
Pagi itu di sekolah, Namora yang baru turun dari sepeda motor Jol tampak sedang memperhatikan sesuatu. Hal itu tidak luput dari perhatian Jol. Karena tadi malam, mereka saling berbalas pesan WhatsApp dan Namora menceritakan semua yang terjadi antara dirinya dengan Merisda.
Dari apa yang dikatakan oleh Namora kepadanya, Jol dapat menyimpulkan bahwa selama ini dia hanya dipermainkan oleh Merisda. Tapi, Jol tidak berani mengatakan hal tersebut kepada Namora atas berbagai pertimbangan. Lagi pula, semuanya sudah terlambat. Namora sudah terlanjur habis-habisan dengan gadis itu.
"Kau mencari Merisda?" Tanya Jol memperhatikan Namora yang tampak celingukan.
Namora menganggukkan kepalanya. Dia tampak seperti orang yang sedang putus asa.
"Sudahlah Namora. Belajarlah untuk berpikir dengan realistis! Aku khawatir kau hanya dimanfaatkan saja oleh Merisda,"
"Aku masih yakin bahwa semua ini bisa diperbaiki. Aku tau Merisda. Kami sudah tujuh bulan bersama. Masa iya dia mau memanfaatkan aku," Namora masih tidak yakin dengan apa yang dikatakan oleh Jol.
Mendengar perkataan dari Namora, Jol menghempaskan nafasnya kuat-kuat. "Aku hanya berharap agar kau tidak kecewa," Jol menepuk pundak Namora, lalu mulai melangkah meninggalkan area parkir sekolah menuju ke kelas.
Namora segera menyusul Jol. Dia berniat untuk memasuki kelas terlebih dahulu untuk meletakkan tas miliknya, lalu nanti akan keluar lagi mencari Merisda. Dia masih yakin kalau hubungan mereka akan baik-baik saja.
Di pintu masuk ke kelas, ternyata di sana sudah ada Jericho, Juned, Jaiz, James, Julio dan Jufran menunggu mereka.
Sambil tersenyum, Jericho langsung menyongsong kedatangan Jol dan Namora. "Hei. Kau begadang ya? Kenapa bangun terlambat?"
"Bukan aku. Tapi dia!" Jol menunjuk ke arah Namora.
Sebenarnya Jol bangun lebih cepat. Namun, karena menunggu Namora, dia jadi terlambat.
"Hahaha. Namora.., Namora!" Ejek Jericho. Dia kembali berkata, "eh. Aku dengar, kemarin sore kau nyaris jalan kaki dari pusat kota Batu kembali ke rumah?!" Tanya Jericho. Dia tau cerita ini dari Jol.
Namora hanya tersenyum canggung. Dia tidak tau harus menjawab apa. Kenyataannya memang begitu. Jika bukan karena sahabat Ameng, mungkin dia akan merangkak pulang ke perumahan dinas kepolisian.
Setelah melihat bahwa Namora tidak memiliki sesuatu untuk diperkatakan, mereka pun akhirnya membahas sesuatu yang lain, sampai lah ketika James melihat tiga orang gadis lewat di depan mereka.
__ADS_1
"Ssssst... Itu Merisda lewat!" Kata James sambil memonyongkan bibirnya.
Sontak semua mata memandang ke arah Namora dan Merisda yang sedang berjalan secara bergantian.
"Kau bilang mau menemui Merisda kan? Temui lah!" Kata Jol kepada Namora.
Namora berlari menuju ke dalam kelas untuk meletakkan tas bukunya, lalu kembali keluar, kemudian menghampiri Merisda.
Saat itu, Merisda sedang bersenda gurau dengan Ernita dan Dosma. Tampaknya mereka sangat bersemangat. Tapi, senyuman di bibir Merisda segera memudar ketika melihat Namora setengah berlari menghampiri dirinya.
"Mer. Aku ingin bicara dengan mu!" Tanpa basa-basi lagi, Namora langsung mengutarakan niatnya kepada gadis itu.
Merisda segera mencibir. Dia mendengus kesal, kemudian segera berlalu dengan langkah lebar.
"Mer. Kamu kenapa?" Namora berlari mensejajarkan langkahnya dengan Merisda, lalu meraih tangan gadis itu kedalam genggaman tangannya.
"Ih. Apaan sih? Lepaskan!" Merisda tampak kesal dan merenggut tangannya dengan kasar.
"Kamu kenapa Mer? Apa salahku?" Namora bertanya dengan memelas. Dia bingung entah kesalahan apa yang telah dia perbuat. Jika itu karena boneka dolphin sehingga membuat Merisda merajuk, sungguh itu adalah sesuatu yang dia tidak mampu. Dan Merisda sudah lama mengetahui bahwa Namora ini bukanlah anak orang kaya. Jika itu alasannya, bukankah Merisda ini mencari gara-gara dengan dirinya. Sengaja mencari-cari kesalahannya.
"Salah mu? Salah mu adalah, mengapa kau miskin? Menjijikkan!" Merisda meludah ke tanah, kemudian berlalu meninggalkan Namora dengan riak wajah terhina.
Namora terus berdiri di tempatnya tadi. Dia seperti tersadar dari mimpi. Tidak pernah dia bayangkan bahwa Merisda yang biasanya baik, selalu membela dirinya, akan berubah 180 derajat. Padahal dulu, dia begitu bangga dengan hubungannya. Merisda, walaupun mata duitan, tetapi sangat perhatian. Dia ingat ketika dia di-bully oleh Rendra dan teman-temannya, Merisda akan tampil di depan untuk membelanya. Tapi kini..?
Satu tangan hinggap di pundak Namora. Ketika Namora menoleh, dia melihat Jol sudah berdiri disampingnya.
"Sudah percaya sekarang?" Tanya Jol. Dia tampak sangat prihatin kepada sahabatnya itu.
Namora tidak menjawab. Dia menatap Jol sebentar, lalu berkata. "kau tidak sarapan? Ayo ke kantin!" Namora berjalan mendahului.
__ADS_1
Saat ini, baik Jol, Jericho dan yang lainnya hanya bisa menarik nafas berat. Mereka sangat kasihan melihat Namora. Bagi mereka, Namora ini pasti dipermainkan. Karena, sejak awal lagi, tidak ada sesuatu yang bisa dibanggakan dari Namora. Diantara kedelapan mereka, Namora ini lah yang paling miskin. Tapi mengapa dia yang dipilih oleh Merisda tanpa sesuatu alasan yang tepat. Ini menandakan bahwa sudah lama Namora ini menjadi target. Mungkin karena dia terlalu polos.
"Terus terang saja. Aku kasihan melihat Namora. Dia seperti habis manis, sepah dibuang,"
"Salahkan dirinya yang terlalu polos," jawab Jericho.
"Siapa yang tau? Andai Merisda mendekati dirimu, kau pun pasti tidak akan bisa menebak bahwa kau dipermainkan. Semuanya tampak begitu baik pada permukaan," kata Jol yang merasa beruntung tidak menjadi korban gadis itu.
Merisda memang sangat cantik. Kembang sekolah. Tapi, hatinya tak secantik wajahnya. Jika hatinya cantik, tidak mungkin tabungan Namora habis dikuras olehnya.
"Bagaimana ini? Aku khawatir Namora tidak bisa menerima kenyataan," Julio melihat punggung Namora yang sudah menjauh menuju ke kantin.
"Kita sudah besar. Namora harus bisa menerima kenyataan," kata Jol pula. Bagaimanapun, Namora harus bisa realistis. Karena, jika dia tidak berbesar hati, maka sama saja dengan menyiksa diri.
"Menurut mu bagaimana?" Tanya Jericho pula. Dia berpikir bahwa ada baiknya bertanya kepada teman-temannya solusi untuk Namora.
"Namora mungkin butuh teman. Serahkan semuanya kepada ku!" Jol menjawab pertanyaan dari Jericho barusan.
"Ya sudah kalau begitu. Aku kita susul dia ke kantin. Aku khawatir dia akan diganggu oleh Rendra.
"Ayo!"
Ketujuh anak-anak remaja itupun segera berjalan ke arah kantin untuk menyusul Namora. Saat ini, mungkin Namora butuh seseorang untuk menjadi temannya mencurahkan perasaan.
Sejak Sekolah menengah pertama, hanya mereka yang selalu menjadi sahabat dekat Namora. Mereka tau betul seperti apa Namora ini. Orang lugu, yang sangat bodoh dan gampang tertipu. Mungkin itu adalah pengaruh dari apa yang dialaminya sejak dulu. Dulu, dia selalu di bully, di caci, di hina dan tidak ada yang mau berteman dengannya. Wajar ketika ada orang yang memperhatikan dirinya, maka Namora akan menyerahkan apa saja yang dia miliki semata demi menyenangkan hati orang tersebut agar terus mau berteman dengannya. Bahkan, J7 pun sering menerima kebaikan dan ketulusan dari Namora ini.
Bersambung...
Jangan lupa untuk mampir ke novel karya dari Author Mita Dewi dengan judul, LAHIR KEMBALI DI TUBUH BARU
__ADS_1