Namora

Namora
Jol berkunjung


__ADS_3

Bruum.., bruum.., bruum...


Suara memekakkan telinga itu datang dari arah depan rumah membuat beberapa tetangga merasa terganggu kemudian menjulurkan kepalanya ke arah pintu sambil menyumpah panjang pendek.


Seorang pemuda yang tidak lain adalah Jol menyeringai di atas sepeda motor miliknya ketika mendengar sumpah serapah yang datang dari para tetangga.


Seolah-olah tidak merasa bersalah, dia turun dari motornya, kemudian melangkah menuju ke salah satu rumah di perumahan dinas kepolisian kota Batu tersebut.


Belum lagi beberapa langkah dia berjalan, suaranya teriakannya sudah memekakkan telinga membuat sumpah serapah kembali berhamburan dari mulut emak-emak yang merasa terganggu.


"Hehehe. Maafkan saya bibi-bibi, Mak cik-mak cik, tante-tante dan handai taulan semuanya," katanya sambil nyengir. Namun dia kembali berteriak. "Moraaaaa.., woy Moraaaa..,"


"Anak sompret. Kecilkan volume suara mu. Atau ku sumbat dengan kain lap ini!" Ancam salah satu dari emak-emak yang merasa terganggu.


"Hahaha. Tenang Bu. Ini hanya sementara. Jika sudah terbiasa, pasti tidak akan merasa terganggu lagi," kata Jol terus menyeringai.


"Assalamualaikum. Inang Boru. Di mana Namora?" Tanya nya sambil mengetuk pintu rumah Rio.


Tak lama kemudian, terdengar suara langkah menghampiri pintu, dan perlahan pintu pun terbuka.


"Itu kau Jol?" Tanya wanita paruh baya yang tidak lain adalah Mirna ibu Namora.


"Hehehe. Iya Inang Boru. Aku datang ke sini untuk bertemu dengan Namora. Sudah lama dia tidak masuk sekolah. Apakah dia baik-baik saja?"


Mirna menghela nafas berat mendengar pertanyaan Jol barusan. Dari raut wajahnya, Jol dapat mengira bahwa pasti Namora sedang tidak baik-baik saja.


"Masuk dulu Jol!" Ajak Mirna.


Jol pun memasuki rumah tersebut. Tak lama kemudian, Mirna datang kembali ke ruang tengah dengan membawa secangkir teh.


"Namora sedang tidak sehat. Tapi sudah agak mendingan," kata Mirna sembari meletakkan gelas berisi teh di atas meja.

__ADS_1


"Inang Boru. Apa yang terjadi dengan Namora?" Tanya Jol buru-buru. Ada kekhawatiran tersirat pada raut wajahnya. Maklumlah, sejak berada di sekolah menengah pertama, sampai duduk di bangku SMA, Namora adalah sahabat yang paling akrab dengannya. Bahkan, dia selalu menjadi tameng ketika Namora di-bully oleh siswa-siswi lainnya di sekolah.


"Panjang ceritanya. Jika kau mau melihat keadaan Namora, masuklah ke kamarnya. Dia mungkin sedang tertidur," jawab Mirna sembari menunjuk ke arah pintu kamar yang tertutup.


Tanpa banyak kata lagi, Jol segera berdiri, kemudian melangkah ke arah kamar Namora.


Kebetulan pintunya tidak di kunci hingga Jol bisa langsung memasuki kamar sahabatnya tersebut.


Ketika menjulurkan kepalanya untuk melihat ke dalam, Jol melihat Namora sedang berbaring. Tidak pasti apakah dia sedang tertidur atau sedang larut dalam pikirannya.


"Mora..," panggil Jol seraya berjalan mendekati tempat tidur sahabatnya itu. Namun, ketika dia lebih dekat, dia sangat terkejut. Dia terkejut karena melihat tubuh Namora dipenuhi bekas luka.


"Ini bukan luka karena kecelakaan. Ini lupa bacok," pikir Jol dalam hatinya.


Jol perlahan duduk di sisi tempat tidur Namora, kemudian memperhatikan dengan seksama.


"Kenapa dengan luka Namora ini? Dari mana dia mendapat luka bacok ini. Ini bukan luka karena kecelakaan motor. Atau..," Jol menutup mulutnya karena tidak berani berpikir yang tidak-tidak.


"Heh.., kau ternyata Jol," Namora perlahan membuka matanya, kemudian memaksakan dirinya untuk duduk. "Bantu aku Jol!" Pinta Namora kepada Jol agar membantunya untuk duduk bersandar pada tumpukan bantal.


"Kau kenapa Mora? Ada apa dengan luka-luka mu ini?" Kembali Jol bertanya.


"Panjang ceritanya," jawab Namora. Kemudian dia menceritakan secara singkat apa yang terjadi dengannya beberapa hari ini.


Begitu Namora selesai dengan ceritanya, Jol tampak melongo. Dia tidak menyangka bahwa banyak hal terjadi kepada Namora semenjak mereka berpisah di Dolok ginjang.


"Apa kau tau siapa mereka itu, Mora?"


"Aku tau. Orang itu adalah pembunuh bayaran. Hanya saja, yang tidak aku mengerti sampai saat ini adalah, mengapa pembunuh itu tidak membunuh ku? Padahal, kesempatannya sangat terbuka. Aku juga heran mengapa aku masih bisa selamat. Pasti ada seseorang yang membantu. Hanya saja, aku tidak tau siapa orang itu. Yang aku tau, orang itu berasal dari negara Jepang. Itu saja yang aku tau," jawab Namora.


"Ternyata seperti itu. Aku baru tau mengapa kau dulu sangat sengsara. Ternyata untuk menyembunyikan identitas mu agar tidak menjadi incaran musuh," kata Jol mencoba menebak.

__ADS_1


Namora menggelengkan kepalanya membantah pemikiran Jol. "Sebenarnya tidak seperti itu," kata Namora sambil memperbaiki posisinya agar lebih tegak. Lama-lama dia merasa tidak nyaman juga setengah berbaring. "semua ini tidak ada hubungannya dengan status ku. Baru beberapa bulan ini, terjadi perselisihan antara aku dengan pemilik perusahaan Agro chemical bernama Tanta. Akhirnya aku memaksanya untuk menyerahkan mayoritas saham miliknya di perusahaan tersebut. Hanya saja, ternyata orang ini memiliki majikan di kota L bernama Jhonroy. Dari sinilah awal mula peperangan antara aku dan majikan Jhonroy ini. Puncak dari perselisihan ini, terbunuhnya Zack bersama dengan tiga orang lainnya. Dan seperti yang kau lihat, aku juga menjadi incaran mereka. Hanya saja, malaikat maut belum mau mencabut nyawa ku," Namora meringis sedikit ketika dia merasakan rasa nyeri pada lukanya yang belum sembuh.


"Jika bisa di restart, apakah kau akan memilih kehidupan yang dulu sebagai anak orang biasa yang terus di-bully, atau kehidupan sekarang, kaya raya tapi menjadi incaran pembunuhan?"


"Huh. Dua-duanya tidak enak," jawab Namora sambil mengeluh. "Jol. Bagaimana kabar sekolah kita?"


"Sama seperti biasa. Hanya saja, sesekali geng Cobra mampir dan membuat onar. Kami kesulitan menghadapi mereka. Terkadang aku merindukanmu. Setidaknya, bertambah satu tenaga untuk melawan mereka,"


"Aku akan segera kembali ke sekolah. Mungkin besok aku susah masuk,"


"Mora. Kau tidak tau kalau kau sekarang sudah menjadi selebriti di sekolah. Semenjak kau memenangkan kejuaraan itu, orang-orang sudah mulai mengidolakan mu,"


"Idola tai kucing.


Jangan sungkan menelepon ku kalau-kalau Dhani dan orang-orangnya menggangu kalian. Kita sudah terlalu sering di-bully oleh mereka. Kali ini mengapa tidak kita pula yang mengerjai mereka. Roda harus berputar,"


"Aku akan dengan senang hati menunggu mu. Rendra juga sudah kembali ke sekolah," Jol tertawa terbahak-bahak mengingat bagaimana dia dan Namora menghajar Rendra sampai babak belur dan koma. Setelah selesai tertawa, dia kembali melanjutkan. "Anak itu tidak ada kapoknya. Masih tinggi hati seperti dulu,"


"Mungkin dia masih merasa kurang. Kalau dia kekurangan, aku akan dengan senang hati memberikan pelajaran tambahan untuknya,"


"Baiklah. Kau harus lekas sembuh. Jericho dan yang lainnya mengirim salam untuk mu," kata Jol. Dia segera bangkit berdiri sebelum mendengar suara dengusan dari Namora.


"Titip salam. Salam tai. Ular berkepala dua seperti mereka, aku tidak sudi berteman,"


"Sudah lah. Kau harus lekas sembuh," kata Jol sembari menepuk pundak Namora. Hanya saja, pundak yang dia tepuk itu terdapat luka sehingga Namora terpekik kaget.


"Upst.., sorry," kata Jol sembari berlari meninggalkan kamar Jol.


Setelah dirinya berpamitan, Jol pun pergi meninggalkan rumah Namora.


Kini, tinggallah Namora yang masih meringis kesakitan akibat lukanya ditepuk oleh Jol.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2