
Sore ini, tetap seperti sore-sore sebelumnya, dimana Namora harus melakukan rutinitasnya sebagai seorang murid dari Pak Harianto.
Sudah banyak yang dia pelajari dari orang tua itu. Baik itu ilmu beladiri, petuah-petuah bijak serta nasehat agar dirinya lebih bisa mengontrol emosi dan mengendalikan diri dari sifat amarah yang tentunya akan merugikan diri sendiri jika tidak pada tempatnya.
Saat ini, Namora tampak duduk dengan alat pemberat masih terpasang di kedua kakinya.
Berulang kali dia menganggukkan kepalanya ketika lelaki tua yang duduk di kursi rotan itu menceramahi dirinya yang terduduk di tanah berpasir dengan hanya beralaskan sendalnya sendiri.
"Namora. Kau memiliki kekuatan yang mungkin tidak dimiliki oleh orang lain yang sama usia dengan mu. Saat ini, walaupun usia mu baru beranjak 15 tahun, kau sudah mampu menguasai berbagai tehnik bertarung. Andai lawan mu hanya sebatas Shodan dalam istilah karate, maka kau akan dengan sangat mudah menumbangkan lawan mu. Karena, level yang kau miliki sudah jauh di atas Shodan. Tapi kau harus ingat! Jangan kau pergunakan apa yang aku ajarkan untuk mencari musuh!"
"Musuh jangan di cari. Andai bertemu juga, jika bisa menghindar, maka hindarilah! Jangan mentang-mentang ada pepatah mengatakan bahwa musuh jangan di cari, ketemu jangan lari, malah kau sengaja memancing musuh untuk mengusik mu. Itu tidak betul! Mengapa harus menunggu musuh mencari mu, jika kau bisa menghindarinya? Tetaplah merendah. Rendahkan hati mu, rendahkan tatapan mu, rendahkan nada bicara mu! Yang perlu kau tinggikan adalah, kewaspadaan, tekad dan kemampuan. Tidak selamanya nasehat ku ini benar. Ada kalanya kita lembut, ada kalanya kita keras. Aku tidak bisa melarang mu untuk berkelahi dalam keadaan tertentu. Akan tetapi, apa salahnya andai bisa dihindari?!"
"Yang harus kau ingat adalah, jangan sesekali kau melepaskan pukulan tangan kiri mu, atau melepaskan tendangan kaki kiri! Karena, sangat buruk akibatnya. Kau masih punya waktu setahun lagi untuk memperhalus serta menguasai apa yang telah kakek ajarkan. Setelah itu, lunas sudah tugas ku menurunkan semua ilmu yang aku pelajari dari kakek mu dulu."
"Namora mengerti Kek. Tapi, jika tidak berkelahi, untuk apa ilmu beladiri?" Tanya Namora. Dia sangat ingin membalas dendam kepada Diaz, Dudul dan Ruben yang menjadi penyebab dirinya tidak di terima di Dojo kampung baru ketika itu. Dia juga sangat ingin membungkam mulut besar Rendra yang selalu saja membully dirinya di sekolah.
"Kata-kata bijak mengatakan, semakin kau memperdalam ilmu beladiri, semakin kau merasa takut. Bukan takut kepada lawan mu. Akan tetapi, kau akan merasa takut andai apa yang kau miliki akan dapat menyebabkan kemudharatan kepada orang lain. Oleh karena itu, perdalam apa yang aku ajarkan, lalu kenali dirimu sendiri. Ketika kau mampu mengenali siapa dirimu, maka kau akan mengetahui bagaimana cara mengendalikannya. Karena, musuh terbesar dalam hidup ini adalah yang datang dari diri kita sendiri. Contoh nyata adalah, hawa nafsu. Itu datang dari diri kita sendiri walaupun penyebabnya datang dari berbagai sumber. Jika kau bisa mengendalikannya, maka kau adalah pemenang!"
"Namora tidak mengerti kek. Bagaimana bisa menang jika tidak mengalahkan lawan. Kalau Namora bisa membuat lawan tumbang, itu baru pemenang namanya!"
"Kau akan mengerti suatu saat nanti. Hanya saja, camkan baik-baik apa yang selama ini kakek ajarkan. Kau akan memerlukannya suatu hari nanti."
__ADS_1
"Benci lah hanya sekedar benci. Cintailah hanya sekedar cinta. Milikilah hanya sekedar memiliki. Jangan menganggap sesuatu secara berlebihan. Karena yang namanya berlebihan itu tidak baik untuk dirimu. Kau bisa sayang kepada sesuatu. Tapi kau harus tau bahwa tidak ada yang abadi. Semuanya hanya titipan. Jadi, jika kau menyayangi sesuatu, namun dilain sisi kau tau bahwa sesuatu itu tidak akan abadi, maka kau akan bisa merelakan andai terlepas dari genggaman mu. Begitu pula dengan cinta."
"Cintai lah hanya sekedar cinta. Jangan sampai kau mengatakan bahwa kau tidak akan bisa hidup tanpa orang yang kau cintai. Itu tidak betul. Kita ambil saja perumpamaan nyawa! Di dunia ini, hanya orang gila saja yang tidak sayang dan cinta terhadap nyawanya. Tapi, pada masanya, nyawa itu akan terlepas dari jasad. Jika nyawa saja bisa lepas dari jasad kita, apalah lagi hanya benda atau makhluk. Suatu saat dia bisa pergi dari diri kita. Ingat, Namora! Tidak ada yang abadi. Yang abadi itu hanya Dia!" Kata Pak Harianto sambil menunjuk ke atas membuat Namora ikut-ikutan mendongak memandang langit.
"Dia yang Tunggal. Yang Esa. Yang Abadi. Tidak pernah tertidur walau sedetik pun. Cintai Dia! Zat yang Maha Agung, yang Maha dari segala yang Maha, dengan segenap hatimu! Karena, tidak ada yang lebih mencintaimu melainkan Dia. Maka, sudah selayaknya lah kau mencintai Dia melebihi apapun di dunia ini!"
"Makin pusing kepala Namora kek!" Keluh anak itu sambil meringis.
"Dari dulu otak mu itu memang bebal!"
Keletuk!
Namora hanya bisa mengusap kepalanya bekas jitakan dari Pak Harianto tanpa berani mengatakan 'aduh'.
"Mengapa kau usap bekas jitakan ku? Turunkan tangan mu!"
Namora segera menurunkan tangannya tanpa berani membantah sedikitpun.
"Jangan manja jika mau menjadi lelaki sejati. Sedikit saja langsung mengeluh. Bagaimana jika kelak kau diberikan beban amanah yang berat? Apa sepanjang jalan kau akan mengeluh?"
Namora hanya bisa menundukkan kepalanya karena habis diberi ceramah, malah kini dia diomeli oleh orang tua itu.
__ADS_1
Yang membuat Namora heran, sebentar saja sifat lelaki ini berubah seperti bunglon. Yang tadinya sangat bijaksana, kini berubah menjadi pemarah.
"Kau boleh tunduk. Tapi tidak dengan mata mu! Walaupun kepala mu tunduk, mata mu harus lurus ke depan dengan kewaspadaan. Mengerti?!" Bentak lelaki tua itu.
"Mengerti kek. Tadi katanya di suruh menundukkan pandangan. Sekarang Namora menundukkan pandangan, malah salah lagi," gerutu anak itu.
"Itu hanya kiasan perkataan saja, dan dalam keadaan tertentu. Tetapi dalam hal kewaspadaan, kau tidak boleh lengah!"
"Oh begitu ya kek. Baiklah. Namora mengerti sekarang!" Kata anak itu.
"Apa yang kau mengerti?"
"Mengerti. Mengerti tentang menundukkan pandangan. Seandainya ada angin kencang, tundukkan pandangan agar tidak kelilipan," jawab Namora seenaknya saja.
"Hmmm. Masuk akal juga," kata Pak Harianto yang juga seenaknya. Dia sudah cukup jengkel dengan kebebalan otak Namora ini.
"Baiklah. Sekarang kau lakukan lari lima puluh putaran lagi. Setelah itu, kau beristirahat dengan melakukan sholat ashar. Kemudian, lanjut lagi berlari dengan pemberat itu sampai menjelang Maghrib. Itu saja yang harus kau lakukan hari ini. Setelah itu, kau boleh pulang. Tapi ingat! Jangan menipuku dengan mengatakan bahwa kau telah menyelesaikan tugas mu, padahal tidak. Aku bisa melihat dari sorot mata mu andai kau membohongiku," ancam lelaki tua itu yang langsung pergi meninggalkan kursi yang dia duduki tadi.
"Namora patuh kek!" Jawab Namora yang segera bangkit dari duduknya, lalu segera berlari mengelilingi halaman rumah bagian belakang milik pak Harianto dengan pemberat masih mengganduli kakinya.
Bersambung...
__ADS_1