Namora

Namora
Rencana untuk mempermainkan Namora


__ADS_3

SMA negeri Tunas Bangsa


Hari ini, Namora benar-benar merasakan tubuhnya seperti diseruduk kambing bandot.


Tidak pernah terbayangkan olehnya bahwa dia akan dikerjai oleh ketiga gadis yang sama sekali tidak dia kenal.


Berkelompok dengan tiga gadis, dan dia sendirian laki-laki, membuat semua pekerjaan yang berat ditanggung sendiri olehnya.


Demi gengsi agar terlihat macho, dia mengerjakan semuanya sendirian. Merapikan meja, menyusun kursi dan banyak pekerjaan yang lainnya yang dia kerjakan.


Bel sekolah terdengar menandakan berakhirnya penderitaan Namora. Dia pun dengan berjalan seperti orang mabuk, menghampiri Jol yang juga tampak mandi keringat.


"Jol!" Panggil Namora sambil mendekat. Jelas terlihat bahwa nafasnya tidak beraturan.


Jol yang melihat keadaan Namora ini bagaimanapun merasa lucu plus kasihan.


"Ada apa dengan mu, Namora?"


"Huh. Jangan kau tanya. Sesak nafas ku," jawab Namora.


"Kau apakan ketiga anak gadis itu?" Tanya Jol bercanda.


"Pikiran kotor. Mana ada aku apa-apakan mereka. Justru aku yang dikerjai," jawab Namora. Dia ingin melanjutkan. Tapi kali ini dia melihat Kenza sedang menuju kearahnya.


"Bang," sapa kedua anak muda itu berbarengan.


"Bagaimana dengan tugas kalian. Apa sudah selesai?" Tanya Kenza begitu dia tiba dihadapan kedua juniornya itu.


"Sudah bang. Setengah mati rasanya," jawab Namora mengutarakan keluhannya.


"Seharusnya kau bersyukur dikasih pasangan anak gadis. Mereka bertiga itu calon kembang di sekolah ini. Dan kau harus tau. Tidak mudah mendekati mereka. Kau harus berterima kasih kepada ku,"


"Ampun bang. Jangan lagi Abang pasangkan aku dengan mereka. Aku kapok," Namora benar-benar menyerah. Dia tidak ingin lagi satu kelompok dengan gadis-gadis manja itu.


"Kau belum tau siapa mereka. Semua orang mulai menceritakan tentang mereka. Banyak orang yang merasa iri kepadamu. Dan yang harus kau ketahui, salah satu dari ketiga gadis itu adalah anak guru fisika. Jika salah satu dari kalian mampu mendapatkan perhatiannya, maka pamor kalian di sekolah ini akan meningkat,"

__ADS_1


Mendengar senior nya itu mengatakan bahwa salah satu dari ketiga gadis itu adalah anak guru fisika, maka Namora pun segera memandang Jol.


"Mungkin itu orangnya, Jol?!"


"Apa kalian mengenalnya?" Tanya Kenza berpaling menatap ke arah Jol.


"Tidak bang. Salah satu dari sahabat kami pernah mendengar tentang kecantikan anak guru fisika di sekolah ini. Tidak di sangka bahwa salah satu dari ketiga gadis itu adalah orangnya," jawab Jol. Memang beberapa hari yang lalu mereka ada membahas tentang anak guru fisika itu. Tapi, mereka memang benar-benar belum pernah melihat wajahnya.


Kenza tidak berkata-kata lagi. Dia berlalu dari hadapan Namora dan Jol, lalu berjalan menuju ke kantin.


Jol dan Namora hanya melihat saja dari kejauhan.


Mereka melihat bahwa Kenza memesan makanan dan minuman yang dibungkus. Setelah itu, dia berlalu meninggalkan kantin tadi tanpa sepatah katapun. Walaupun banyak yang menawarkan dirinya untuk duduk, bahkan ada diantara gadis-gadis yang ingin mentraktirnya, tapi sepertinya Kenza terlalu sombong untuk didekati.


Walaupun dia kembali berselisih dengan Namora dan Jol yang baru akan ke kantin, tetap saja Kenza tidak melirik ke arah mereka. Dia hanya berjalan memasuki lorong kelas menuju ke tangga, dan mulai mendaki anak tangga untuk naik ke atas dimana kelasnya berada.


Kini, Namora dan Jol dapat melihat bahwa Kenza duduk di balkon tingkat dua sambil memakan makanan yang tadi dia beli.


"Mengapa dia seperti itu? Bukannya tadi baik-baik saja?" Tanya Namora kepada Jol. Dia merasa heran dengan sikap Kenza itu. Tadi, dia masih mau menegur. Namun setelah itu, berubah menjadi sangat acuh.


Sementara itu, di sisi lain, tampak Rendra, Marcus dan beberapa anak lainnya memperhatikan saja kedua musuh besarnya itu.


Dia tersenyum sinis ketika mendengar Namora dan Jol tadi membahas tentang ketiga gadis itu.


"Bang Kenza sudah menepati janjinya. Jangan ganggu lagi. Atau kita nanti akan mendapat susah!" Kata Rendra kepada Marcus.


Beberapa orang anak muda itu kini mulai melangkah menuju ke tanah lapang dan berhenti di depan beberapa gadis yang tampak sedang seru membicarakan sesuatu.


"Heh, Meri! Apa kau tidak melihat wajah anak polos itu tadi? Kelihatannya, dia begitu tertekan menjadi bagian dari kelompok kita,"


"Iya. Salahnya sendiri. Mengapa merasa sok kuat,"


"Mungkin dia ingin menarik perhatianmu," goda sahabatnya kepada gadis yang dipanggil dengan sebutan Meri tadi.


Gadis ini lah yang dimaksud oleh Kenza tadi, sebagai anak guru fisika. Namanya Merisda. Anak ini memang sangat cantik. Bahkan, kecantikan yang dia miliki tidak dapat ditandingi oleh siswi lainnya. Hanya saja, pancaran sinar mata gadis ini sangat licik. Gaya bicaranya juga sangat angkuh. Jika berjalan, wajahnya menengadah ke atas. Sungguh sangat arogan sekali.

__ADS_1


Sementara itu, kedua sahabatnya adalah Ernita dan Dosma. Selain kedua gadis ini, tidak ada yang dekat dengan Merisda. Baginya, yang lain tidak pantas untuk menjadi sahabatnya.


"Bicara tentang anak tadi, aku melihat kepolosan pada wajahnya. Tatapannya juga tidak liar. Pasti seru tuh jika bisa mempermainkan perasaan seseorang yang tipenya seperti anak tadi," kata Ernita yang mengacu kepada Namora.


"Anak seperti itu apa sulitnya untuk mempermainkannya," balas Merisda dengan sombong. Baginya, hanya menjentikkan jarinya saja, Namora pasti sudah klepek-klepek.


"Apa kau yakin?" Tanya Dosma sekedar untuk menguji. Dia juga ingin melihat seperti apa jadinya jika anak lugu dan cupu seperti Namora ini dapat dipermainkan oleh mereka.


"Kau ingin bertaruh denganku?" Tantang Merisda. Dia paling tidak suka diremehkan. Apa lagi hanya sebatas Namora saja. Baginya itu terlalu kecil.


"Baik. Aku ingin bertaruh!" Kata Dosma yang mulai ikut terpancing. Namun yang lebih penting adalah, dia ingin melihat Namora seperti kerbau yang di cucuk hidungnya.


"Kau saksinya ya Er!"


Mendengar namanya di sebut, Ernita langsung mengiyakan. "Ok. Aku akan menjadi penengah diantara kalian!"


"Apa taruhan kita, Dos?"


"Aku akan mentraktir mu satu bulan penuh, jika kau mampu membuat Namora tergila-gila kepadamu!"


"Hahaha. Hanya segitu mampu mu?" Tanya Merisda sambil tertawa mengejek.


"Lalu, taruhan seperti apa yang kau inginkan?" Tanya Dosma. Maklumlah. Ketiga gadis ini memang terkenal dengan keangkuhannya. Mana mau mereka disepelekan.


"Aku menginginkan yang lebih!"


"Misalnya?" Tanya Dosma yang ingin langsung kepada intinya.


"Minimal handbag baru, atau sepatu baru," jawab Merisda.


"Kau ingin memeras ku?" Dosma membelalakkan matanya. Dia tidak menyangka bahwa Merisda ingin memorotin uangnya.


"Aku akan memberikan apa yang kau inginkan. Handbag baru, sepatu baru, bahkan handphone baru!"


Mendengar suara seseorang dari arah belakangnya, Merisda dan Ernita langsung menoleh. Dan kini, dia melihat Rendra berada tepat di belakangnya dengan senyum yang sangat licik.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2