Namora

Namora
Penyesalan


__ADS_3

Keenam pria paruh baya itu menghamburkan sumpah serapah ketika mereka dipaksa keluar dari kantor besar Martins Group.


Ketika salah seorang dari mereka nyaris tersungkur akibat kaki kirinya tanpa sengaja menyepak kaki kanannya, kata-kata mutiara penuh makna pun kembali berhamburan dari mulutnya bercampur tempias ludah yang tentunya beraroma tak sedap.


"Aku bersumpah bahwa kau akan menyesali keputusan mu ini. Martins Group sedang berada dalam kebangkrutan. Kas perusahaan kosong. Ketika itu terjadi, tidak ada gunanya memohon. Bahkan jika kau menjilat telapak kakiku, aku tidak akan sudi!" Sembur salah seorang dari mereka.


"Sudah! Mari kita kembali dulu dan melaporkan semuanya pada tuan Jhonroy. Saat ini adalah waktu yang tepat untuk menyusun rencana. Martins Group sedang lemah tanpa dana yang cukup. Jika ingin menghancurkan Martins Group, sekarang lah saatnya!"


"Baik. Ayo kita kembali dulu!" Ajak Roland sembari menuju ke arah mobilnya. Namun, sebelum dia membuka pintu mobilnya, tiba-tiba dari depan berdatangan konvoi mobil mewah kemudian memasuki area parkir di kantor besar Martins Group. Jika di hitung, ada lebih dari dua puluh unit mobil sehingga menarik perhatian mereka.


Begitu mobil-mobil yang tiba tadi terparkir dengan benar, beberapa orang berjas keluar dari dalam mobil, kemudian salah seorang dari mereka membukakan pintu mobil Maybach S680 berwarna hitam.


Begitu pintu mobil di buka, terlihat seorang wanita yang sangat anggun serta berwajah penuh intimidasi keluar dari dalam mobil. Kemudian, dari pintu sebelahnya, keluar pula seorang lelaki mengenakan pakaian kantoran dengan kacamata hitam bertengger di hidungnya yang mancung. Sepertinya kedua orang itu bukan orang lokal.


Pak Anto dan Pak Roland hanya terbengong melihat kedatangan orang besar itu. Dikatakan orang besar adalah, mereka sangat mengenal wanita itu yang tidak lain adalah Miss Aline penanggung jawab Tower sole propier, perusahaan multi bisnis mulai dari pusat perbelanjaan tujuh lantai, perhotelan, pabrik yang memproduksi alat kosmetik, bahkan dalam jangka pendek ini, mereka akan membangun real estate dengan taman ekologi pertama dan terbesar di provinsi ini. Maka dari itulah mengapa saat ini pak Anto dan Roland sama-sama bertanya-tanya dalam hati mereka, mengapa wanita berkuasa itu bisa menyambangi Martins Group?

__ADS_1


Seperti menganggap bahwa diri mereka tidak kelihatan, atau sama sekali kehadiran mereka tidak dianggap, rombongan Miss Aline melewati mereka tanpa menoleh, kemudian segera memasuki kantor besar Martins Group dengan diiringi oleh para satpam yang serentak memberi hormat kepada mereka.


Entah karena penasaran atau apa, Pak Anto, Roland dan keempat lainnya menunggu di sisi mobil mereka masing-masing. Berharap mendapat sedikit informasi tentang maksud dari kedatangan rombongan Miss Aline tersebut.


Hampir dua jam menunggu, akhirnya rombongan Miss Aline pun keluar dari kantor tersebut sambil diikuti oleh Thea yang sengaja mengirim mereka sampai ke tempat parkir.


Setelah rombongan Miss Aline pergi meninggalkan area parkir tersebut, barulah Thea meninggalkan tempat itu. Akan tetapi, belum melangkah beberapa lama, dia dihentikan oleh Pak Anto yang kemudian memberondong dirinya dengan pertanyaan.


Awalnya Thea tidak ingin menjawab pertanyaan mereka karena walau bagaimanapun, mereka sudah tidak ada hubungannya lagi dengan perusahaan. Namun, mengingat betapa arogan dan sombongnya mereka ketika mengusir dirinya dari ruang rapat, kemudian bagaimana dia mengatakan bahwa Namora akan menyesali keputusannya, akhirnya Thea pun membeberkan bahwa kedatangan orang-orang dari Tower sole propier adalah untuk menjalin kerjasama jangka panjang dengan nilai kerjasama mencapai lima ratus juta Dollar.


"Thea. Apakah kau tidak becanda?" Tanya Pak Roland seakan meragukan jawaban Thea barusan.


"Huh. Apa untungnya aku berbohong kepada kalian?" Dengus Thea sebelum kembali melanjutkan kata-katanya. "Asal Anda tahu saja. Lima ratus juta Dollar itu baru dari Tower sole propier. Kerja sama kedua adalah datang dari Future Steel Company. Dan kerja sama tersebut bernilai tiga ratus juta Dollar. Sebentar lagi Martins Group akan menyelesaikan izin untuk mendirikan pabrik nikel. Martins Group akan menerima bahan mentah dari perusahaan Future Steel Company, kemudian mengolahnya menjadi batangan sebelum di kirim kembali ke Metro City. Ini adalah kesepakatan kerjasama terbesar kedua setelah kesepakatan kerjasama bernilai lima ratus juta Dollar dari Tower sole propier,"


"Ini..," bagaikan petir menyambar di siang bolong, Pak Anto merasakan bahwa seluruh tubuhnya seperti tidak bertulang. Dia tidak percaya pada perubahan situasi yang mendadak ini.

__ADS_1


Belum lagi sehari mereka meninggalkan Martins Group, perusahaan tersebut sudah mampu menjalin kesepakatan kerjasama dengan perusahaan luar negeri. Dan total dari kesepakatan itu adalah delapan ratus juta Dollar. Gila! Benar-benar gila.


"Thea. Tolong sampaikan permintaan maaf Ki kepada CEO! Katakan padanya, bahwa kami sangat menyesal dan ingin menarik kembali kesepakatan yang telah kami lakukan," kata pak Anto sambil menarik lengan baju Thea, membuat Thea merasa sangat terkejut. Akan tetapi, Pak Anto tidak memperdulikan ekspresi kaget gadis itu. Dia lebih memikirkan bagaimana nasib mereka nantinya. Akan lebih baik jika keadaan Martins Group memburuk karena ditinggal oleh mereka. Dengan begitu, mereka bisa beralasan kepada Jhonroy. Namun kini situasinya sudah terbalik. Belum sehari mereka berpisah, ternyata Martins Group mendapatkan kontrak kesepakatan kerjasama. Bukan hanya keuntungan yang lepas, tapi buntung yang mereka dapatkan. Andai Jhonroy mengetahui hal ini, kemungkinan mati pun belum tentu cukup bagi mereka. Karena sebelumnya, mereka sangat percaya diri mampu menekan Namora dengan trik mereka. Ini tentu menjadi pukulan mental yang besar bagi keenam orang ini.


Thea menatap jijik ke arah Pak Anto. Dengan sinis dia berkata, "apakah anda ingin melecehkan saya? Satu jeritan dari saya akan cukup untuk menyulitkan anda,"


Pak Anto buru-buru melepaskan pegangan tangannya, kemudian dengan rasa malu dia berkata. "maafkan. Tapi tolong! Tolong sampaikan kepada CEO bahwa kami menerima apapun keputusan darinya. Kami tidak akan berkolusi lagi untuk menentang apapun keputusan yang dia ambil. Kami menyesal," raut wajah pak Anto memelas. Dia sudah tidak malu-malu lagi untuk mengemis. Namun, sepertinya Thea tidak perduli. Sambil mencibir, gadis itu mengibas-ngibaskan lengan bajunya yang ditarik oleh pak Anto tadi, seolah-olah dia merasa najis dipegang oleh lelaki paruh baya itu.


Pak Anto dan yang lainnya hanya bisa menatap kepergian Thea dengan perasaan yang sulit untuk digambarkan. Hatinya saat ini tidak tenang.


Baru kali ini mereka merasa seperti seekor domba yang berada ditengah-tengah dua ekor Singa yang sedang bertarung. Siapapun yang kalah dan siapapun yang menang, dia tetap akan menjadi mangsa.


"Bagaimana sekarang?" Tanya pak Roland dengan ekspresi wajah yang tidak kalah jeleknya dari pak Anto.


Pak Anto mendesah berat. "Apa boleh buat. Nasi sudah menjadi bubur. Kita kembali dan melaporkan semuanya kepada Jhonroy!" Jawabannya. Kemudian mereka semua memasuki mobil mereka masing-masing, lalu bergerak perlahan seperti tidak rela meninggalkan area parkir di depan kantor perusahaan Martins Group.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2