukulan, maka jelas bahwa bagian rusuk mu sudah tidak terlindungi lagi. Hindar, serang balik adalah langkah yang bijak ketika kau mengambil jalan mundur untuk bertahan. Mengerti?"
"Namora akan memikirkan dengan hati-hati kek," kata Namora sambil garu-garu kepalanya.
"Apapun itu, baik dalam dunia bisnis, dunia hitam dan di kehidupan bermasyarakat, ada istilah pertimbangan. Kapan harus maju, kapan harus mundur. Kapan harus berdamai, dan kapan harus berperang. Jangan terlalu membenci musuh mu. Kau membutuhkan orang-orang yang seperti itu untuk mengasah kearifan dalam berpikir. Pada akhirnya, hal itu lah yang akan mendewasakan mu. untuk melihat wajah, kita membutuhkan cermin. Untuk menakar kemampuan, kita membutuhkan lawan. Untuk mengetahui seperti apa diri kita, kita membutuhkan pengkritik. Kau tau seperti apa nikmatnya kesehatan ketika kau mengalami kesakitan. Kau hanya bisa dikatakan bangkit, ketika kau pernah terjatuh. Semuanya ada hikmah. Dan untuk menggali hikmah itu, hanya orang yang memiliki hati dan jiwa yang besar saja yang mampu melakukannya. Karena, orang yang memiliki hati dan jiwa yang kerdil hanya bisa mengeluh, kemudian menyalahkan keadaan. Kemudian, mulai mengatakan bahwa Tuhan itu tidak adil. Celaka sungguh manusia yang seperti itu,"
"Sudah selesai kek? Kepala ku sakit?"
"Beristirahat lah. Hari-hari yang akan kau lalui sangat berat. Aku tau bahwa kau anak yang baik. Kau tidak perlu mencari lawan untuk saat ini. Karena, lawan yang akan mencari mu. Ingat pesan ku tadi. Kau jangan merasa macho hanya karena kau tidak mundur. Sebaliknya, itu bukan lelaki tangguh. Tapi bodoh. Lawan mu kali ini cukup berat. Akan tetapi, jika kau bisa menghadapinya dengan kepala dingin, kau akan dapat memenangkan pertarungan ini. Kau sudah memiliki kekuatan, sumber daya dan orang-orang yang mendukung mu. Walaupun kau hanya alat, jadilah alat yang bijak!"
"Namora mengerti kek,"
"Jangan terlalu cepat mengatakan mengerti. Sebaliknya, pikirkan dan renungi yang aku ajarkan,"
__ADS_1
Namora mengangguk. Dia tidak berkata apa-apa lagi. Kepalanya cukup sakit mendengar wejangan ini. Sedikitpun dia tidak mengerti. Tapi, bukan berarti dia tidak akan memikirkannya. Terkadang, banyak wejangan yang diberikan oleh orang tua tidak dapat dimengerti saat itu juga. Dan itu bisa dimengerti ketika kita benar-benar berada didalam situasi tersebut.
Bersambung...