Namora

Namora
Angga dan Teja


__ADS_3

Kita tinggalkan dulu Namora yang sedang berjuang untuk memenangkan kejuaraan pencak silat yang diadakan di kota Dolok ginjang. Sekarang, mari kita ke kota L untuk mengikuti rencana Jhonroy yang sangat berambisi untuk membunuh Namora.


Pukul 12 tengah hari, pada hari yang sama di kota L, di rumah besar yang berdiri megah di kawasan elit tersebut, seorang lelaki tua yang duduk dengan tongkat berada di dalam genggaman tangannya seperti sedang menunggu kedatangan seseorang.


Beberapa orang kepercayaannya juga berada di tempat itu. Dan kebanyakan dari mereka adalah, orang-orang yang memang dia tugaskan untuk menyelidiki segala sesuatu tentang diri Namora.


Sekitar 30 menit kemudian, dari arah depan, kini tampak sekitar lima unit kendaraan memasuki lokasi pelataran rumah besar tersebut.


Setelah berhenti di area parkir, kini tampak sekitar sepuluh orang keluar dari dalam mobil, dan berencana untuk melangkah menuju ke pintu masuk utama rumah besar tersebut. Akan tetapi, langkah kaki seorang yang memimpin kesepuluh orang itu berhenti manakala dari arah yang sama, tiba-tiba datang satu lagi mobil Porsche Taycan silver dan berhenti tepat di samping lima unit mobil yang telah terlebih dahulu terparkir di sana.


Sorot mata tidak senang terlihat dari lelaki yang pertama datang tadi. Akan tetapi, dia segera merubah ekspresi wajahnya ketika seorang pemuda berusia sekitar 25 tahun keluar dari dalam mobil.


"Sudah lama kau sampai, Bang?" Tanya lelaki yang baru tiba tadi.


"Angga. Mengapa kau datang? Apakah ayah ada menyuruh untuk pulang? Aku lihat, kau memakai mobil baru. Banyak uang kau sekarang ya?" Jawab lelaki itu kepada lelaki berusia sekitar 25 tahun yang bernama Angga.


"Hehehe. Bang. Aku baru punya satu mobil baru. Itupun kau sudah merasa iri. Sedangkan kau, setiap tiga bulan sekali kau ganti mobil. Aku diam saja," jawab Angga dengan senyum canggung.


"Tutup mulut mu itu. Apakah anak selir pantas mendikte aku?" Bentaknya kepada Angga.


Angga hanya mengangkat pundaknya, kemudian mendahului memasuki rumah besar tersebut.


"Ayah..," katanya begitu tiba di dalam rumah, kemudian memeluk lelaki tua yang berada di kursi tadi dengan sangat manja.


Lelaki tua itu segera mengibaskan tangannya ke arah Angga begitu dia akan di peluk. Hal ini membuat Angga tersebut malu, kemudian berdiri di samping lelaki itu. Ada sorot dingin pada tatapan matanya.


Begini lah rasanya menjadi anak dari istri tidak sah. Tidak memiliki otoritas dalam keluarga. Dan Angga merasakan hal itu selama 25 tahun. Tapi mau bagaimana lagi, dia tidak bisa mengubah status tersebut kecuali abangnya yang bernama Teja, Mati!


"Ayah, aku pulang!" Seru satu suara dari luar.

__ADS_1


Begitu orang tua itu mendengar suara yang sangat dia kenal, lelaki tua itu langsung berdiri, kemudian merentangkan tangannya untuk memeluk.


Pelukan antara kedua anak dan ayah itu berlangsung dengan sangat hangat dihadapan Angga. Hal ini tentu saja membuat dirinya sangat iri.


Selama ini, dia tidak pernah mendapatkan pelukan dari sang Ayah. Semua kasih sayang ayahnya hanya tercurah kepada Teja. Dia bersyukur terlahir sebagai seorang lelaki. Andai dia wanita, sudah pasti dia akan di buang seperti saudara-saudaranya yang lain.


Jhonroy, memang dikenal sebagai playboy di masa mudanya.


Kegemarannya pada masa muda adalah menikah, cerai. Menikah, lalu cerai lagi.


Setelah usianya meningkat, dia bukannya bertaubat, malah memburu daun-daun muda untuk dia jadikan lalapan.


Akibat dari kegemarannya kawin cerai tersebut, beberapa anak pun terlahir akibat perbuatannya itu. Akan tetapi, selain Teja dari istrinya yang sah, hanya ada Angga saja anak lelaki. Sisanya melahirkan anak perempuan yang langsung dia singkirkan dengan memberi sejumlah uang kepada mantan istri yang dia ceraikan tersebut.


Di sini Angga merasa bersyukur karena dia terlahir sebagai lelaki. Dengan begitu, dia bisa mengembangkan keturunan bagi keluarga ini. Walaupun nantinya kerabat keluarganya hanya dijadikan keluarga jauh. Tapi itu sudah cukup untuk menjamin kehidupan keluarganya kelak. Karena, keluarga utama sudah pasti dari keturunan Teja. Kecuali Teja mati sebelum sempat menikah dan memiliki keturunan.


"Kau sudah pulang tepat waktu. Kemana saja kau Teja?" Tanya Jhonroy setelah melepaskan pelukannya.


"Ayah. Mengapa Angga juga di sini?" Tanya nya dengan nada tidak senang.


Jhonroy yang mendapat pertanyaan mengandung kecemburuan itu segera menatap ke arah Angga dengan sorot mata bertanya-tanya.


Angga segera maju satu langkah, kemudian menjawab. "Maafkan aku ayah. Aku pulang dengan tidak memberitahukan terlebih dahulu kepada mu. Aku mendengar dari beberapa orang bawahan, bahwa ayah saat ini sedang menghadapi masalah. Makanya aku pulang. Mungkin kehadiran ku dapat membantu,"


"Siapa yang membutuhkan bantuan mu?" Bentak Teja.


"Bang. Kita sama-sama anak ayah. Aku juga bertanggung jawab untuk membantu apapun masalahnya. Berdua lebih baik daripada sendiri," jawab Angga tidak mau kalah.


"Heh anak selir. Jangan berusaha untuk mengambil kredit dari ku ya! Aku peringatkan kepadamu. Kau tidak layak untuk bersaing dengan ku!"

__ADS_1


Angga ingin menjawab penghinaan dari Teja, sebelum Jhonroy memotong perdebatan mereka. "Sudah sudah sudah! Bukan saatnya untuk kalian saling berselisih. Saat ini kita harus bersatu untuk menghadapi lawan yang tidak kenal takut itu. Jika kalian seperti ini, cepat atau lambat keluarga kita akan hancur. Ketika itu terjadi, kalian akan menjadi gelandangan di kaki lima,"


Setelah sang ayah berkata demikian, Angga pun mundur beberapa langkah dan berdiri di sana. Sedangkan Teja, langsung duduk di samping Jhonroy.


"Siapa orang yang tidak kenal takut ini, ayah?" Tanya Teja. Dia heran juga. Bagaimana mungkin ada seseorang yang tidak kenal rasa takut berurusan dengan Jhonroy. Jangankan berurusan langsung. Biasanya, hanya mendengar namanya saja, orang sudah meringkuk ketakutan. Tapi sekarang, dia melihat bahwa Jhonroy tampak sangat pusing menghadapi orang ini.


Tanpa menjawab pertanyaan dari Teja, Jhonroy segera melambaikan tangannya kepada seorang lelaki yang lemah gemulai.


Mendapat isyarat tersebut, lelaki itu segera melangkah maju, kemudian meletakkan sesuatu di atas meja yang terbungkus rapi dengan amplop besar.


"Buka! Kau akan segera mengetahuinya," jawab Jhonroy.


Tanpa membuang waktu lagi, Teja segera merobek ujung amplop tersebut, kemudian mengeluarkan isinya yang ternyata adalah puluhan lembar foto seorang pemuda berusia 17 tahun.


"Apakah ayah bercanda?" Tanya Teja sambil mengernyitkan dahi. Menurutnya, anak ini pantasnya masih menyusu. Bagaimana mungkin bisa terlibat konflik dengan ayahnya.


"Mengapa? Apakah kau memandang rendah kepada anak itu? Ketahuilah bahwa anak itu adalah putra dari Tigor penguasa kota Kemuning. Sama seperti ayahnya, anak itu tidak mengenal rasa takut. Tanta telah terbunuh gara-gara ulahnya. Seluruh saham di perusahaan Agro chemical telah beralih tangan. Pilar Mandiri bangkrut karena ulahnya. Menurut mu, apakah anak ini tidak layak untuk diperhitungkan?" Jhonroy menatap tajam ke arah Teja yang saat ini ekspresi wajahnya telah berubah serius.


"Anak Tigor Black Cat?" Angga juga tampa sadar bergumam. Dulu, ketika usianya belum sepuluh tahun, dia sering mendengar tentang sepak terjang orang yang bernama Tigor ini. Bagaimana tidak ketakutan ketika dia tau siapa yang berurusan dengan ayahnya.


Tiba-tiba, rencana muncul di benak Angga. Namun, dia harus segera menyembunyikan senyum licik di bibirnya dan berpura-pura bahwa saat ini dia sangat ketakutan.


Melihat ekspresi wajah Angga yang berubah memucat, Teja langsung meremas amplop tadi, kemudian melemparkannya tepat ke arah wajah Angga.


"Pengecut. Bangsat sialan. Anak celaka kau itu. Wajah mu pucat seperti itu. Apakah kau masih bisa mengatakan bahwa kehadiranmu di sini akan meringankan beban keluarga?"


Jhonroy juga menatap kaku penuh kekecewaan ke arah Angga. "Kau.., keluar lah dari sini. Kehadiran mu tidak dibutuhkan!" Perintah Jhonroy kepada Angga.


"Siapa bilang kalau aku ketakutan. Andai aku tidak mampu pun, aku masih bisa menyumbangkan pikiran. Bisa membahas rencana dan mendorong kita untuk mengambil langkah maju yang tepat. Apa salahnya? Kalau aku tidak pandai berkelahi, itu karena ayah tidak memberikan izin karena khawatir kalau nanti aku akan menjadi pesaing berat bagi bang Teja!" Bantah Angga kepada ayah dan abangnya. Padahal dalam hatinya, siapa bilang dia tidak bisa berkelahi. Dia selama ini juga berlatih dengan cara sembunyi-sembunyi. Karena, dia jelas menunggu moments untuk membalas perlakuan yang tidak adil oleh mereka terhadap dirinya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2