Namora

Namora
Namora yang mampu menyesuaikan diri


__ADS_3

Namora kini telah memasuki aula utama yang didekorasi sedemikian rupa.


Dia pernah menghadiri undangan acara pernikahan bersama dengan ibunya. Ketika itu dia melihat bahwa ruangan tempat dimana pengantin sangat mewah dan meriah. Tapi kali ini, itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan aula besar yang dia masuki saat ini.


Setelah Namora berdiri mematung seperti orang linglung, beberapa orang menghampiri dan tangan-tangan besar saling berebut untuk menjabat tangannya.


Namora kebingungan. Namun, dia menerima jabat tangan dari mereka. Dan dasar memang Namora dididik dengan tata Krama yang sopan, dia menunduk, kemudian mencium setiap tangan dari mereka yang berjabat dengannya.


Beberapa orang sangat kaget dan tersipu malu ketika Namora menyalami dan mencium tangan mereka.


Ameng dan yang lainnya hanya bisa tersenyum pasrah. Dia tidak melarang Namora melakukan hal itu. Baginya, sangat jarang ada tuan muda yang beradab seperti ini, dimana dunia sudah semakin tua dan akhlak sangat mahal harganya.


Tidak mau Namora menjadi bulan-bulanan mereka, Ameng segera mencegah dan terus mengajak Namora untuk duduk di kursi yang dikhususkan untuk dirinya.


Setelah Namora duduk, barulah mereka terlihat tenang dan semua orang juga segera duduk.


"Paman. Apa semua ini?" Namora benar-benar tidak mengerti sehingga dia harus bertanya kepada Ameng.


"Namora. Ketahuilah bahwa kami ini dan semua orang yang ada di sini adalah anak buah dari Ayah mu. Adapun mereka yang di sana, mereka adalah investor dan beberapa petinggi di perusahaan Martins Group. Ketahuilah bahwa Martins Group adalah perusahaan yang berasal dari kota Tasik putri dan diwariskan kepada Ayah mu dari Tuan Martin. Dan kini, perusahaan itu telah dipindahkan atas namamu. Jangan heran jika nanti akan banyak orang yang menjilat kepadamu! Itu karena, mereka mengharapkan kecipratan proyek yang baru saja dimenangkan oleh perusahaan. Ingat! Jangan terlalu memberi muka kepada mereka! Mereka ini adalah penjilat!" Ameng menjelaskan semuanya kepada Namora. Walaupun tidak banyak, tapi kini Namora sudah mengerti mengapa dia begitu dihormati. Ternyata ada rahasia tentang dirinya.


Setelah kata sambutan yang singkat dari Ameng, kini mereka mulai makan malam.


Setelah selesai makan, beberapa orang mulai mendekati Namora dengan harapan agar bisa menjilat pemuda itu. Terutama tuan Jhonny. Dia berjalan dengan senyuman diwajahnya mendekati meja dimana Namora sedang duduk dengan didampingi oleh Ameng, Andra, Acong dan Timbul.

__ADS_1


"Tuan muda. Saya bersulang untuk anda," kata Jhonny sembari mengangkat gelas anggurnya.


"Maaf Tuan. Saya tidak minum alkohol!" Kata Namora dengan tegas.


Tuan Jhonny tampak malu. Tapi dia tidak kehabisan akal. Kini, dia berkata. "ah. Tidak apa-apa Tuan muda. Karena anda tidak minum, maka saya akan minum sendiri untuk menghormati anda," lalu dia menenggak minumannya sampai habis.


"Perkenalkan. Nama saya adalah Jhonny. Saya adalah pemilik perusahaan Corp enterprise. Saya sangat berharap agar kelak bisa bekerjasama dengan perusahaan Martins Group dalam jangan waktu yang lama!" Kata Jhonny sambil memperkenalkan diri.


"Ah. Tuan Jhonny. Mengapa anda tidak sabaran. Anda memotong jalan saya!"


Baru saja tuan Jhonny selesai bicara, seseorang dari belakang menghampiri dengan senyum licik. Dia segera mengulurkan tangannya kepada Namora dan berkata. "perkenalkan! Nama saya adalah Tanta. Saya dari perusahaan Agro chemical. Saya sengaja menyempatkan diri untuk datang ke sini demi melihat Tuan muda dari keluarga Habonaran. Semoga saya mendapatkan sesuatu yang baik setelah pertemuan ini. Suatu saat, ketika Martins Group membutuhkan pasokan bahan kimia, perusahaan Agro chemical saya bisa dan dengan sangat senang hati akan memasok bahan tersebut demi kelancaran proyek yang akan dilaksanakan,"


Namora tersenyum dan berdiri. Dia lalu membungkukkan badannya sembari berkata. "Terimakasih atas kedatangan tuan-tuan yang terhormat. Saya akan mempelajari terlebih dahulu. Jika baik untuk perusahaan, kenapa tidak?"


Namora bukanlah anak yang bodoh. Di samping mendapatkan pencerahan dari Ameng, dia juga cepat membaca keadaan. Dan situasinya saat ini seperti sepotong bolu yang dikelilingi oleh semut. Dia tidak ingin menjadi santapan. Maka dari itu, dia terpaksa sedikit menahan rasa kaku dan berusaha setenang mungkin. Dia tau siapa Ameng dan yang lainnya. Jika mereka menghormati dirinya, maka dia layak untuk sedikit berkarakter.


"Ah.., benar. Benar sekali apa dikatakan oleh Tuan muda Habonaran ini. Bagaimanapun, ini adalah pertemuan keluarga. Bukan pertemuan resmi bagi pemilik perusahaan. Maafkan kami yang sudah merusak suasana!" Kata Tanta. Dia berkata dengan sangat sungkan seperti itu bukan merendah. Melainkan, dia ingin menampar Jhonny yang terlebih dahulu merasa tidak tau malu menghampiri Namora demi proyek.


Melihat ini, wajah Jhonny bersemu merah. "Tanta ini. Benar-benar brengsek!" Katanya dalam hati. Dia lalu tersenyum canggung, lalu berkata. "wah. Tuan Tanta sangat bermartabat. Saya tidak menyangka bahwa di sini ada seseorang yang sangat terhormat seperti tuan Tanta ini," Jhonny lalu membalikkan badannya, kemudian dia melangkah menuju ke arah meja dimana tadi dia duduk.


Giliran Tanta yang merasa ditampar. Dia tidak menyangka akan mendapat serangan balas seperti ini. Setelah dia mengangguk ke arah Namora, dia juga berbalik menuju ke arah mejanya.


"Beginikah rasanya dijilat?" Kata Namora dalam hati. Semuanya seperti mimpi. Dia tidak tau bahwa ayahnya sangat berkuasa. Namun, sebelum dia menguji kebenarannya, dia tidak akan lupa daratan. Dihatinya kini segudang rencana telah tersusun rapi.

__ADS_1


Suasana canggung yang tadi sempat tercipta gara-gara Jhonny dan Tanta sempat menyelimuti aula itu beberapa saat, sebelum Andra memecahkan suasana. "Karena tuan muda dari keluarga Habonaran, yang sekaligus adalah keponakan kami telah kembali dan akan menjadi penentu keputusan akhir dalam perusahaan, maka kami berinisiatif untuk memberikan hadiah,"


Dengan ini, Ameng, Andra, Acong, Timbul, Sugeng, Ucok, Thomas, Jabat, dan Monang pun berdiri seraya memberi gestur kepada Namora untuk mempersilahkan dirinya berjalan ke arah bagian lain dari rumah tersebut.


Kini, di tengah-tengah ruangan itu terlihat satu unit mobil yang masih terbungkus oleh kelambu.


Sambil tersenyum, Andra mempersilahkan Namora untuk menyingkap kelambu tersebut.


"Ha..?" Namora menganga begitu melihat satu unit mobil sport berwarna hitam kebiruan. Di bagian depan dia melihat logo dengan tulisan Bentley.


Namora menatap ke arah Ameng dengan sorot mata penuh tanda tanya.


"Namora. Kami Paman mu ini telah melakukan patungan untuk membelikan mu mobil ini. Menurut mu, apakah mungkin seorang tuan muda berjalan kaki? Itu seperti mencoreng wajah kami dengan kotoran,"


"Oh. Terimakasih atas hadiahnya. Tidak buruk?!" Kata Namora berlagak cuek.


Ameng tau apa maksud dari Namora ini.


"Anak ini sangat pintar menyembunyikan keterkejutannya," katanya dalam hati.


Jika diperhatikan, memang Namora harus mengatakan seperti itu. Ini agar mereka yang datang tidak bisa mengukur jiwa Namora.


Mereka mengira bahwa Namora akan dengan mudah dilobi. Tapi siapa sangka bahwa anak ini justru lebih licin dari belut.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2