Namora

Namora
Kematian pengkhianat


__ADS_3

"Arrrgh....," Suara jeritan kesakitan terdengar memenuhi ruangan di rumah besar yang diketahui oleh orang-orang setempat adalah rumah Tuan Jhonroy yang Agung.


Sudah tidak terhitung lagi teriak serta jerit kesakitan yang berasal dari rumah besar tersebut. Namun, anehnya tidak ada yang perduli, atau tepatnya mereka seolah-olah tidak mau tau, atau tidak ingin ikut campur dalam masalah mereka.


Siapa yang tidak tau Jhonroy? Taipan bisnis yang sangat bengis serta sadis yang mampu melakukan apa saja demi mencapai tujuannya.


Mungkin, bagi mereka yang jauh, mereka akan menganggap bahwa Jhonroy ini bagaikan malaikat dengan kebaikan yang tampak di permukaan. Berkat pencitraan yang dia lakukan, banyak yang menganggap bahwa dia adalah pebisnis yang sangat jujur dan mementingkan norma-norma sosial. Namun, bagi mereka yang pernah menjadi korbannya, Jhonroy tak ubah bagaikan iblis yang merayap dari lubang neraka. Dia siap meneror serta membumihanguskan siapa saja yang menentangnya.


Cessss....!


"Arrrgh...!" Kembali terdengar jeritan menyayat hati.


Di ruangan itu, terlihat enam orang diikat di enam tiang dengan keadaan mengenaskan.


Mulai dari rambut mereka yang awut-awutan, wajah mereka yang mengalami luka bekas pukulan serta luka bakar. Tidak hanya itu saja. Pakaian mereka juga robek-robek di sana sini.


Di tengah-tengah ruangan itu, terdapat sebuah tungku dengan bara api menyala. Terlihat juga di sana sebuah penjepit besi yang tampak menjepit beberapa besi berbentuk suriken yang merah menyala.


Jhonroy tampak memegang jepitan besi tadi, kemudian terlihat lah sebuah besi berbentuk suriken yang menyala. Kemudian, tanpa rasa belas kasihan, dia menempelkan besi menyala itu tepat pada pipi seorang lelaki paruh baya.


"Arrrgh...!"


"Ampun. Ampuni kami, Tuan Jhonroy. Semua di luar perkiraan kami," memohon lelaki yang disampingnya.


Mereka adalah Pak Anto dan Roland serta keempat lainnya. Mereka tidak menyangka bahwa mereka berenam akan mengalami nasib seperti ini ketika mereka baru saja kembali dari kota Kemuning untuk menceritakan kegagalan mereka menekan Namora.

__ADS_1


"Kalian benar-benar sampah yang tidak berguna. Untuk apa aku membesarkan kalian? Untuk menghadapi anak kecil saja kalian tidak becus," gerutu Jhonroy sembari memasukkan kembali besi itu ke dalam bara api.


"Tuan. Tolong hentikan ini! Kami berjanji akan membantu anda untuk menekan Martins Group. Beri kami satu kesempatan lagi. Tolong Tuan!" Pinta mereka dengan ratapan. Tidak sedikitpun terlihat keangkuhan pada diri mereka seperti yang mereka tunjukkan pada pertemuan dengan dewan direksi di Martins Group.


"Aku bisa memaafkan kalian. Tapi itu terjadi hanya ketika kalian tidak berusaha untuk kabur. Beruntung aku melakukan gerakan cepat menyandra keluarga kalian. Jika tidak, kalian pasti akan melarikan diri dengan kegagalan. Aku, Jhonroy tidak suka dengan kegagalan. Kalian bukan hanyalah gagal, tapi berusaha untuk lari dariku,"


"Tidak, Tuan. Anda salah faham. Kami tidak berusaha untuk melarikan diri. Kami hanya berniat untuk pulang ke rumah sebelum menemui anda," bantah mereka berusaha meyakinkan Jhonroy.


"Hahaha. Pintar. Sangat pintar untuk mengelabui ku. Apa kalian lupa dengan siapa kalian berhadapan? Segala macam trik kalian ada di lengan bajuku. Masih mau mengelak?"


"Mohon ampuni kami, Tuan!"


"Ampun? Aku akan mengampuni kalian setelah aku selesai membantai keluarga kalian," selesai mengucapkan kata-kata itu, Jhonroy menggerakkan tangannya memberi isyarat kepada bawahannya agar menyelesaikan mereka.


Tak lama kemudian, teriakan kembali bergema di dalam ruangan itu, tapi itu hanya sesaat. Setelah itu, keadaan menjadi hening. Dengan begitu, tamatlah sudah riwayat penghianat yang rela mengkhianati perusahaan Martins Group demi Jhonroy.


Tiba di ruangan utama rumah besar itu, Jhonroy mengusap tangannya dengan tisu. Ada banyak tisu dengan bercak darah yang berserakan di lantai.


Jhonroy kemudian menyesap anggur dan menyalakan sebatang cerutu. Kemudian menghembuskan asapnya dengan kasar.


"Anak ini cukup liat juga. Aku terlalu menganggap remeh bocah itu," gerutu Jhonroy sebelum kembali mengisap cerutunya.


Disampingnya, Teja kemudian berkata. "Ayah. Aku ingin kembali mencari anak itu. Mustahil kali ini aku gagal membunuhnya,"


"Ayah. Mengapa aku tidak mencoba untuk bertemu dengan Namora itu? Mungkin aku bisa membuat kesepakatan dengannya," kali ini Angga pula yang angkat bicara.

__ADS_1


"Apa maksudmu, Angga? Apakah kau ingin menunjukkan kelemahan di depan musuh?" Tegur Teja dengan bentakan.


"Bang. Kita sudah melakukan cara yang kasar dengan kekerasan yang kau lakukan. Tapi apa? Semuanya gagal kan? Bagaimana dengan cara baik. Kalau otot tidak berhasil, mengapa tidak menggunakan otak saja?" Kata Angga membela diri. Dia melihat ada cela saat ini. Maksudnya untuk bertemu dengan Namora bukanlah untuk menegosiasikan masalah yang saat ini sedang dihadapi. Melainkan, otaknya yang licik ingin menggunakan tangan Namora bagi memuluskan rencananya untuk mewarisi keluarga Jhonroy. Dia adalah anak dari istri simpanan, tentu saja dia tidak akan menjadi prioritas. Hanya dengan jalan seperti inilah dia bisa merebut TAHTA di kota L ini. Dia ingin menangguk di air yang keruh.


"Kau!" Teja langsung menjambak kerah baju Angga, kemudian menariknya dengan kasar. "jika kau melakukan itu, aku pasti akan membunuhmu. Tindakan seperti itu bukan hanya menunjukkan betapa pengecutnya dirimu. Melainkan, kau akan membawa nama keluarga. Keluarga Jhonroy akan dipermalukan,"


"Lalu, apa yang bisa kau lakukan? Kau juga sudah berulang kali gagal. Bahkan, terakhir kali, kau dijebloskan ke dalam penjara oleh AKBP Rio. Beruntung ayah membebaskan mu. Jika tidak, kau mungkin akan membusuk di dalam penjara," ejek Angga.


"Kau..!"


Teja nyaris muntah darah mendengar ejekan dari Angga barusan. Dia ingin membantah. Akan tetapi, dia tidak memiliki kata-kata yang tepat untuk membantahnya. Semua yang dikatakan oleh Angga itu semuanya adalah kebenaran.


"Ayah. Izinkan aku bertemu dengan Namora ini. Apapun hasilnya, aku pasti akan mencoba. Setidaknya, ketika bertemu dengannya, aku pasti akan mendapatkan sesuatu untuk aku ceritakan kepadamu," pinta Angga dengan sangat optimis bahwa dia pasti bisa membawa hasil yang memuaskan.


Jhonroy tidak segera menjawab. Melainkan, dia memelototi Angga dengan tatapan berapi-api.


Setelah sekian lama terdiam, akhirnya Jhonroy pun bersuara. "Kau ingin menunjukkan kelemahan kita di depan musuh? Jika kau pergi menemui anak itu, maka kau jangan lagi kembali ke rumah ini. Aku akan menganggap mu sudah mati,"


"Tapi, Ayah?!"


"Tidak ada tapi-tapian. Kau tidak boleh menemuinya. Jika melanggar, aku sendiri yang akan mencabut nyawa mu!" Tegas Jhonroy tidak ingin bernegosiasi lagi.


Angga mengepalkan tinjunya. Dia sangat marah di dalam hatinya dengan penolakan dari sang Ayah. Terlebih lagi, dia melihat senyum ejekan dari Teja. Hal ini semakin membulatkan tekadnya untuk menyingkirkan saudara lain ibunya itu, kemudian mengklaim sebagai ahli waris satu-satunya dari keluarga Jhonroy.


"Teja sialan. Kau tunggu saja. Aku akan mencabut nyawa busuk mu itu dengan tangan ku sendiri," kata Angga dalam hati. Tatapannya berapi-api. Dia lalu mendengus sebelum meninggalkan Jhonroy yang terduduk di sofa, serta Teja yang tersenyum penuh penghinaan terhadap dirinya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2