Namora

Namora
Jol yang sewot


__ADS_3

"Namora..!"


"Namora! Apakah kau sudah bangun atau belum?"


Hari masih terlalu pagi ketika terdengar suara memanggil-manggil di salah satu rumah dinas kepolisian yang ditempati oleh Rio Habonaran.


Terlihat seorang lelaki remaja tanggung sedang berdiri dengan sesekali mengintip di balik jendela rumah tersebut.


"Namora! Jika kau sudah bangun, ayo buruan! Nanti kita terlambat ke sekolah!" Kata suara itu lagi.


Perlahan terlihat pintu rumah tadi terbuka. Kini, diambang pintu tampak seorang pemuda remaja dengan tampang kusut mengucak matanya. Mungkin masih ada sisa kantuk.


"Jol. Cepat betul kau bersiap. Memangnya ada apa sih?" Tanya remaja yang tampak sangat awut-awutan tadi.


"Mandi sana! Kau ini pemalas sekali," tegur pemuda bernama Jol itu.


"Ya sudah. Tunggu sebentar ya!" Balas Namora, dan terus masuk kembali ke dalam.


Tidak sampai sepuluh menit, entah mandi gaya apa namanya, tiba-tiba saja Namora sudah keluar dengan berpakaian seragam sekolah yang lengkap. Hal ini tentu saja membuat Jol melongo seperempat pingsan.


"Kau mandi bebek ya?" Tanya Jol yang langsung menunjuk ke arah hidung Namora. Bahkan, ujung telunjuknya tepat menyentuh ujung hidung Namora.


"Apaan sih? Pokoknya kena air. Dah lah! Ayo kita berangkat!"


Jol hanya bisa garu-garu kepala melihat Namora yang sudah mendahuluinya.


"Kau sudah berpamitan?"

__ADS_1


"Sudah!" Jawab Namora singkat.


Mereka kini telah sampai di samping sepeda milik Jol. Karena tau diri bahwa dia menumpang di sepeda sahabatnya itu, maka Namora berinisiatif untuk membonceng Jol. Maka, kini terlihat Namora mendayung sepeda tadi dengan gaya sedikit zig-zag.


"Tidak biasanya kau sepagi ini Jol,"


"Aku lagi panas nih," jawab Jol. Ada sedikit tekanan dalam nada bicaranya.


"Tekanan?"


"Kau tau turnamen kejuaraan pencak silat yang kita bahas beberapa waktu yang lalu kan?"


"Ya!"


"Ternyata pemenangnya adalah, Diaz!"


Brugh!


Entah karena kaget atau ada sesuatu yang mengusik hatinya, tanpa sadar Namora berhenti mendayung pedal sepeda. Dapat dibayangkan jika sepeda itu berhenti, mana bisa menimbang keseimbangan. Tak pelak lagi, mereka pun terjatuh. Beruntung mereka jatuh ke bawah. Jika ke atas, entahlah.


"Ma-maaf Jol. Kau tidak apa-apa?" Tanya Namora merasa bersalah.


"Aku tidak apa-apa. Tidak mudah melukai Jol,"


"Syukurlah,"


"Kau kenapa hah? Seperti orang linglung saja,"

__ADS_1


"Aku kaget ketika kau menyebut nama Diaz tadi," jawab Namora.


"Kaget? Kau mengenal anak songong itu ya?"


"Kenal. Dia memang sombong. Dulu, dia sering menghina dan mengejekku. Sekarang, sudah pasti dia akan semakin sombong karena menjadi champion di kejuaraan pencak silat itu,"


"Aku jadi menyesal karena tidak mengikuti turnamen itu. Andai aku ikut, peluang ku untuk membungkam mulut Diaz itu sangat besar. Tapi, ya sudahlah. Semuanya sudah terlambat," keluh Jol seakan menyesali keputusannya beberapa waktu lalu.


"Kesempatan itu akan ada lagi tahun depan. Tapi mungkin aku lah lawannya. Kelak dia akan tau bahwa setiap hutang yang dia berikan, pasti akan aku bayar berikut suku bunganya," kata Namora dalam hati. Masih sangat segar diingatan, bagaimana dulu dia diperlakukan oleh empat sekawan itu. Dan Diaz adalah orang yang paling banyak menyakiti dirinya.


"Heh! Mengapa kau hanya diam saja. Berdirikan sepeda ku itu! Kau yang menjatuhkan, maka kau dirikan dan kita berangkat!" Ajak Jol yang seketika membuyarkan lamunan Namora.


"Oh. Eh.., iya. Ayo kita berangkat," Namora yang sedikit tergagap langsung bangkit dan kemudian menarik sepeda milik Jol.


Sementara itu, di setiap pojok mana saja, asalkan ada kerumunan siswa, pasti topik yang mereka bahas adalah kehebatan siswa SMP kampung baru. Hal ini tentu saja membuat beberapa diantara anak-anak lain merasa iri hati. Namun, iri saja tentu tidak cukup jika tidak memiliki keterampilan yang memadai. Maka dari itu, selain mengutuk di dalam hati, tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan.


Berbeda dengan Namora dan anak-anak J7 lainnya, mereka seolah-olah tidak terpengaruh dengan semua itu. Bagi mereka, walaupun ada penyesalan mengapa mereka tidak mengikuti turnamen itu, tapi toh semuanya sudah berlalu. Bagi mereka, kesempatan akan selalu ada. Siapa bilang kesempatan itu hanya datang sekali seumur hidup?.


"Ayo Namora! Kau parkir sepeda ku itu dengan benar. Jangan singgah lagi ke kantin, aku muak mendengar obrolan mereka," kata Jol. Kelihatan kalau dia mulai uring-uringan.


Namora hanya menurut saja. Baginya, dia merasa lucu dengan tingkah Jol ini. Karena, beberapa waktu yang lalu, dia juga yang melarang bahkan dia sendiri menolak untuk mengikuti turnamen tersebut. Tapi kini, malah dirinya yang terlihat tidak senang.


"Kau masih memikirkan turnamen itu Jol?"


"Aku tidak memikirkan itu. Mereka saja yang terlalu lebay. Makanya aku jadi sewot,"


"Ya sudah. Ayo kita ke kelas. Sumbat telinga mu dengan kertas!" Ujar Namora becanda.

__ADS_1


"Ah sialan!" Maki Jol terlambat menghindar dari kertas yang di remas oleh Namora dan dilemparkan kearahnya.


Bersambung...


__ADS_2