Namora

Namora
Amukan Namora di pasar Sabtu


__ADS_3

"jangan kasar begitu bang sama orang tua!" Kata pemuda yang tidak lain adalah Namora kepada preman pasar itu. Suaranya datar, tanpa ekspresi dan tatapannya tampak kosong.


"Heh budak kecil. Jangan ikut campur kau. Lepaskan tangan ku!" Kata lelaki itu marah. Lalu dia menarik tangannya dengan paksa. Tapi apa? Cengkraman tangan Namora seperti jepitan besi yang sulit untuk dilepaskan.


"Aku bilang. Jangan terlalu kasar sama orang tua!" Sekali lagi Namora mengucapkan perkataan yang sama.


"Siapa kau? Apa kau tidak tau siapa kami hah?" Teman lelaki tadi bertanya.


"Aku? Siapa aku? Aku adalah orang yang akan membuat perhitungan sama kalian," tegas Namora masih tidak melepaskan tangan lelaki itu.


"Adik kecil. Jangan ikut campur dalam urusan kami. Terakhir kali ada yang ikut campur, tapi sampai sekarang orang itu masih belum sadarkan diri di rumah sakit," kata pria itu mencoba menakut-nakuti Namora.


"Aku malas mengulang perkataan," makin dingin nada suara Namora.


"Baj*ngan anak ini. Belum tau siapa kami hah? Kami ini adalah orang-orang Dragon Empire. Kau pasti mati hari ini," kata lelaki itu mulai gusar. Dia mulai mengambil ancang-ancang untuk menyerang. Hanya saja, sepertinya Namora telah mendahului.


Darah Namora langsung mendidih begitu mereka menyebut nama Dragon Empire. Baginya, mereka telah menghina nama besar Dragon Empire dengan menindas pedagang kaki lima. Apa lagi itu adalah orang tua. Dengan begitu, Namora langsung mengirim tendangan yang langsung menghantam teman lelaki yang tangannya dipegang oleh Namora, kemudian meninju perut lelaki yang tangannya dipegangnya tadi.


Plak...!


Bugh...


"Uhuk...!"


Bugh..!


"Agh...!"


Lelaki tadi dikirim terbang dengan tendangan Namora hingga menabrak kios di seberang jalan. Sedangkan yang satunya lagi muntah darah akibat menerima dua tinju dari Namora yang menghantam perut dan dadanya.


"Dragon Empire kata mu?"


Namora berjalan menuju lelaki yang menabrak kios tadi, kemudian menjambak rambut lelaki itu.


Plak...!

__ADS_1


Plak...!


Plak..!


Tamparan demi tamparan menghantam pipi lelaki itu menyebabkan tiga atau empat giginya copot.


"Kau menghina nama organisasi Dragon Empire dengan menindas pedagang kecil. Dragon Empire tidak main di pasar kecil seperti ini,"


Namora mengambil sebuah semangka yang beratnya hampir lima kilogram, lalu menghantamkannya ke kepala lelaki itu hingga semangka itu hancur berderai diikuti lolongan lelaki itu.


Karena dia tergeletak di jalan, membuat benturan semangka itu mengakibatkan kepalanya tertekan di tanah keras hingga mengeluarkan darah. Tapi sulit membedakan merah darah karena isi dari semangka itu juga merah.


Di sisi lain, lelaki yang batuk darah akibat tinju Namora tadi langsung berdiri tegak. Dia menunjuk ke arah Namora, kemudian mengancam. "Kau tunggu. Aku akan memanggil teman-teman ku. Kau tidak akan bisa meninggalkan tempat ini!" Katanya sambil melarikan diri.


"Nak. Terimakasih karena sudah membantu ibu. Tapi, mereka sangat berbahaya. Sudah banyak korban dari ulah kelompok mereka. Sebaiknya kau cepat lari sebelum mereka datang dengan orang-orangnya!" Si ibu penjual sayur itu memperingatkan. Tampak jelas di wajahnya bahwa dia sangat ketakutan.


Namora tidak menjawab. Sebaliknya dia mengeluarkan handphone, lalu melakukan panggilan.


"Hallo Mora. Dimana kau sekarang?" Tanya satu suara di seberang sana ketika panggilan yang dilakukan Namora tadi tersambung.


"Paman Ameng. Aku di pasar Sabtu. Sedikit ada masalah. Ada beberapa cecunguk yang mengaku sebagai anggota Dragon Empire dan memeras para pedagang. Dua dari mereka sudah mendapatkan bagiannya. Tapi masih ramai yang akan datang,"


Namora mengakhiri panggilan, kemudian memasukkan kembali handphonenya ke dalam saku, kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang untuk membayar kerusakan akibat perkelahiannya tadi.


"Kau. Ikut aku!" Kata Namora sembari menjambak rambut lelaki yang setengah pingsan itu, lalu menyeretnya untuk keluar dari area pasar itu. Sedangkan pak Karim tinggal untuk menghibur si ibu yang barang dagangannya telah hancur berantakan.


Di luar area pasar, Namora berdiri dengan kokoh menunggu kedatangan orang-orang yang mengatasnamakan Dragon Empire demi keuntungan pribadi. Ditangannya, masih ada seorang lelaki yang sekarat terduduk di tanah.


Setiap orang yang keluar masuk dari pasar hanya memperhatikan saja kearah Namora, kemudian beralih ke arah lelaki yang sekarat itu. Mereka jelas mengenali lelaki itu. Ada senyum puas menghiasi bibir setiap orang begitu mereka tau lelaki yang sekarat itu ternyata adalah salah satu dari orang-orang yang suka membuat onar di pasar.


Lebih dari lima belas menit, tampak serombongan orang-orang datang ke arah Namora dengan dipimpin oleh seorang lelaki yang tadi perut dan dadanya ditinju oleh Namora.


Lelaki itu sangat bersemangat sambil menunjuk-nunjuk ke arah Namora. Tapi Namora hanya cuek saja menanggapi orang-orang yang berjarak sekitar lima puluh meter darinya itu. Malah, dia semakin geram, kemudian menendang rusuk lelaki yang sekarat tadi.


"Kau lihat! Itu bala bantuan mu telah sampai," kata Namora. Tapi, lelaki itu tidak mampu menjawab. Dia hanya bisa meringis kesakitan.

__ADS_1


"Itu dia bang. Itu orangnya yang memukuli kami," kata lelaki itu dengan semangat. Dia ingin mengompori orang-orang itu agar mengajar Namora. Bagaimanapun, tinju Namora harus dibalas kan.


"Ini orangnya?" Tanya lelaki yang sepertinya adalah pemimpin dari mereka.


"Betul bang. Dialah orangnya yang menghajar kami," jawab lelaki itu.


Plak!


"Dasar sampah. Menghadapi anak kecil saja kau tidak becus. Makan saja yang kuat. Sial!" Kata lelaki itu sambil menampar kepala lelaki yang ditinju oleh Namora tadi.


"Dia bang. Kuat sekali,"


"Diam!" Bentak pemimpin itu menggelegar. Sedangkan lelaki tadi hanya bisa terdiam setelah dibentak.


"Hei anak muda. Siapa namamu?" Tanya pemimpin itu dengan arogan.


"Kau tidak pantas mengetahui nama ku," jawab Namora sinis.


"Hmmm. Calon bangkai yang sombong. Aku hanya ingin tau namamu agar bisa menuliskannya di batu nisan mu nanti,"


"Otak mu mungkin sudah ditendang keledai. Apa kau tidak mendengar bahwa aku mengatakan, kau tidak pantas mengetahui nama ku. Tapi akan aku katakan bahwa kau telah melakukan kesalahan besar dengan menjual nama Dragon Empire untuk kepentingan mu. Katakan padaku hukuman apa yang pantas untuk anjing seperti mu?!" Namora semakin sinis dan menatap tajam ke arah lelaki pemimpin kelompok itu.


"Sialan. Hei budak kecil. Kau mencari mati,"


"Aku mencari mati? Kau yang akan mati. Tapi itu terlalu enak. Aku akan memberikan hukuman untuk mu dan itu akan sangat menyakitkan. Itulah akibat dari menjual nama organisasi,"


"Huh. Sudahi omong kosong ini. Anak-anak.., serang dia!" Perintah lelaki itu segera diikuti oleh anak buahnya. Mereka segera mengelilingi Namora, kemudian bersiap-siap untuk melakukan serangan pengeroyokan. Tapi, belum beberapa langkah mereka bergerak, dari arah kota Kemuning berdatangan puluhan mobil yang langsung berhenti tepat di samping mereka.


Kedatangan mobil itu spontan membuat mereka menghentikan aksinya, lalu menatap ke arah nomor plat di mobil yang baru tiba itu.


Begitu melihat nomor plat mobil tadi, beberapa orang langsung ketakutan dan mundur beberapa langkah. Mereka tau mobil siapa itu. Dan itu adalah seorang yang tidak bisa diganggu.


"Kalian sudah selesai!" Ejek Namora dengan suara penuh provokatif.


Puluhan lelaki berpakaian serba hitam keluar dari mobil, kemudian setengah berlari membukakan pintu untuk mobil BMW seri 7. Kemudian, keluar lah seorang lelaki paruh baya mengenakan stelan jas kantoran. Ditangannya, lelaki yang baru keluar dari mobil itu terselip sebatang cerutu yang mengepulkan asap.

__ADS_1


"Kalian terlalu berani," kata lelaki itu penuh dengan martabat. Tampak penampilannya sangat mengintimidasi, walaupun lelaki yang baru turun dari mobilnya itu bersikap tenang setenang air di kolam, tapi auranya sangat tak terbatas dan mampu menundukkan orang-orang yang merasa tertindas.


Bersambung...


__ADS_2