Namora

Namora
Kesadisan Namora


__ADS_3

Kedua orang itu saling berhadap-hadapan dengan kuda-kuda masing-masing yang kapan saja bisa menyerang dan bertahan.


Dari sorot mata kakak pertama, terlihat bahwa dia tidak berani menganggap remeh lawan yang berada dihadapannya itu. Bagaimanapun, dua orang tamu kurang ajar itu telah menumbangkan dua belas orang murid sabuk hijau, dan seorang murid sabuk hitam tanpa mengeluarkan sedikitpun keringat.


Dari sini kakak pertama dapat menilai bahwa tingkat ilmu beladiri Namora dan Jol berada pada tingkat ke empat dari sembilan tingkat pada sabuk hitam. Jika dirinya menganggap enteng pada lawan, kemungkinan dirinya akan dipermalukan dihadapan murid-murid lainnya.


Melihat bahwa kakak pertama itu begitu serius, Namora yang tidak dapat ditebak raut wajahnya mulai meluruskan badannya. Dia mengitari kakak pertama itu dengan tatapan dingin.


"Kau terlalu serius menghadapi aku. Apakah kau takut?" Namora mulai menyerang mental lawan dengan provokatif.


"Mengapa? Apakah kau berubah pikiran? Berlutut dan benturkan kepalamu di tanah sebanyak tujuh kali, lalu ucapkan kata penyesalan mu! Mungkin aku akan berbaik hati untuk membiarkanmu pergi dengan satu kaki patah,"


"Seram sekali," cibir Namora. Untuk anak bandel seperti dirinya, lebih baik mati daripada membenturkan kepalanya di tanah.


"Namora. Kau harus membayar perbuatan mu kepada ku. Aku telah memberitahukan kepada ayahku. Sebentar lagi dia akan tiba di sini," Rudi tidak berniat lepaskan Namora begitu saja. Bagaimanapun, dia adalah anak orang kaya yang cukup berpengaruh di kampung baru. Bahkan, pak Camat saja berada dalam kendali ayahnya.


"Apa tidak sekalian saja kakek mu kau panggil ke sini? Kalau kau bisa memanggil ayah mu, aku juga bisa memanggil Paman ku," Namora mengisyaratkan kepada kakak pertama untuk jangan menyerang dulu. Kemudian dia merogoh sakunya untuk mengeluarkan handphone, setelah itu..,


"Paman. Aku dalam masalah di Dojo kampung baru. Jika Paman tidak datang, aku akan membakar Dojo kampung baru ini!"


Selesai mengirim pesan suara, dia segera menatap ke arah kakak pertama, kemudian memberi isyarat agar pertarungan mereka dimulai saja.


"Keras kepala," kata kakak pertama yang di susul dengan tendangan lurus.


"Jangan beri jarak kepadanya, Namora. Melawan karate harus menggunakan kuncian dari jarak dekat!" Jol memperingatkan Namora untuk tidak memberikan ruang gerak kepada lawannya.


Sebenarnya, itu juga yang ada dalam pikiran Namora. Bagaimanapun, dia adalah praktisi beladiri beraliran pencak silat. Pertarungan jarak dekat dengan kuda-kuda yang kokoh serta kekuatan kuncian adalah keahliannya. Sekali terkunci oleh jurusnya, jangan harap untuk lepas dengan mudah.


Begitu tendangan kakak pertama tadi lewat sedikit saja dari ujung rambutnya, Namora segera merapat, kemudian menusuk dua jari tangannya ke arah paha lelaki itu. Akibatnya, lelaki itu merasakan beberapa urat di pahanya seperti keseleo. Dan itu benar-benar tidak enak. Apa lagi posisinya berdiri kini tidak menguntungkan. Andai Namora menendang kaki kirinya sedikit saja, dia pasti akan tersungkur.


Merasakan rasa sakit dari tusukan jari tangan Namora, kakak pertama langsung memukulkan tangannya ke bawah dengan sangat keras, dia maksud untuk menghalau tangan Namora. Akan tetapi, Namora memanfaatkan pukulan keras itu dengan menamparkan tangan lelaki itu disertai sedikit dorongan. Akibatnya, tangan itu memukul bagian bawah pusar nya sendiri.

__ADS_1


Jeritan melengking menyayat hati terdengar dari mulut kakak pertama.


Begitu tangannya tadi di tepis oleh Namora sehingga menyerang barang antiknya sendiri, dia pun meraung, mengejang di tanah sambil menutupi kantong menyan miliknya dengan kedua tangannya.


Keringat mulai membasahi dahinya, yang menandakan bahwa rasa itu benar-benar ingin membunuhnya.


"Kau...,"


Hanya itu kata-kata yang mampu diucapkan oleh kakak pertama. Selebihnya, dia hanya mengerang kesakitan.


Diaz membeku menatap adegan itu. Sama sekali dia tidak menyangka bahwa Namora bisa melakukan sesuatu yang dia sendiri pun tidak akan bisa melakukannya.


Dia mulai berpikir untuk tidak mengikuti turnamen itu. Hanya saja, sudah kepalang tanggung. Jika dia menarik diri, pasti dia akan jadi bahan cemoohan dari orang-orang yang menganggap bahwa dirinya sangat hebat dan bisa dengan mudah memenangkan pertandingan besok.


"Besok giliran mu, Diaz!" Ancam Namora menunjuk ke arah Diaz. Lalu, enak saja dia duduk di atas tubuh kakak pertama yang masih berjuang menahan rasa sakit.


Namora melirik ke arah Rudi. Dia kemudian bertanya, "apakah ayah mu masih lama? Aku lapar!"


Tidak butuh waktu lama, tampak sekitar lima unit mobil memasuki pekarangan Dojo dan berhenti tepat di dekat mereka yang berkelahi tadi.


Rudi dan Diaz terlihat tersenyum mengejek ke arah Namora. Wajah mereka mulai menunjukkan keberanian, karena mereka tau yang datang adalah Ganjang, ayahnya Rudi.


"Kau akan mendapatkan balasannya, Namora. Aku pastikan bahwa kakimu akan patah. Dan aku juga akan mematahkan tulang rusuk mu, seperti kau mematahkan tulang rusukku!"


Namora dan Jol tidak sempat membalas perkataan Rudi barusan. Karena, kini dia melihat dari arah mobil, mulai keluar lebih dari sepuluh orang pria berbadan tegap, dengan salah satu diantaranya memiliki postur tubuh yang jangkung. Dan lelaki yang jangkung itu tidak lain adalah Ganjang, ayahnya Rudi.


Begitu tiba di hadapan mereka, mendadak lelaki jangkung itu menatap dengan marah ke arah Namora. Kemudian dia bertanya kepada Rudi. "Apakah anak ini yang menyebabkan semua ini?"


Rudi yang merasakan separuh nyawanya kembali, segera menjawab. "Benar, Ayah. Tidak ada masalah apapun, tiba-tiba kedua orang ini datang dan memukuli murid-murid di Dojo ini. Lihatlah! Bahkan kakak pertama pun dibuat cedera olehnya,"


Mendengar jawaban dari anaknya, Ganjang segera membalikkan badannya menghadap ke arah Namora. Setelahnya, dia segera mendengus. "Ada masalah apa antara kau dengan anak ku? Mengapa kau memukuli anak ku sampai cedera?"

__ADS_1


"Dendam lama," jawab Namora acuh tak acuh.


"Dendam lama? Aku tidak mau tau. Kalau kau berani memukuli anak Ganjang, berarti kau punya nyawa rangkap. Sekarang kau pilih sendiri. Mau anak buah ku yang mematahkan kakimu, atau kau yang mematahkannya sendiri?"


Ganjang memberikan isyarat kepada anak buahnya. Lalu, salah satu dari mereka melemparkan pemukul baseball tepat di ujung kaki Namora.


"Lakukan! Karena, jika aku sendiri yang melakukannya, kau mungkin tidak akan melihat matahari terbit esok hari!"


Namora membungkukkan badannya, kemudian mengambil pemukul baseball itu. Tapi yang tidak disangka oleh Ganjang adalah, Namora malah bergerak cepat ke arah Rudi, kemudian..,


Plak!


"Aaaaa....!" Rudi berteriak sambil memegang kepalanya yang kini telah berlumuran darah.


Kejadian cepat ini membuat Ganjang tidak dapat berpikir dengan baik. Mana dia tau kalau kejadiannya akan seperti ini. Dan Namora ini, baginya sangat berdarah dingin.


Sementara itu, Namora sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apapun. Bahkan, dia menyentuh kepala Rudi yang berdarah, mencolek sedikit darah dengan ujung jari telunjuknya, kemudian menjilati darah tersebut.


"Kau, orang tua. Tidak seharusnya ikut campur dalam urusan anak-anak. Ini yang kau inginkan. Iya kan?"


Kesadaran Ganjang berangsur pulih dari keterkejutannya tadi. Kini dia merasa sangat marah.


Tanpa memperdulikan bahwa dirinya adalah orang tua yang akan memukuli anak-anak, dia segera melangkah mendekati Namora dengan niat hendak memukulnya.


Dia sudah tidak perduli lagi apakah Namora bisa bertahan atau malah mati. Baginya, penderitaan anaknya harus dibayar sampai lunas oleh Namora. Akan tetapi langkah Ganjang terhenti ketika dari arah luar, tampak sederet mobil BMW hitam meluncur mulus memasuki pekarangan Dojo ini. Jika.di hitung, jumlah kendaraan yang baru tiba itu berjumlah lebih dari 10 unit, yang membuat area parkir di Dojo itu kini terlihat penuh sesak.


"Ingin memukul ku sampai mati? Sebentar lagi aku ingin melihat keberanian seperti apa yang kau miliki," ejek Namora ke arah Ganjang.


Dia jelas tau bahwa rombongan itu adalah rombongan Ameng dengan anak buahnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2