
Sepeninggalan Namora dan anak buah Zack, barulah Arda dan Ardi menghampiri Merisda yang saat ini sedang mematung memperhatikan ke arah jalan yang dilalui oleh Namora tadi.
Arda dan Ardi tidak sempat melihat Namora karena kedua Abang dan adik itu baru saja siuman.
Dengan gaya berjalan sedikit limbung, Arda dan Ardi menghampiri Merisda, lalu bertanya. "Apa kau baik-baik saja, dik?"
Merisda menahan tangisnya, kemudian menjawab dengan anggukan.
"Syukurlah kalau kau tidak apa-apa. Tapi, siapa mereka yang menolong kita tadi?" Tanya Arda. Baginya, Merisda pasti tau. Karena, hanya Merisda yang mengetahui dengan jelas semua kejadian.
"Namora," jawab Merisda. Bibirnya menjawab, tapi tatapannya lurus ke arah ujung jalan.
Bagai di sambar petir, Arda dan Ardi sangat terkejut dengan jawaban singkat Merisda tadi. Terlebih lagi Ardi. Dia tidak menyangka bahwa Namora lah yang telah menyelamatkan mereka.
"Celaka kalau begini," tanpa sadar Ardi bergumam seolah-olah sedang mengutuk dirinya sendiri.
"Apa maksud mu?" Arda menatap ke arah adiknya dengan tatapan tanda tanya.
"Jika benar Namora yang menolong kita, berarti anak itu tidak jahat. Tapi celakanya, aku telah menghasut Diaz dan Rudi untuk membunuh Namora di turnamen kejuaraan pencak silat yang akan diadakan besok,"
"Apa?" Arda membelalakkan matanya. Dia tidak begitu tau apa yang dilakukan oleh Ardi dibelakangnya. Karena, ketika itu, dia sedang berada di kota L dan baru saja lolos dari maut. Ketika itu, dia buru-buru menelepon Ardi untuk menemaninya mengirim Merisda ke luar kota agar tidak menjadi sasaran incaran Jhonroy.
Ardi benar-benar merasa sangat bersalah karena rencana yang dia lakukan. Dia terlalu mengikuti kemarahan karena perusahaan Pilar Mandiri miliknya dipaksa bangkrut oleh Namora.
__ADS_1
Sebenarnya pilar Mandiri tidak bangkrut. Hanya saja, Namora memutuskan kerjasama dan tidak menggunakan jasa perusahaan ini lagi di masa mendatang. Akan tetapi, karena perusahaan sebesar Martins Group tiba-tiba memutuskan kerjasama dengan Pilar Mandiri, buntut dari semua ini adalah, berbagai perusahaan lain juga waspada, kemudian ikut-ikutan memutuskan kerjasama dengan Pilar Mandiri. Hanya saja, yang tidak diketahui oleh Ardi adalah, Namora baru saja membuat kekacauan di Dojo kampung baru. Melumpuhkan kakak pertama dan Rudi beserta dengan sekitar dua puluh murid lainnya.
"Bagaimana ini bang? Apakah aku harus kembali dan meminta kepada Diaz agar membatalkan rencana untuk mencelakai Namora?"
"Gila kau ya? Jika kau kembali, itu sama dengan mengantar nyawa. Bukan hanya kau saja. Ayah juga akan ikut terseret. Kita tidak bisa kembali. Sekarang, kita harus mengirim Merisda dulu. Bila perlu, dia kita kirim ke Singapore atau Hongkong. Setelah itu, kita bisa menunggu sampai keadaan menjadi tenang, barulah perlahan kita menunjukkan diri,"
"Lalu, bagaimana dengan Namora?" Ardi masih tidak mau mengalah. Dirinya akan merasa bersalah jika sampai Namora kenapa-kenapa karena ulahnya. Apalagi Namora telah menyelamatkan mereka bertiga. Bagi dirinya, andai tadi dia mati, itu bukan masalah besar, asalkan kehormatan Merisda tidak ternodai. Jika bukan karena Namora membantu, bukan hanya dia dan Arda yang mati. Tapi Merisda juga pasti sudah terenggut kesuciannya oleh Jhonroy. Hutang ini lah yang membuat dia harus melakukan sesuatu.
"Jika itu hanya Diaz, terlalu jauh untuk mengalahkan Namora. Aku tadi melihat dia menumbangkan sepuluh orang pengeroyok sekaligus. Dia hanya butuh sepuluh tendangan untuk menjatuhkan mereka," puji Merisda. Memang tidak berlebihan kalau dia percaya bahwa Namora akan melibas Diaz. Karena, dia telah melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Namora sebenarnya sangat mampu. Bahkan jika ada lima orang seperti Diaz mengeroyok dirinya, Namora tidak mungkin kalah.
Ardi benar-benar berada dalam dilema. Walaupun Merisda mungkin benar, tapi masalahnya adalah, doping yang dia berikan kepada Diaz. Jika doping itu digunakan oleh Diaz dalam jumlah konsumsi yang besar, salah satu dari kedua pemuda itu dapat dipastikan akan mati. Kemudian, di sisi lain jika keberangkatan mereka tertunda, kemungkinan Jhonroy akan segera memburu mereka.
Ardi mencakar-cakar kepalanya sendiri. Bahkan dia tampak sangat enggan ketika Arda menarik tangannya dengan paksa ke arah mobil.
Tiba di mobil, Arda mendesah pasrah melihat keadaan mobil Nissan Almera miliknya mengalami kerusakan parah.
Ardi tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dalam hatinya dia berdoa semoga Namora baik-baik saja.
Tiga puluh menit kemudian, akhirnya mobil itu memasuki area bandara lokal kota Tasik Putri.
Ketiga orang itu segera keluar dari mobil, kemudian segera memasuki toilet. Keadaan mereka saat ini sangat mengenaskan. Bagaimanapun, mereka harus merapikan diri sebelum memasuki pos pemeriksaan.
Dua pasang mata memperhatikan ketiga kakak beradik itu dari tempat yang terlindung.
__ADS_1
"Tuan muda, apa kau yakin bahwa kau tidak ingin menemuinya?" Bisik lelaki berusia sekitar 25 tahun kepada pemuda remaja di sampingnya.
Pemuda itu menggeleng perlahan. Kemudian dia memfokuskan perhatian kepada ketiga orang yang baru saja keluar dari bagian toilet.
Kelihatan bahwa ketiga orang itu kini sedikit lebih segar dan rapi. Walaupun masih jelas terlihat bekas memar di beberapa bagian di wajah kedua lelaki itu.
Pemuda itu memperhatikan gadis yang berjalan diapit oleh kedua lelaki itu. Matanya sedikit sayu. Dia cukup terluka oleh gadis itu. Tapi entah mengapa hatinya tidak ikhlas ketika melihatnya berada dalam kesulitan. Apa lagi ada orang yang berniat untuk mencelakai. Dia bisa saja diam. Tapi, secara alami hatinya akan ikut menderita jika gadis itu dianiaya.
"Zack. Menurut mu apakah aku sudah melakukan hal yang benar?" Tanya pemuda remaja itu kepada orang yang berdiri di sampingnya.
"Menurut ku, gadis itu harus bersyukur karena pernah berkenalan dengan anda," jawab pemuda yang ternyata adalah Zack adanya.
Awalnya, Namora ingin segera pulang ke perumahan dinas kepolisian untuk beristirahat. Akan tetapi, dipertengahan jalan, dia malah berbalik melalui jalan pintas, dan segera menuju ke bandara lokal kota Tasik Putri. Tujuannya adalah, memastikan bahwa Merisda dan kedua abangnya selamat dalam perjalanan mereka meninggalkan pulau Sumatra ini.
Namora dan Zack terus memperhatikan ketiga orang itu yang kini telah mulai memasuki pesawat.
Namora bergumam dalam hatinya ketika dia melihat bayangan Merisda yang telah menghilang karena telah memasuki pesawat.
"Ini terakhir aku berhubungan dengan mu. Setelah ini, aku akan berusaha untuk merelakan mu. Hanya kau satu-satunya wanita yang aku sayangi sebagai pacar. Dan kau juga satu-satunya wanita yang menyakiti hatiku sampai separah ini. Mungkin tidak akan ada lagi ruang bagi wanita manapun di dunia ini yang bisa mengetuk pintu hati ku,"
Namora mengusap matanya yang mulai berair. Dia tidak ingin kelihatan sedang bersedih. Kemudian, seperti tidak ada kejadian apa-apa, wajahnya kembali dingin tanpa ekspresi.
Setelah dia memastikan bahwa pesawat akan lepas landas sebentar lagi, dia pun segera berbalik.
__ADS_1
"Pulang!" Katanya singkat, kemudian segera berlalu diikuti oleh Zack dibelakangnya.
Bersambung...