
Matahari benar-benar terik di hari Minggu ini. Hari yang seharusnya dihabiskan untuk berlibur bagi para siswa yang lainnya ternyata tidak berlaku bagi Namora.
Di tengah siraman terik mentari siang itu, di tambah lagi dengan bunyi cacing di dalam perutnya berbunyi seolah-olah sedang menyanyikan lagu heavy metal, Namora kelihatan sedang berlatih sambil dimandori oleh Pak Harianto.
Butir-butir keringat sebesar-besar jagung mulai menetes dari keningnya terus merembes turun sampai ke dagu dan sebagian dadanya.
Kaos singlet yang dikenakan oleh pemuda tanggung itu sudah bisa di perah karena sejak tadi telah basah oleh keringat. Namun, sedikitpun anak muda itu tidak mengeluh. Dari pancaran sorot matanya, terbersit keinginan yang sangat kuat untuk menyerap seluruh ilmu beladiri yang diturunkan kepadanya.
Dalam posisi kuda-kuda, di atas paha anak itu juga diganduli dengan pemberat. Di atas kepalanya juga sama. Bahkan yang lebih parah, di bawah pantatnya terpasang sejenis dupa yang menyala mengepulkan asap. Sedikit saja anak itu menurunkan pantatnya, maka sudah jelas bara api dari bakaran dupa tadi akan menyengat nya.
Panas di atas dan panas dari bawah membuat keringat anak itu sedemikian derasnya. Tapi sekali lagi, dia sama sekali tidak mengeluh.
Melihat keteguhan hati dari anak muda ini, Pak Harianto pun mau tidak mau memuji juga di dalam hatinya.
Dengan sebatang rotan tergenggam ditangannya, dia pun melangkah perlahan menghampiri anak itu, lalu memperhatikan sambil mengelilinginya.
"Ingat! Sedikit saja kau turunkan pantat mu, maka bara api itu yang akan menyambutnya!" Kata orang tua itu memberikan peringatan untuk yang kesekian kalinya.
"Namora mengerti, Kek!" Jawab anak itu. Walaupun terasa berat, tapi dia tetap berusaha menahannya.
Sreeeet...!
Terdengar suara sesuatu di seret dari bagian bawah pantat Namora yang ternyata adalah tempat dupa tertancap tadi yang seperti terbuat dari tembikar.
Bugh!
Begitu tempat dupa tadi jauh dari bagian bawah pantat Namora, tiba-tiba pak Harianto menendang betis Namora.
"Hmmm... Bagus. Nyaris sempurna!" Gumamnya melambangkan kepuasan. Ada senyum samar menghiasi bibir keriput lelaki tua itu.
"Sekarang kau boleh berdiri tegak!" Perintahnya kepada Namora.
Mendengar perintah itu, Namora segera menggeser pemberat yang sejak tadi menindih bagian pahanya. Setelah itu, dia juga melepaskan pemberat di atas kepalanya.
Kini posisi Namora sudah tegak dan siap menerima perintah yang lainnya. Namun, tanpa aba-aba, lelaki tua itu segera mengirimkan tinju ke arah wajah Namora.
Wuzzz..!
"Hap!" Namora segera menangkis serangan yang datang secara tiba-tiba itu dengan tangan kirinya, lalu membuangnya kesamping.
"Mengapa berhenti? Apakah kau akan membiarkan saja dirimu di serang tanpa memberikan balasan?" Tanya lelaki itu itu pula.
"Tangkis kek!" Teriak Namora yang langsung mengirimkan tinju ke arah dada lelaki tua itu.
__ADS_1
Tap..!
Enak saja pak Harianto menangkap pergelangan tangan Namora, lalu memelintir pergelangan tangan anak muda itu.
Namora terpaksa bersalto sekali ke depan untuk membebaskan tangannya dari pelintiran tadi. Setelah itu, dia segera menangkap jari jempol lelaki tua itu, dan mengentaskannya kuat-kuat hingga cengkraman tangan pak Harianto terlepas dari lengannya.
"Hiah..!" Tampak Namora mengirimkan tendangan ke arah perut lelaki tua itu.
Bukannya menghindar, pak Harianto malah memiringkan badan dan mengangkat lututnya sehingga tendangan kaki Namora telak menghantam lutut lelaki tua itu.
Seperti menendang balok kayu besar, Namora meringis menahan rasa sakit pada bagian ujung kakinya setelah tendangannya disambut dengan lutut tadi.
"Kau terlalu tergesa-gesa. Sebaiknya perhatikan bagian tubuh lawan mu yang kosong dan tak di jaga!"
Bugh!
"Lihat bagian tubuh mu yang kosong!" Tiba-tiba pak Harianto menyapukan kakinya menekel kaki kiri Namora.
Gubrak!
Seperti bunyi karung beras yang dihempaskan, Namora terjatuh dengan posisi terhentak.
"Jangan katakan aduh! Atau aku kirim tendangan ke arah dada mu!" Bentak lelaki tua itu.
Kini, Namora bergegas bangkit dan telah berdiri tegak kembali.
"Giliran Namora, Kek!" Kata anak itu sembari membuka serangkaian jurus-jurus pendek dengan langkah yang pendek-pendek pula.
"Hmmm.., kau sudah menguasai langkah merunduk. Sekarang ayo coba!" Pak Harianto tampak sangat tertarik dengan langkah-langkah yang sangat lemah lembut namun berisi kekuatan itu.
Namora tampak sangat luwes sekali memperagakan langkah-langkah tadi. Kini, setelah dia mendekat ke arah lelaki tua itu, dia pun langsung menyingsingkan kaki celananya, kemudian...,
"Hih...!"
Plak..
Plak..
Plak...!
Tiga kali terdengar suara tamparan yang sangat keras dari tangan Namora yang disambut dengan tangkisan oleh Pak Harianto.
Namora terlihat mundur beberapa langkah ke belakang, lalu seperti ayam jantan yang akan bertarung, dia pun kembali merengsek dengan kaki sedikit menyeret ke tanah.
__ADS_1
"Lihat serangan kek!" Pekik Namora yang ketika itu menyongkel tanah dengan ujung kakinya. Tak pelak lagi, kini tanah bercampur pasir menghambur ke arah wajah lelaki tua itu, yang berhasil membuat pak Harianto kelabakan.
Bugh..!
Terdengar suara pukulan yang mengenai sasaran.
Kini, pak Harianto tampak terhuyung-huyung beberapa langkah ke belakang. Dia sengaja sedikit mengalah untuk membangkitkan rasa percaya diri di diri Namora.
"Keeeek...!" Namora segera berlari menghampiri lelaki tua itu. Tapi, apa yang dia dapat? Begitu dia mendekat, satu sentilan tepat mengenai batang hidungnya.
"Mana kewaspadaan mu?" Tanya pak Harianto. Namun, dia segera mengurut-urut dadanya yang terkena gebrakan dari Namora tadi.
"Maaf kek. Namora khawatir!" Jawab anak itu dengan wajah masih menyiratkan kekhawatiran.
"Uhuk.., uhuk.., uhuk. Ternyata aku sudah tua. Tidak seperti dulu lagi," katanya sembari berdiri.
Namora segera berlari ke arah kursi yang terbuat dari rotan, kemudian meletakkan kursi tersebut di dekat pak Harianto.
"Duduk kek!" Kata Namora mempersilahkan.
"Uhuk.., uhuk.., uhuk," kembali pak Harianto terbatuk-batuk.
"Semakin tua seseorang, semakin berkurang kenikmatan. Sedikit demi sedikit Allah menarik nikmat dari diri kita, tanpa kita sadari.
Berkurangnya nikmat sehat dengan seringnya sakit-sakitan. Berkurangnya nikmat makan karena gigi mulai tanggal. Berkurangnya nikmat penglihatan karena mata mulai rabun. Berkurangnya nikmat ketampanan karena kulit yang dulunya kencang kini sudah keriput dimana-mana. Celaka bagi manusia yang tidak menyadari akan hal ini. Dan kau Namora, pergunakan lima sebelum datangnya lima. Jaga waktu muda mu sebelum datangnya waktu tua mu! Jaga waktu sehat sebelum datangnya waktu sakit! Jaga kaya sebelum miskin! Jaga sempat mu sebelum datang masa sempit mu! Jaga hidup sebelum mati!"
Namora tertunduk mendengar nasehat dari lelaki tua itu. Dia tidak sepenuhnya mengerti apa yang diucapkan oleh pak Harianto. Karena, yang dia rasakan saat ini hanyalah rasa penyesalan karena telah membuat lelaki tua itu cedera.
"Namora. Kau ingat baik-baik apa yang kakek ajarkan. Tubuh tua ini adalah contoh nyata bahwa waktu tidak akan pernah menunggu kita. Perlahan namun pasti, satu persatu akan pergi dari diri kita. Suka lah sebatas suka, benci lah sebatas benci, sayang lah sebatas sayang, dan cinta lah hanya sebatas cinta! Jangan melampaui batas. Bisa saja hari ini kau sayang, besok menjadi benci. Begitu juga sebaliknya. Dia yang Maha membolak-balikkan hati. Tidak ada yang abadi. Hilangkan ketergantungan kepada manusia. Karena hanya kekecewaan yang akan kau dapat. Mengerti?"
"Namora akan mengingatnya kek!"
"Bagus. Sekarang kau boleh pulang dulu. Besok sore kau harus datang lagi!"
"Namora Patuh!" Jawab Namora. Dia segera menyalami lelaki tua itu.
Sebelum pergi, Namora segera menyambar baju kemeja miliknya, kemudian berdiri tegak lalu membungkuk di hadapan pak Harianto.
"Namora izin pulang kek!"
"Hmmm...!"
Namora segera melangkahkan kakinya meninggalkan bagian belakang rumah pak Harianto dengan pikiran yang melayang tak tentu arah.
__ADS_1
Bersambung...