Namora

Namora
Pertemuan tidak sengaja dengan walikota Rantau


__ADS_3

"Tuan muda Habonaran, silahkan!" Ajak staf yang diperintahkan oleh Miss Aline untuk menemani Namora berbelanja. Akan tetapi, ketika Namora melewati toko arloji, dia menghentikan langkahnya karena terpesona melihat sepasang Jam tangan tersebut.


Sekilas langsung terlintas dibenaknya bahwa dirinya harus memiliki sepasang jam tangan tersebut guna dihadiahkan kepada ayah dan ibunya. Apa lagi ayahnya akan bebas besok. Jadi, Namora segera menunda untuk membeli pakaian, sebaliknya dia singgah terlebih dahulu di toko tersebut.


Melihat siapa yang mampir ke tokonya, penjaga toko pun langsung bersikap hormat. Bahkan dia segera menelepon pemilik toko jam tersebut dan memberitahu kepada majikannya bahwa tokonya disinggahi oleh Namora.


Tidak sampai 15 menit, beberapa staf toko tersebut segera memberikan pelayanan eksklusif kepada Namora yang ditemani oleh Melanie.


"Tuan muda Habonaran. Ini suatu kehormatan bagi toko jam tangan saya atas kedatangan anda. Perkenalkan, nama saya adalah Yongki. Semasa muda, saya sangat mengenal ayah anda. Bahkan, atas rekomendasi dan jaminan darinya lah saya bisa menyewa toko di Tower Mall ini. Dan sekarang usaha saya sangat berkembang. Jadi, ini adalah suatu kehormatan bagi saya karena dikunjungi oleh anak dari orang yang telah berjasa kepada saya," kata pemilik toko tersebut dengan ramah dan antusias.


Namora mengangguk dan memaksa untuk tersenyum. Tapi apa daya. Andai ada wanita hamil, pasti akan melahirkan ditempat ketika melihat senyum Namora yang sedemikian jeleknya itu.


"Tuan Habonaran. Apakah ada sesuatu yang menarik perhatian anda?" Tanya Melanie.


Sekali lagi Namora mengangguk, kemudian mengalihkan perhatiannya pada kotak kaca dimana didalam kotak tersebut berisi sepasang jam tangan mewah, namun tidak norak.


Pemilik toko menyadari bahwa Namora sedang menatap jam tangan tersebut. Dia pun dengan sangat profesional menjelaskan tentang jam tangan itu.


"Tuan muda Habonaran. Jam tangan ini adalah jam tangan buatan Swiss dan produksinya sangat terbatas. Hanya ada sepuluh unit di Indonesia dan sembilan dari sepuluh unit tersebut sudah terjual. Yang anda lihat ini adalah satu-satunya yang tersisa dan hanya ada di toko kami sebagai koleksi. Beberapa waktu yang lalu, pengusaha asal Singapura menawar jam tangan ini seharga USD seratus lima puluh ribu. Namun, saya tidak berminat melepaskan nya. Tapi, mengingat jasa ayah anda kepada saya, maka saya akan memberikan sepasang jam tangan ini secara cuma-cuma kepada anda. Harap Tuan muda Habonaran sudi menerima!"


Melihat ketulusan dari pemilik toko, Namora spontan menggelengkan kepalanya. "Ayah ku yang berjasa kepada pak Yongki. Bukan Namora. Jadi, saya tidak bisa menerima pemberian ini. Lagipula, pantang bagi Namora menerima sesuatu secara cuma-cuma," tegas Namora tanpa tedeng aling-aling. Dia tau bahwa dirinya tidak boleh berhutang budi kepada siapapun mengingat siapa dirinya, dan apa rencananya. Jika dia termakan kebaikan dari orang lain, maka kedepannya akan sangat sulit ketika berhadapan sekali lagi dengan orang tersebut. Apa lagi itu terkait dengan bisnis.


Walaupun pak Yongki sangat ngotot untuk memberikan jam tangan itu secara cuma-cuma, tapi Namora lebih ngotot lagi untuk melakukan pembayaran.


Setelah dipaksa, akhirnya pemilik toko menyerah juga, kemudian menerima kartu hitam dari Namora untuk segera melunasi jam tangan tersebut.


"Tolong dikemas. Saya tidak punya banyak waktu!" Ujar Namora setelah puas melihat kedua jam tangan tersebut. Namun, baru saja pegawai toko jam tangan itu hendak mengemasnya, tiba-tiba satu suara dari belakang menegur mereka.


"Tuan. Mohon tunggu sebentar. Saya ingin melihat jam tangan itu!" Seorang lelaki paruh baya terlihat berjalan tergesa-gesa bersama empat orang pengawalnya menghampiri Namora, pemilik toko dan beberapa stafnya.

__ADS_1


Namora memalingkan wajahnya ke arah lelaki yang baru datang itu, kemudian memberikan isyarat agar staf toko jam yang ingin mengemas jam tangan tadi untuk meletakkan jam itu kembali pada tempatnya.


"Anak muda. Berapakah anda menghabiskan uang untuk membayar sepasang jam tangan ini?" Tanya lelaki paruh baya itu. Ada kepanikan pada wajahnya ketika melihat jam tangan itu sudah ada yang memiliki. Berarti, dia telah didahului.


"Saya mengeluarkan uang sebesar dua miliar, tiga ratus tiga puluh juta rupiah untuk sepasang jam tangan ini. Ada apakah Tuan?" Tanya Namora dengan sopan.


"Anak muda. Saya khusus datang dari jauh ke Tower Mall ini semata-mata untuk mendapatkan jam tangan ini. Jika anak muda tidak keberatan, saya rela membayar empat miliar rupiah kepada anda. Sebenarnya saya ingin memberikan lebih. Hanya saja, uang dan aset yang saya miliki hanya berkisar pada angka empat miliar saja. Harap anak muda mau mempertimbangkannya," kata lelaki paruh baya itu seperti memelas.


"Maaf Tuan. Tuan muda Habonaran telah mendahului anda. Sebenarnya, jam tangan ini tidak untuk dijual. Ini dijadikan barang koleksi di toko kami. Karena, perusahaan jam tangan ini sama sekali tidak memproduksinya lagi. Jam tangan ini murni terbuat dari platinum dengan berlian 24 karat pada setiap bagian pada penunjuk waktu. Andai di lelang, saya khawatir jam tangan ini akan laku terjual sekitar lima ratus ribu Dollar Amerika. Hanya saja, karena saya secara pribadi mempunyai hutan budi kepada ayah Tuan muda ini, maka saya merelakan jam tangan ini menjadi miliknya. Mungkin beliau ingin menghadiahkan jam tangan ini kepada orangtuanya," pemilik kedai yang mendengar permohonan lelaki paruh baya itu berusaha menengahi.


Mendengar ini, lelaki paruh baya itu tampak masih belum mau menyerah. Dia terus membujuk Namora agar mau menjual sepasang jam tangan itu kepada dirinya.


Namora sebenarnya tidak tega. Apa lagi dia melihat kesungguhan dari lelaki yang sebaya dengan ayahnya itu. Hanya saja, dia juga tidak ingin melepaskan jam tangan itu begitu saja. Dan pada akhirnya, Namora pun bersuara. "Beri aku satu alasan, mengapa aku harus memberikan jam tangan ini kepada anda, Tuan!?"


"Anak muda. Apakah kita bisa berbicara empat mata?" Tanya lelaki paruh baya itu penuh harap.


Mengerti akan maksud dari tatapan Namora, Melanie segera mengatakan bahwa ada restoran mewah yang berada di lantai paling atas bangunan Tower Mall ini. Namora pun mengangguk, kemudian mengikuti Melanie untuk segera menuju ke restoran. Kebetulan dia juga belum makan dan memang tidak pernah merasakan makanan ala restoran mewah.


Setelah mendapat kotak dan memesan makanan, akhirnya lelaki paruh baya itupun menceritakan tentang putra nya yang akan bertunangan dengan seorang gadis. Awalnya, cincin pertunangan memang telah disediakan. Namun, lelaki paruh baya itu merasa tidak cukup dan memutuskan untuk mencari hadiah lain terutama sesuatu yang berpasangan. Maka, atas rekomendasi dari bawahannya, tau lah dia bahwa ada sebuah toko di Tower Mall yang masih menyimpan sepasang jam tangan limited edition. Maka dari itu, dia pun segera berangkat menuju Tower Mall. Tapi sialnya, dia didahului oleh Namora.


"Hadiah pertunangan. Demi hadiah pertunangan, anda rela merogoh kocek sebesar empat miliar. Sangat mengagumkan memiliki seorang ayah seperti Tuan ini," puji Namora tanpa maksud sarkastik.


"Anak muda. Anda meminta alasan kepada saya yang mungkin bisa mengubah pikiran anda untuk mengizinkan saya memiliki jam tangan tersebut. Baiklah. Semuanya berawal dari kesalahan saya. Ketika masih muda, saya berkenalan dengan seorang gadis, kemudian kami menikah. Hanya saja, ketika itu masih banyak impian yang belum saya capai. Saya meninggalkan istri saya yang ketika itu sedang hamil empat bulan. Entah karena terlalu sibuk dan terlalu keras dalam mengejar mimpi, saya melupakan mereka. Singkat cerita, saya memang berhasil sampai ke puncak sebagai seorang pengusaha. Bahkan, saat ini saya berhasil menjabat sebagai kepala daerah. Saya mencari gadis lain, kemudian menikah lagi tanpa memikirkan nasib istri pertama saya. Entah itu hukuman, atau itu adalah karma, tapi yang jelas, dua puluh tahun lebih menikah, saya masih belum dikaruniai seorang anak pun. Hingga dengan perasaan bersalah, saya kembali kepada istri pertama. Anda tau apa yang paling menginsyafkan dalam hidup ini? Ketika kau berbuat kesalahan, namun dibalas dengan kebaikan. Bagi seorang manusia yang menggunakan otaknya untuk berpikir, menggunakan hatinya yang bersih untuk merasa, maka balasan kebaikan atas dosa yang kita lakukan itu adalah hukuman tersendiri yang akan membuat mu berada dalam penyesalan yang berkepanjangan. Maka dari itu, saya ingin mengejar ketertinggalan, dan ingin membahagiakan mereka. Kebetulan putra saya akan bertunangan. Jadi, saya ingin memberikan sesuatu yang baik untuknya menurut kemampuan saya. Apakah itu bisa membuat anda tergerak untuk mengizinkan saya membahagiakan orang yang saya cintai yang selama ini telah saya abaikan?"


Namora tampak berpikir keras. Berulangkali dia mengetuk meja dengan jari telunjuknya.


Apa yang dilakukan oleh Namora ini sebenarnya diketahui oleh lelaki paruh baya itu. Dia tau bahwa Namora sedang berperang dengan hatinya sendiri. Maka dari itu dia tidak menyela, apa lagi menekan agar Namora bersedia mengabulkan permohonannya.


"Awalnya sepasang jam tangan itu hendak saya berikan kepada orang tua saya sebagai hadiah. Hanya saja, saya tidak tau bahwa ada yang lebih memerlukan daripada saya. Jika saya bisa membuat orang lain bahagia, kenapa tidak. Mungkin itu bukan rejeki orang tua saya. Dan saya juga bisa mencarikan hadiah yang lain untuk mereka.

__ADS_1


Baiklah. Sudah saya putuskan, bahwa saya bersedia memberikan jam tangan itu kepada anda, Tuan. Tidak perlu membayar lebih, cukup kembalikan saja uang yang saya keluarkan senilai USD seratus lima puluh ribu atau dua miliar, tiga ratus tiga puluh juta rupiah. Maka, jam tangan itu akan berpindah pemilik," ujar Namora sembari bangkit berdiri dari duduknya. Dia tidak punya banyak waktu. Memikirkan apakah akan mempertahankan atau memberikan jam tangan itu kepada lelaki paruh baya itu saja sudah menyita banyak waktunya.


Mendengar pengakuan dari Namora bahwa dirinya bersedia mengalah, membuat lelaki paruh baya itu terharu sehingga meneteskan air mata. Berulang dia mengucapkan terimakasih, dan menjabat tangan Namora sebagai bentuk dari rasa terimakasihnya.


"Saya akan membalas budi baik anda ini, anak muda. Nama saya adalah Parlindungan Hutagaol. Jika kelak kau datang ke kota Rantau, cari saja Parlindungan. Saya adalah walikota di sana. Semua orang akan mengenal saya walaupun saya tidak mengenal mereka satu persatu. Dan ini adalah kartu nama saya," kata lelaki paruh baya itu sembari mengeluarkan selembar kartu nama dan memberikannya kepada Namora.


"Oh," kaget benar Namora mendengar bahwa lelaki paruh baya itu adalah walikota Kota Rantau sehingga hanya kata 'oh' saja yang keluar dari mulutnya.


Jika sejak awal dia mengetahui bahwa lelaki paruh baya itu adalah walikota yang dikatakan oleh kakek Lalah, mungkin dia tidak akan meminta alasan untuk memberikan jam tangan itu kepadanya, walaupun secara gratis. Tapi apa boleh buat. Mereka sudah sama-sama setuju. Untung saja Namora tidak berlebihan dalam bersikap. Jika tidak, entah apa yang akan terjadi kedepannya bagi proyek pabrik kelapa sawit di pinggiran kota Rantau tersebut.


"Maafkan saya yang kurang ajar ini, Pak walikota. Jika saya bersikap tidak sopan, maka saya dengan rendah hati meminta maaf," kata Namora yang langsung disela oleh pak Parlindungan Hutagaol.


"Kau terlalu sopan, Anak muda. Jarang dan sangat langka bisa bertemu dengan seorang pemuda kaya yang rendah hati seperti mu. Bahkan, ketika saya masih muda dulu, saya tidak sekaya anda dan tidak memiliki kerendahan hati seperti yang anda miliki. Ini sangat membuka wawasan saya tentang kerendahan hati yang anda miliki. Oleh karena itu, sekali lagi saya mengucapkan terimakasih dan mengundang anda untuk menghadiri acara pertunangan putra saja. Jika saya boleh tau, siapa nama anda, dan apa pekerjaan anda?"


Namora sedikit tersipu untuk menjawab pertanyaan dari walikota ini. Jika dia berterus terang, apakah kesannya tidak akan sombong? Namun, jika dia berbohong, apa kabar dengan proyek yang ingin dia menangkan dalam pelelangan nanti?


Setelah menimbang, akhirnya Namora memilih untuk jujur. "nama saya adalah Namora Habonaran. Putra dari Tigor Habonaran. Pekerjaan saya saat ini, selain siswa, saya adalah seorang pemangku jabatan CEO di perusahaan Martins Group,"


"Wah wah wah. Tidak disangka saya akan bertemu dengan putra dari teman lama. Sangat kebetulan. Oh ya, kau adalah tutur keponakan. Apa kau kenal dengan Lalah?"


Namora mengangguk. Justru Lalah adalah kakek angkatnya.


"Saya berhubungan baik dengan Lalah, si raja mobil dari Dolok ginjang. Oh ya. Dengar-dengar, ayahmu akan bebas besok. Wah, saya jadi tidak enak karena merebut hadiah dihari kebebasannya. Ini tidak boleh terjadi. Kalau begitu, lupakan saja!" Ujar Pak Parlindungan Hutagaol malu-malu.


"Tidak pak. Saya juga sudah memutuskan bahwa jam tangan itu biarlah untuk bapak saja. Saya akan mencari hadiah yang lain saja. Ngomong-ngomong, mari kita kembali ke toko tadi. Saya akan memberikannya kepada bapak sesuai janji saya. Anggap ini adalah, sebagai salam perkenalan antara keponakan kepada pamannya,"


"Terimakasih anak muda. Terimakasih keponakan. Kau punya hati yang rendah dan jiwa yang besar. Modal mu untuk menjadi orang besar sudah ada. Jangan berubah! Tetaplah membumi. Kelak, kau akan menuai segala kebaikan yang pernah kau tanam. Saya sebagai orang tua, bangga memiliki generasi penerus yang memiliki moral seperti kau ini. Bagus sekali. Bagus sekali!" Kata pak Parlindungan bersemangat. Dia segera merangkul pundak Namora, kemudian melangkah meninggalkan kotak platinum di restoran tempat mereka makan untuk turun ke bawah tepatnya, toko jam tangan yang terakhir kali mereka kunjungi tadi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2