Namora

Namora
Tanta yang salah sasaran


__ADS_3

"Bergerak!" Zack yang melihat Namora telah pergi mengendarai sepeda motornya dengan diapit oleh tiga kendaraan roda empat segera memerintahkan kepada bawahannya untuk segera membayangi pergerakan mereka. Sementara itu, dia sendiri segera menghubungi Ameng dan menceritakan semuanya.


Kurang dari dua puluh menit, akhirnya Namora pun tiba di satu tempat di area lapangan. Dia memperhatikan bahwa kawasan ini adalah tempat seluruh armada pengangkutan. Dia dapat menebak dengan tepat bahwa ini pastilah markas besar perusahaan Pilar Mandiri.


Namora turun dari sepeda motornya, lalu memperhatikan. Dia melihat puluhan bahkan ada ratusan orang-orang sedang beraktivitas. Sepertinya mereka adalah orang yang berprofesi sebagai montir. Hanya saja, Namora merasa bahwa ini hanyalah kedok. Karena, dia dapat melihat bahwa tatapan orang-orang ini sangat tidak ramah.


"Ternyata di sini markas kalian," pikir Namora dalam hati. Tiada ekspresi diwajahnya. Jika itu adalah orang lain, sudah pasti mereka akan segera ketakutan. Tapi Namora hanya menatap dingin dan terus melangkah mengikuti dua orang lelaki berbadan tegap didepannya.


Memasuki sebuah ruangan di salah satu gudang, kini Namora dapat melihat tiga orang lelaki yang dia kenal sebagai Tanta, Ardi dan abangnya bernama Arda.


Sepintas sorot matanya menjadi berapi. Dia mengingat seperti apa dulu dirinya dipermalukan.


"Tidak disangka ternyata kau yang bernama Namora itu. Pantas saja aku merasa sangat familiar dengan nama mu," Arda menghampiri Namora. Dia memperhatikan pemuda itu seolah-olah sedang menilai.


Namora mencibir. Dia tidak menunjukkan ketakutan walaupun dirinya saat ini sedang dikelilingi oleh orang-orang. Malah, dengan santai dia melangkah ke arah Tanta yang duduk di kursi. Dia kemudian menoleh seperti sedang mencari sesuatu. Karena dia tidak menemukan, kini dia duduk di atas meja tepat di depan Tanta.


Wajah Tanta menghitam melihat ketidaksopanan Namora. Tapi Namora malah mendengus. "Begini cara kalian menyambut tamu?"


Tanta melupakan sejenak kemarahan dihatinya. Dia mencoba untuk tersenyum, lalu berkata, "Namora. Apa kau tau mengapa aku membawamu ke sini? Aku tau latarbelakang mu. Siapa ayah mu dan kekuatan seperti apa yang ada dibelakang mu. Hanya saja, semua itu tidak berlaku di sini. Ayah mu masih satu bulan lagi baru bebas dari penjara. Sedangkan saat ini, kekuatan kalian hanya terpusat di kota Kemuning. Menurutku, kau terlalu berani. Jika aku jadi kau, aku tidak akan datang ketempat seperti ini,"


"Begitu? Aku justru khawatir sebentar lagi kau akan berlutut, dan Pilar Mandiri akan segera bangkrut,"


"Sial. Kau terlalu banyak bicara," Ardi yang mendengar bahwa Namora mengatakan perusahaan akan segera bangkrut segera membentak.


"Apa kau tidak mempercayai ku? Aku bisa membuat perusahaan mu bangkrut hanya dengan satu kata!"


"Hahaha. Sangat disayangkan bahwa kau tidak akan bisa berkata-kata," Ardi mencibir.

__ADS_1


Berbeda dengan Ardi. Tanta yang sejak tadi memperhatikan, segera tertarik dengan ucapan Namora tadi. "Namora. Apa maksud dari perkataan mu tadi?"


"Agro Chemical dan Pilar Mandiri diketahui telah berkolaborasi dan menyelundupkan berbagai bahan baku untuk bangunan. Lalu, kalian mendistribusikan bahan tersebut ke perusahaan luar. Untuk menutupi korup yang kalian lakukan, kalian mengurangi kualitas bangunan sehingga beberapa bangunan tidak layak standard. Saat ini, team investigasi sedang menjalankan penyelidikan mereka. Andai terbukti bersalah, maka perusahaan kalian akan diboikot," Jawab Namora dengan santai.


Semenjak dia mengetahui bahwa orang yang menghina dirinya memiliki hubungan dengan Agro chemical, dia sudah berjanji di dalam hatinya bahwa dia akan berperang sampai akhir. Apa lagi sejumlah pengakuan dari manager lapangan serta beberapa staf semakin menguatkan tuduhan tersebut. Tinggal menghitung hari untuk melihat bahwa Pilar Mandiri akan mengalami kebangkrutan. Nama perusahaan akan tercoreng dan dipastikan tidak akan ada lagi yang menggunakan jasa mereka di masa depan.


Mendengar penjelasan dari Namora, baik Tanta, Arda dan Ardi sangat terkejut. Dia tidak menyangka bahwa ketika mereka disibukkan untuk mencari tau tentang identitas Namora, Namora justru memanfaatkan ini untuk bergerak cepat membongkar kebusukan perusahaan mereka. Tidak disangka, tadinya dia ingin menculik Namora untuk ditukar dengan kesepakatan kerja akan berbalik menjadi ancaman nyata bagi mereka.


Arda menggeram panik. Dia jelas tau konsekuensinya jika hal ini benar-benar terbongkar.


"Namora. Apa kau kira kau bisa menuntut kami?" Tanya Ardi cemberut.


"Mengapa tidak? Seharusnya, sebelum kalian melakukan penipuan, kalian harus memikirkan bahwa hari ini akan tiba," datar tanpa nada, suara Namora menusuk ditelinga mereka.


Tiba-tiba Tanta tertawa terbahak-bahak. "Hahahahaha. Apa kau kira bisa menuntut ku? Aku akan membereskan mu. Aku ingin melihat betapa hancurnya perasaan ayahmu ketika keluar dari penjara, anaknya sudah dimakan cacing tanah,"


Bukannya ketakutan, Namora malah memberikan peringatan keras kepada mereka.


"Kau salah menargetkan aku. Hari ini aku pastikan akan membereskan kalian. Ini aku anggap sebagai hadiah dariku untuk menyambut kebebasan ayahku sebentar lagi," Namora mulai merosot dari meja yang dia duduki, kemudian dia berdiri tegak dengan wajah kaku seperti sebongkah es.


"Kurang ajar. Tangkap anak ini. Aku ingin menukarnya dengan 70% saham di Martins Group!" Tanta berteriak kepada puluhan orang yang berada di dalam. Tapi sebelum mereka sempat bergerak, keributan terjadi di luar diiringi dengan pekik dan teriakan dari orang-orang Pilar Mandiri.


"Apa yang terjadi?"


Tanta, Arda dan Ardi saling pandang dengan alis nyaris bertaut.


Namora menyeringai jelek, lalu berkata. "Apa kau tidak merasa aneh mengapa begitu mudah membawaku ke sini. Sejujurnya, aku memang mengumpankan diriku untuk memancing kalian. Aku tidak menyangka bahwa kalian terlalu bodoh untuk itu,"

__ADS_1


"Apa...?!"


Brak...!


Tiba-tiba pintu ruangan itu ditendang dari luar. Setelahnya, puluhan orang bersenjata tajam menyerbu ke dalam membuat orang-orang bawahan Tanta menjadi terkepung dan tidak memiliki semangat untuk melawan.


"Bereskan secepatnya!"


Zack mengangguk dan memerintahkan untuk menyerang. Sementara itu, orang-orang yang berada dibawah Tanta tidak sempat bereaksi. Mereka baru sadar ketika mereka sudah dilumpuhkan.


Orang-orang yang menerobos masuk tadi jelas adalah orang-orang yang sangat terlatih. Mereka menebas dengan senjata tajam. Tapi hanya bagian-bagian tertentu saja di tubuh mereka yang terluka. Dan itu adalah titik-titik yang melumpuhkan.


Tanta, Ardi dan Arda mendadak lumpuh ketika ini. Walaupun mereka tidak terluka, mereka dapat merasakan bahwa dirinyalah yang terluka. Tidak dapat dibayangkan betapa ketakutannya mereka saat ini.


"Kalian ingin memeras Martins Group kan? Berapa persen tadi?" Namora melangkah perlahan mendekati Tanta yang saat ini terduduk dilantai.


"Aku akan memberikan kesempatan kepadamu untuk hidup. Tapi ada syaratnya. Serahkan ekuitas 50% saham milik Martins Group kepadaku! Kemudian, tandatangani peralihan mayoritas saham di Agro chemical, dan aku akan memberikanmu uang saku sebesar 100 ribu rupiah,"


"Apa? Kau jangan gila. Perusahaan Agro chemical adalah perusahaan keluarga turun temurun. Aku tidak akan memberikannya,"


"Tandatangani ini!" Namora tidak mendengar penolakan dari Tanta. Sebaliknya, dia melemparkan dokumen pemindahan saham milik Agro chemical.


Dokumen itu jatuh tepat di depan Tanta yang sudah memucat.


"Namora. Tolong ampuni aku. Aku akan mengakui bahwa aku memang meminta kepada Arda untuk menurunkan kualitas bahan baku bangunan. Hanya saja, apakah kesalahan seperti itu tidak berlebihan jika harus dibayar dengan saham mayoritas di perusahaan Agro chemical?"


Namora mendengus. Dia tidak ingin terlalu banyak bicara. Kemudian, secepat kilat, Namora bergerak menghampiri Tanta. Lalu...,

__ADS_1


"Aaaaaa...!" Teriakan kesakitan keluar dari mulut Tanta setelah pena yang tadi tergeletak di lantai, digunakan oleh Namora untuk menikam tangan kirinya.


Bersambung...


__ADS_2